Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
73 10 Syarat Membaca Surah Al Fatihah


Ayra melangkahkan kaki menuju kamar nya. Nyonya Lukis yang dari tadi menanti kepulangan Ayra, berjalan mengikuti Ayra hingga di depan pintu kamar Ayra.


"Baru pulang Ay?"


"Mama, Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Ayra mendekat dan menjulurkan tangan ke arah ibu mertuanya. Hal yang paling di sukai oleh Nyonya Lukis dari menantu pertamanya itu. Walau ia hadir terakhir sebagai menantu di kehidupannya namun Ayra menempati ruangan spesial di hari Nyonya Lukis.


Walau tak pernah nyonya Lukis tampakkan kepada Rani dan Liona.


"Iya ma, alhamdulilah hari ini tidak terlalu banyak yang harus dikerjakan. Aisya juga membuat semua makin lebih ringan."


"Alhamdulilah, Ay mama mau tunjukkan kamu sesuatu."


Nyonya Lukis menarik tangan Ayra ke arah lift. Mereka menuju ruang perpustakaan yang berada di lantai dua. Sesampainya mereka di perpustakaan keluarga itu, Nyonya lukis menunjukkan setumpuk buku pada Ayra.


"Mama baru saja membelinya. Nanti malam setelah shalat isya. Kita mau bahas buku yang mana Ay? Mama bosan ngaji Alif ba Ra terus."


Ayra terperanjat kaget mendengar pernyataan ibu mertuanya itu. Ia berjalan ke arah meja yang telah ada hampir belasan buku yang masih baru.


Ayra membaca satu persatu judul buku dan pengarangnya. Ayra menatap satu persatu buku-buku itu. Ia menghembuskan napas dengan lembut dari rongga hidungnya.


Nyonya Lukis tampak bersemangat. Dan ia duduk di sebelah Ayra. Ia pun mengeluarkan ponsel ke arah Ayra. Ia menunjukkan tentang beberapa ceramah yang telah ia download beberapa hari ini. Jika kemarin saat Ayra belum menggantikan Bram di kantor. Ayra dan nyonya Lukis akan mengaji bersama.


Maka sudah hampir satu Minggu ini Ayra hanya punya waktu malam hari untuk bersama ibu mertuanya itu membahas apa saja yang Nyonya Lukis ingin ketahui.


Kedua bola mata Ayra melotot ketika melihat judul ceramah pada layar ponsel sang ibu mertua. Ia tak menyalahkan namun ia khawatir ibu mertuanya belajar agama seperti orang kehausan.


Ayra tersenyum pada sang ibu mertua. Ia melirik ke arah air yang ada dalam ceret berbentuk kristal itu.


"Ma, coba mama lihat ini ya. Kalau semua air satu ceret ini Ayra tuangkan penuh kedalam gelas ini. Kira-kira apakah akan tumpah meluber atau tidak?"


Nyonya lukis melihat ceret yang lebih besar dari gelas pun cepat menjawab.


"Jelas tumpah Ay. Kan besaran ceret daripada Gelasnya."


" Nah begitu pun dalam mengaji, dalam mencari ilmu Ma. Jangan langsung diisi penuh. Tetapi sedikit-sedikit hingga bisa habis di ceret itu tanpa membuang isinya dan mampu diserap tubuh kita dengan baik. Walau kita harus seperti gelas ketika belajar agama. Harus bersih, dan tak bercampur dengan minuman lain."


"Maksudnya Ay?"


"Maksud Ayra Pelan pelan saja Ma belajar nya. Yang penting-penting dulu. Jangan yang berat Seperti ini tentang hadits-hadits. Ayra menunjukkan satu buku yang berisi hadist semua."


"Mama tahu kenapa Ayra minta mama belajar Alif ba ta dulu setelah mama sudah bisa wudhu dengan benar, gerakan shalat dengan benar. Itu karena kadang kita sudah berdoa dengan benar. Amalan udah rajin selalu Istiqomah.


Eh ga taunya bacaan shalat kita ini belum benar Ma. Karena bagi kita yang madzhabnya Syafi’i bahwa membaca Al-Fatihah wajib hukumnya bagi orang yang shalat baik ia menjadi imam, makmum, maupun shalat sendirian.


Dalam Kitab Safinatunnaja. Ada Sepuluh syarat membaca Surat Al-Fatihah. Kesepuluh syarat tersebut kemudian dijabarkan penjelasannya oleh Syekh Nawawi Banten dalam kitabnya Kasyifatus Saja'."


"Sepuluh? Kemarin kamu belum jelasin Ay sama mama."


Ayra yang merasakan kering pada tenggorokan nya menuangkan Air kedalam gelas dan meminum air itu dengan tangan kanan. Ia tak langsung menghabiskan satu gelas air itu dalam satu tegukan. Ia minum dengan perlahan-lahan dan beberapa kali tegukan hingga Habis setengah gelas air minum tersebut.


"Pertama, tertib. Harus sesuai urutannya Ma. Bacanya ga boleh loncat dari ayat pertama ke ayat ke tiga.


Kedua, Berturut-turut. Misal, kita bersin pas lagi baca Al Fatihah di tengah shalat. Terus kita mengucapkan Alhamdulillah. bacaan hamdalah tersebut telah memotong berturut-turutnya bacaan Al-Fatihah. Bila terjadi demikian maka bacaan Al-Fatihah mesti diulang lagi dan shalatnya tidak batal.


Ketiga, Menjaga huruf-hurufnya Ma. dalam surat Al-Fatihah ada setidaknya 138 huruf. Namun bila menghitung komplit dengan tasydid-tasydidnya, kedua huruf alif pada dua kata shirath dua alif pada kata ad-dhallin, dan satu alif pada kata “malik” maka jumlah seluruh hurufnya ada 156.


