Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
Promo Novel Because I'm Your Wife


Hai. Aku mau promo novel terbaru aku yang berjudul Because I'm Your Wife. Silahkan searching di aplikasi Noveltoon.


Bab 26.


Arkha berada di rooftop hotel tempat ia menginap. Satu tangannya memegang sebuah rokok yang tinggal separuh. Ia tampak menghisap dalam rokok tersebut. Lalu ia hembuskan asap itu dari hidungnya. Bahkan kepulan asap terkahir ia hembuskan lewat napasnya terlihat begitu berat.


Hatinya begitu lemah. Ia begitu kesepian, ia begitu terpuruk sejak pulang dari korea. Ia bahkan menatap satu wajah di ponselnya. Wajah perempuan yang memiliki dagu berbentuk V, kulit putih, leher jenjang, hidung mancung, wajah kecil.


"Selena, Kamu memang lebih cantik dari Zhafirah. Tapi akhlak mu jauh di bawah Zhafirah. Ia sekalipun tak pernah merendahkan aku. Sekalipun ia tak pernah meninggikan suaranya di hadapan ku." Ucap Arkha.


Saat ingin kembali ia menikmati rokoknya. Ia melihat jika tak ada sebatang pun di kotak rokoknya. Ia pun mendial tombol 'delete' untuk semua foto Selena yang telah ia pilih. Bahkan kontak perempuan itu pun ia hapus. Sudah dua bulan, Arkha di blokir oleh Selena. Sehingga sejak kejadian di Korea. Tak ada komunikasi, tak ada pertemuan. Arkha meninggalkan rooftop setelah merasa lebih baik. Tampak Arkha berusaha biasa saja saat sarapan. Ia bahkan menarik kursi tepat disisi Zhafirah.


Zhafirah pun berusaha menangkan hatinya. Ia tetap melayani Arkha dengan baik.


"Mas mau makan apa?" Tanya Zhafirah.


"Nasi goreng saja kalau ada." Ucap Arkha.


Ia melihat beberapa kertas yang diatas meja Zhafirah. Ia sempat menoleh ke arah Zhafirah yang sedang mengambilkan Nasi Goreng di meja menu. Arkha kembali melirik ke catatan itu. Satu tulisan tangan membuat Arkha penasaran. Ia menarik sedikit kertas itu hingga terlihat jelas tulisan tangan itu di tulis oleh Zhafirah.


{Ummu Mu’tiah… sungguh engkau membuat aku iri. Bagaiamana aku tak iri. Sayyidah Fatimah Az Zahra bahkan menangis setelah bertemu dengan mu. Mampukah aku belajar dari perempuan pertama masuk surga setelah Ummahatul Mukminin setelah istri-istri baginda Nabi Muhammad.}


Arkha tertegun menatap tulisan tangan Zhafirah di bagian belakang kertas tersebut. Tampak ada bekas air. Arkha tak tahu jika bekas tetesan air itu adalah tetesan air mata seorang istri yang merasa tak tahu arah. Kemana hendak ia melangkah saat sang suami bersikap dingin, bersikap acuh. Sedangkan ia wajib menghormati, menyayangi dan memberikan ketenangan juga kebahagiaan pada sang suami.


Arkha yang melihat Zhafirah kembali. Ia cepat membalik kertas tersebut. Lalu ia menikmati sepiring nasi goreng tersebut.


"Besok pagi mungkin selesai mas. Sudah itu buat season duanya baru ke korea." Ucap Zhafirah saat melihat sang suami selesai makan.


"Ya. Aku tinggal satu bulan lagi. Aku tak mungkin lama-lama meninggalkan pekerjaan ku. Apalagi kondisi ekonomi negara kita sepertinya mengalami resesi." Ucap Arkha.


Beberapa kamera sering mengambil foto mereka diam-diam demi keuntungan dari berita yang diupload. Akhir-akhir ini, kehadiran Zhafirah dan Arkha di dunia hiburan mampu membuat perempuan-perempuan pecinta drakor beralih ke mereka. Karena bagi netizen, Arkha dan Zhafirah sosok yang serasi nyaris tanpa celah. Maka sepasang itu berkomunikasi selalu tampak berbisik padahal itu mereka lakukan agar terlihat baik-baik saja.


Arkha yang baru saja berkeliling dengan Zhafirah. Saat malam hari, lokasi syuting dimana Arkha harus menggendong Zhafirah. Di Sana jantung sepasang suami istri itu sama-sama berdegup kencang. Bahkan sutradara dan beberapa kru dibuat geleng-geleng. Zhafirah dan Arkha terlihat seperti orang baru menikah. Betul-betul seperti di Novel Pesona Ayra Khairunisa saat Bram menggendong Ayra di tepi pantai.


