
Mati, adalah pintu yang berada diantara dunia dan akhirat. Saat tubuh dan ruh masih menyatu mengarungi hidup di dunia. Hati seakan-akan lupa jika kita akan melewati pintu yang biasa disebut mati. Jika di dalam hidup kita bisa kembali memulai suatu usaha yang gagal demi kebahagiaan hidup di dunia. Maka saat kata mati datang menghampiri. Kita tak akan bisa mengulang kembali usaha kita untuk mengumpulkan bekal yang akan membahagiakan kita, kelak di akhirat.
Pak Bagas, padahal sang pemilik alam terus memeringati dirinya bahwa ia tak selamanya hidup didunia ini. Dari meninggalnya istri yang setia. Istri yang rela memendam rasa sakit karena suami terobsesi pada perempuan lain.
Tiada guna kata menyesal lagi. Saat bibir Pak Bagas tak mampu memanggil seseorang untuk membantunya. Tak ada daya dari urat-urat pada kakinya untuk bergerak apalagi melangkah. Kaki dan Lutut yang biasa melangkah ke tempat-tempat yang lebih menarik untuk menghasilkan uang walau membuat diri bermaksiat karena ada hak orang lain yang kadang dirampas. Ada dana yang kadang digelembungkan. Kini kaki itu terasa dingin. Bahkan kata maaf belum terucap pada orang yang ia dzolimi.
Air mata pak Bagas terus mengalir membasahi bantal tempat tidurnya. Hanya hatinya yang mampu mengucapkan kata demi kata memohon ampunan dari Rabb nya.
"Ya Allah.... Ampuni aku. Ampuni aku... ampuni aku... "
Sesak didada Pak Bagas membuat lelaki itu makin tersiksa. Rasa sesal akan harta yang selama ini tak pernah ia keluarkan untuk bersedekah bahkan zakat Mal nya pun tak pernah di tunaikan. Sesak, ketika mengingat bagaimana ia ia menatap langit-langit. Saat ia merasa puas bisa memiliki rumah yang mewah nan megah itu ternyata tak mampu membantunya melalui proses yang sekarang terasa amat sakit.
Bibir yang amat kelu karena tak mampu digerakkan untuk mengucap kalimat tauhid. Ingin mengucapkan istighfar namun masih tak mampu ia lakukan. Air mata Pak Bagas makin deras kala bayangan ia pernah memakam kan jenazah istrinya. Saat kain kafan dibuka dan wajah yang diarahkan mengahadap ke kiblat, sambil mencium tanah. saat akan terkubur di dalam tanah papan yang menutup lubang liang lahat. Ia membayangkan dirinya berada di posisi istrinya.
Tangisnya makin menjadi. Tangis tanpa suara. Tangis tanpa ratapan, hanya airmata membasahi pelupuk mata dan bantal yang menopang kepala yang selama ini nyaris tak pernah bersujud untuk menunaikan lima waktu yang merupakan ibadah yang sangat penting dalam agama Islam.
Hingga matahari terbit, Kediaman Pak Bagas telah ramai dipadati oleh penduduk, keluarga, sanak saudara. Kabar duka dari keluarga Agassi atau Sasi. Pagi hari itu, telah berpulang Ke Rahmatullah Pak Bagas. Sasi yang masih berada di rumah sakit merasakan kesedihan yang amat. Karena kondisinya tak bisa jadi di pemakaman sang ayah.
Berita meninggalnya Pak Bagas Sampai ke telinga Bram dan Ayra yang mendapat berita duka itu dari Rafi. Rafi yang terlihat cekung pada matanya karena begadang menunjukan satu ucapan duka dari banyak perusahaan atas meninggalnya Pak Bagas.
"Semoga Allah mengampuni setiap dosa yang telah Pak Bagas lakukan. Insyaallah Ayra memaafkan atas apa yang beliau lakukan pada Ayah dan Ibu. Semoga Sasi diberikan ketabahan mengahadapi kabar duka dikala bahagia karena mendapatkan seorang putri."
Bram memeluk istrinya. Ia bisa merasakan jika istrinya itu sedang menahan rasa sesak dihatinya. Rasa ikut sedih membayangkan jika dirinya ada pada Sasi. Rasa sedih karena belum sempat ia dan Pak Bagas berbicara perihal itu. Ia baru tahu ketika Bram menceritakan yang sebenarnya terjadi saat kabar duka itu beredar.
