Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
122 Ayra dan Kehamilannya


"Ayra."


Ucap seorang lelaki yang sedang berjalan ke arah pintu ruang dokter obgyn. Lelaki itu terlihat bersama seorang perempuan yang sedang hamil. Karena perut yang membuncit membuat Ayra bisa melihatnya.


lelaki itu itu adalah teman satu tingkatnya di kampus, ketika sedang menempuh Strata 1. Ilham, ia salah satu lelaki yang pernah melamar Ayra pada Kyai Rohim. Namun di tolak oleh Kyai Rohim. Lelaki itu tertegun sesaat. Ia yang melihat Ayra ikut mengantri di depan ruang dokter obgyn itu dan lelaki itu tersenyum. Namun Ayra menundukkan pandangannya.


"Saya turut berdukacita atas vonis yang menimpa suamimu."


"Terimakasih. Sepertinya Mas Ilham masih menjadi fans saya hingga kejadian yang baru saja terjadi pun mas Ilham tahu."


Lelaki itu maju beberapa langkah. Dan menatap Ayra.


"Siapa yang tak tahu. Kasus suami mu itu Menarik banyak mata. Sayang sekali kamu Ayra. Kamu dan Bapak mu itu terlalu pemilih."


Ayra masih menunduk.


"Siapa lelaki ini"


Nyonya Lukis melihat Ayra seperti biasa akan membuang pandangannya atau menunduk ketika berbicara pada lawan jenis.


"Andai dulu kamu menerima lamaran ku dan tak terlalu memilih dalam jodoh mungkin kamu datang kemarin akan ditemani seorang suami."


Ayra terlihat menarik napas dalam tanda tak nyaman mendengar kalimat barusan.


"Oh jadi mas Ilham sudah menikah? Dia istrinya mas Ilham?"


Terlihat perempuan yang berambut panjang duduk di kursi antrian dan terlihat cukup besar perutnya.


"Ya dia istri ku. Tak kalah cantik dengan kamu! "


Deg.


"Gila. Didepan istrinya dia memuji perempuan lain."


Nyonya Lukis yang tak nyaman cepat menjawab.


"Ayra, siapa Ilham ini?"


"Oh kenalkan ma ini Mas Ilham kakak tingkat di kampus. Kami kenal di salah satu organisasi."


Ayra masih menahan rasa tak nyamannya pada Ilham karena melihat perempuan yang merupakan istri Ilham itu terus memandangi dirinya.


Ayra tersenyum ke arah perempuan itu. Ayra berbisik pada Nyonya Lukis untuk mendekati istri Ilham.


"Mbak istrinya Mas Ilham? Saya Ayra ma. Hanya teman kampus Mas Ilham sewaktu kuliah."


Uluran tangan Ayra berikan. Perempuan itu menerima uluran tangan Ayra.


"Sasi. Kamu cantik aslinya ya."


"Terimakasih. Mbak tak kalah cantik pantas menjadi istri mas Ilham. Sudah berapa bulan?"


"Masuk 7."


"Brengsek. Dia ini selalu menghindar kalau di dekati."


Ayra, Nyonya Lukis dan Sasi terlihat obrolan sambil menunggu antrian namanya dipanggil.


Namun saat nama Sasi dipanggil, Ilham menyuruh istrinya masuk lebih dulu. Ilham seolah merasa sakit hati karena Ayra dari dulu selalu menghindar ketika di dekati. Dan ketika ia melamar pun ditolak.


"Hehehe.... Jangan sok suci Ayra. Bukan kah jodoh itu sesuai dengan diri kita. Maka inilah balasan kamu yang terlalu angkuh dan sok suci.


Ayra diam. Dia tak mau berdebat dengan salah satu lelaki yang paling sering mendekati dirinya dahulu.


"Maaf mas. Istri mas menunggu di dalam."


"Hehehe.... Suami mu itu sedang meringkuk di sana mungkin dia bisa melakukan hal yang sama seperti-"


"Cukup Mas Ilham. Saya sudah bersabar. Anda tidak berhak merendahkan suami saya. Saya merasa bahagia karena Allah memberikan suami yang sangat memikirkan perasaan saya bahkan ia tak pernah memuji perempuan manapun. Bahkan ia akan cepat tahu jika raut wajah istrinya ini berubah."


"Iya. Anda ini aneh. Sudah menikah masih saja memikirkan masalalu. Apa anda tidak kasihan pada istri anda yang dari tadi tak nyaman sendiri dengan kelakuan anda itu ?"


Ayra tak menjawab. Ia sedikit meremas tangan Nyonya Lukis saat ibu mertuanya akan membalas kalimat Ilham barusan. Lelaki itu mendengus kesal karena kembali ia tak pernah mampu membuat perempuan yang ia sukai itu menampilkan emosinya. Atau memandang dirinya. Ia lantas meninggalkan Ayra dan masuk ke ruang obgyn.


"Biarkanlah ma. Sungguh Ayra bahagia menikah dengan mas Bram."