"Ok! Sip!" Ucap salah sang sutradara. Ia pun merasa puas karena dari percakapan. Mimik wajah juga body language sepasang suami istri itu terlihat begitu menjiwai. Mereka tidak tahu bahwa itu betul-betul moment yang dinanti Zhafirah. Walau sentuhan yang Arkha berikan di depan kamera dan berperan sebagai Ayra. Ia merasa senang, bagai minum air ditengah gurun pasir dan dibawah terik mentari.


Saat tiba di kamar. Zhafirah tampak berbaring di sofa. Ia begitu lelah satu hari ini. Arkha hanya melirik. Ia pun hanya fokus pada ponselnya.


Ia memperhatikan laman media sosialnya di penuhi foto dan video dirinya dengan Zhafirah. Seketika ia ingat sebuah nama yang Zhafirah catat di bukunya tadi. Ibu jari Arkha pun mengetik nama Ummu Mu'tiah. Dan muncul sebuah artikel yang menunjukkan kisah perempuan bernama Mu'tiah.


Arkha membaca artikel tersebut. Kedua netranya menitikkan air mata. Bagaimana tidak menitikkan air mata. Ia merasa malu, merasa sedih setelah membaca kisah itu. Jika Sayyidah Fatimah menangis karena mengetahui alasan  seorang perempuan pertama yang masuk surga setelah istri Nabi, ia adalah dari kalangan biasa. Namun keteladanannya dalam mengabdi dan berbakti pada sang suami lah yang membuat ia menjadi sosok yang pertama perempuan pertama masuk surga setelah Istri Nabi.


Ibu Jari Arkha berhenti saat ia menikmati kata demi kata, paragraf demi paragraf.


Sebuah kisah dimana perempuan biasa bernama Mu’tiah. Kala Sayyidah Fatimah bertanya pada Rasulullah “Siapakah perempuan pertama yang masuk surga setelah Istri-istri nabi.”


Lalu Rasulullah menyebut sebuah nama. “Ummu Mu’tiah.”


Karena rasa penasaran akan amalan apa yang dilakukan perempuan biasa itu,  hingga mendapatkan kemuliaan masuk ke surga setelah istri-istri nabi. Sayyidah Fatimah mencari keberadaaan perempuan Bernama Mu’tiah itu. Berhari-hari ia berkeliling Madinah mencari keberadaan sosok  tersebut. Hingga akhirnya Sayyidah Fatimah mendapatkan informasi alamat  yang ternyata berada di pinggiran kota. Setelah meminta izin pada suaminya, Sayyidah Fatimah pun pergi mengajak Hasan untuk bersilahturahmi ke rumah perempuan tersebut.


Pagi itu, saat Sayyidah Fatimah mengucapkan salam dan salam itu dijawab. Sayyidah Fatimah tidak langsung diterima walau ia tahu bahwa yang datang adalah putri Rasulullah. Ia bertanya apakah Sayyidah Fatimah seorang diri atau bersama siapa. Sayyidah Fatimah menjawab bahwa ia datang bersama putranya yang Bernama Hasan.


Allah telah menjanjikan surga bagi orang yang taat beribadah dan menjalankan semua perintah-Nya. Sayyidah Fatimah Az-zahra adalah putri kesayangan Rasulullah. Walaupun putri seorang Rasul, Fatimah tidaklah manja, beliau memiliki budi pekerti yang mulia. Fatimah dikenal sebagai perempuan yang sederhana, sabar, tabah, dan taat kepada Allah. Namun Ummu Mu’tiah menjawab bahwa ia tak bisa membukakan pintu bagi Sayyidah Fatimah karena ia belum mendapatkan izin dari suaminya untuk menerima tamu laki-laki. Suaminya sedang tak di rumah.


Arkha tampak melirik kearah Zhafirah yang telah terpejam di balik selimutnya. Sayyidah Fatimah Kembali mengatakan jika putranya masih anak-anak. Akan tetapi Ummu Mu’tiah Kembali mengatakan jika Hasan tetap laki-laki walau ia masih anak-anak. Akhirnya Ummu Mu’tiah meminta Sayyidah Fatimah untuk Kembali lagi esok. Peristiwa serupa terjadi Kembali ketika Sayyidah Fatimah datang. Ummu Mu’tiah Kembali tak bisa membukakan pintu untuk tamunya. Karena Sayyidah Fatimah kali ini datang bersama kedua putranya. Hasan dan Husein. Dan hal itu membuat ia tak berani membuka pintu bagi Sayyidah Fatimah. Karena ia hanya mendapatkan izin untuk menerima tamu laki-laki yaitu Hasan. Fatimah pun mengerti jika itu sesuai yang diajarkan oleh ayahnya Rasulullah bahwa tidak membolehkan seorang istri untuk memasukkan laki-laki ke rumahnya ketika suaminya tidak ada di rumah dan tanpa izin suaminya.


