Falling In Love With Trouble Maker

Falling In Love With Trouble Maker
Calon Mempelai


Waktu satu bulan yang diberikan Devara akhirnya tiba. Tetapi sayang, Devara tak bisa menepati janjinya untuk kembali ke Indonesia. Kebetulan ada pekerjaan yang memaksanya untuk menyelesaikan pekerjaan itu terlebih dahulu.


Hari ini, kebetulan ada acara di kediaman Arya Subrata, kakek Ayra dari pihak Ayah Aldi. Semua keluarga besar Ayra berkumpul disana. Di rumah jendral purnawirawan TNI yang tampak masih gagah meski usianya yang sudah tidak muda lagi. Mungkin karena semasa muda, kakek Arya rajin berolahraga dan selalu menjaga asupan makanannya makanya sekarang diusianya yang menginjak 75 tahun, beliau masih tampak bugar. Penampilannya pun tak kalah gagah dengan Ayah Aldi yang masih aktif dinas.


Hari itu, kediaman kakek dihias sangat indah. Tampak tenda besar menghiasi depan rumah. Dekorasi bunga warna warni juga tampak menghiasi sepanjang jalan menuju kediaman utama kakek Arya. Rumah mantan Jenderal TNI itu bersiap menghelat acara besar.


Semua anggota pria di keluarga Arya  juga tampak gagah dengan kemeja batik lengan panjang bernuansa hitam dan cream. Sementara anggota wanita, tampak anggun dan cantik mengenakan kebaya berwarna cream .


“Hari ini ada acara apa sih? Tumben semua anggota keluarga memakai seragam cream” tanya Ayra pada Nabila sepupunya sambil membantu para pelayan di dapur.


“Aku juga tak tahu kak.. Aku dengar karena kak Alesha mau menikah. Tapi kenapa tidak di rumah keluarga kak Alesha di Bandung. Kenapa malah mengadakan di rumah kakek ya?”ucap Nabila bingung


“Seragamku juga beda sendiri. Penjahitnya gimana sih? Masak kainnya bisa habis sih? Jadi kelihatan paling heboh kan”gerutu Ayra sambil memperhatikan gaun yang dipakainya saat ini.


“Kan udah dibilang, waktu jahitin kebaya kakak, kainnya habis. Makanya penjahitnya inisiatif pakai kain yang lain. Tapi bagus kok kak, Kak Ayra kelihatan cantik dengan kebaya itu”puji Nabila


“Cantik apanya..beda sendiri iya. Udah ah..males aku bahas gaun ini”ujar Ayra kesal.


Karena berada di dapur, Ayra tak mendengar iring-iringan mobil yang datang menuju kediaman kakek Arya. Ketika mobil utama sampai di depan tenda besar, mobil-mobil yang lain tampak menepikan mobil tak jauh dari mobil utama. Ada sekitar 20-an mobil yang terparkir berjejer di sepanjang jalan menuju kediaman kakek Arya .


Dari dalam mobil-mobil itu keluar beberapa lelaki berbadan tegap memakai setelan jas hitam dan kacamata hitam. Bersiaga sepanjang jalan menuju kediaman kakek Arya .


Sebuah mobil Bugatti La Voiture Noire berwarna hitam terparkir tepat di depan tenda besar kediaman kakek Arya . Seorang lelaki muda memakai baju batik hitam dengan aksen gold tampak turun dari mobil itu. Sementara itu dibelakangnya, sebuah mobil Mercedes-Benz Maybach Exelero juga terparkir. Dari dalam mobil keluar lelaki dan wanita setengah baya, yang masih terlihat muda diusianya yang menginjak 50 tahun. Mereka adalah Ayah dan Ibu lelaki muda yang telah lebih dulu turun dari mobil. Bersama lelaki muda itu, tampak seorang wanita tua, mengenakan kebaya bernuansa cream. Meskipun telah menginjak usia 70 tahun, namun gurat-gurat kecantikan masa mudanya masih jelas terlihat.


Lelaki muda itu berjalan sambil menuntun wanita tua yang adalah neneknya. Disusul Ayah dan Ibunya lalu keluarga besarnya sambil membawa seserahan yang sangat banyak dan mewah.


Lelaki muda dan keluarganya disambut hangat oleh keluarga besar Ayra. Keluarga Ayra menerima barang seserahan lalu memasukkan ke dalam rumah. Menata barang seserahan itu dengan sangat rapi di ruang utama acara lamaran yang dihelat di rumah kakek Arya .


Satu persatu tamu yang hadir, duduk di kursi yang sudah disediakan.


Kakek Arya sebagai sesepuh tampak menerima kehadiran tamu undangannya. Masing-masing keluarga saling berbincang ringan.


