
Umpatan demi umpatan yang terus saja keluar dari mulut Liona ternyata membuat darah dalam diri Bambang mendidih. Tatapannya penuh amarah pada Liona. Bambang sudah panas hati mendengar nada sarkas yang Liona tujukan pada Rani, Mamanya dan Ayra.
Ia yang sedari tadi mencoba tetap fokus pada pembicaraannya dengan Beni di ruang yang berbeda. Namun cintanya pada perempuan yang telah melahirkannya itu membuat air mukanya terlihat begitu menyeramkan.
Bambang yang biasa suka bercanda dan jarang terlihat berwajah serius, kali ini ia merasakan apa yang Bram tunjukkan dan rasakan saat nyonya Lukis di rendahkan orang lain. Saat nyonya Lukis menangis.
Ia bahkan pernah jadi korban amukan Bram saat ia masih sekolah SD. Saat itu ia marah pada Nyonya Lukis. Karena Nyonya Lukis membuang kertas diatas meja belajarnya. Nada yang tinggi ketika berbicara pada mamanya. Nyonya lukis hanya berwajah sendu karena anaknya memarahinya. Hal itu membuat Bram yang baru pulang main Basket langsung melempar Bambang dengan bola basket.
Tidak hanya itu, kenangan itu berbekas hingga saat ini. Dahi Bambang yang masih terlihat bekas jahitan sampai saat ini adalah akibat ulah Bram yang memukul Bambang dengan piala yang ia pegang saat Bambang melempar bola itu dan mengenai Nyonya Lukis.
Maka sejak saat itu Bambang sangat takut jika kakak sulungnya itu naik pitam padanya. Belum lagi, ketika Nyonya Lukis telah berwajah sendu. Bambang tak berani membantah. Karena ia yakin sang kakak akan menghajarnya.
Masa-masa kecil mereka bertiga sebenarnya cukup sulit. Karena Perusahaan Pradipta baru dibangun oleh pak Erlangga. Bram bahkan saat masi kecil sebelum adanya Bambang, ia menggantikan posisi pak Erlangga. Ia akan mengasuh Beni.
Umurnya yang tak jauh dari Beni membuat ia sudah harus bertanggungjawab ketika pulang sekolah namun Nyonya Lukis masih berjualan di pasar. Ia bahkan memandikan Bambang, menggendong Bambang saat Nyonya Lukis mengerjakan pekerjaan rumah.
Berbeda dengan Beni. Sedari kecil, ia memang tak punya rasa sayang pada adiknya. Apalagi terhadap Bram. Bahkan tak jarang jatah makan siang Bram akan dimakan oleh Beni. Namun Bram rela setiap pulang dari sekolah ia akan mengeruk kerak nasi di Periuk nasi sisa ibunya memasak di lagi hari. Ia akan memakan sisa kerak itu.
Ia pun tak pernah marah pada Beni atau mengadu pada Nyonya Lukis.
Saat ini air mata mengalir dari kedua mata Bambang. Rahangnya mengeras, tatapannya sangat tajam pada Liona. Suara tangisan Nyonya Lukis yang beberapa saat lalu terdengar kini mulai mereda. Nyonya Lukis melihat sosok Bram pada Bambang.
Tap.
Tap.
Tap.
"Kamu! Siapa kamu! Berani kamu membuat mama ku menangis! Hah!,"
Bambang mencengkram dagu Liona. Bahkan wajah mereka begitu dekat. Beni yang setengah berlari kearah Bambang, segera menepis tangan Bambang.
"Lepaskan Bams!"
Namun cepat Bambang menarik kerah kemeja Beni. Hingga dasi yang ia kenakan sedikit tertarik. Napasnya tersengal-sengal karena ia baru kali ini melihat adiknya bisa marah seperti itu. Bambang terkenal anak yang tengil. Sekalipun ia emosi namun tak pernah seperti saat ini. Air muka Bambang terlihat persis seperti wajah Bram saat marah jika ada yang menyakiti Nyonya Lukis.
"Aku sudah peringatkan dirimu Beni! Jaga istri mu! ajari mulutnya itu! Jika hari ini aku masih memaafkan nya karena aku masih menganggap mu kakak ku. Tapi tidak untuk lain Kali!"