Sayyidah Fatimah berpikir betapa mulianya perempuan ini, ia begitu mentaati ajaran RAsulullah dan begitu tawadhu kepada suaminya. Kedua mata Arkha menatap Zhafirah yang terlihat begitu tenang dan nyaman tidur di atas sofa.


Arkha Kembali melanjutkan membaca kisah itu.


Di hari ketiga, Sayyidah Kembali ke rumah Ummu Mu’tiah. Tampak rumah yang rapi, bahkan Ummu Mu’tiah memakai pakaian terbaik dan beraroma harum, dan saat itu sang suami pulang. Di Sana lah air mata Arkha Bagaskara. Ia menitikan air mata bukan karena kisah itu saja, melainkan ia melihat istrinya yang mencoba menjalankan apa yang di lakukan Ummu Mu’tiah. Apa yang Rasulullah ajarkan kepada putrinya dan Ummu Mu’tiah menjalankannya. Hal itu membuat Sayyidah Fatimah begitu kagum pada perempuan  biasa Bernama Mu’tiah. Ummu Mu’tiah menyiapkan baju, menuntun suaminya, dan air mata Arkha betul-betul membasahi kedua pipinya. Ia mengingat hari-hari ia dilayani dengan baik oleh Zhafirah dan kalimat terakhir ketika Zhafirah bersedia di madu jika memang ia sebagai istri tak mampu membuat dirinya sebagai suami Bahagia.


Ummu Mu’tiah setelah suaminya makan, ia memberikan sebuah cammbbuuk pada sang suami.


“Wahai suamiku, seharian aku telah membuat makanan dan minuman yang ada didepan mu. Sekiranya engkau tidak suka atas masakan yang aku buat, maka cammbbuuklah diriku.”


Saat sampai di bagian ini Arkha menutup ponselnya. Jika Sayyidah Fatimah saja pulang dengan keadaan menangis karena haru juga Bahagia. Hal itu karena ia mendapatkan jawaban dari pertanyaannya. Amalan dari perempuan biasa yang masuk pintu surga lewat pintu mana saja yang ia kehendaki.


Seketika kalimat Zhafirah terngiang-ngiang di telinga Arkha.


“Baik, aku tak akan menggugat mu. Andai status Selena adalah gadis atau janda. Maka nikahilah dia. Aku siap, aku rela di madu. Tapi dia istri orang mas…. Aku tidak mau kamu selingkuh. Carilah perempuan lain, yang mungkin sama cantiknya seperti Selena. Yang mungkin bisa membuat kamu Bahagia. Yang bisa membuat kamu terlihat bersemangat lagi. Hari-hari mu dua bulan ini tak ber ga I rah… Aku ikhlas mas. Asal maduku bukan istri orang.”


Arkha menatap Zhafirah dengan airmata di pipinya.


"Maafkan aku Zha, kamu adalah perempuan penghuni surga... namun akan kah kamu mampu bertahan disisi ku jika kamu tahu sebenarnya yang terjadi dengan aku Zha. Aku adalah lelaki paling beruntung memiliki istri kamu. Tapi menahan mu disisi ku sama saja aku menyiksa mu Zha.... Terbanglah... Terbang... Aku akan memberikan kamu sayap untuk terbang tinggi dan menemukan kebahagian mu." Ucap Arkha dalam hatinya seraya mendekat ke arah Zhafirah.


"Cup."


Satu kec cupan Arkha daratkan di dahi istrinya yang sedang terlelap. Ia bahkan membawa tubuh Zhafirah ke tempat tidur. Zhafirah yang begitu lelah dan baru saja meminum paracetamol karena merasa sedikit tak enak badan, ia tak merasakan jika saat itu ia sedang di gendong oleh sang suami. Arkha membaringkan tubuh Zhafirah di atas kasur. Ia selimuti Zhafirah,ia membelai kepala sang istri. Istri yang memiliki kecantikan paras juga hati. Malam itu Arkha bahkan tidur di sofa. Ia biarkan Zhafirah tidur di tempat tidur. Pagi hari Zhafirah justru merasa kaget saat mendapatkan dirinya tertidur lelap di atas kasur, sedang suaminya tidur di atas sofa dalam keadaan meringkuk.


"Astaghfirullah... Mas, Arkha...." Ucap Zhafirah saat ia membuka kedua matanya dan menatap Arkha yang tidur di Sofa.