Falling In Love With Trouble Maker

Falling In Love With Trouble Maker
Melepuh


Setelah “putus” dengan Devara, di sekolah muncul rumor tentang kedekatan Ayra dan Daniel. Semua bermula dari berita yang disebarkan di media sosial dan website sekolah, tentang video dan foto-foto kedekatan Ayra dan Daniel. Rumor itu membuat hubungan Ayra dan Devara semakin menjauh. Ayra kini tak lagi diakui sebagai kekasih Devara. Kini Gina-lah yang selalu berada di sisi Devara.


Hubungan Daniel dan Nadine juga merenggang sejak kejadian di kantin lantai tiga beberapa hari yang lalu, sejak pengakuan Daniel yang menyukai Ayra.


Semua anak yang mengetahui "perselingkuhan" Ayra selalu menatap keduanya dengan tatapan tidak suka. Kadang kata-kata pedas dilontarkan untuk menyindir Ayra dan Daniel. Membuat keduanya merasa tidak nyaman. Namun semuanya mereka tahan demi untuk mendapatkan bukti kejahatan Gina.


Di lab sekolah,


Saat ini, kelas Ayra sedang mengadakan praktikum kimia di lab kimia. Ada beberapa cairan kimia di sana. Setelah selesai praktikum, Gina sengaja meminta ijin pada guru untuk membantu membersihkan zat-zat kimia itu, dibantu dengan Ayra.


"Biar saya saja bu yang merapikan semua peralatan praktikumnya"pinta Gina pada bu Dessy, guru kimia mereka.


"Apa kau bisa membersihkan semua ini sendiri?"tanya bu Dessy


"Saya bisa bu"jawab Gina


"Kau baik sekali Gina, ibu serahkan semua ini sama kamu ya?"ucap bu Dessy


"Iya bu"balas Gina sambil tersenyum


"Oya, hati-hati dengan cairan ini. Jangan sampai kena kulit, karena nanti bisa melepuh"nasehat bu Dessy


"Perfect..aku bisa manfaatkan cairan ini"ucap Gina dengan seringai licik di wajahnya sambil melirik ke arah Ayra yang sedang merapikan alat tulis.


"Apa kau butuh bantuan temanmu Gina?"tanya bu Dessy


"Ehmm..kalo boleh saya minta bantuan Ayra saja bu"tunjuk Gina


"Oh..boleh juga.Ayra?"panggil bu Dessy


"Iya bu"jawab Ayra sambil mendekat ke arah bu Dessy


"Kau bantu Gina merapikan peralatan praktikum ini ya? Bisa kan?"tanya bu Dessy


Ayra menatap Gina sekilas.


"Oh..bisa bu"jawab Ayra.


Akhirnya Ayra merapikan meja dan kursi di lab kimia sementara Gina merapikan peralatan praktikum yang sudah digunakan. Ayra yang sedang membersihkan peralatan, tak menyadari Gina yang saat ini sedang berjalan ke arahnya dengan membawa cairan kimia berbahaya di tangannya yang disembunyikan di belakang tubuhnya. Dengan memasang wajah malaikatnya, Gina mendekati Ayra.


“Ay..apa kau masih marah padaku?”tanya Gina dengan suara memelas


Ayra diam saja tak menggubrisnya.


“Sialan..berani—beraninya dia mengacuhkan aku”umpat Gina dalam hati


Ayra menarik nafasnya panjang lalu menghembuskan nafasnya perlahan.


“Apa maumu Gin?” tanya Ayra malas


“Apa belum cukup kau buat aku dan Devara putus?”tanya Ayra lagi


“Kau salahpaham padaku Ay..Aku samasekali tak ada sangkut pautnya dengan semua kejadian yang akhir-akhir ini terjadi padamu. Aku justru selalu meminta Dev memaafkanmu dan balikan denganmu”jawab Gina pura-pura lugu.


“Apa kau pikir aku ini bodoh?”sahut Ayra dengan kesal


Tiba-tiba Gina menumpahkan cairan berbahaya yang tadi dibawanya. Hingga membuat cairan itu mengenai keduanya.


“Aaaa…tanganku”jerit Gina kesakitan


“Kau baik-baik saja Gin?”tanya Devara yang tiba-tiba datang dari arah belakang Ayra, membuat Ayra kaget.


