Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
48 Kejujuran Yang Dilarang, Menceritakan Kita Pernah Berbuat Maksiat.


Umi Laila dan kyai Rohim beserta Furqon telah Sampai dirumah sakit Harapan Bunda. Umi Laila langsung memeluk Ayra dengan tetesan air mata yang ia tahan dari rumah hingga tak mampu ia tahan untuk tak menerobos sudut matanya karena kali ini ia melihat bahwa putri dari adik iparnya itu masih terlihat tegar dan kuat menghadapi permasalahan rumah tangganya yang baru berumur berapa hari.


"Ayra.... "


"Umi, kenapa umi menangis?"


Sungguh hati orang tua mana yang tak tersayat disaat berharap anaknya hidup bahagia di pernikahan nya. Namun ia harus melihat bahwa cobaan datang begitu cepat. Ayra harus ikut merasakan sebuah kesalahan dimasa lalu suaminya.


"Umi rindu kamu Ra."


"Ayra tahu umi merasakan apa yang Ayra rasakan umi. Bantu Ayra dengan doa terbaik Umi."


Kyai Rohim dan umi Laila berkenalan dengan nenek Indira. Hingga akhirnya Kyai Rohim meminta waktu untuk berbicara dengan Ayra dan Bram. Karena Rani dan Bambang masih di rumah sakit. Pak Erlangga mengajak kyai Rohim beserta istri untuk mampir kerumah.


Mereka keluar dari rumah sakit. Kyai Rohim dan Umi Laila dan nyonya Lukis beserta suaminya keluar lebih dulu. Bram dan Ayra terpaksa keluar lewat jalan belakang karena di depan telah ada beberapa pemburu berita yang menanti dirinya.


Namun setelah sampai dirumah ternyata telah ada beberapa rombongan yang berdiri di depan pagar pintu rumah megah Pak Erlangga. Ketika Bram dan Ayra keluar dari mobil, Ayra yang melihat ke arah rombongan yang sedang berteriak. Ada yang meminta klarifikasi Bram ada yang mencaci maki. Dan Ayra pun terkena lemparan batu sehingga mengenai dahinya.


"Buuggh."


"Astaghfirullah...."


"Ayra!"


Bram yang melihat darah segar mengalir dari dahi Ayra cepat merangkul Ayra masuk kedalam rumah. Sampai di ruangan utama para ibu-ibu yang tak lain nyonya Lukis dan Umi Laila cepat menghampiri Ayra.


"Astaghfirullah.... Kenapa Ra?"


"Bram. Apa yang terjadi?"


"Kurang ajar mereka!"


Baru Bram akan melangkah keluar dengan nada marah. Namun lengannya cepat ditahan oleh rangkulan Ayra.


"Jangan Mas. Emosi mereka lagi seperti itu. Jangan temui mereka."


Bram menahan langkah nya dan rahangnya mengeras. Ia merasa begitu marah. Dosanya seolah begitu besar hingga ia diburu di kantor, dirumah, bahkan dirumah sakit tadi para wartawan juga ada yang menanti kehadiran nya.


"Apa ditubuh ku ada GPS nya sehingga mereka selalu ada dimana aku berada!"


Bram memijat dahinya yang makin berkerut setiap ada masalah dalam hidupnya.


"Sudah cepat telpon Krisna. Biar luka Ayra cepat diobati."


Asih datang dengan membawa beberapa kain dan air untuk membersihkan dahi Ayra yang terkena lembaran baru tadi. Nyonya Lukis membersihkan luka pada dahi Ayra.


"Alhamdulilah, Ibu mertua mu terlihat menyayangi mu Ra."


Furqon dari tadi menatap tajam pada Bram. Ingin sekali ia memaki bahkan memukul Bram namun tak mungkin ia lakukan karena saat akan mengantarkan Abi dan Umi nya ia sudah berjanji jika ia tak akan menghakimi suami adiknya itu.


"Bram, cepat segera lakukan konferensi pers. Agar berita tak tambah liar."


Pak Erlangga mulai jengah dengan apa yang terjadi hingga menyakiti menantu nya.


"Maksud pak Erlangga di video itu bukan Bram? Sebenarnya saya kemari dengan niat Tabayyun."


Kyai Rohim bertanya karena ia memang sebenarnya datang ke kediaman pak Erlangga adalah untuk Tabayyun. Tabayyun merupakan tradisi ajaran Islam yang dapat menjadi solusi dari zaman ke zaman.


Terutama bagi informasi-informasi yang berpotensial memunculkan konflik dalam masyarakat. Metode tabayyun merupakan proses klarifikasi atas informasi dan situasi serta problem yang dialami seseorang.


Bram terlihat mengernyitkan dahinya.


