Falling In Love With Trouble Maker

Falling In Love With Trouble Maker
Bertahanlah!


Pintu gubuk mungil milik Devara dibuka dari luar. Terdengar langkah beberapa orang memasuki gubuk. Saking kaget dan takutnya, Ayra yang sedang bersembunyi di bawah meja bersama Devara merasa perutnya sangat sakit. Ayra terus meremas perutnya.


“Tuan muda? Apa Anda di dalam?”


Suara pengawal Devara memanggil-manggil tuannya. Ada perasaan lega di hati dua anak kecil itu mendengar orang yang memasuki gubuk adalah pengawal Devara.


“Aku disini paman”seru Devara sambil berjalan keluar dari tempat persembunyiannya.


Devara menarik tangan Ayra untuk ikut keluar bersamanya. Para pengawal yang menemukan tuannya segera menghampiri Devara dan Ayra.


“Syukurlah tuan muda selamat!”ucap pengawal Devara lega


Tiba-tiba,


“Gubrakkk”


Suara seseorang terjatuh ke lantai dengan keras. Membuat semua orang menoleh. Dilihatnya tubuh mungil Ayra yang sudah tergeletak di lantai tak sadarkan diri. Devara langsung berlari ke arah Ayra kecil dan menepuk pipinya perlahan.


“Hei..bangun! Bangunlah!”seru Devara panik


“Sepertinya kita harus bawa gadis ini ke rumah sakit, tuan muda”saran pengawal


“Ayo paman, cepatlah!”seru Devara semakin panik.


Akhirnya Ayra dibopong salah satu pengawal Devara. Mereka keluar dari gubuk dan bergegas ke Rumah Sakit. Sepanjang perjalanan, Devara kecil terus menggenggam tangan gadis kecil yang sudah diselamatkannya itu. Kenangan sang kakek yang meninggal dalam pelukannya membuat Devara kecil ketakutan. Meskipun mereka tidak saling mengenal, tapi Devara sangat ketakutan jika gadis kecil itu akan meninggal juga.


“Bertahanlah! Jangan mati! Aku mohon bertahanlah”pinta Devara sambil menggenggam erat tangan Ayra yang terasa sangat dingin.


Sesampainya di Rumah Sakit, Ayra langsung dimasukkan ke dalam Ruang Gawat Darurat, untuk mendapatkan pertolongan. Beberapa perawat dan dokter tampak berlarian menangani Ayra.


Devara menatap Ayra yang didorong menuju Ruang Gawat Darurat dengan tatapan sendu. Karena dilarang masuk, Devara menunggu diluar ruangan.


Setelah mendapat penanganan dokter, Ayra dipindahkan ke ruang perawatan VVIP di rumah sakit terbesar di kota M. Rumah Sakit yang didirikan kakek Devara.


“Bagaimana keadaan anak itu dok?”tanya pengawal pada dokter yang merawat Ayra.


“Tuan tenang saja, anak itu sudah baik. Dia hanya kelelahan, hipotermia dan perutnya kosong itu sebabnya dia pingsan. Tapi sekarang anak itu sudah diinfus. Sebentar lagi dia akan siuman”ucap dokter.


Seorang wanita paruh baya tampak berlari menyusuri lorong rumah sakit dengan raut wajah penuh kekhawatiran menuju ruangan VVIP yang dikawal beberapa pengawal.


“Tuan muda, apa Anda baik-baik saja?”tanya Madam O begitu didekat Devara


Madam O yang mendengar semua informasi dari para pengawal, hampir saja pingsan saat mendapat kabar Devara hilang saat mengunjungi danau buatan di bumi perkemahan kota M. Lokasi terakhir meninggalnya tuan besar Adolfo, kakek Devara. Devara kesana dalam rangka peringatan dua tahun meninggalnya kakek.


