Falling In Love With Trouble Maker

Falling In Love With Trouble Maker
Posesif


Di sekolah,


Sekarang waktunya istirahat jam kedua. Ayra sedang ke toilet. Begitu keluar dari bilik toilet, rupanya Angel dan anak buahnya sudah berada di dalam toilet. Ayra pura-pura tak melihat mereka. Ayra menyenggol Angel dan berjalan ke wastafel untuk mencuci tangan. Angel yang mau memberi pelajaran kepada Ayra, menjadi naik pitam. Dijambaknya rambut Ayra dengan kasar.


“Gadis kurang ajar..berani-beraninya kau mencari masalah dengan kak Dev”umpat Angel pada Ayra


Ayra yang tak terima dijambak rambutnya, kemudian memegang tangan Angel. Dengan gerakan memutar, Ayra dapat memlintir tangan Angel ke belakang.


“Aaaarrrggghhhh”Angel mengerang kesakitan.


Angel segera melepaskan cengkramannya di rambut Ayra. Anak buah Angel yang melihat Ayra memberikan perlawanan, segera menghampiri Angel dan hendak memukul Ayra.


Akhirnya terjadilah pengeroyokan yang dilakukan Angel dan empat anak buahnya kepada Ayra. Karena Ayra jago beladiri, satu per satu anak buah Angel dikalahkan. Ayra dapat menangkis semua pukulan dan tendangan yang dilancarkan anak buah Angel. Perkelahian antar wanita itu sangat tidak imbang. Karena Ayra memang bukan lawan yang sepadan untuk Angel dan anak buahnya.


Ketika Angel akan memukul Ayra, Ayra dapat menghindar dan malah mendapatkan tangan Angel. Kemudian oleh Ayra, tangan Angel diplintir ke belakang.


“Jangan pernah menggangguku lagi”ancam Ayra lalu dia mendorong badan Angel ke depan


Angel menjadi semakin kesal karena kalah melawan Ayra yang hanya seorang diri. Ayra pun meninggalkan Angel dan anak buahnya lalu kembali ke kelas.


“Dasar wanita j*lang..aku akan membalas semua penghinaan ini. Tunggu saja” umpat Angel dalam hati.


Sesampainya di kelas, Nadine kaget melihat baju seragam Ayra yang basah dan sedikit berantakan.


“Kamu kenapa Ay?”tanya Nadine kuatir


“Oh..ga papa..jangan kuatir. Nanti juga kering sendiri”ujar Ayra tenang sambil merapikan kembali bajunya yang berantakan.


“Hei dengar-dengar..tadi ada perkelahian di toilet putri” ujar Dito salah satu teman sekelas Ayra ketika memasuki kelas.


“Benarkah?”tanya teman-teman sekelas Ayra


“Iya..aku dengar Ayra berkelahi dengan genk nya Angel”ungkap Dito.


Dia tidak tahu kalau Ayra sudah berada di dalam kelas.


“Braakkk”


Ayra menggebrak meja dengan keras


“Berhenti bergosip tentang aku..apa kalian tak punya kerjaan? Hah?”seru Ayra dengan nada marah


Mata Dito terbelalak melihat yang digosipkannya ternyata ada di dalam kelas. Teman-teman Ayra yang lain pun akhirnya meninggalkan Dito dan duduk ke kursi meraka sambil berbisik satu sama lain menatap ke arah Ayra. Nadine pun menarik tangan sahabatnya dan memintanya duduk.


“Jadi kamu berkelahi dengan Angel, Ay?”tanya Nadine kuatir


“Dia yang mulai duluan” bela Ayra


“Ya ampun Ay, kenapa kamu mencari gara-gara dengan genk mereka sih? Kemarin Devara sekarang Angel. Bagaimana kalau mereka nanti balas dendam?”tanya Nadine kuatir


Ayra memegang pundak sahabatnya itu.


“Tenanglah..aku bisa jaga diri” ujar Ayra sambil tersenyum


Ttteeetttt…ttteettttt


Bel berbunyi. Pelajaran selanjutnya pun dimulai.


*


*


*


*


“Nenek..selamat ulangtahun ya..semoga nenek panjang umur, sehat selalu dan selalu bahagia” tutur Sophia mama Daniel pada Agatha sambil memeluknya


“Terimakasih”balas Agatha


“Maaf nek, kami tidak bisa lama..kami harus kembali ke Indonesia sekarang”ucap David, papa Daniel sambil memegang tangan renta Agatha


“Iya..terimakasih ya sudah jauh-jauh kesini”ucap Agatha berterimakasih


“Iya nek”jawab Sophia.


