
Keesokan harinya Ayra mengunjungi Krisna dan Lani. Ayra merasa tenang karena ia telah menyiapkan ASI yang telah ia pompa untuk ditinggalkan selama ia kerumah sakit.
Setibanya ia dirumah sakit. Ia dan Bram menuju ruangan dimana Krisna di rawat. Terlihat Krisna sedang duduk bersandar di tempat tidurnya.
"Bram pagi sekali?"
"Iya Tante soalnya harus meninggalkan Ammar dan Qiya. Mereka kalau pagi begini sedikit aman untuk ditinggal berpergian."
Bram menarik kursi disisi Krisna. Ia menyalami Krisna.
"Gimana Bro?"
"Badannya udah ga apa-apa tapi hatinya masih sakit."
"Yang lagu jatuh cinta."
"Cinta gue belum sempat jatuh udah bosok Bro."
Krisna tipe yang hobi humor. Saat ia merasakan kesedihan karena akan Kehilangan Nisa, namun ia masih bisa tertawa dan bercanda. Ayra duduk di sofa bersama Karin.
"Aku minta maaf Kris. Untuk yang kemarin."
"Tidak apa-apa aku paham. Suami mana yang tak akan marah saat istrinya di hina dihadapannya. Kata mama kemarin Nisa kemari ya?"
"Ya. Dia menyampaikan apa yang dititipkan kemarin. Sepertinya ia juga berat berpisah dengan mu Kris. Oh ya pagi ini aku dan Ayra akan membesuk kakak iparnya. Semoga operasi kemarin semuanya selamat."
"Operasi apa Bram?"
Bram menceritakan kejadian kemarin hingga ia mendonorkan darahnya pada Lani. Lalu Krisna pun menitipkan cincin kemarin untuk disampaikan pada Nisa.
"Berikan pada Nisa. Katakan berjodoh atau tidaknya kami. Ini aku sudah belikan untuknya. Ia adalah perempuan pertama yang aku cintai Bram."
"Jangan terlalu mencintai makhluk Kris. Karena ketika rasa itu kian tergerus waktu. Akan ada kekecewaan karena ia tak sempurna."
"Wow sudah jadi pak Ustad papa Ammar ini sekarang."
Bram yang meminta nomor telpon Nisa pada Krisna pun menelpon Adik Joko itu. Ia menyerahkan ponselnya dan meminta Ayra yang berbicara. Mereka terpaksa menelpon karena tak tahu diruangan mana Lani dirawat.
Setelah panggilan tersambung. Ayra mengucapkan salam.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."
"Wa'alaikumussallam. Siapa ya?"
"Saya Ayra. Maaf bolehkah saya membesuk Kak Lani."
"......"
"Bagaimana pun suaminya kemarin memberikan pertolongan dengan mbak Lani."
"Ya mbak. Silahkan."
"Diruangan apa ya?"
"Diruang anggur no 9."
Ayra pun mengakhiri dengan salam. Ia dan Bram pergi keruangan yang dimaksud oleh Nisa. Tiba diruangan anggur bernomor 9. Bram mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Mereka disambut oleh Nisa yang sedang menemani Lani.
Ayra menghampiri Nisa dan bersalaman. Saat mendekati Lani. Perempuan itu membuang pandangannya. Ayra pun duduk di sofa. Ia tak berani duduk di kursi yang berada disisi Lain. Nisa duduk di sebelah Ayra.
"Nisa. Kak Lani. Kedatangan saya dan suami saya kemari untuk meminta maaf atas ketidak pekaan kami. Karena tidak berkunjung ke kediaman kalian selepas musibah yang menimpa kang Amir. Karena beberapa hari setelah kami menikah. Allah memberikan kami hal-hal yang tak terduga."
Nisa masih menunduk. Ia tak tahu sebenarnya apa yang harus ia lakukan. Karena aku ia dari kemarin tak berani berbicara mengenai hubungan nya dengan Krisna. Sebuah rasa yang belum sempat terbangun dalam hubungan namun sudah harus berakhir karena dendam yang tak beralasan.