“Aku baik-baik saja, Madam. Madam tenang saja”ucap Devara kecil


“Lalu siapa yang sekarang sedang dirawat?”tanya Madam O


Devara mengajak Madam O masuk ke dalam ruangan VVIP. Di sana Ayra sedang tertidur dengan pulas dengan selang infus di salah satu tangannya.


“Siapa anak kecil itu tuan muda?”tanya Madam O sambil mengernyitkan dahinya


“Aku tak tahu”jawab Devara


Madam O langsung menoleh pada Devara yang saat ini menatap lurus ke arah Ayra kecil. Madam O mencoba mencerna kejadian demi kejadian yang baru saja dialami tuan mudanya. Madam O dan Devara duduk di kursi sofa sambil berbincang.


“Kita harus lapor pada polisi, tuan muda”saran Madam O


“Tapi itu nanti akan merepotkan”keluh Devara kecil


“Tapi gadis kecil itu pasti sekarang sedang dicari keluarganya. Kasihan anak itu dan keluarganya”ujar Madam O


“Cepat carikan aku informasi tentang anak hilang di kota ini sehari kemarin”perintah Madam O pada pengawal.


“Baik Madam”sahut pengawal


Madam O kemudian mengajak Devara keluar sebentar. Begitu kembali ke ruangan VVIP yang disiapkannya untuk Ayra tampak beberapa orang perawat dan dokter keluar masuk ruangan.


“Tuan muda, sebaiknya tuan muda menjauh”pinta pengawal


“Ada apa paman?”tanya Devara penasaran


“Anak kecil itu sepertinya kesurupan. Dia terus berteriak dan berontak. Dokter sedang berusaha menenangkannya”


Mendengar cerita pengawalnya, Devara justru langsung berlari ke dalam ruangan. Tampak Ayra terduduk di pojok dengan beberapa perawat dan dokter yang mencoba menenangkannya.


“Anak baik, tenanglah! Kami tidak akan melukaimu!”bujuk seorang perawat


Ayra berpikir para perawat dan dokter itu adalah orang suruhan para penjahat kemarin. Sehingga Ayra yang masih trauma dengan orang yang tidak dikenal, akhirnya hanya bisa terus berteriak dan memberontak.


“Pergi sana! Pergi kalian!”teriak Ayra seperti orang kesurupan


Devara menerobos kerumunan dan berhasil berdiri di depan Ayra.


“Jangan takut! Ini aku! “seru Devara kecil.


Ayra mengenali Devara kecil yang sudah menyelamatkan dirinya kemarin. Devara kecil berjalan perlahan ke arah Ayra.


“Jangan takut! Kau ada di Rumah Sakit sekarang. Mereka hanya ingin memeriksamu”ucap Devara kecil


Dengan bujukan dari Devara akhirnya Ayra kecil mau kembali ke ranjangnya dan mendapatkan perawatan dari para perawat dan dokter yang menanganinya. Setelah mendapatkan perawatan, karena kelelahan Ayra kecil pun tertidur kembali.


Devara kecil terus duduk di samping Ayra. Ada perasaan tak tega di hati Devara melihat anak kecil seperti Ayra yang terus ketakutan. Sesekali Ayra yang bermimpi buruk, berteriak dalam tidurnya.


“Aaaaa….”teriak Ayra dengan mata terpejam


Devara kecil spontan menggenggam tangan mungil Ayra hingga akhirnya Ayra dapat tertidur lagi dengan pulas. Devara kecil juga tertidur di samping ranjang Ayra. Keduanya tidur dengan berpegangan tangan.


*****


Sementara itu, kakek Arya yang mendengar berita cucu kesayangannya telah ditemukan, segera bergegas pergi ke Rumah Sakit. Kakek berlari dengan sangat terburu-buru diikuti salah seorang pengawal Devara yang berhasil menghubungi keluarga Ayra.


Sesampainya di depan ruang VVIP, kakek disambut Madam O.


