Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
67 Bucin Ayra Bram 1


Tak terasa waktu berlalu hampir satu Minggu. Tiba hari dimana Bram baru boleh dibesuk oleh keluarga. Perkembangan kasus pun begitu cepat direspon hingga dalam bulan-bulan ini akan digelarnya sidang perdana kasus Bram.


Karena makin panas nya situasi di masyarakat yang geram karena menganggap Bram adalah orang yang harus bertanggung jawab atas video yang beredar. Banyak masyarakat yang beranggapan bahwa video itu membuat hancurnya generasi anak muda.


Tak tanggung-tanggung beberapa ormas bahkan mengancam akan menggelar demonstrasi besar-besaran disidang perdana Bram Minggu depan. Berita di media online dan cetak pun setiap hari makin panas. Semua mata dan cemoohan mengarah kepada Bram.


Beruntung Bram berada di dalam sel tahanan yang tak terhubung dengan dunia luar. Hingga ia yang memiliki emosi yang sering meledak-ledak itu tak mendengar dan melihat liarnya berita diluar dan beberapa orang dan ormas begitu geram pada dirinya.


Ayra telah berada di depan ruang tunggu. Ia menunggu waktu giliran bertemu dengan Bram. Ia pun membawa pakaian ganti dan beberapa kebutuhan suaminya sama seperti beberapa waktu lalu.


Tak lupa Ayra menyelipkan 2 buku untuk suami nya itu. Ia berharap sang suami bisa mengabiskan waktu nya didalam dengan bisa kembali merenungkan apa yang telah dilalui dan apa yang akan ia lakukan kedepan.


Ayra pun membawa nasi di wadah makan yang ia masak sendiri dengan tangan lembutnya. Ini mungkin masakan pertama yang ia masak untuk suaminya itu.


Sebuah pesan dari seorang ulama besar di negeri ini Ayra amalkan setiap Ayra memasak. Bahkan saat ia mendapat tugas seminggu dua kali di pondok pesantren untuk bertugas di dapur membantu memasak untuk hampir 450 Santri di pondok pesantren Kyai Rohim, ia amalkan juga.


Dimana Ayra mencuci beras yang akan dimasaknya itu sambil membaca bismillah 21 kali dan Shalawat 11 kali. Ini Ayra lakukan berdasarkan dawuh seorang ulama besar. Menurut ulama yang memberikan amalan tersebut, ini adalah salah satu ikhtiar membuat anak dan keturunan selalu mendapat lindungan dari Allah SWT dan keridhoannya.


Dan ini juga salah satu yang seorang ibu harus lakukan. Ini disebut tirakat. Tirakat jika ingin anaknya soleh atau soleha, berkah hidupnya dan sukses di masa depan. Tirakat ini sangat beliau anjurkan. Ulama tersebut adalah Habib Luthfi bin Yahya. Seorang ulama besar asal Pekalongan Jawa Tengah.


Ayra menuju satu meja dimana ia harus menyerahkan ponsel tas nya kepada petugas dan dimasukan kedalam sebuah loker. Lalu bagian tubuh Ayra pun diperiksa oleh petugas perempuan yang berjaga. Ia memastikan tak ada benda yang berbahaya dan terlarang pada tubuh Ayra sebelum mengunjungi Bram yang sebagai tahanan pada mabes polri ini.


Lalu perempuan berbaju polisi itu mengingatkan Ayra jika waktu besuk hanya 15 menit.


Ayra mengunjungi Bram seorang diri. Nyonya lukis masih fokus pada kesehatan nenek Indira. Sedangkan pak Erlangga ia sibuk harus ke perusahaan nya dan juga mengawasi perusahaan milik Bram dan ditemani oleh Bambang.


Lalu Ayra menyerahkan tanda pengenal yang sah. Setelah rentetan peraturan telah Ayra lalui akhirnya Ayra kembali bisa bertemu dengan Bram setelah hampir satu Minggu mereka terpisah kan jarak dan waktu.


Ayra telah duduk di sebuah kursi plastik. didalam ruangan tersebut terdapat 2 meja. Satu meja lainnya telah ditempati oleh seorang lelaki remaja dan seorang ibu yang berusia sekitar 45 tahun Sang ibu terus saja mengomeli anaknya.


Juga sesekali Isak tangis ibu itu terdengar saat ia memarahi anaknya itu. Tak lama Bram telah hadir diruangan itu. Kedua bola mata Ayra membesar. Sosok tampan suaminya beberapa hari lalu terlihat begitu kusut. Mata yang cekung, rambut-rambut tipis mulai tumbuh di sekitar dagu nya. Rambut yang biasa mengkilat hari ini terlihat kering.


Bram memandangi istrinya. Satu sosok perempuan yang cantik, periang, dewasa dan sabar dimata Bram. Tak ada yang berubah dari istrinya. Ia merasa Ayra makin cantik dengan tampilan nya hari ini yang mengenakan jilbab pasmina berwarna pastel senada dengan gamis nya yang terlihat sedikit lebih besar hingga tak terlihat lekuk tubuh sang istri.