"Jangan ceritakan lagi apa yang almarhum lakukan di masa hidupnya mas. Jika itu tentang kesalahan beliau atau khilaf beliau. Harusnya mas tak usah ceritakan jika Pak Bagas yang Pak Jamal maksud adalah orang tua Sasi. Kini Ayra harus kembali mencoba menenangkan hati yang amat mudah dihinggapi godaan setan untuk tidak memaafkan kesalahan orang lain. Padahal beliau telah tiada."
"Maafkan Mas. Mas terlambat bercerita pada Mu Ay."
"Tidak usah Takziah, biar mama dan papa yang takziah Ay."
Pak Erlangga berdiri dari sofa tempatnya duduk. Ia tak ingin Ayra terlalu lelah.
"Iya Ay. Biar Mama dan Papa saja yang takziah. Kamu disini saja."
"Iya Bu. Tadi pak polisi juga bilang besok pagi Pak Bram sudah harus kembali ke tahanan."
Ayra mengangguk. Selepas kepergian Pak Erlangga dan istrinya. Rafi pun ingin pamit namun Ayra meminta bantuannya untuk mencetak Thesis yang telah ia kerjakan. Minggu depan ia akan ujian Thesis.
"Saya ada rapat siang ini Bu. Nanti saya minta bagian kantor untuk mencarikan percetakan untuk mencetaknya. Oh ya Bu tadi Aisha memberikan satu contoh kebaya acara wisudah ibu nanti dia bilang ibu belum membuka email-nya"
Ayra menggoda Rafi ketika ia menyerahkan satu hardisk eksternal ke Rafi.
"Kenapa harus lewat kamu titip pesannya? apakah dia tak punya no ku sekarang? atau kalian punya hubungan khusus? Halalin segera kalau cocok Fi. Jangan lama-lama takut setan jadi yang ketiga."
"What's??? Oh No. Tidak Bu. Si Jones itu bukan tipe saya."
"Sok keren. Memang tipe mu sepeti apa?"
Bram melempar bantal kecil ke arah Rafi beruntung asisten nya cepat menangkap bantal itu.
"Setidaknya saya tidak mau dengan perempuan yang sering ngomel seperti si Ais Ais itu."
"Dunia yang luas ini akan terasa sempit jika orang saling membenci Rafi."
Bram ikut menimpali.
"Dan ruangan sekecil ini akan terasa begitu besar kalau saling mencintai."
"Owh Tuhan aku ingin segera menikah agar tidak terus digoda oleh sepasang suami istri ini."
"Rafi! sejak kapan kamu berani berkicau di depan ku?"
"Sejak. Bu Ayra memimpin Mikel group. MIKEL Group tak terasa angker Pak."
"Rafiiiiiii!"
"Maaasss.... "
Rafi cepat meninggalkan sepasang suami istri itu. Ia tak berani menatap wajah Bram dengan kedua mata yang melotot. Ayra tertawa karena melihat tingkah konyol Rafi yang berlari seperti terbirit-birit itu.
"Mas. Jangan sering marah-marah. Kasihan Rafi. Ia bekerja dengan giat. Ia jujur, dan amanah. Tak ada pekerjaan yang ia tinggalkan selama mas tak di perusahaan. Lihat diusianya yang hanya dibawah mas dua tahun, dia masih membujang. Karena terlalu sibuk bekerja."
Bram terdiam. Ia ingat bagaimana ia melihat perjuangan Rafi yang dari kecil tinggal di panti asuhan. Bahkan ia menerima Rafi karena ia melihat sendiri perjuangan asisten nya dalam menggapai cita-cita hingga bisa mendapatkan beasiswa di luar negeri.
"Bagaimana kalau kita jodohkan dengan Aisha?"
Ayra tersenyum. Satu jempol ia angkat tanda setuju.
"Tapi. Ayra cari tahu dulu. Apakah Aisha telah ada yang meminang atau ia sedang menjalani satu hubungan."
"Hah. Tidak sabar lihat si Rafi itu menjilat ludah nya sendiri."
Ayra meletakkan dagunya diatas pundak suaminya dari arah samping. Ia menyipitkan kedua matanya sambil tersenyum menggoda sang suami.
"Seperti seorang lelaki yang dihadapan Ayra ini yang juga dulu sangat tidak suka pada istrinya? Sekarang gombalnya tingkat akut."
"Ayra..... "
Bram yang dari semalam melepaskan selang infus yang melekat pada tangannya, langsung menggendong istrinya hingga Ayra mengalungkan kedua tangannya pada leher Bram. Malang nasib Rafi kembali terjadi ketika ia meninggalkan ponselnya di sofa. Ia terpaku di depan pintu saat pintu itu ia buka. Bram yang masih menggendong istrinya itu hanya menarik napas dalam.
"Rafiiiiii...!"