Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
235 Bertemu Dokter Sarah


Pagi hari di kediaman Pak Erlangga. Bram dan Ayra pagi ini akan berniat mengunjungi beberapa sekolah yang akan menjadi tempat baru bagi Ammar dan Qiya menuntut ilmu.


Ammar dan Qiya akan pulang bersama Liona dan Beni. Sehingga pagi itu Ayra dan Bram hanya berdua saja mengunjungi tiga sekolah. Dari sekian banyak nama yang Bram berikan untuk menjadi alternatif sekolah baru, hanya tiga yang Ayra pilih untuk mereka lihat langsung.


Hampir setengah hari sepasang suami istri itu menghabiskan waktu berkeliling di tiga sekolah. Ketika dalam perjalanan pulang, Bram bertanya apakah sang istri sudah memiliki pilihan. Kali ini ia menyerahkan pada Ayra untuk sekolah anak-anak mereka. Jika kemarin ia memilih satu sekolah yang berakhir anak-anaknya dikeluarkan karena ketidakprofesionalan pemilik yayasan, kali ini ia ingin istrinya saja yang memutuskan.


"Bagaiamana Ay, Sudah ada pilihannya?" tanya Bram masih sambil fokus mengemudikan kendaraannya.


"Sepertinya sudah mas, Insyaallah terbaik buat anak-anak kita."


"Jadi sekolah mana yang kamu pilih?" Tanya Bram saat mobilnya berhenti di lampu merah.


Ia menggenggam tangan Ayra dan menge cup punggung tangan istrinya.


"Ayra pilih sekolah yang terakhir kita kunjungi."


Bram menaikan kedua alisnya. Ia tak percaya jika sang istri justru tidak memilih sekolah yang namanya terdengar tak terlalu islami. Bahkan dua sekolah pertama yang mereka kunjungi dari namanya saja sudah menunjukkan bahwa itu sekolah untuk anak-anak orang Islam. Namun sekolah yang terakhir yang menjadi pilihan Ayra, belum terlalu besar. Gedungnya juga tak begitu mewah. Serta nama sekolah itu pun tak terkesan islami walau seluruh siswa perempuan disekolah tersebut mengenakan kerudung.


"Kenapa? Bukankah dua sekolah tadi sepertinya sangat baik. Dan setiap hari ada pelajaran agamanya. Bahkan kata kepala sekolahnya tadi mereka punya program untuk hapalan juz 30."


"Apakah mas bahagia memiliki istri seperti Ayra?"


"Ay, mas bertanya tentang anak kita. Kalau tentang kamu. Nanti mas jelaskan kalau sudah dirumah."


Jari telunjuk Ayra menyentuh hidung Bram. Ia tertawa karena mendengar perkataan suaminya.


"Ih mas.... Ingat kata dokter. Ini masih Hammul. Alias hamil muda. Jangan terlalu sering diganggu."


"Kamu yang gangguin mas."


Bram yang melihat lampu telah berwana kuning dan berubah ke warna hijau. Sehingga ia melepaskan genggaman tangannya.


"Semenjak mas menikah dengan kamu, mas bahagia Ay. Mas bahkan lupa bagaimana rasanya tidak tenang, rasanya tidak bahagia. Mas selalu ingin pulang cepat setiap hari."


"Thanks my Hubby...."


Bram memang mengatakan isi hatinya. Ia memang bahagia hidup bersama Ayra. Ia sangat mencintai Istrinya. Ia pun menghormati dan menjadikan Ayra rekan paling utama dalam hidupnya. Saat rapat pun ia tak pernah merubah silent pengaturan ponselnya, untuk panggilan dari Ayra. Bahkan Rafi sebagai asisten sudah sangat mengerti, jika ponsel CEO itu berdering kala rapat dan diterima oleh bosnya, maka itu adalah panggilan dari Nyonya Lukis atau Ayra.


Jika kebanyakan lelaki akan menutup telpon sang istri saat merasa sedang sibuk. Tidak dengan Bram. Ibarat pribahasa baginya Istri adalah top kliennya. Ia akan menerima panggilan telepon dari sang istri. Bahkan saat masa kecil Ammar dan Qiya, ia pernah beberapa kali meminta Rafi menggantikannya rapat. Karena Keuda anaknya meminta ditemani ke suatu tempat.


Hal itu bukan karena CEO tersebut melalaikan pekerjaannya, melainkan ia yang merupakan pemilik MIKEL Group, maka tak butuh izin atasan saat ia ingin libur atau tak bisa hadir di kantor.


Putra sulung Pak Erlangga pun jauh berubah setelah menikah dengan Ayra. Ia hampir tak pernah bermuka masam pada orang yang tak ia sukai. Bahkan senyum di wajah Bramantyo itu sering terlihat di beberapa momen.


Bram yang merasa lapar menepikan mobilnya di sebuah restoran.


"Kita makan dulu ya Ay. Mas lapar."


"Ammar dan Qiya nanti kelamaan ga mas?"


