Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
58 Jangan Sering Lewat Jalan Pintas


Ayra telah mengenakan baju dan jilbab baru yang diantar oleh supir rumah. Ayra meminta pak Erlangga agar Bi Asih menyiapkan baju nya.


Bram meminta agar mama nya tak diberi tahu jika ia dirawat. Setelah kepergian Pak Erlangga dan Bambang, Ayra duduk disebelah Bram.


Bram yang mencoba memejamkan kedua bola matanya tapi tak berhasil. Ia menatap layar televisi namun seketika layar televisi itu padam. Ayra cepat menekan tombol off ketika ada nya sebuah acara yang berjudul Keaslian Video durasi 44 Detik Model Cantik Dan Seorang CEO.


"Kenapa dimatikan?" ucap Bram dengan kesal.


Ayra meletakan remote televisi di meja yang berada disebelah tempat tidur Bram.


"Mas, istirahatlah. Tak baik melihat dan mendengarkan berita seperti itu."


"Kau sendiri tak ingin tidur?" tanya Bram lagi dengan tanpa memandang wajah istrinya.


"Aku akan menunggu mu sambil mengulang kembali hapalan Quran ku."


Bram kembali mencoba memejamkan mata. Namun masih sulit. Ia membuang napas kasar lewat rongga hidungnya. Ia bangkit dari tidurnya. Satu tangannya meraih infus yang tergantung di sebelahnya.


"Mas mau kemana?" tanya Ayra lembut.


"Aku Mau Buang Air kecil!" Ucap Bram masih dengan nada ketus.


Ayra cepat mengambil infus yang ada ditangan suaminya.


"Aku antar ya mas."


"Aku bisa sendiri."


Ayra tersenyum namun ia masih mengikuti suaminya itu ke kamar mandi. Ayra memilih menunggu di depan kamar mandi. Tak lama Bram keluar dari kamar mandi. Ayra yang melihat celana panjang hitam suaminya itu belum terkancing dengan begitu sempurna.


Ayra hanya tersenyum.


"Kenapa tidak minta bantuan ku mas?"


Ayra yang tiba-tiba mengancingkan bagian atas resleting celana nya membuat kedua hidung Bram menghirup jelas aroma wangi dari tubuh sang istri.


Bram cepat berjalan ketika Ayra menatap wajahnya dengan tersenyum begitu manis.


Sampai di tempat tidur Bram teringat jika istrinya itu ada yang ingin disampaikan pagi tadi.


"Pagi tadi ada yang ingin kamu sampaikan. Apa?"


"Nanti saja tunggu mas sehat. Tak baik membahas sesuatu disaat suami lagi dalam kondisi tak baik."


"Katakan sekarang atau tidak sama sekali? mata ku masih belum mengantuk."


Ayra tersenyum lalu ia duduk di kursi stainless yang berada di sebelah Bram.


"Baiklah jika suami ku yang meminta. Sebelumnya Ayra minta maaf. Bukan maksud Ayra ingin menggurui tetapi Ayra boleh tanya sesuatu mas?"


"Tanyakanlah."


"Apakah mas melakukan onani semalam?"


Wajah Bram seketika memerah. Ia tak habis pikir bagaimana istrinya tahu apa yang ia lakukan semalam. Bram tak menjawab pertanyaan yang diajukan Ayra.


"Mas, Aku cuma berharap mas tidak mengambil jalan yang haram kalau ada jalan yang halal."


Dahi Bram berkerut.


"Maksud mu?"


"Kamu punya aku sebagai istri mu untuk mencapai satu kenikmatan yang malah bernilai ibadah dibandingkan melakukan pemuas*n sendiri. Ada banyak dampak negatifnya.


Aku ikhlas jika memang harus melayani suami ku saat dia masih menyebut nama perempuan lain. Asal suami ku tak melakukan dosa. insyaallah, mudah-mudahan aku kuat,sabar dan ikhlas."


Bram yang mendengar cerita dari papanya bahwa Ayra menangis cukup lama dari kafe hingga hampir satu jam diperjalanan karena menunggu proses evakuasi kecelakaan tadi membuat Bram ingin membuat istrinya itu sedikit bahagia.


Bram paham apa yang Ayra maksud.


Pipi Ayra memerah karena malu dengan pertanyaan suaminya itu. Ia hanya mengangguk kecil.


"Selain dampak pada kesehatan, itu juga akan jadi dampak kurang harmonisnya hubungan suami istri."


"Kamu menyesal menikah dengan ku karena belum ku sentuh?"


Ayra tersenyum sangat manis membuat hati lelaki yang memandangnya itu terasa hangat.


"Tidak, Ta-pi. Ketika pernikahan kita berumur panjang. Ayra hanya takut ada setan yang menggoda dikala mas lebih dulu Sampai ke Himalaya sedangkan aku masih berada di setengah perjalanan dan belum mencapai puncaknya."


Bram mengernyitkan Kedua alisnya sesaat lalu baru ia paham kemana bahasa satir sang istri ini. Terlihat dari wajahnya yang merona dan sedikit menunduk.


"Apa maksud mu aku akan meninggalkan dirimu di belakang?"


