Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
125 Pak Uban dan Lelaki Berkacamata


Saat Ayra keluar dari dalam Lapas. Ia langsung menuju sebuah mobil yang terlihat Abi dan Umi nya sedang duduk di bawah pohon beringin yang terdapat di depan mobil milik pak Erlangga.


Ayra yang mengajak kedua orang tuanya untuk Kembali pulang. Sepanjang perjalanan Kyai Rohim terusik akan sosok lelaki yang ia kenali itu. Seorang lelaki yang ia merasa wajahnya tak asing. Namun Kyai yang murah senyum Serta Suka guyon itu itu tak mampu mengingat nama dan dimana ia bertemu.


Ayra yang duduk dibelakang sopir terlihat mengeluarkan sesuatu dan memindahkan ke dalam tas kecilnya namun tiba-tiba sebuah tasbih kecil yang terbuat dari kayu jatuh dari balik sakunya. Ia biasanya akan menyembunyikan tasbih itu di dalam sakunya. Ia akan memutar tasbih itu didalam sakunya seraya hatinya terus berdzikir.


Umi Laila mengambil tasbih yang jatuh disebelahnya. Umi Laila tertegun pada tasbih itu. Dan ia serahkan kembali pada Ayra.


"Masih kamu pakai Ra"


"Iya Umi. Ayra sayang pada benda ini. Bukankah umi bilang jika ini adalah pemberian Ayah ku ketika Ayah dan Ibu pertama kali umroh?"


"Ya Ra."


Seketika wajah Kyai Rohim terlihat berubah mendengar percakapan istri dan anaknya. Ia baru ingat sosok yang ia lihat di sel tahanan tadi adalah Seseorang yang berhubungan dengan kecelakaan orang tua Ayra. Mulanya yang dianggap sebuah kecelakaan tunggal ternyata direkayasa oleh seseorang.


Setibanya di pondok Kyai Rohim. Umi Laila yang paham jika suaminya itu selalu ingin menikmati kopi hangat buatannya ketika habis berpergian dari mana-mana. Secangkir kopi hangat menemani Kyai Rohim dan Umi Laila yang sedang mempersiapkan kitab untuk dibawa nanti siang di acara pengajian ibu-ibu di desa sebelah.


"Umi."


"Ya Abi."


Istri Kyai Rohim itu cepat duduk di sebelah suaminya. Ia hapal betul nada bicara suaminya saat itu sedang ingin menceritakan sesuatu atau berdiskusi tentang suatu hal.


"Kenapa perasaan Abi tidak tenang. Abi melihat kisah Ayra dan Bram seperti kembali ke masa lalu."


"Maksud Abi?"


"Selama di lapas tadi Abi melihat bagaimana Bram melirik dan menatap istrinya. Cintanya pada Ayra begitu besar Mi. Abi khawatir cintanya yang begitu besar itu hingga mengulang kisah Ibu dan Ayahnya Ayra."


Umi Laila mengangkat kedua kakinya hingga naik keatas sofa. Ia menghadap ke arah kyai Rohim dan mencondongkan tubuhnya ke arah suami yang telah menemaninya hampir puluhan tahun hingga melahirkan 4 orang anak.


Ia hapus keringat yang muncul di pelipis suaminya.


"Abi. Ayra dan Bram itu masih terhitung pengantin Baru. Mereka belum ada satu tahun menikah. Tetapi sudah harus terpisah. Terlebih Bram sepertinya mencintai Ayra disaat ia harus terasing sebab masalalunya. Maka wajar jika cinta Suaminya begitu besar."


"Hehe... Itu Dari pandangan Umi. Karena Umi melihatnya dari sudut pandang perempuan."


"Lantas sudut pandang Abi?"


"Entahlah. Abi merasa gelisah semenjak bertemu lelaki yang sepertinya bertanggung jawab atas kecelakaan Dik Munir dan istrinya."


"Sungguh? dilapas tadi Bi?"


Kyai Rohim menganggukkan kepala. Disaat Kyai Rohim merasa penasaran dengan lelaki yang tak sengaja bertemu tadi. Lelaki itu siang ini setelah jam makan siang justru sedang menerima besukan dari seorang lelaki yang cukup tampan namun sudah tak lagi muda. Usianya hampir sama seperti Kyai Rohim namun terlihat lebih muda sedikit. Lelaki itu mengenakan kacamata cukup tebal.


Ia duduk menunggu Pak Uban. Setelah Pak Uban muncul lelaki itu cepat bertanya tanpa basa basi.


"Cepat katakan pada ku apa maksud mu mengirim pesan agar aku kemari?"