“Coba lihat tanganmu”pinta Devara sambil melihat tangan Gina yang melepuh terkena cairan tadi.


“Sakit Dev”seru Gina masih kesakitan sambil menangis.


Devara menatap Ayra dengan tatapan tajam.


“Kenapa kau menuduh Gina seperti itu? Apa kau sengaja menumpahkan cairan itu untuk melukai Gina?”bentak Devara


“Aku..aku..bukan aku yang menumpahkannya”jawab Ayra dengan terbata-bata karena kenyataannya bukan dia yang menumpahkan cairan itu.


“Sakit Dev..sakit”erang Gina memegangi tangannya yang melepuh.


“Kita obati tanganmu”ucap Devara pada Gina.


Devara segera memapah Gina menuju ruang UKS. Meninggalkan Ayra yang masih mematung mencerna kejadian yang baru saja dialaminya. Matanya terus menatap lelaki yang dicintainya pergi bersama Gina dan meninggalkannya sendiri. Hati Ayra mendadak sakit melihat Devara sangat perhatian pada Gina. Ayra memegang dadanya yang terasa sesak. Hingga tanpa sadar airmatanya ikut menetes.


“Ay..tanganmmu kenapa?”tanya Daniel yang datang menyusul ke lab.


“Hah? Tanganku?”Ayra segera melihat tangannya yang ternyata juga terkena cairan kimia tadi. Bahkan tangan Ayra yang melepuh lebih banyak ketimbang Gina. Namun Ayra seakan tak merasakan sakit di tangannya. Karena sakit itu tak seberapa dibandingkan dengan sakit hati yang saat ini dialaminya.


"Ayo kita obati lukamu!" ajak Daniel sambil memapah Ayra.


Daniel segera membawa Ayra ke ruang UKS gedung kelas XI. Daniel mengobati luka melepuh di tangan Ayra dengan sangat hati-hati. Ayra yang mengingat kembali Devara yang meneriakinya, mengusap airmatanya yang kembali mengalir sambil berusaha tersenyum.


“Apa sangat sakit?”tanya Daniel melihat Ayra yang menangis


Ayra menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Kenapa kau bisa begitu ceroboh? Bukankah aku sudah bilang jangan pernah sendirian dengan Gina?”seru Daniel


“Maaf Dan..tadi bu Dessy yang memintaku membantu Gina merapikan alat-alat lab”jawab Ayra


“Maafkan aku Ay..andai tadi Pak Jhonny tak memanggilku ke ruang guru, aku pasti sudah menemanimu dan Gina pasti takkan melukaimu seperti sekarang”ujar Daniel sambil menggenggam tangan Ayra.


“Itu bukan salahmu”ucap Ayra sambil tersenyum.


Ayra dan Daniel yang sedang berpegangan tangan, tak menyadari Devara yang saat ini mengintip mereka dari balik pintu. Devara yang khawatir pada Ayra, setelah mengantar Gina ke UKS, pergi menyusul Ayra. Karena Devara tadi sempat melihat tangan Ayra juga melepuh karena cairan tadi. Tapi Devara gengsi jika harus menampakkan kekhawatirannya pada Ayra. Karena itu Devara hanya mampu mengintip Ayra dari balik pintu.


Ayra sudah diobati lukanya, dengan tangan yang diperban. Ayra dan Daniel keluar dari ruang UKS. Sementara Devara yang melihat Ayra dan Daniel hendak keluar dari ruang UKS, segera bersembunyi di balik tembok, takut jika ketahuan Ayra, gadis yang sangat dicintainya.


Devara masih dapat melihat Daniel yang memapah Ayra kembali ke kelas. Ditatapnya punggung gadis yang sangat berarti dalam hatinya. Namun Devara tak sanggup menunjukkan kekhawatirannya melihat tangan Ayra yang melepuh. Ingin rasanya Devara merawat Ayra dan mengobati lukanya. Namun logikanya dan pikirannya masih sulit memaafkan Ayra yang sudah mengkhianatinya.


Devara tak tahu bahwa sejak tadi gerak-geriknya sudah dipantau oleh Nadine yang mengikuti mereka bertiga.


"Kenapa kau bersembunyi Dev?" gumam Nadine dalam hati