Falling In Love With Trouble Maker

Falling In Love With Trouble Maker
Diganggu Preman


“Sendirian aja mbak.. saya temani mau tidak?”goda lelaki itu


“Apa mau kalian? Jangan macam-macam..kalau tidak..”Ayra belum menyelesaikan kata-katanya tapi lelaki tadi sudah menyela.


“Kalau tidak..”lelaki tadi menirukan kata-kata Ayra sambil menatap teman-temannya


“Hahahaa”


Mereka tertawa mendengar ancaman Ayra yang belum selesai itu.


“Kamu cantik juga..mau jadi pacarku?”tanya lelaki tadi sambil menyentuh wajah Ayra.


“LEPASKAN GADIS ITU” teriak seseorang.


Suaranya sangat familiar di telinga Ayra. Ayra menoleh ke arah sumber suara.


“Devara?”gumam Ayra dalam hati


Benar saja, itu Devara.


Rupanya Devara tak tega meninggalkan Ayra seorang diri, sehingga dia memutar balik. Awalnya dia bingung karena tak melihat Ayra di trotoar jalan utama.


“Cepat sekali jalannya..Kemana gadis cerewet itu pergi?”gumam Devara dalam hati sambil menoleh ke kanan dan ke kiri mencari sosok gadis cerewet yang disukainya itu dengan melajukan motornya pada kecepatan sedang.


Saat melewati sebuah jalan kecil, Devara merasa seperti melihat tas ransel yang dipakai Ayra, makanya dia mendekat. Devara memarkirkan motornya tak jauh dari tempat Ayra digoda gerombolan preman itu.


Dan saat melihat lelaki bertato tadi menyentuh wajah Ayra, membuat Devara tersulut emosinya. Makanya dia berteriak dengan sangat lantang.


“Devara?”gumam Ayra dalam hati melihat Devara yang berjalan ke arahnya


Sudut bibir Devara tersungging. Wajahnya tersenyum tapi senyum yang sangat mengintimidasi lawannya.


“Kalian sudah bosan hidup rupanya..berani-beraninya berulah disini”ucap Devara dengan senyum mengerikan yang tersungging di sudut bibirnya.


“Kau siapa?”tanya lelaki bertato itu pada Devara


“Kau tanya aku siapa? Jadi kalian tak tahu siapa aku..Awas saja sampai aku tahu siapa bos kalian”ancam Devara


“Udah kak, kita hajar saja dia”ucap salah satu anak buah lelaki bertato tadi.


“Maju kalian kalo berani” tantang Devara


Akhirnya perkelahian itu pun tak terelakan. Lebih tepatnya pengeroyokan. Karena Ayra dan Devara harus melawan tujuh orang berandalan sekaligus.


Untung saja, baik Ayra maupun Devara jago beladiri. Ayra pemegang sabuk hitam taekwondo. Sementara Devara pemegang sabuk hitam karate. Ayra dan Devara juga menguasai seni beladiri muay thai. Sehingga mereka bisa mengalahkan musuh mereka satu persatu.


Tetapi musuh-musuh mereka tak mau menyerah begitu saja. Walaupun sudah babak belur dihajar Ayra dan Devara tapi mereka terus menyerang Ayra dan Devara.


Kali ini mereka berdua dikepung ditengah. Ayra dan Devara berdiri saling membelakangi punggung masing-masing. Ayra dan Devara memasang kuda-kuda bersiap menghajar musuh mereka.


“Apa kau baik-baik saja?”tanya Devara memastikan keadaan Ayra


“Tenang saja, aku baik-baik saja”jawab Ayra dengan penuh konsentrasi melihat ke arah musuh di depannya.


“Seranggggg”teriak lelaki bertato tadi.


Perkelahian benar-benar seru. Pukulan tendangan melayang ke segala arah. Ayra dan Devara dapat menguasai pertarungan dan memberikan perlawanan meskipun dikeroyok tujuh orang sekaligus.


Saat Ayra dan Devara sedang lengah, salah satu anak buah lelaki bertato tadi mengeluarkan pisau lipat yang disembunyikannya di saku celananya.


Devara yang sedang berkonsentrasi mengalahkan musuh-musuh yang ada didepannya, tak melihat anak buah lelaki bertato tadi yang memegang pisau lipat, yang berjalan mendekat ke arahnya. Untungnya Ayra melihatnya.


“Devara awasss! Dibelakangmu”teriak Ayra memperingatkan Devara


Devara yang mendengar peringatan Ayra segera membalik badan. Dia segera memegang pisau lipat yang saat ini mengarah ke perutnya. Dengan sekuat tenaga Devara berusaha menahan supaya pisau lipat itu tak melukai perutnya.