Lelaki berkacamata itu tampak kesusahan duduk di lantai. Ia memegangi pinggangnya.


"Cepat katakan, apa yang ingin kau sampaikan jangan bertele-tele. Anak ku akan mencalonkan diri menjadi anggota legislatif tahun depan. Aku tak ingin ia ikut terseret berita jelek karena aku membesuk mu."


"Hihihi.... Kamu masih seperti ini ternyata. Belum berubah juga kamu. Kita ini sama-sama tua. Hanya saja kamu menyemir rambut mu sedangkan aku lebih memilih uban ku ini tetap putih. Karena buat pengingat aku jika ingin kembali membuat dosa. Bahwa jemputan ke liang lahat sebentar lagi datang."


"Aku bilang cepat katakan."


Lelaki itu cepat mengeluarkan sebuah foto. Pria berkacamata itu terbelalak dan menyebut sebuah nama.


"Ai.... Aima. Nuaima. Apa aku tak salah lihat?"


"Hihihi.... Masih ada cinta ternyata di hati mu untuk orang yang sudah lama mati. Hey lelaki tua sadarlah jika kanker dalam dirimu itu sudah menyebar. Maka Tuhan memberi mu kesempatan untuk meminta maaf pada anak yang kau buat yatim piatu lewat tangan ku."


"Apa maksud mu!?"


Saat lelaki berkacamata itu akan mengambil foto yang berada ditangan pak Uban. Lelaki berambut panjang yang dipenuhi Uban itu pun cepat menariknya.


"Heit. Jangan diambil. Ini milik seorang teman baru ku. Ia tak tahu aku mengambilnya. Harus aku kembalikan. Karena ia hampir mirip dirimu."


"Maksud mu perempuan itu anak dari Aima?"


"Hihihi.... Ya. Dan yang lebih menarik lagi nama panggilannya sama Ay dan Ai. Karena teman ku itu akan memanggil nama Istrinya ketika bermimpi ditengah malam dengan memangil Ay Ay Ay."


"Wajah mereka sangat mirip."


Gumam pria berkacamata itu.


"Kalau kulihat tubuh mereka saja. Karena teman ku itu bertubuh cukup tinggi."


Pak uban mengomentari sambil melihat foto yang berada ditangannya. Sedangkan pria berkacamata itu sibuk dengan pikirannya dan kembali menyebut satu nama.


"Aima.... Kamu masih hidup."


"Hei Gila. Dia Ayra bukan Aima mu. Kamu tahu aku sengaja memanggil mu kemari jika kamu sempat bilang ingin menebus dosa dimasa lalu mu. Maka satukanlah dua orang yang sekarang sedang terpisah itu. Kabarnya mereka baru menikah beberapa bulan dan Anak Aima itu sedang hamil muda. Kalau kamu ingin menebus dosa mu karena sempat membuat ibu dari anak itu harus bertengkar dengan suaminya hingga berujung meninggal dalam kecelakaan yang kamu buat itu.


Maka setidaknya sekarang kamu bisa membantu suami Ay itu bebas. Cinta itu adalah bagaimana kamu membuat orang yang kamu cintai itu bahagia bukan memiliki nya tapi membuat ia menderita."


"Breng/sek! bisakah pelankan suara mu! Aku tidak pernah berniat melakukan itu pada Aima. Namun suaminya yang bodoh itu malah membawa Aima ikut bersamanya."


"Terserah anda pak Tua. Aku yang mungkin tinggal menghitung bulan disini. Aku akan menebus dosa ku dengan melindungi menantu dari orang yang sudah ku renggut nyawanya itu selama ia disini. Anda mau bertobat atau makin gila dengan obsesi cinta anda itu. Itu urusan anda. Saya harap anda segera bertaubat."


Pak uban meninggalkan lelaki berkacamata itu sendiri. Ia khawatir Bram mencari foto yang ia ambil diam-diam. Sehingga ia cepat kembali ke sel tahanannya. Lelaki berkacamata itu terpaku seorang diri diatas karpet tempat membesuk sel tahanan lapas itu.


"Kalian sangat mirip Ai. Apakah Tuhan mengirim mu kembali untuk ku sebelum aku menemui aja ku? Ayra. Jadi nama mu Ayra. Ah Senyum kalian sangat mirip. Aku akan menemui buah hati mu Ai. Apakah hati ku akan bergetar sama seperti puluhan tahun lalu?"


[Bantu Kasih Like, Gift dan VOTE Kalian ya Readers biar Ayra bisa tampil diberanda]