
Libur semester genap telah berakhir. Ayra kembali pada rutinitasnya lagi. Sebagai seorang mahasiswa. Mengikuti semua perkuliahan yang sudah menantinya.
Namun kali ini, Ayra kembali dengan semangat baru. Semangat untuk memperbaiki diri. Ayra ingin mengembalikan dirinya yang dulu. Dan membuat kedua orangtuanya bangga dengan pencapaiannya selama ini. Bagi Ayra kekecewaan yang sudah ditorehkannya di awal-awal kuliah harus dia tebus. Dengan prestasi.
Dan langkah pertama yang harus dia lakukan adalah mempertegas kembali hubungan yang sesungguhnya antara dirinya dan Aldo. Dia tak ingin Aldo berharap terlalu tinggi padanya, karena hal itu tak mungkin Ayra lakukan. Karena di dalam hatinya, masih ada Devara. Lelaki yang sangat dicintainya.
Setelah perkuliahan usai, Ayra pun mengajak Aldo berbicara empat mata. Aldo sama sekali tak menaruh curiga pada Ayra.
“Kamu mau bicara apa? Tumben sembunyi-sembunyi gini?” tanya Aldo
Ayra hanya tersenyum.
“Sebelumnya, aku ingin berterimakasih sekali untuk semua yang sudah kamu lakuan buat aku. Kamu teman yang sangat baik”ucap Ayra
Aldo mulai mengernyitkan dahinya. Dia merasakan ada yang aneh pada diri Ayra lewat susunan kata-kata yang barusan diucapkannya.
“Kamu ngomong apaan sih Ay? Aku ga paham”ucap Aldo kemudian
“Maaf ya, jika selama ini aku tak terbuka padamu. Sejujurnya aku bukanlah tipe cewek seperti yang selama ini kamu kenal”ungkap Ayra
“Iya, aku tahu. Kamu kan udah pernah cerita. Lalu ini tentang apa?”tanya Aldo tak mengerti.
“Begini Al..aku tahu selama ini kamu baik banget sama aku. Semua perhatianmu dan perlakuan baikmu padaku. Bahkan teman-teman bilang kamu suka aku. Aku ucapkan terimakasih banyak untuk semua itu. Tapi maaf, aku tak bisa menerima perasaanmu padaku. Ada seseorang yang jauh di lubuk hatiku masih sangat aku rindukan. Dia yang sangat aku cintai”ujar Ayra panjang lebar
Wajah Aldo mendadak berubah. Dia yang biasanya murah senyum dan ceria, terlihat murung dan sendu.
“Apa ini artinya kamu menolakku?”tanya Aldo
“Kamu lelaki baik Al..aku yakin kamu pasti akan mendapat cewek yang lebih baik dari aku”ucap Ayra.
Aldo yang patah hati terlihat sangat sedih. Selama ini, dia pikir Ayra juga merasakan hal yang sama seperti yang dirasakannya. Walaupun Aldo sudah punya pacar, tapi Ayra tak keberatan menjalani hubungan tanpa status bersamanya. Saat itu. Sehingga Aldo berpikir untuk melepaskan pacarnya dan menjadikan Ayra kekasihnya.
Lelaki mana yang tak akan terpikat melihat kecantikan Ayra. Gadis yang secara fisik sangat sempurna. Sifatnya juga menyenangkan walau kadang sedikit menyebalkan. Bawaan sikap tomboy nya selama ini. Tetapi bagi orang-orang yang sudah mengenal Ayra lebih dekat, pasti akan terpikat dengan pembawaan Ayra. Apalagi Ayra juga pandai secara akademik. Wajar saja jika kemudian Aldo tertarik dan suka pada Ayra.
Namun setelah mendengar pengakuan Ayra barusan, benar-benar membuat Aldo patah hati. Ayra baru saja menolaknya bahkan sebelum ia mencoba mengutarakan perasaannya yang sesungguhnya.
“Jika itu keputusanmu, aku terima Ay..aku harap kau bahagia dengan lelaki yang kau cintai itu. Kita masih bisa berteman kan?”tanya Aldo
Ayra mengangguk pelan.
“Tentu saja, kita berteman”jawab Ayra
Akhirnya Aldo menjabat tangan Ayra dan meninggalkan Ayra seorang diri.
“Kamu benar Ay..Kamu sudah benar. Apa yang kamu lakukan itu sudah benar”gumam Ayra dalam hati menyemangati dirinya sendiri.
Akhirnya Ayra pun pulang ke kosan seorang diri.
*
*
*
*
Di Inggris,
“Jadi dia sudah menolak lelaki itu? Hahahaha…terimakasih. Sudah membawakan berita bagus untukku. Aku akan menaikkan bonusmu”ucap Devara bahagia mendengar informasi dari anak buahnya.
“Aku harus segera kembali ke Indonesia. Aku harus menemui Ayra sekarang juga”gumam Devara dalam hati.
Devara pun segera menyelesaikan semua urusan kantornya. Kemudian dia bergegas ke bandara untuk kembali ke Indonesia. Untuk sementara, urusan kantor akan dihandle orang kepercayaan papanya.
Devara sudah sangat tak sabar untuk bertemu dengan Ayra. Kekasih hatinya. Hampir 1 tahun lamanya mereka berpisah. Walaupun setiap akhir semester, Devara menemui Ayra, namun ia tak pernah langsung bertemu dengan Ayra. Devara memilih melihat Ayra dari kejauhan.