Tapi karena pisau itu juga tajam, darah segar tampak menetes dari tangan kiri Devara yang dipakai memegang pisau lipat itu.


Di saat terpojok seperti itu, tiba-tiba beberapa lelaki berpakaian serba hitam dengan tubuh kekar, berlari ke arah tempat pengeroyokan itu. Rupanya mereka adalah bodyguard Devara yang datang menolong.


Lelaki-lelaki kekar itu berhasil melumpuhkan berandalan-berandalan tadi dalam hitungan menit. Ketujuh orang yang mengeroyok Devara kali ini babak belur dipukul bodyguard Devara.


“Tanganmu berdarah” ucap Ayra kuatir melihat darah menetes dari tangan Devara.


Devara hanya meringis saja. Dia memang tak menyadari tangannya terluka karena tadi fokusnya adalah bagaimana melindungi Ayra agar Ayra tak terluka.


Ayra mengeluarkan saputangan miliknya yang ada di dalam tas ranselnya.


Diikatkannya saputangan itu di tangan kiri Devara yang terluka. Devara memandangi Ayra yang sedang membalut tangannya dengan hati yang berbunga. Dia merasa senang mendapat perhatian Ayra. Ayra membalut luka Devara dengan sangat hati-hati.


“Terimakasih” ucap Devara lembut pada Ayra.


Ayra hanya mengangguk.


Devara berdiri dari posisinya tadi dan berjalan ke arah pria sangar bertato yang saat ini duduk bersimpuh tak berdaya. Tangannya dilipat ke belakang tubuhnya. Wajahnya pun sudah babak belur penuh dengan luka. Hampir tak berbentuk.


Devara menghampiri lelaki bertato dan berjongkok di depannya.


“Beraninya kau menganggu wanitaku” umpat Devara sambil memukul wajah lelaki tadi.


“Katakan pada “bos”mu sebaiknya kalian segera pergi dari kota ini, kalau kalian tak mau berurusan dengan Jack Dragon”ucap Devara dengan tatapan tajam penuh intimidasi


Lelaki bertato tadi kaget setengah mati mendengar nama Jack Dragon disebut. Matanya terbelalak. Tubuhnya gemetar. Bagaimana tidak, Jack Dragon adalah pimpinan mafia yang paling ditakuti di Indonesia. Klan Naga Api yang dipimpinnya merupakan salah satu klan mafia yang berpengaruh di Asia. Klan mafia ini yang menguasai pasar gelap di Indonesia dan Asia Tenggara.


Preman kelas teri seperti lelaki bertato ini tak ada apa-apanya jika dibandingkan klan Naga Api. Jika sudah berurusan dengan klan mafia ini, mereka bisa saja lenyap tanpa pernah diketahui jasadnya.


“Maa..maafkan kami..kami tak bermaksud menganggu klan Naga Api”ucap lelaki bertato dengan suara bergetar.


“Maafkan kami” seru beberapa anak buah lelaki bertato tadi bersamaan.


Devara melirik ke arah Ayra. Ayra tampak tak nyaman melihat preman-preman itu yang babak belur dan bersimbah darah.


Devara menatap salah satu bodyguard nya.


“Kalian urus masalah ini” ucap Devara sambil beranjak dari posisinya.


Dia berjalan ke arah Ayra, dan menggenggam pergelangan tangan Ayra. Devara menarik Ayra untuk segera pergi dari area “pertempuran” tadi.


Bagaimanapun juga, Ayra seorang gadis. Melihat darah berceceran dimana-mana membuatnya sangat tidak nyaman.


Devara menarik Ayra sampai di motor yang diparkirkannya tak jauh dari tempat tadi. Devara segera naik motornya dan memakai helmnya.


“Terimakasih sudah menolongku”ucap Ayra tulus.


“Aku pulang dulu”pamit Ayra lalu beranjak hendak meninggalkan Devara.


Devara segera memegang pergelangan tangan Ayra. Ayra kaget dan berbalik menatap Devara.


“Mau kemana? Aku antar pulang”ucap Devara


Ayra mengibas-ngibaskan tangannya.


“Tidak usah, aku bisa pulang sendiri”ucap Ayra sambil menggerakkan tangannya ke kanan ke kiri tanda menolak ajakan Devara.


Devara langsung memakaikan helmnya di kepala Ayra.


“Cepat naik”perintah Devara.