Bunda Ayrin tampak berbincang-bincang dengan nenek dan Ibu lelaki muda tadi. Mereka terlihat sangat akrab dan seperti sudah saling mengenal lama.


“Kita mulai saja acaranya”perintah kakek Arya pada Gunawan, paman Ayra.


Gunawan menganggukkan kepalanya. Gunawan yang juga paman Alesha didapuk menjadi pembawa acara lamaran itu.


Semua anggota keluarga Ayra berkumpul di ruang utama.


Ayra yang masih sibuk membantu di dapur, dipanggil juga untuk berkumpul.


“Non Bila sama non Ayra dipanggil tuan besar..disuruh ke ruang utama sekarang”ujar Bi Tum, ART di kediaman kakek Arya


“Iya bi..”ucap Nabila


“Ayo kak, kita kesana. Keburu kakek marah”ajak Nabila


“Oke”


Akhirnya Ayra digandeng Nabila memasuki ruang utama. Kebetulan di ruang utama sudah berkumpul banyak orang. Sampai di ruang utama, Gunawan sebagai pembawa acara baru saja membuka acara.


“Ini dia calon mempelai wanita baru datang” canda Gunawan


“Hah..paman apa-apaan sih? Calon mempelai apaan?”gerutu Ayra dalam hati mendengar candaan pamannya itu.


Irene, bibi Ayra segera menggandeng Ayra masuk ke dalam ruang utama.


“Kenapa aku digandeng seperti ini sih? Sebenarnya ini ada apa? Kok aneh gini rasanya?”gerutu Ayra dalam hati


Ayra bingung karena tangannya digandeng oleh Nabila dan Irene. Di deretan kursi tamu undangan, lelaki muda yang tadi bersama neneknya, menengok ke arah Ayra.


“Devaraaaa”teriak Ayra dalam hati


Rupanya acara lamaran itu adalah acara lamaran antara Devara dan Ayra. Acara lamaran kejutan karena Ayra satu-satunya anggota keluarga yang tak diberitahu akan acara lamaran itu. Dekorasi lamaran dengan inisial D dan A yang ada diruang utama, dikira Ayra adalah inisial nama Alesha dan kekasihnya yang sebentar lagi akan menikah juga. Siapa sangka inisial D dan A yang terpajang adalah inisial nama Devara dan Ayra.


Devara yang memandangi kedatangan Ayra dengan senyum yang terus tersungging di wajah tampannya. Devara benar-benar terpikat dengan pesona Ayra. Apalagi kebaya broklat berwarna gold yang dikenakan Ayra saat ini, semakin memancarkan aura kecantikan Ayra. Kebaya yang dirancang khusus oleh perancang busana kenamaan Indonesia.


Begitu Ayra sudah mendekat, Gunawan meminta Devara dan Ayra duduk di kursi masing-masing. Ayra masih dengan keterkejutannya masih tak menyangka bahwa semua acara itu adalah untuk dirinya. Dalam hatinya berkecamuk semua perasaan. Jantungnya berdegup tak karuan, karena Ayra nervous, gugup, gelisah dan juga bingung.


Ayra duduk di antara Ayah dan Bunda. Sementara Devara duduk di deretan di depan Ayra. Dari tempat Ayra duduk, Ayra dapat melihat papa, mommy, nenek, kakak perempuan Devara, Nadine dan Daniel serta beberapa keluarga Devara.


Devara tak henti-hentinya memandangi Ayra. Sementara Ayra yang gugup hanya sanggup menunduk. Sesekali Bunda menggenggam tangan Ayra karena Bunda tahu Ayra sangat syok dengan kejutan yang diberikan Devara dan keluarganya.


Setelah kakek Arya dan Ayah selaku tuan rumah, dan papa selaku tamu memberikan sambutannya, Gunawan kemudian meminta Devara dan Ayra untuk maju kedepan.


“Silahkan Devara dan Ayra, kalian maju kesini ke depan”pinta Gunawan selaku pembawa acara.


Ayra berdiri dari kursinya dan melangkah ke depan dengan kaki yang masih gemetar karena kaget dan gugup. Sementara Devara dengan penuh percaya diri melangkah ke depan para hadirin yang hadir dalam acara lamaran itu.


Gunawan kemudian menyerahkan sebuah microphone pada Ayra dan Devara.


“Silahkan nak Devara, ingin melamar Ayra seperti apa”pinta Devara


Devara menghela nafas perlahan. Tak bisa dipungkiri momen ini adalah momen berharga bagi Devara, melamar gadis pujaan hatinya. Devara menghela nafas untuk mengusir kegundahan dalam hatinya. Tak disangka Devara bisa nervous juga saat melamar gadis pujaan hatinya di hadapan para sesepuh dan keluarga besarnya.