"Kalau kamu menganggap aku kakak mu, harusnya kamu tidak akan membedakan aku dengan Bram!"
"Buuggh. Buuuughh! Bruuugh!"
"Beniiii.... "
"Bams.... "
"Astaghfirullah hal 'adzhim.... Bams, Beni."
"Brengs*k kamu Ben! Apa kamu tahu betapa ia sangat menyayangi kamu! Ia bahkan rela setiap hari memakan kerak nasi tanpa sayur dan lauk saat kamu memakan jatah makan siangnya!! Bahkan ia rela berkali-kali menahan lapar saat uang jajannya pun kamu ambil! Dan sampai sekarang, kamu masih menaruh iri hati pada Bram!!!"
Suara teriakan Bambang begitu menggelegar. Air matanya mengalir deras. Suaranya tercekat, Jakunnya bahkan terlihat naik turun tak beraturan. Dada bidang Bambang pun terlihat naik turun. Rani cepat mendekat dan berdiri dihadapan suaminya itu.
Rani yang hampir satu tahun lebih menikah dengan Bambang pun cukup kaget. Karena lelaki yang menikahinya disaat ia diusir dari keluarganya itu baru kali ini bersikap seperti ini.
"Kamu Lebih membela istri mu yang brengs*k itu daripada mama yang dengan susah payah melahirkan kamu! membesarkan kamu disaat suaminya tidak berada dirumah! Tidakkah kamu ingat masa-masa sulit itu? Jika Bram disini maka aku pastikan murkanya lebih dari murka ku.!
"Bams duduklah. Tak baik mengikuti emosi mu. Tak baik bersikap begitu pada saudaramu Bams. Bagaimanpun Beni adalah kakak mu."
"Kakak macam apa! Aku tidak punya kakak macam dia! Pergi dari sini sebelum papa pulang!"
"Owh.... Baik. Aku pun tak akan pernah menginjakkan kaki ku di rumah ini!"
"Beni.... "
"Aaaahhh! Stop Ma! Aku muak, kalian selalu seperti ini dari dulu. Hanya Bram, Bram dan Bram yang selalu di agung-agungkan dirumah ini! Ayo Liona kita pulang sekarang!"
"Aku tak akan pernah memaafkan kamu Ayra!"
Sepasang suami istri itu pergi meninggalkan kediaman pak Erlangga dengan penuh emosi. Bambang yang melihat Nyonya Lukis masih menangis cepat memeluk mamanya.
"Tenanglah Ma, Beni hanya lagi emosi. Ia tak mungkin tak pulang jika ada masalah. Mama paham Beni kan."
"Hiks.Hiks. Mama merasa gagal mendidik kalian Bams... Hiks."
"Ma.... "
Suara Bambang parau, ia tak mampu meneruskan ucapannya. Tenggorokannya terasa kering. Air matanya pun tak mampu ia tahan untuk mengalir di kedua pipi nya.
"Kini aku tahu rasa yang kamu miliki Bram. Rasa sangat sakit ketika melihat perempuan yang kita cintai menangis, rasa sakit ketika ada orang yang merendahkan Mama. Rasa sakit ketika ada saudara yang membuat mama bersedih. Maafkan aku Bram, selama ini aku sering membuat mu marah. Kupikir kau membenci ku. Ternyata cinta mu yang begitu besar untuk mama yang membuat mu marah ketika aku menyakiti hati mama."
Rani mengusap lembut punggung Bambang. Ia pun ikut menangis. Ia tak tahu apa yang membuat suaminya naik pitam pada Beni. Ia tak pernah bersikap begitu.
Ayra yang mencoba tetap berdiri disaat kepalanya makin sakit. Saat pandangannya berkunang-kunang, akhirnya tak mampu berdiri dan membuka kedua matanya.
"Bruuugh."
"Ayra....!"
Rani berteriak ketika melihat Ayra ambruk ke arah meja. Perempuan berkerudung abu-abu itu tak sadarkan diri.
Seorang lelaki yang baru tiba cepat berlari dan mengangkat tubuh mungil Ayra.