"Ah mama bersyukur Ay, Bram mendapatkan kamu."


"Ayra juga Beruntung menjadi istri mas Bram. Mama juga sangat menyayangi Ayra."


"Ayra sangat menjaga perasaan sesamanya. Ia lebih memilih menenangkan istri lelaki itu daripada meladeni lelaki yang terus saja memancing emosi Mu nak."


Tiba giliran Ayra yang masuk ke ruangan dokter obgyn. Terlihat Ilham berjalan mendahului istrinya dengan wajah merah. Sedangkan istrinya terlihat terburu-buru mengejar suami.


Saat sampai di dalam ruangan. Ayra berbaring di atas tempat tidur. Nyonya Lukis meminta untuk bisa melihat melalui USG, terlihat tubuh janin terlapisi oleh lapisan tipis yang tembus cahaya. Ini membuat tubuhnya terlihat seperti transparan.


"Ay... Mama rekam ya USG nya."


Ayra menganggukkan kepala. Sudut matanya kembali berembun. Rasa bahagia karena ia diberikan kesempatan oleh Allah untuk merasakan hamil. Sebentar lagi ia kan menjadi seorang ibu.


Ayra bertanya kepada dokter muda itu.


"Dokter jika usianya 6 Minggu kenapa saya tidak mengalami mual muntah?"


"Tidak semua ibu hamil mengalami hal tersebut Bu. Ada yang masuk di Minggu ke enam atau ketujuh merasakan hal itu. Ada yang juga yang tak mengalami sama sekali. Yang penting makan teratur, Konsumi makanan yang sehat ya Bu."


"Baik dokter. Apakah janin saya sehat dok?"


"Sehat."


Dokter itu membenarkan posisi alat yang ia tempelkan pada perut Ayra. Nyonya Lukis bertanya tentang rasa khawatirnya.


"Untuk kegiatan bagaimana Bu dokter? anak saya ini lagi sibuk-sibuknya kuliah."


"Owh. tidak Masalah yanga penting ibu Ayra pandai-pandai memilih waktu agar ada waktu istirahat dan hindari stress berlebihan ya Bu."


Saat dokter itu memberikan resep. Ayra dan Nyonya Lukis meninggalkan ruangan itu. Ayra bingung karena ia tak merasakan bergerak dalam perutnya.


"Ma jika sudah enam Minggu kenapa ga kerasa bergerak?"


"Belum Ay. Nanti kalau sudah berumur 10 minggu ke atas. Mama jadi ingat bagaimana dulu hamil suami mu itu."


"Ceritakanlah Ma."


Mereka telah tiba di ruangan Ayra. Nyonya Lukis menceritakan jika selama kehamilan Bram ia sering menangis karena cobaan rumah tangganya datang silih berganti. Baik secara ekonomi, secara emosional. Karena keluarga nya yang terus merendahkan Nyonya Lukis yang menikah dengan pak Erlangga.


"Tapi papa mu itu tak pernah membuat mama marah. Dia selalu sabar menghadapi mood mama yang sensitif. Tapi kamu beruntung Ay. Mungkin debay nya tahu kalau papanya tidak disamping mamanya. Jadi di tidak rewel, Semoga cucu Omah tidak rewel Sampai masa lahiran ya."


"Terimakasih banyak mama. Ayra jadi tidak merasa kesepian. Ayra jadi sedikit berkurang rasa rindu pada Umi."


"Umi mu nanti malam tiba Ay. Mereka sedang keluar kota. Mama sudah menelpon mereka.".


"Ay kenapa lelaki tadi sepertinya tak suka sama kamu?"


"Oh. Mas Ilham pernah melamar Ayra dan sebelumnya juga sering meminta Ayra menerima cintanya ma."


"Mama masih bingung. Kenapa Abi mu itu menolak banyak lamaran orang terus pas calon mu meninggal malah melamar Bram."


Ayra menceritakan bahwa cerita sebenarnya yang tak diketahui Nyonya Lukis.


"Jadi kamu perempuan yang Bram curi ciumannya Ay?"


Ayra menganggukkan kepalanya.


"Hehehe.,.. Kamu tahu setelah hari itu dia sering ngomel tak jelas. Dan sejak saat itu dia itu sering tersenyum kalau melihat orang gendut. Apalagi pas si Sel sel itu mengejar Bram. Bram itu menerima Shela hanya karena Katanya mirip gadis yang pertama mengambil first kissnya."


"Ah pantas Abi mu mantap melamar Bram."


Ternyata Bram hanya satu kali pacaran sedari masa remaja. Ia hanya dekat dengan Helena. Bahkan ketika ada undangan ke pesta ulang tahun temannya Helena lah yang akan ia ajak. Karena Bram menyayangi Helena seperti seorang adik. Walau kadang dia suka merasa tak nyaman sikap helena yang manja, dan terlalu perfeksionis.


Namun insiden terkurungnya ia bersama Shela ketika model itu masih bertubuh tambun membuat ia menjalin sebuah hubungan yang biasa disebut pacaran.