Ayra cepat berdiri dan menarik kursi disebelahnya. Ia sengaja menarik kursi nya ke sebelah tempat duduknya. Ayra menyodorkan tangan, Bram yang paham cepat memberikan tangan kanannya pada sang istri. Ayra mencium lembut tangan suaminya dengan hidung yang ia tempelkan pada punggung tangan suaminya.


Bram pun duduk disebelah Ayra tanpa bertanya apa-apa. Seolah kedua matanya itu merindukan potret cantik sang istri ia hanya memandangi Ayra. Senyum manis pun Ayra suguhkan untuk suaminya. Seolah mereka berdua yang sedang menikmati suasana itu, mereka tak terganggu sekali dengan suasana dibelakang mereka yang dari tadi seorang ibu memarahi anaknya.


"Mas, sehat? Matanya terlihat cekung mas. Minyak rambutnya habiskah mas? Rambut mad terlihat kering. Tapi tenang saja mas masih tampan. Hehe.... "


Ayra memegang rambut suaminya yang terlibat kering dan berpindah ke pipi Bram. Ia menyentuh bawah mata Bram yang memang terlihat bulatan hitam.


"Aku sekamar dengan 2 orang lainnya. Mereka selalu mengambil deodorant, shampo, sabun dan minyak rambutku."


"Mereka mengancam mas?"


"Tidak tapi istri-istri mereka tidak sedetail kamu Ay."


"Bagaimana nenek Ay?"


"Nenek sudah dirumah 2 hari yang lalu mas. Helena pun sering kerumah."


Kedua netra Bram membesar.


"Semoga dia bisa belajar dari kamu agar tidak terlalu manja dan terlalu memaksa kehendaknya pada orang lain. Kamu tak terganggu Helena disana?"


Ayra menggeleng-gelengkan kepala dan sebuah senyum ia kembangkan. Rasa hangat dalam dada Bram setiap kali melihat istrinya itu tersenyum.


"Boleh besok Ayra lebihkan 2 paket untuk kedua teman mas? biar mereka tidak mengganggu punya mas?"


Kembali matanya membesar.


"Kamu sedang memperhatikan suami orang?!"


Nada ketus keluar dari bibir suaminya itu.


"Mas. Kamu cemburu?"


Bram menarik kedua alisnya keatas. Ia pun tak tahu jawaban apa untuk pertanyaan Ayra namun ia tak suka pertanyaan Ayra barusan.


"Ayra justru sedang memperhatikan suami Ayra bukan suami orang lain. Lihat ini rambut suami ku kering, kulit mas juga terlibat kering mas. Jadi biar mereka tak mengambil milik mas maka aku siapkan saja daripada mas seperti ini. Tapi kalau mas mengijinkan."


Bram tidak menjawab. Ia melihat sebuah kotak nasi yang Ayra bawa.


"Kamu bawa apa Ay? aku belum sarapan tadi. Tak selera menu nya setiap hari nasi terus."


"Lambung mas itu tak sehat karena mas hanya makan nasi cuma satu kali sehari si mas. Tenang saja aku ga akan berpaling dari mu walau dada mu tak sixpack lagi mas. Hehe.... "


Ayra tertawa kecil karena ia ingat betul bagaimana sixpack nya dada suaminya itu. Ketika ia memberikan tanda merah pada dada itu melalui satu koin kedua netra Ayra mampu merekam jelas hal yang halal ia pandangi dan ia bayangkan.


"O.... Baru satu Minggu kamu sudah pandai menggoda ku ya. Mulai nakal ya.... "


"Mas.... "


Tanpa Bram sadari satu tangannya memencet hidung mancung Ayra. Hati Ayra berdegup kencang diperlakukan oleh Bram seperti itu. Ia tak merasakan sakit pada hidungnya. Ia justru menikmati hal yang ia anggap Romantis. Hingga satu pasang suami istri itu terlihat kikuk karena tersadar ketika lelaki dibelakangnya berdehem.


"Apa yang aku lakukan barusan. Tapi dia terlihat senang. Wajahnya merona, oh ya bukankah dia pernah bilang jika dalam pernikahan diperlukannya sentuhan fisik, itu adalah salah satu menjaga keawetan dalam rumah tangga. Sepertinya aku akan mencoba hal itu,"


"Ya Rabb begini rasanya diperhatikan, bersentuhan dengan orang yang kita cintai. Inikah indahnya menikah dulu baru pacaran. Karena sentuhan itu halal kami lakukan Rabb."


...Rasulullah SAW bersabda: “Yang paling sempurna imannya di antara kalian adalah yang paling baik akhlaqnya, dan yang paling baik diantara kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya." (HR Abu Daud)...