Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
97 Sesal Di Hati Nyonya Lukis


Sepasang suami istri yang baru saja dimabuk cinta itu masih didalam kamar walau mentari telah bersinar terang. Bahkan Penghuni rumah itu telah berada di meja makan menanti Ayra yang biasanya makan pagi bersama namun tak kunjung turun dari kamarnya.


"Sudahlah ma. Wajarlah mereka pengantin baru. Baru ketemu kemarin. Sudah biarkan saja, cepat sarapan nanti nasi gorengnya dingin."


Pak Erlangga mengingatkan sang istri yang masih menatap pintu lift dan sesekali melirik ke arah anak tangga berharap sang anak dan menantu akan turun untuk menyantap makan pagi bersama.


"Mama masih rindu pada Bram pa."


Nyonya Lukis mengalihkan pembicaraan karena ia sadar bahwa ia juga punya menantu Rani selain Ayra. Walau rasa sayang dihatinya lebih besar tercurah untuk Ayra namun ia tak ingin menantu lainnya merasa tersakiti atau merasa tersaingi karena menantu lainnya.


"Betul kata papa ma. Mungkin Ayra sedang di mangsa oleh anak kesayangan mama itu sehingga tak boleh keluar dari kamar "


"Bams. Mama tidak pernah membedakan kalian. Kamu tidak ingat jika diantara kalian bertiga hanya Bram yang tidak pernah menolak ketika mama meminta tolong."


"Iya ma iya. Maaf... Kamu kenapa yank tersenyum begitu?"


Bambang bingung karena sang istri tersenyum sambil mengunyah makanan nya.


"Hehehe... Aku teringat Rafi kemarin. Bagaimana dia mendapatkan amarah bosnya. Hihihi.... "


"Hahaha.... Iya kasihan sekali lelaki itu. Sudah kena damprat, eh harus jungkir balik demi bosnya yang lagi kasmaran."


"Nyonya Lukis mengerutkan dahinya."


"Katakan apa yang terjadi kemarin?"


Rani yang baru saja minum air putih cepat bercerita pada mamanya kejadian kemarin di kediaman pak Erlangga.


Dimana pagi hari Rafi datang ke rumah setelah mendapat pesan dari Bram. Ia datang dengan membawa berbagai peralatan mendaki gunung. Dari dua buah keril, sepatu gunung dan tenda. dan beberapa pernak pernik yang biasa dibawa untuk mendaki gunung yang semuanya berwarna pink. Sampai ia dikamar bosnya. Suara menggelegar dari Bram memekakkan telinga seisi rumah.


"Rafiiiiii! Kamu pikir aku dan Ayra akan naik gunung!"


Rafi yang mendapatkan amarah seketika menundukkan kepalanya. Ia mengingat betul jika pesan yang dikirim big bosnya adalah belikan peralatan mendaki yang romantis. Alhasil ia membeli semua benda yang biasa dibawa mendaki tadi berwarna pink.


Ia hanya bisa mengusap lehernya yang tak sakit.


"Ta-Pi. Pesan bapak belikan peralatan mendaki yang Romantis?"


"Puk!"


Seketika CEO MIKEL Group itu menepuk jidatnya. Ia baru ingat karena buru-buru ingin memberikan kejutan pada Ayra ia mengirimkan pesan pada sang asisten dengan bahasa satir yang ia pernah gunakan bersama Ayra.


Setelah itu dua lelaki itu pergi dari rumah hampir setengah hari mereka pergi. Ketika mereka kembali telah ada beberapa orang membawa meja makan berukuran kecil yang hanya muat untuk dua orang kedalam kamar Bram. Belum lagi Rafi, ia kesulitan membawa dua kardus besar yang Bambang dan Rani tak tahu isinya.


Setelah itu sampai hampir malam Bram tak keluar kamar. Ia mengurung diri di dalam kamar dan hanya meninggalkan pesan kepada semua yang ada dirumah tidak ada yang boleh menyambut istrinya pulang. Ia ingin istrinya itu begitu pulang langsung menuju kamarnya.


Nyonya Lukis yang memang lelah dari perjalanan memilih tidur. Bik Asih pun patuh ia mendengar mobil sang nyonya muda pulang tapi tak berani keluar untuk menyambut sang Nyonya baru itu.