"Bukan ingin mungkin lebih ke kata terpaksa karena mau tidak mau karena terlalu seringnya kamu naik gunung itu dengan jalan pintas maka kamu akan lebih cepat sampai mas. Bahkan seluruh anggota tubuh mu tak bisa menikmati lagi pemandangan selama mendaki. Kamu lebih merasakan nikmatnya naik gunung Himalaya lewat jalan pintas yang tak diridhoi Allah dibandingkan lewat jalan yang telah disiapkan dan Halal."


Bram tertawa kecil mendengar kiasan yang istrinya berikan. Tawa pertama yang Ayra dengar.


"Apa separah itu dampaknya?"


"Ya. Tak dipungkiri banyaknya kasus selingkuh suami atau istri hanya karena masalah mendaki disaat mereka terlihat tak memiliki masalah apapun. Misalkan salah satu pasangan merasa tak terpuaskan. Bisa jadi sang suami sering mencapai puncak seorang diri. Atau istri yang tak bisa menjadi teman baik saat mendaki karena kampas rem yang tak menggigit lagi "


"Obrolan yang menarik. Apakah seorang istri bisa menjadi teman baik. Bukankah kalian para istri hanya menunggu saja. Kami para lelaki lah yang berjuang hingga meneteskan keringat?"


Kali ini Ayra tersenyum kecil dan sedikit membuang pandangan nya.


"Hari ini kamu kembali menegaskan kalau kamu belum pernah mendaki gunung mana pun mas."


Kedua pasang mata itu saling tatap. Dua insan yang masih menyelami hati mereka mencari tempat di ruang mana kah pasangan nya berada. Ayra memberanikan diri menggengam tangan Bram yang tak ada selang infus.


"Kamu tahu mas. Saat sebuah benda yang sering dipakai maka pasti lama kelamaan akan aus. Begitu pun satu aset para istri. Seorang suami mengeluh kadang karena tak menggigit nya lagi kampas rem saat diinjak hingga membuat suaminya merasa tak terlalu tertarik dan bahagia saat mendaki bersama istrinya lalu mencari mobil baru.


Padahal, jika suami yang pandai ia harus merawat istrinya itu. Komunikasi kuncinya. Dan sang istri pun bertugas membuat agar kampasnya Selalu terasa baru agar suami puas saat menginjak rem itu, dan bisa istirahat dengan tenang karena lelah nya mencari nafkah satu hari penuh.


Komunikasi yang kurang diantara suami istri tentang masalah mendaki ini kadang membuat mereka hanya memendam tak berani berbicara terus terang. Padahal itu ada celah-celah setan untuk mendekatkan kita kepada zina"


"Sepenting itu kah? Lalu kapan kita akan mendaki bersama?"


Deg.


Jantung Ayra terasa berhenti berdetak. Rongga-rongga hatinya terasa bersemi. Wajahnya merona seketika.


Bram menikmati wajah istrinya yang merona itu. Ia mulai menyukai wajah yang merona karena ia goda.


"Katakan kapan kita akan mendaki. Kau bilang aku tak boleh lewat jalan pintas. Kau bilang aku akan lebih dulu Sampai di puncak karena sering melewati jalan pintas. Ayo kita buktikan, kapan kita akan mendaki bersama?"


Wajah yang tertunduk namun dapat Bram lihat tawa kecil pada Ayra karena dadanya berguncang. Ayra mengangkat wajahnya, ia tatap lelaki yang wajib ia Cintai ketika ijab Qabul telah dilangsungkan.


"Insyaallah, Kapan pun kamu memanggil ku selagi kondisi kita halal untuk melakukan nya Mas. Aku akan berlari ke arah mu."


Ayra tersipu malu karena ungkapan isi hatinya. Ia berdiri dengan kondisi muka yang tertunduk dan merah merona.


"Aku mau wudhu lagi mas, aku mau murojaah dulu."


Ayra berjalan dengan cepat hampir seperti berlari kecil menuju kamar mandi. Wajahnya sudah tak lagi berwarna putih. Namun sudah merona.


Bram hanya menatap punggung istrinya itu sambil memegang pipi yang baru saja merasakan kenyalnya bibir istrinya itu.


"Baiklah, aku tak akan lewat jalan pintas manapun lagi. Aku akan Memantaskan diriku terlebih dahulu Ayra. Agar aku tak menyakiti mu. Aku tidak ingin kamu jadi pihak yang rugi, kehilangan sesuatu yang paling berarti bagi perempuan jika akhir rumah tangga kita tak berakhir bahagia.


Saat dimana, hati ku telah terisi nama mu. Saat itulah aku akan memangil mu. Kita buktikan apa aku suami yang egois hingga meninggalkan istrinya sendiri ditengah-tengah pendakian. Atau kita akan sama-sama menikmati indahnya sebuah pendakian pertama kita."


Suara Bram sedikit keras hingga mampu membuat Ayra mendengar dengan jelas. Ia tutup pintu kamar mandi dan ia sandarkan tubuhnya sambil memegang dadanya.


Ia pejamkan mata nya dan menikmati debaran jantung yang tak beraturan. Ia tak berani bermonolog karena berada di tempat yang tak suci itu. Hanya rasa hangat dihatinya yang ia rasakan dan tak ingin hilang dari rongga hatinya setelah mendengar ucapan suaminya.