"Mereka belum berangkat, masih dirumah papa. Nanti sore Beni bilang akan mengantar mereka pulang. Ia tadi izin ingin mengajak Ammar dan Qiya jalan-jalan."


Sepasang suami istri itu masuk ke restoran tersebut. Bram menarik satu kursi dan mempersilahkan istrinya duduk. Bram duduk di sisi kanan Ayra. Mereka memesan beberapa menu. Sambil menunggu pesanan mereka tiba, Ayra mengutarakan maksudnya memilihkan sekolah yang terakhir mereka kunjungi.


"Jadi begini mas, Ayra memilih sekolah tadi pertama, Ayra suka dengan guru-gurunya. Kedua lingkungannya, ketiga Ayra lihat disana menerapkan belajar sambil bermain. Dan yang paling Ayra suka tidak hanya ilmu agama, belajar menulis dan membaca. Namun kegiatan untuk mencintai tanah air disekolah itu, ada."


Bram bingung dengan penjelasan yang terakhir sang istri.


"Maksud kalimat nya yang terakhir?"


"Coba mas lihat ketika kita ke ruang kepala sekolah tadi. Sekolah pertama dan kedua, itu Ndak ada foto presiden dan wakil presidennya. Terus Ndak ada bendera merah putih di setiap ruangannya. Ayra juga baca kegiatan nya. Ndak ada kegiatan di hari-hari nasional. Bahkan 17 Agustus pun ndak ada peringatan di sekolah itu. "


"Kamu detail sekali Sayang.... Mas tidak memperhatikan hal sekecil itu."


"Mas... itu bukan hal kecil. Itu hal yang justru harus diperhatikan memilih sekolah anak-anak kita. Bahkan sekarang ini terjadi fenomena, banyak mereka yang hapal Al-Qur'an tetapi mereka tidak paham hukum-hukum agama. Padahal keduanya adalah baik. Tetapi kadang dengan lantangnya mereka akan menyesat-nyesatkan ulama yang sepuh atau terkadang malah mengkafirkan mereka yang madzhab nya berbeda dengan mereka. Ini yang Ayra tak inginkan jika anak-anak kita sekolah disana."


"Tetapi kan tetap sekolah itu mengajarkan sebuah Ilmu sayang? Nama sekolahnya juga islami sekali."


"Suamiku sayang, memang mayoritas orang tua hanya tergiur dengan nama pesantren atau sekolah yang bernuansa Islam atau tokoh-tokoh Islam, niatnya sudah baik. Namun di dalam kesehariannya yang diajarkan Islam yang tidak selaras dengan kebangsaan dan tanah air kita."


"Maksudnya?"


"Mas lihat dua sekolah pertama yang kita kunjungi tadi. Ayra lihat mereka tidak melakukan upacara bendera. Karena menganggap dapat membawa kemusyrikan. Dan itu tidak sepaham dengan apa yang Aya pelajari selama ini. Ayra ingin anak-anak kita tidak hanya padai ilmu agama, tetapi juga berakhlak baik, beradab pada siapa saja dan cinta pada tanah airnya."


Bram membenarkan posisi duduknya. Ia mendengarkan penjelasan istrinya.


"Apakah Rasulullah mencintai negerinya?"


Ayra melanjutkan isi hatinya terkait masalah yang Bram tanyakan. "Kalau tidak salah di dalam hadits riwayat At-Turnudzi menggambarkan betapa beratnya Rasulullah shalallahu alaihi wasallam meninggalkan kota Makkah, tempat beliau dilahirkan. Maka disana kita bisa melihat betapa Rasulullah juga mencintai negerinya. Tanah kelahirannya."


Ayra mengambil satu cangkir yang memiliki gagang di atas nampan yang ada di meja.


"Mas lihat cangkir ini. Jika tak ada gagangnya, maka cangkir ini akan membuat kulit tangan kita panas ketika kita akan menikmati secangkir kopi yang nikmat dalam keadaan panas. Begitupun dalam beragama dan Bertanah air. Agama Islam memerlukan tanah air sebagai lahan dakwah dan menyebarkan agama, sedangkan tanah air memerlukan siraman-siraman nilai-nilai agama agar tidak tandus dan kering."


Bram kembali menggenggam tangan istrinya. Kali ini ia meraih tangan Ayra dan meletakkannya di bawah meja. Ia genggam erat tangan istrinya. Ia tak ingin Keromantisannya menjadi konsumsi publik. Tetapi rasa cinta yang besar pada sang istri tak mampu membuat ia menahan untuk tak menyentuh istrinya.


Bram pun baru mengerti makna istrinya memilih Sekolah yang juga menanamkan cinta tanah air bukan hanya ilmu agama Apalagi sampai mengkafirkan atau mengatakan jika hormat bendera atau upacara adalah thogut. Atau menyembah berhala.


"Kamu betul Ay, Terlebih negara kita yang tidak hanya ada agama Islam tetapi terdapat juga agama lain. Kita tak akan bisa beribadah dengan tenang, bahagia jika tanah air kita dalam keadaan perang. Dan seperti kita ketahui bangsa-bangsa lain yang penduduk negerinya berpecah belah, saling menumpahkan darah, saling bu nuh dan masing-masing mereka berjuang atas nama agama yang sama, tetapi mereka tidak peduli kepada nasib tanah airnya."