Tapi tidak dengan Rani dan Bambang. Sepasang suami istri itu berusaha menenangkan Raka yang begitu mendengar suara salam Ayra dari lantai bawa cepat bocah kecil itu ingin pergi keluar kamar. Rani berusaha menutup mulut sang anak sampai Ayra masuk ke kamar Bram. yang berkahir dengan Raka diberikan ponsel oleh Bambang.


Bambang dan Rani memang sedikit membatasi sang anak bermain ponsel. Namun terkadang ponsel menjadi senjata terkahir bagi mereka untuk membuat anak mereka tenang seketika. Walau sebenarnya cara seperti itu justru kurang tepat dalam menenangkan anak.


"Ma, kita sudah punya cucu."


Pak Erlangga melirik Nyonya Lukis. Nyonya Lukis cepat mengusap punggung tangan Rani.


"Maafkan Mama Ran. Mama tak akan membedakan Raka dengan cucu mama yang mana pun. Kamu tahu kan Bram sudah berusia 35 tahun. Dan membuat dia mau menikah saja itu sudah sebuah kebahagiaan bagi mama apalagi kamu bilang Bram membuat kejutan untuk Ayra."


"Iya Ma. Rani paham kok. Mama tidak perlu khawatir. Rani bisa merasakan ketulusan dari mama dan papa."


"Ayank istri Ter the best pokoknya. Bram memang harus dikasihani."


"Bams, panggil Bram lebih sopan. Tak enak didengar oleh Ayra. Mama malu sebenarnya sama Ayra. Kita ini mungkin terlihat aneh dimatanya tapi bibirnya tak pernah berucap."


"What? Lebih sopan bagaimana Ma?"


"Pakai, Kak, Mas, atau Bang gitu."


"Mama yang dari kecil tak membiasakan kami begitu. Aaawwwhhh."


Rani mendaratkan cubitan pada perut suaminya.


"Kamu itu sama mama ga sopan-sopannya. Mau kamu kalau tua nanti di begituin sama Raka atau anak-anak kamu?"


"Oh Tuhan. kamu semenjak pindah kesini tambah judes si yank."


Pak Erlangga hanya tersenyum sambil menghabiskan makan paginya.


"Tidak apa-apa istri itu kadang perlu cerewet perlu judes kalau suaminya salah."


"Papa tidak mau membela ku?"


"Papa berada di pihak mereka. Mama mu benar. Papa dan mama minta maaf. Mungkin papa dan mama dulu mendidik kalian tidak dilengkapi dengan ilmu agama, sopan santun. Dulu papa dan mama hanya mengukur bahwa keberhasilan orang tua hanya dilihat ketika anak nya sekolah di tempat favorit dan menjadi orang sukses Bams."


Nyonya Lukis menimpali ketika suaminya berhenti karena mengelap mulutnya.


"Nyatanya, Ketika sudah tua begini. Sangat tidak nyaman melihat kalian tidak akur satu sama lain. Sangat sakit hati ini ketika kalian membentak kami saat kalian merasa kalian lebih hebat dan gagah Bams. Dulu saat Beni masih kecil mama tak pernah merasakan sakit saat ia membentak mama. Tapi sekarang kenapa sakit sekali rasanya.Hiks."


"Ma... "


Tiga orang di meja makan itu secara bersamaan mengucapkan satu kata. Air mata membasahi pipi Nyonya Lukis. Ia merasakan sakit ketika Beni bersikap kasar padanya. Sedari kecil anak keduanya itu memang terbiasa namun Nyonya Lukis yang sayang pada anaknya dan menganggap jika hal itu biasa karena masih anak-anak. Namun sesal datang dikemudian hari.


Seiring waktu Beni beranjak dewasa hingga rasa tak hormat. Sekedar membentak dan menyalahkan orang tuanya bukan hal yang aneh bagi Beni. Bahkan Beni sering berbicara pada Nyonya Lukis dengan nada yang tak sopan.


"Ma. Ayra pernah bilang semua yang terjadi adalah kehendak Allah. Maka kita hanya bisa berdoa mudah-mudahan Beni diberi hidayah."


Usapan lembut Rani berikan pada punggung tangan sang ibu mertua.


"Aamiin."


Satu kata, dua suara dari satu pasang suami istri yang dari tadi menjadi perbincangan di meja makan itu.