“Kamu ikut kami sekalian, Dev?”tanya David pada Devara yang berdiri di samping Agatha.


“Tidak Uncle..terimakasih. Saya masih ada urusan di sini”ucap Devara


Walaupun Devara dan Daniel bermusuhan, tetapi Devara masih menaruh hormat pada keluarga Daniel.


“Iya..Dev akan menemani papanya meeting dengan klien”ucap Agatha sambil memegang tangan cucu kesayangannya itu.


“Kalau begitu, kami pamit dulu ya nek”ucap Sophia pamit


Daniel mencium punggung tangan Agatha. Dia pun menjabat tangan Devara. Tapi Devara melengos. Akhirnya Daniel dan keluarganya pun pulang ke Indonesia dengan pesawat jet pribadi mereka.


Acara ulangtahun Agatha sudah selesai. Devara dan Agatha pulang kembali ke kediaman mereka. Sementara mama dan papa Devara harus ke Malaysia sebentar, untuk meninjau pembangunan Mall milik perusahaan keluarga mereka yang dibangun di Kuala Lumpur.


Di kamarnya, Devara duduk termenung memandang layar hp nya. Dipandanginya wajah cantik Ayra. Rupanya Devara merindukan Ayra. Dia merindukan suara makian dan umpatan Ayra yang selama beberapa hari ini selalu menemaninya.


Dia ingin menelpon Ayra, tapi dia tidak ingin mengganggunya.


“Sekarang dia masih di sekolah..aku akan menelponnya nanti saja kalau sudah pulang” gumam Devara dalam hati.


Dilihatnya lagi video rekaman CCTV kejadian di gudang sekolah tempo hari. Devara memegang bibirnya. Terbayang kembali saat-saat dia mencium bibir lembut Ayra. Kenangan itu mampu membuat Devara tersenyum sendiri.


*


*


*


*


Di sekolah,


Tttteeeettttt


Bel pulang berbunyi. Ayra pun bersiap untuk pulang. Ketika memasukkan buku-bukunya ke dalam tas, Ayra melihat smartphone Devara yang seharian ini tak berdering. Dia juga tak mengiriminya chat dan sticker aneh-aneh lagi.


“Dia tak menggangguku lagi hari ini, syukurlah”gumam Ayra dalam hati.


Ada perasaan aneh menjalar di hati Ayra melihat smartphone itu tak bergetar sama sekali seharian ini.


“Sudahlah..itu bukan urusanku”gumamnya lagi


“Kita pulang sekarang, Ay”ajak Nadine


“Ayo”balas Ayra


“Ay, maaf..aku tak bisa menemanimu pulang hari ini. Kamu tak apa kan pulang sendiri?”tanya Nadine


“Iya..ga papa”jawab Ayra


“Aku pulang dulu ya”pamit Nadine


Ayra mengangguk. Jadilah Ayra pulang sendiri. Nadine ternyata sudah ada yang menjemput. Ayra berjalan sendiri meninggalkan sekolah. Dia merasa kesepian. Karena Nadine dan Daniel tak ada yang menemaninya. Sampai di pintu gerbang sekolah, Ayra bermaksud memesan ojek online. Tiba-tiba sebuah mobil hitam menghampirinya.


Arga turun dari mobil.


“Nona Ayra, mari saya antar pulang”sapa kak Arga


“Kakak sudah disini lagi?”tanya Ayra bingung melihat Arga sudah di depannya lagi.


 Arga hanya tersenyum. Diapun membukakan pintu untuk Ayra.


Ayra menurut saja kali ini. Dia tahu Arga hanya menjalankan tugas dari majikannya. Majikannya yang selama seharian ini tak berdebat dengan Ayra.


Di dalam mobil,


“Acara ulang tahun nenek Devara hari ini ya kak?”tanya Ayra


“Benar nona”jawab Arga


Arga menelpon seseorang. Sementara Ayra hanya menatap ke luar jendela.


Tiba-tiba smartphone itu berdering lagi. Devara menelponnya. Ayra mengangkat telpon.