“Dimana cucuku?”tanya kakek dengan tak sabaran


“Sebelum Anda masuk, bisa saya lihat foto cucu Anda? Ini hanya untuk meyakinkan saja supaya saya tidak salah orang”pinta Madam O ramah


“Kau pikir kau itu siapa mencoba menghalangiku untuk bertemu cucuku?”sentak kakek Arya geram


“Maaf tuan. Tapi saya harus membuktikan bahwa yang berada di dalam itu adalah benar cucu Anda”pinta Madam O masih mencoba ramah.


Seorang ajudan kakek menunjukkan foto wajah Ayra.


“Kau percaya sekarang?”tanya kakek Arya


“Baiklah! Silahkan masuk!”ajak Madam O


Dibukanya pintu ruangan VVIP tempat Ayra dirawat. Kakek langsung menerobos masuk dan mengedarkan matanya melihat sekeliling mencari keberadaan cucu kesayangannya yang kemarin menghilang. Dilihatnya sang cucu sedang tertidur pulas. Dengan salah satu tangannya digenggam seorang anak kecil. Kakek menyusuri wajah dan tubuh Ayra yang dipenuhi perban dan beberapa plester. Tampak beberapa bagian tubuh mungil itu memar dan kemerahan.


Kakek berdiri di samping ranjang Ayra dan meraih salah satu tangannya.


“Ayraku sayang..”ucap kakek menahan pilu


Hatinya begitu sedih dan terluka melihat cucu kesayangannya yang terbaring tak berdaya di Rumah Sakit dengan luka-luka disekujur tubuhnya. Entah apa yang sudah menimpa sang cucu, kakek hanya sanggup menangisinya. Diciuminya punggung tangan Ayra.


“Cucuku”lirih suara kakek mengiba


Mendengar ada yang memanggil namanya membuat Ayra perlahan-lahan membuka matanya. Samar-samar terlihat sosok lelaki paruh baya di depannya. Ayra semakin membuka matanya lebar. Dilihatnya sosok sang kakek di depan matanya. Ribuan perasaan berkecambuk dalam hati Ayra, melihat orang yang dikenalnya ada di depannya. Ayra langsung bangun dan memeluk tubuh kakeknya. Airmata langsung membanjiri wajah Ayra.


“Kakek”panggil Ayra setengah berteriak


Ayra mendekap erat sang kakek. Kakek juga mengusap perlahan kepala cucunya itu.


“Kakek disini sayang..kakek disini”ucap kakek sambil mendekap Ayra


Kakek tampak menitikkan airmatanya. Mayor Jenderal itu mendekap erat tubuh mungil sang cucu. Kedua orang itu larut dalam kebahagiaan. Bahagia karena akhirnya keduanya dipertemukan lagi.


Devara yang merasakan ada sedikit keributan di dekatnya langsung terbangun dari tidurnya. Dilihatnya kini Ayra kecil yang sedang mendekap seorang lelaki tua. Madam O segera berjalan di samping Devara dan memegang bahunya.


“Dia kakek anak kecil itu”bisik Madam O pada Devara kecil


Devara dan Madam berjalan menjauh dari dua orang yang baru saja terpisah itu. Ada keharuan menyeruak di hati Devara melihat kakek tua itu mendekap tubuh cucunya. Kerinduan pada sang kakek pun tiba-tiba datang menyapa Devara. Karena tahu akan berpisah dari Ayra, Devara kecil memilih menjauh dan keluar dari ruangan itu.


Setelah mendapat persetujuan dokter, kakek segera mengajak Ayra pergi dari Rumah Sakit. Sebelum pulang, kakek berpamitan pada Madam O.


“Sampaikan ucapan terimakasihku pada majikan Anda”pinta kakek Arya


“Baik, akan saya sampaikan”jawab Madam O


Ayra berjalan keluar dari Rumah Sakit sambil digandeng sang kakek. Sesekali Ayra menoleh ke belakang sementara kakinya terus berjalan.


“Terimakasih”gumam Ayra dalam hati pada tuan muda yang sudah menyelamatkan nyawanya.