"Betul, Itu karena kecintaan mereka pada agama yang tidak diiringi dengan kecintaan kepada tanah air yang juga merupakan tuntutan agama. Dan Ulama kita mengajarkan hal itu bukan tanpa landasan. Hijrahnya nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam dari Mekah ke Madinah adalah wujud Rasul mencintai negerinya. Hal itu menjadi jawaban jika orang mengatakan Mencintai negara adalah bagian iman adalah haram."


Beberapa saat seorang pelayan membawakan pesanan Ayra dan Bram. Setelah mereka menghabiskan makan siang di restoran khas Indonesia itu, Mereka berniat segera pulang karena kedua anak mereka telah di perjalanan menuju rumah.


Saat tiba di tempat parkir, Ayra melihat sosok perempuan yang ia kenal. Dokter tersebut adalah Sarah. Ia tampak sedang menandatangani sesuatu di atas mobilnya. Dan tampak dua orang montir yang berada disisinya.


"Mas, itu sepertinya Sarah."


"Sarah?"


"Ya. Anak teman Abi kalau tidak salah di juga yang dulu di Kanada menangani Beni. Dan Liona yang cukup banyak berubah."


Bram melihat perempuan berkerudung putih dan memegang satu tas tangan.


"Sepertinya dia ada masalah mas."


"Ya sudah kita temui dulu."


Ayra menyapa Sarah. Perempuan itu cukup kaget karena melihat ada Ayra di tempat itu.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussallam. Ning Ayra?"


"Ada apa Sar?"


"Ini mobilnya tidak mau hidup. Jad aku panggil montir padahal harus buru-buru. Sudah ada janji sama pasien."


"Kita bisa antar ya kan Mas? Kita kebetulan mau pulang. Masih dirumah sakit yang lama?" Ayra menoleh ke arah Bram.


"Iya tidak apa-apa, toh searah juga kan."


"Tidak usah Ning, mas. Merepotkan. Saya pesan taksi online saja."


"Ayolah kita sudah lama tidak bertemu. Tidak perlu sungkan.


Ayra menggandeng tangan dokter yang masih berstatus single di usia hampir 32 tahun itu. Dokter ahli saraf itu akhirnya mau tidak mau ikut masuk kedalam mobil. Seketika dokter Sarah cukup terpesona melihat ketampanan suami Ayra itu. Namun perempuan itu cepat menghilangkan rasa kagumnya. Ia sadar bahwa ia harus menundukkan pandangannya. Sehingga ia hanya menatap Arya dari posisi duduknya.


Ayra yang duduk di sisi Bram, ia duduk dengan posisi sedikit miring menghadap ke arah belakang. Mereka berbicara seputar masalalu mereka. Ia Sarah Hanya terpaut usia 3 tahun. Namun pembicaraan mereka membuat Ayra dan Bram saling melirik ketika Dokter Sarah bercerita perihal ia sering melihat Liona di rumah sakit tempat ia bekerja.


"Sayang setiap saya ingin menyapa Liona. Pasien di daftar ku lagi banyak."


"Kamu yakin itu Liona?"


"Yakin Ning. Kami lama di Kanada, maka gesture nya pun aku yakin bahwa itu Liona. Dia sakit apa memangnya? Karena ia selalu sendiri kerumah sakit."


"Ay...."


Bram menoleh ke arah istrinya. Ayra makin penasaran akan satu berita yang baru ia ketahui. Saat ia mencoba mendengarkan keluh kesah Liona. Iparnya itu tak menceritakan perihal penyakit apapun. Maka hal itu membuat Ayra semakin yakin, jika ada yang sedang disembunyikan oleh Liona.


"Sar, bisa aku minta bantuan kamu?"


"Apa Ning? Insyaallah saya bantu kalau saya bisa."


"Tolong cari informasi tentang Liona menemui dokter apa dan ada sakit apa. Karena kami tak tau hal ini. Tetapi kami merasakan ada yang coba ia sembunyikan dari kami keluarganya."


"Sungguh? Baiklah, mungkin begini saja. Saya akan cek saja hari apa Liona ke rumah sakit. Dan memberikan kabar agar Ning bisa menemui Liona sendiri. Karena kode etik tak mungkin membuat saya menceritakan apa yang menjadi penyakit pasien tersebut."


"Baiklah. Terimakasih Sar. Maaf merepotkan."


"Tidak Ning."


Bram seketika menjadi tak tenang. Ia khawatir dengan ruang tangga adiknya yang baru ingin merasakan kebahagiaan. Ia khawatir jika adik iparnya terkena penyakit serius.


Ayra menggeser posisinya hingga ia menatap lurus ke depan. Ia tak ingin menduga-duga tetapi hatinya seketika menjadi gelisah.


"Semoga kamu dalam kondisi baik-baik saja Liona."