Devara pun berdiri menghadap Ayra, sementara Ayra juga berdiri tak jauh dari Devara, berdiri menghadap Devara.


“Ayra Sayang..ingatkah dulu saat pertamakali kau menjewerku di Alun-alun kota?”


Ayra menahan tawa sambil mengangguk pelan. Sementara para hadirin tertawa mendengar pengakuan Devara.


“Memang benar, dulu Ayra pernah menjewer telinga saya di depan banyak orang”ucap Devara sambil menghadap para hadirin.


“Saat itu dalam hati, aku berpikir siapa gadis pemberani yang sudah berani mempermalukan aku. Akhirnya aku mencari tahu semua tentang dirimu. Hingga akhirnya aku menantangmu di gudang sekolah waktu itu. Awalnya aku hanya ingin menggertakmu, menakut-nakuti kamu, tapi rupanya kamu benar-benar jago beladiri. Sampai-sampai aku terkena pukulanmu” kenang Devara diiringi suara tawa semua hadirin


Ayra tak bisa menyembunyikan wajahnya yang saat ini sangat malu mengingat kejadian pertama kali mereka bertemu dan berkelahi di gudang sekolah.


“Kami berkelahi. Aku tak menyangka akan berkelahi dengan gadis pemberani sepertimu. Sejak hari itu, aku terus memikirkanmu. Beberapa kali aku mencoba mendekatimu, tapi sikapmu yang menyebalkan membuat kita selalu bertengkar”


Ayra tak terima dengan ucapan Devara.


“Bisa-bisanya dia bilang aku menyebalkan..Di depan semua orang lagi”gerutu Ayra dalam hati


Devara cekikikan melihat tatapan kemarahan dari Ayra.


“Ayra Sayang..ketahuilah bahwa kehadiranmu telah memberi warna dalam hidupku yang sebelumnya kelabu. Karenamu, aku mulai mengerti arti mencintai dengan tulus. Kau mengajariku artinya menghargai cinta orang-orang disekelilingku” ucap Devara lembut sambil terus menatap Ayra penuh cinta.


Kata-kata Devara membuat Ayra sangat terharu. Nenek dan Madam O yang selama ini mendidik Devara juga sampai menitikkan airmata tanda haru.


“Terimakasih untuk semua cinta dan kasih sayang yang kau berikan padaku. Dan maafkan aku yang sudah sering membuatmu bersedih dan bahkan menangis. Maafkan untuk semua kesalahanku di masa lalu. Maafkan aku untuk semua kekurangan dan kelemahan yang ada pada diriku”


Ayra menatap Devara sendu. Airmatanya sudah di pucuk mata indahnya. Mommy dan Bunda yang mendengarkan Devara tampak ikut hanyut dalam ungkapan perasaan Devara. Begitu juga dengan Nadine yang selama ini mengikuti lika-liku perjalanan cinta keduanya, juga ikut terharu mendengar tiap kata-kata Devara.


“Walaupun aku tak sempurna, tapi percayalah sayang, aku akan berusaha menjadi sempurna untukmu. Aku berjanji akan selalu membahagiakanmu sampai maut memisahkan kita. Aku akan selalu menjaga dan melindungimu, dan menjadikanmu ratu di dalam hidupku”


Ayra mengusap titik-titik air matanya yang sebentar lagi mengalir. Melihat Ayra menangis, Bunda meminta Nabila mengambilkan tisu untuk Ayra. Nabila mengambilkan tisu dan berjalan ke arah Ayra. Ayra menerima tisu yang diberikan Nabila dan tampak melekatkan tisu itu di matanya perlahan agar tidak merusak make-up natural yang saat ini menghiasi wajah cantiknya.


Devara memberi isyarat tanda pada Daniel dan Nadine. Keduanya kemudian maju ke samping Devara dan Ayra. Devara mengambil cincin berlian berwarna pink muda bernama asli the graff pink diamond. Cincin berlian seberat 24,78 karat yang terbuat dari batu permata paling langka di dunia. Warna merah mudanya memancarkan keanggunan dan kemewahan.


Devara kemudian bersimpuh, berlutut di depan Ayra sambil memegang cincin itu.


“Sayangku..kaulah cinta dalam hidupku. Aku akan mencintaimu seumur hidupku. Di hadapan semua yang hadir disini, aku, Devara Alexander meminangmu Amayra Grizelle Fredella menjadi pendamping hidupku. Maukah kau menikah denganku?”tanya Devara dengan tatapan matanya yang penuh cinta pada Ayra.