Semua huruf itu harus terbaca dengan baik. Bila ada satu saja yang tidak terbaca maka tidak sah shalatnya."


Ayra berdehem beberapa kali karena tenggorokan nya yang begitu gatal. Lalu ia melanjutkan nya kembali.


Kelima tak berhenti ditengah bacaan. baik sebentar atau lama dengan maksud memotong bacaan"


[Sumber: Fiqh Ibadah Praktis dan Mudah Terjemahan dan penjelasan oleh KH. Ust Yahya Wahid Dahlan Al Mutamakkin]


"Kalau lupa gimana Ay?"


Nyonya Lukis dari tadi telah menghidupkan perekaman suara melalui ponsel. Ia selalu melakukan hal ini ketika sedang mendapatkan ilmu dari obrolan dengan menantunya itu.


"Ya kalau adanya uzur tertentu seperti lupa atau lelah maka tidaklah mengapa Ma.


Yang ke-enam, Membaca setiap ayatnya termasuk basmalah. Karenanya tidak membaca basmalah di dalam shalat menjadikan shalatnya tidak sah karena adanya satu ayat di dalam Surat Al-Fatihah yang tidak dibaca. Ke delapan...."


"Ke Tujuh Ay. Tujuh."


"Oh iya maaf Ma. Hehehe. Ketujuh, Tidak ada kesalahan baca yang bisa merusak makna. Contoh kesalahan baca yang bisa merusak makna adalah kata an’amta yang dibaca secara salah menjadi an’amtu. Kesalahan baca ini bisa merusak makna dari Engkau memberi nikmat menjadi saya memberi nikmat.


Kedelapan. Setiap huruf yang ada di dalam Surat Al-Fatihah harus terbaca pada saat posisi orang yang shalat dalam keadaan berdiri.


Kesembilan, Dapat didengar oleh diri sendiri. Setiap huruf Surat Al-Fatihah yang dibaca harus bisa didengar oleh diri sendiri bila pendengaran orang yang shalat dalam keadaan sehat atau normal."


"Berarti harus diucapkan lewat bibir ya Ay. Ga boleh dalam hati dong?"


"Iya Ma. Lirih aja ga apa-apa ma kalau kita shalat sendiri. kira-kira kita bisa dengar sendiri bacaan ala Fatihah tadi."


"Wah mama selama ini baca nya di dalam hati Ay." ucap mertua Ary


"Ayra yang lupa menyampaikan ini pada mama. Maafkan Ayra ma. Makanya kadang untuk belajar agama apalagi bab Thaharah, shalat, haid, itu harus ada guru yang memang mengerti, paham dan yang paling penting sanadnya harus sampai ke Rasulullah shalallahu alaihi wasallam."


"Terus ke sepuluh apa Ay?" tanya Ibu Bram itu lagi.


"Tidak diselingi dengan zikir atau bacaan lain Ma. Sebagai contoh ketika imam membaca ayat atau surat setelah membaca Al-Fatihah lalu terjadi kesalahan atau kelupaan baca umpamanya, makmum boleh mengingatkannya meskipun ia sendiri sedang membaca Surat Al-Fatihah. Namun perlu diingat, selagi imam masih mengulang-ulang bacaan ayat yang salah atau lupa tersebut makmum tidak boleh mengingatkannya. Bila dalam keadaan demikian, makmum mengingatkan imam padahal ia sendiri sedang membaca Al-Fatihah maka terpotonglah bacaan Al-Fatihahnya."


"Oh jadi ini alasan kamu selalu setiap malam mengoreksi bacaan Al Fatihah nya mama ya Ay." Kali ini perempuan kelahiran kalimantan itu kembali penasaran.


"Iya ma. Ayra saja mempelajari bacaan Surat Al-Fatihah sampai berbulan-bulan. Umi baru memperbolehkan Ayra dan para santri mempelajari bacaan berikutnya setelah Umi dan Abi benar-benar yakin bacaan Surat Al-Fatihah santri nya telah benar-benar fasih. Ini semua dimaksudkan demi menjaga keabsahan shalat Ma. Maka itu penting ketika kita ingin belajar agama, bab Thaharah, shalat dan bacaannya lebih dulu ma daripada hadist-hadist atau dalil-dalil yang ada di buku mama beli ini. Bukan berarti ga boleh ma. Semua ada waktunya."


"Maksudnya tadi kamu bilang sanad tadi apa Ay?"


Ayra yang dari tadi merasa gelisah karena semenjak ia menggantikan posisi Bram. Ia hampir selalu melakukan shalat isya jauh dari tepat waktu. Walau waktu shalat isya itu panjang. Karena bagi seorang santri yang terbiasa tepat waktu, hal itu membuat hatinya tak tenang.


"Ayra boleh shalat isya lebih dulu ma? Nanti Ayra jelaskan."


"Ya ampun....."


"Astaghfirullah hal 'adzim. Ma."


"Iya astaghfirullah. Mama lupa kamu baru pulang dari kantor Ay. Sudah makan Nak?"


Ayra menggeleng.


"Ya sudah sana bersihkan dirimu mama minta Asih siapkan makan malam mu. Kita semua sudah makan tadi."


"Bik Asih. Lebih enak dengar nya ma. Bik Asih juga usianya ga jauh kan sama mama?"


"Ah... Ayra... kamu ini paket lengkap yang Tuhan kirimkan ke keluarga Mama."


"Allah Ma.... Lebih enak kalau Allah Subhanahu wa ta'ala."


"Iya menantu mama sayang... Mama sangat menyayangi kamu Ay. Sudah sana cepat katanya mau shalat. Mama tunggu dibawah Biar Bik Asih siapkan."


Nyonya Lukis memeluk Ayra dan mengusap lembut lengan Ayra.