Devara juga tak pernah menghubungi Ayra secara langsung karena ingin memberikan ruang dan waktu bagi Ayra untuk bisa memaafkan kesalahannya di masa lalu. Kesalahannya yang sudah melukai Ayra dengan ketidakpercayaannya. Kesalahannya yang sudah meragukan cinta Ayra padanya.
Perjalanan Indonesia – London selama lebih dari sebelas jam itu ditempuh Devara dengan harap-harap cemas. Untuk memperlancar perjalanan, kali ini Devara naik pesawat jet pribadi keluarganya yaitu pesawat Boeing 747-8 Intercontinental BBJ yang berjuluk Queen of the sky. Pesawat jet termahal kedua setelah pesawat jet pribadi seorang pangeran Arab. Pesawat yang merupakan pesawat komersil tercepat di dunia, yang mampu menempuh perjalanan 15.000 km nonstop.
Sesampainya di kota S, Devara segera menaiki mobil sport putih miliknya yang sudah disiapkan sebelumnya oleh kak Arga. Mengenakan setelan kemeja putih yang dipadu dengan sweeter abu-abu dan celana putih, Devara terlihat sangatlah tampan.
Kebetulan Ayra baru saja menyelesaikan satu mata kuliahnya pagi itu. Kuliah dilaksanakan di lantai dua gedung laboratorium pusat, universitas terkemuka di kota S.
Devara yang sudah sampai di depan gedung, memilih menunggu Ayra diluar mobil. Devara duduk bersandar di depan mobilnya. Penampilan Devara yang sangat mencolok, membuat sedikit kehebohan di kalangan mahasiswi satu jurusan Ayra.
Begitu keluar ruang kuliah dan hendak menuruni tangga menuju lantai satu, teman-teman Ayra yang heboh melihat kehadiran pangeran tampan, terlihat sangat gembira melihat pemandangan indah pagi ini.
“Ada apa sih?”tanya Ayra pada Chacha sahabat baiknya selama kuliah.
“Ga tau. Kita lihat yukk”ajak Chacha
Ayra dan Chacha pun berjalan menuju kerumunan teman-teman satu angkatannya yang dari tadi terlihat heboh.
“Ada apaan sih, Mel?”tanya Ayra pada Melia teman satu angkatannya
“Lihat! Ada pangeran tampan berkuda putih”jawab Melia
“Hah! Pangeran berkuda putih? Emang ada kuda putih di sini?”tanya Ayra dan Chacha penasaran.
Karena penasaran, Ayra pun merangsek kerumuman untuk melihat sosok pangeran berkuda putih yang dibilang Melia barusan.
Betapa terkejutnya Ayra, melihat pangeran berkuda putih itu tak lain adalah Devara, kekasih hatinya yang selama ini dirindukannya.
“Devara???”seru Ayra kaget.
Matanya terbelalak melihat Devara yang kini menatapnya sambil tersenyum
“Hah? Devara? Kamu kenal cowok itu Ay?”tanya Chacha
Ayra pun berjalan memecah keramaian teman-teman satu angkatannya yang bergerombol dari tadi.
Ayra menapaki anak tangga lalu berjalan menuju Devara. Devara menanti kehadiran Ayra dengan senyum yang tersungging di wajah tampannya.
“Dev?”sapa Ayra
“Hai Ay”sapa Devara balik
“Ngapain kamu disini?”tanya Ayra
“Tentu saja untuk menemuimu”jawab Devara.
Membuat Ayra tersipu mendengar pengakuan Devara.
“Bisa kita bicara di tempat lain? Aku tak enak melihat teman-temanmu yang dari tadi ngelihatin aku kayak gitu”pinta Devara
Ayra pun melihat ke arah teman-temannya. Memang mereka sedikit mengganggu. Biasalah, namanya juga lihat pangeran tampan. Wajah tampan Devara laksana oase di padang pasir yang gersang. Penyejuk dan pelepas dahaga kaum ciwi-ciwi di kampus Ayra. Sungguh pemandangan yang sangat indah bisa menyaksikan lelaki setampan dan seperfect Devara.
“Tapi aku masih ada kuliah sejam lagi”jawab Ayra.
“Sejam juga sudah cukup”ucap Devara
“Kalau begitu, aku pamitan dengan sahabatku dulu ya”ujar Ayra
Ayra pun berjalan ke arah Chacha.
“Aku pergi bentar ya Cha. Nanti kabari aku kalo kuliah udah mulai ya?”pinta Ayra
“Kamu mau kemana sama pangeran tampan itu? Kenalin aku dong Ay”goda Chacha
Ayra pun memukul kepala Chacha pelan. Membuat keduanya tertawa bersama.
Tak jauh dari tempat Ayra berdiri dengan Chacha, Aldo menatap ke arah Ayra dengan tatapan penuh cinta. Devara yang melihat kehadiran Aldo tampak tak senang. Dia pun berjalan ke arah Ayra dan Chacha.
“Kita pergi sekarang?”tanya Devara pada Ayra
Ayra mengangguk pelan.
Tanpa sungkan Devara menarik tangan Ayra. Persis seperti dulu saat keduanya masih pacaran. Ayra pasrah saja ditarik tangannya oleh Devara. Sementara teman-teman satu angkatan Ayra semakin riuh saja setelah melihat adegan kemesraan keduanya.
Devara membukakan pintu mobil untuk Ayra. Melindungi kepala Ayra agar tidak terbentur. Kemudian Devara berjalan ke arah pintu kemudi sopir. Devara mengendarai mobilnya meninggalakan kampus Ayra.