"Sebenarnya. Saat itu almarhum Amir memberikan cincin dan diminta untuk mengatakan pada Kyai Rohim bahwa ia berhak memilih lelaki untuk menggantikan dirinya. Dan Sungguh Jodoh adalah satu rahasia Allah. Ada satu peristiwa dimana kami pernah bertemu dan baru kami ketahui setelah kami menikah. Maka saya mohon disini tidak ada yang salah."
Tiba-tiba pintu terbuka, ternyata Joko yang muncul dari balik pintu. Ia tak menyangka jika Ayra dab Bram akan datang membesuk istrinya terlebih meminta maaf. Rasa sombong masih menyelimuti hati Joko.
"Mas, maafkanlah mereka. Mereka tak bersalah disini. Semua mungkin memang sudah takdir. Kasihan Nisa."
Joko membisu. Ia tak tahu harus menjawab apa. Ia masih tak suka pada Bram dan Ayra. Bram dan Ayra yang merasa kehadiran mereka masih tak diterima. Ayra mengedipkan matanya dan menyentuh lengan Bram.
"Baiklah. Mohon maaf jika kembali kami menganggu keluarga mas Joko. Kami permisi dulu. Dan ini Ada titipan dan Krisna. Dia bilang jodoh atau tidaknya dengan Nisa. Ia ingin tetap cincin ini menjadi milik Nisa."
Ayra pun berpamitan pada Lani.
"Semoga cepat sehat ya Kak."
Bram mengulurkan tangannya pada Joko. Dan ternyata tak diterima oleh suami Lani. Lani tersenyum pada Ayra. Ia tak menyangka jika perempuan yang hampir satu tahun ini ia benci bahkan dengan kerendahan hati datang dan meminta maaf. Lani masih ingat bagaimana ia dan suami cukup senang saat Bram terkena kasus. Bahkan hampir setiap hari ia dan suaminya membahas berita tentang Bram. Media sosial Ayra pun selalu dibuka hampir setiap hari oleh Lani untuk melihat kalau-kalau perempuan yang ditinggal oleh Amir dihari pernikahannya itu menulis status menyedihkan.
Namun sayang sekali, karena hampir di beranda media sosial Ayra hanya ada postingan tentang hal-hal yang menyangkut agama. Tentang syiar, dari ceramah, shalawat, artikel ataupun berita yang Positif. Hingga Lani akhirnya bosan membuka profil media sosial Ayra karena baginya tak ada yang menarik. Padahal jika bagi mereka yang fakir akan ilmu. Sungguh Ayra sangat memanfaatkan kecanggihan teknologi dengan tetap memiliki media sosial.
Karena Umi Laila sering berkata pada mereka para santrinya.
"Jika orang-orang baik tak ingin hadir di medsos atau mensyiarkan hal-hal baik terutama tentang agama kalian di beranda media sosial. Maka jangan salahkan ketika ada orang-orang awam yang begitu menggebu ingin belajar tentang agamanya tetapi mendapatkan melalui internet namun bertemu ceramah, atau ilmu agama yang dimana dakwah mereka kerap menebar kebencian kepada kelompok lain, tidak toleran, bertentangan dengan nilai-nilai Islam yang ramah dan rahmatan lil 'alamin,".
Hal itu karena media sosial, internet dikuasai oleh mereka yang bertopeng kan agama namun memiliki misi bukan untuk berdakwah melainkan urusan politik namun dibungkus dengan agama. Ayo sudah saatnya kita kuasai media, Kita gunakan media sosial untuk menebar konten positif."
Selepas kepergian Ayra dan Bram. Nisa pun duduk disisi kakak iparnya. Joko melihat mata sembab Nisa.
"Katakan apakah kamu tidak takut jika sepupu Bram itu akan sama dengan Bram?"
"Kakak tahu bukan dari sekian lelaki yang mau serius dengan aku. Mereka akan mundur ketika mereka tahu bahwa aku punya kekurangan. Tapi Mas Krisna ia bahkan mantap langsung untuk melamar ku."