“Halo”sapa Ayra


“Kau sudah pulang?”tanya Devara


“Udah tahu nanya” jawab Ayra ketus


“Hyaaa..aku kan nanya baik-baik, kenapa jawabanmu seperti itu?”bentak Devara


Ayra sebenarnya juga tak mengerti kenapa dirinya selalu saja kesal dan jengkel mendengar suara Devara. Mereka membisu. Ayra merasa bersalah sudah ketus pada Devara.


“Bagaimana..acara ulangtahun nenekmu?”tanya Ayra pelan


“Biasa saja..hanya acara keluarga. Tak ada yang istimewa”jawab Devara


“Aku dengar Daniel juga kesitu”kata Ayra


“Oya..dia kan ga suka aku nyebut nama Daniel”gumam Ayra dalam hati


Mendengar Ayra menyebut nama Daniel membuat Devara panas. Ayra segera mengalihkan pembicaraan.


“Ehmm..kapan kamu pulang?”tanya Ayra


Devara yang awalnya mau marah, mendengar pertanyaan Ayra barusan, tak jadi marah. Malah senang.


“Kenapa? Kau sudah merindukanku?”goda Devara


“A-apaa? Jangan salahpaham. Aku hanya ingin mengembalikan hp ini. Itu saja”Ayra salah tingkah dituduh Devara.


“Benarkah?”tanya Devara tak percaya


“Tentu saja” jawab Ayra tegas


Devara yang keGe-eRan karena mengira Ayra merindukannya hanya bisa senyum-senyum sendiri.


“Besok siang aku pulang..Besok aku harus menemani papa meeting dulu” jelas Devara


Sejenak Ayra kagum pada Devara. Tampaknya dia sudah dididik sejak dini, untuk menggantikan peran papanya. Menjadi penerus bisnis keluarga Alexander.


“Kenapa kamu diam?”tanya Devara begitu Ayra tak bersuara


“Apa hari ini terjadi sesuatu?”tanya Devara lagi


“Tidak ada” Ayra bohong.


Dia tak mau menceritakan perkelahiannya dengan Angel dan genknya.


“Oya..terimakasih sudah mengantar jemput aku hari ini. Tapi besok kau tak usah melakukannya lagi. Aku tak mau”tolak Ayra


“Memangnya kenapa? Bukankah lebih enak jika naik mobil? Daripada kamu naik ojek online. Kamu bisa kepanasan”jawab Devara


“Aku sudah biasa naik ojek online”balas Ayra


“Tapi aku tak suka kamu membonceng lelaki lain”seru Devara


Lagi-lagi sikap posesif Devara membuat hati Ayra tergelitik. Sesuatu yang aneh menjalar di hati Ayra.


“Me-memangnya apa urusannya dengan kamu? Aku kepanasan atau tidak? “tanya Ayra terbata-bata


“KAU KAN PACARKU”seru Devara tegas


“Kata siapa aku setuju jadi pacarmu?”protes Ayra dengan nada tinggi


“KATAKU”jawab Devara lagi


Pertengkaran dua sejoli ini, lagi-lagi menjadi hiburan untuk Arga.


“Manusia aneh..Mana ada orang pacaran yang memutuskan cuma sepihak..Kamu sudah benar-benar gila rupanya”ejek Ayra


“Ahh..sudah..aku tak mau mendengar omong kosong ini lagi. Aku tutup telponnya”ucap Ayra kesal.


Telpon pun ditutup Ayra begitu saja. Padahal Devara masih belum selesai. Devara pun mencoba menelpon lagi. Tapi kini Ayra benar-benar marah. Dimatikannya smartphone itu. Arga hanya tersenyum melihat pertengkaran mereka. Devara yang tak kehabisan cara kemudian menelpon Arga.


“Berikan telpon ini pada gadis itu”perintah Devara begitu Arga mengangkat telponnya.


“Maaf nona, tuan muda mau bicara”ucap Arga sambil menyerahkan telponnya


“Jangan telpon aku lagi”seru Ayra setengah berteriak supaya Devara mendengar.


“Maaf tuan muda, sepertinya nona Ayra belum bisa menerima telpon Anda”jelas Arga


“Ya sudah..aku akan menelponnya nanti” jawab Devara


Arga pun menutup telponnya setelah Devara menutup telpon.


“Kakak tolong jangan ikut campur ya?”pinta Ayra pada Arga


“Baik nona”balas Arga


Ayra benar-benar kesal dan jengkel dengan kelakuan Devara yang seenaknya sendiri.