Kali ini Ayra pasrah saja diperintah Devara. Dia naik ke atas motor besar Devara. Sebenarnya Ayra sedikit tidak nyaman naik motor besar ini, karena dia sedang memakai rok. Tapi akhirnya Ayra menurut saja. Ayra berpegangan pada ujung baju Devara. Jujur saja, ini kali pertama Ayra dibonceng pria selain ayahnya dan kakak lelakinya yang sudah meninggal dua tahun lalu.


“Pegangan yang kuat” pinta Devara


Devara melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Membuat Ayra sedikit ketakutan. Takut terjatuh dari motor. Sempat ketika sampai di persimpangan jalan, rambu lalu lintas berwarna merah, Devara mengerem motornya mendadak, membuat Ayra kaget dan melingkarkan tangannya di pinggang Devara dan memeluk tubuh Devara dari belakang.


Baik Devara maupun Ayra juga kaget. Tapi Devara bahagia karena dipeluk Ayra dari belakang seperti itu. Ayra sebenarnya risih dan ingin melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang Devara. Tapi lagi-lagi, rambu lalu lintas berwarna hijau, Devara menggas motornya dengan tiba-tiba, membuat Ayra terpaksa melingkarkan tangannya di pinggang Devara.


Sepanjang perjalanan menuju rumah Ayra, Devara terus tersenyum bahagia. Sementara Ayra cemberut dibalik helm Devara yang dipakainya.


Ayra sempat heran, karena Devara tahu betul jalan menuju rumahnya. Padahal Ayra jarang mengajak teman sekolahnya kerumah. Tapi Devara bisa tahu arah jalan menuju rumah Ayra.


Sampai di depan rumah, Ayra segera turun dari motor Devara. Ayra berusaha melepas helm milik Devara. Tapi ternyata susah. Devara melepas helmnya sendiri.


Devara yang melihat Ayra kesulitan melepas helmnya, segera membantu Ayra melepas helm itu. Hati Ayra mendadak bergetar melihat perhatian Devara. Ada sesuatu menggelitik dalam hatinya melihat cowok aneh sinting gila yang selalu diumpatnya itu, berkali-kali membantunya. Dan bahkan menolongnya dari gangguan berandalan yang berusaha melecehkannya hari ini.


“Kenapa bengong?”tanya Devara membuyarkan lamunan sesaat Ayra


“Siapa juga yang bengong”jawab Ayra dengan tersipu malu.


Devara yang melihat Ayra salah tingkah, tampak tersenyum.


“Terimakasih untuk hari ini” ucap Ayra lirih


“Sebaiknya kau segera pulang dan obati tanganmu sebelum infeksi” pinta Ayra sambil menunjuk tangan kiri Devara yang terluka tadi.


“Aku masuk” pamit Ayra.


Ayra segera membuka pintu gerbang rumahnya dan masuk ke dalam rumah. Saat akan menutup pintu gerbang, Ayra sempat bertatapan dengan Devara, tapi kemudian Ayra segera menutup gerbang.


Devara tak segera beranjak dan masih berada di depan rumah Ayra. Ayra masuk ke dalam rumah setelah memberi salam pada Bundanya.


“Aku ke kamar dulu ya Bund”pinta Ayra


“Iya Ay..istirahatlah dulu”jawab Bunda melihat putri kesayangannya itu tampak lelah.


Ayra segera menaiki tangga ke lantai dua menuju kamarnya. Setelah membuka pintu kamar, Ayra meletakkan tas ranselnya di meja belajar. Entah kenapa, Ayra iseng berjalan kearah jendela kamarnya yang mengarah ke luar. Dibukanya korden yang menutupi jendela.


Ayra kaget, karena Devara belum juga pulang. Ayra melihat Devara masih di atas motornya menatap ke arah kamarnya.


Setelah memastikan Ayra masuk kamar, Devara pun meninggalkan rumah Ayra. Devara memakai helmnya dan segera menstarter motornya. Devara tampak melambaikan tangan kirinya tanpa melihat ke arah Ayra. Lalu Devara melajukan motornya meninggalkan rumah Ayra.


Ayra segera menutup kordennya dan membalikkan badannya. Menyandarkan tubuhnya di dinding kamarnya. Sambil meletakkan tangannya di dada. Karena sekali lagi jantungnya berdebar tak karuan.


“Kenapa jantungku berdebar-debar seperti ini?”gumam Ayra dalam hati.


Ayra kemudian segera merebahkan tubuh lelahnya di ranjang kamarnya yang empuk dan nyaman.