Joko tertegun. Nisa yang saat haid, darahnya yang keluar banyak sekali dan berlangsung selama lebih dari lima belas hari, Ia pun segera memeriksakan diri ke dokter. Dan ternyata dokter memberikan tentang masalah rahimnya. Mau tidak mau hal itu selalu ia bicarakan pada lelaki yang mencoba untuk menjalin hubungan dengan dirinya.
"Apakah kamu begitu yakin?"
"Saya tidak tahu apakah akan berubah tetapi setidaknya dia satu-satunya lelaki yang bertahan ketika perihal itu aku ceritakan."
Joko pun keluar dari ruangan itu. Ia menuju ruangan Krisna. Saat tiba diruangan Krisna Ia mengetuk pintu itu. Ketika masuk kedalam ruangan. Ia melihat ada Karin yang sedang duduk di sofa. Karin ikut senang ketika Melihat Joko datang membesuk Krisna.
"Saya datang kemari untuk bertanya satu hal pada mu."
Krisna membenarkan posisi duduknya.
"Katakanlah mas."
"Apakah kamu tidak akan menyesal menikah dengan Nisa. Aku tidak ingin jika kamu nanti di tengah perjalanan menduakan Adik ku hanya karena alasan anak. Atau sampai kamu meninggalkan dirinya hanya karena perempuan lain."
Krisna melihat Mamanya.
"Mama terserah pada mu Nak. Semah keputusan ada pada mu. Yang akan menjalani pun kamu."
Krisna menatap Joko yang duduk tak jauh darinya.
"Saya mencintai Nisa. Saya berjanji tidak akan meninggalkan dirinya atau menduakan dirinya."
Joko memegang pundak Krisna.
"Cepatlah sembuh. Aku dan Keluargaku menunggu kamu sesuai dengan tanggal yang telah ditentukan. Aku merestui kalian. Aku sendiri yang akan menikahkan kamu dengan adikku."
Krisna berterimakasih pada Joko karena ia mau merubah keputusannya. Saat keluar dari ruangan itu. Joko duduk di kursi tunggu yang berada di depan ruangan Krisna. Ia teringat adik sepupunya Amir.
"Sungguh kebaikan akan kembali ke pada mereka yang berbuat baik. Dulu kamu menerima entah kekurangan apa yang ada pada Ayra. Namun kalian tak berjodoh. Lalu kemarin Lelaki itu menikahi Ayra. Dan ia berbuat baik dengan menolong istri ku Mir. Dan Krisna pun mau menerima kekurangan Adik ku. Sungguh berbuat baik betul-betul menjadi magnet untuk orang disekitar kita ikut merasakan dari perbuatan baik kita."
Amir yang dulu ketika melamar Ayra namun kyai Rohim mengatakan Ayra tak pantas untuknya. Ada perempuan yang lebih pantas untuknya namun memiliki kekurangan yaitu ibarat kata permen. Isinya telah terlihat namun belum dinikmati siapapun rasanya. Maka Amir pun hanya mengatakan:
"Jika menurut Kyai dia lebih baik dari Ayra dan lebih pantas untuk saya. Maka saya ikut apa kata Kyai."
Niat beribadah Amir dan kepatuhan pada sang guru membuat lamarannya diterima. Hanya saja Allah berkehendak lain. Saat Kyai Rohim meyakini Amir lebih baik dari Bram dan menerima lamarannya. Ternyata Kun fayakun artinya 'Jadilah, maka terjadilah'. Allah tak melembutkan pintu hati orang-orang yang ada saat Amir bergelayut di tebing jurang agar tak menolong Amir. Sungguh hanya Allah yang dapat melembutkan hati setiap insan dengan insan itu pun terus berusaha melembutkan hati.
Sehingga Allah mengirimkan Bram agar Amir menjadi perantara bertemunya CEO MIKEL Group itu dengan jodohnya. Sekalipun banyak mata memandang bahwa mereka tidak cocok dan tak pantas bersanding.