"Klarifikasi atau meneliti adalah salah satu kunci di era digital ini yang banjir akan informasi. Kalau kami di pesantren biasa menyebutnya dengan Tabayun yang meliputi memastikan sumbernya terpercaya atau tidak, isi dan maksud beritanya baik atau tidak, dan juga harus memastikan konteks tempat dan waktu serta latar belakang saat informasi tersebut disampaikan.


Seperti saat ini saya ingin mendengar langsung dari nak Bram apakah pelaku video itu benar nak Bram, karena nak Bram sumber terpercaya dari berita yang sedang beredar.


Kedua konteksnya. Saya harus bertemu langsung dan tidak dihadapan ranah publik apalagi di media sosial atau via telpon. Sekarang saya selaku mertua mu ingin mendengar langsung dari diri mu Bram."


Kedua bibir Bram bungkam. Ia seolah jengah dengan suasana satu hari ini.Ia merasa menjadi tersangka dimana ia harus mengakui perbuatannya dihadapan sang hakim disaat pertanyaan yang sama muncul.


"Ehm.... Ehm.... Saya akui pria dalam video itu adalah saya pak Rohim tapi itu kejadian dimasa lalu hampir satu tahun silam dan Saya hanya mencum** nya. Tidak lebih dari itu. Saya bersum-."


"Sudah cukup cukup. Jangan ucapkan kata sumpah nak. Karena ketika kamu bersumpah akibat, yakni berdosa atau menyesal. Karena ketika kamu bersumpah, jika kamu tak dapat memenuhi sumpah mu maka kamu akan berdosa. Kedua, jika kamu bersumpah atau berjanji, maka kamu sama saja membatasi diri mu dari sesuatu yang kamu janjikan."


Kyai Rohim mendekatkan duduknya dan menepuk-nepuk pundak Bram.


"Dan satu lagi nak, Kejujuran dalam suatu perbuatan kemaksiatan itu tidak baik. Anggaplah hari ini kamu berbicara tentang kejujuran karena berbuat maksiat di masalalu. karena bertujuan ingin bertaubat. Jadi kedepan jangan lagi kau ceritakan jika kamu pernah berbuat begini dan begitu terkait maksiat. Agar tak menjadi contoh bagi anak keturunan mu atau alasan orang yang harusnya meneladani diri mu sebagai pemimpin nya. Misalnya, ah dulu orang tua ku pun pernah melakukan hal ini.


Abi cuma mau berpesan Allah maha pengampun, bersabarlah dan bertaubatlah. Yakin ada jalan untuk setiap masalah dan akan ada hikmah dibaliknya."


"Aamiin."


Ayra dan Umi Lukis mengucapkan secara bersamaan.


Furqon masih menunduk namun ia beranikan mengangkat kepalanya dan bertanya kepada Bram.


"Kau yakin ucapan mu bisa dipercaya? Wanita itu mengatakan bahwa ia hamil anak mu."


Furqon mengepalkan kedua tangannya.


Bram yang sedang tidak tenang hingga mudah tersulut emosinya apalagi ketika dikaitkan dengan Shela.


"Apakah anda pikir saya bisa menghamili dia tanpa melakukan lebih dari itu? Apakah hanya aku yang bisa membuat nya hamil Hah?"


"Mas.... "


"Bram!"


"Furqon...."


"Sabar nak Bram. Jika kamu sudah mengatakan yang sebenarnya maka kau hanya bisa bersabar dan bertaubatlah. Dan kita sebagai keluarga dan orang terdekat Bram. Harus mendukung nya, dengan tidak menyalahkan dia atas kesalahannya dimasa lalu. Termasuk dirimu nduk...."


Kyai Rohim menatap Ayra yang sedang menatap Bram penuh harap agar suaminya bisa bersabar tanpa mengedepankan emosi disaat seperti ini.


"Insyaallah Abi. Ayra siap berada disisi mas Bram. Sekalipun semua orang disisinya meninggalkan nya dan mengucilkannya."


"Alhamdulilah. Abi percaya itu."


"Tapi Abi...."


Furqon dengan nada lirih tak jadi melanjutkan kalimatnya ketika Kyai Rohim mengangkat telunjuk nya dan memberikan isyarat untuk tak meneruskan kalimatnya.


"Furqon. Ayra sudah menikah. Abi tahu kamu begitu sayang pada adik mu ini. Namun ketika dia menikah selagi suaminya belum menjatuhkan talak pada nya. Maka ia masih berkewajiban menjaga dan melindungi suaminya."


Furqon menundukkan kepalanya dan tiba-tiba seorang pelayan masuk dengan 4 orang berpakaian santai. Dua diantaranya mengenakan jaket hitam.


"Selamat sore pak. Bisa kami bertemu dengan Bapak Bramantyo Pradipta?"