
Ayra benar-benar dibuat tak berkutik dengan semua ungkapan cinta Devara. Lelaki yang sangat dicintainya itu. Karena ini adalah pertama kalinya dalam hidup Ayra, mendengar ungkapan cinta Devara padanya. Kata-kata yang terdengar sangat puitis dan indah. Membuat siapapun yang mendengarnya ikut terbawa suasana. Akhirnya dengan tangan yang gemetar, Ayra mengangkat microphone nya dan menjawab
“Aku mau”jawab Ayra dengan suara bergetar diiringi suara tepuk tangan semua yang hadir saat itu.
Devara tersenyum penuh kemenangan. Ada perasaan lega yang menyelimuti Devara begitu Ayra menerima lamarannya. Devara pun berdiri kemudian menyematkan cincin pertunangan mereka di jari manis Ayra. Ayra menjabat tangan Devara lalu mencium punggung tangannya. Sementara Devara mencium kening Ayra didepan semua sesepuh dan keluarga besar keduanya.
Satu per satu sesepuh dan orangtua kedua calon mempelai memberikan wejangan dan nasehatnya. Beberapa kali nenek, mommy dan Bunda meneteskan airmata saat memberikan nasehat pada keduanya. Membuat Ayra tak bisa menyembunyikan kesedihannya.
Kedua calon mempelai yang kini duduk di kursi panjang mirip singgasana yang khusus diperuntukkan keduanya mendengarkan nasehat dan wejangan para sesepuh dengan baik. Devara tampak menggenggam tangan Ayra untuk menguatkan dan menenangkannya. Sesekali Devara mengusap airmata Ayra yang membasahi wajahnya dengan tisu.
“Cengeng banget sih kamu. Dikit-dikit mewek”goda Devara sambil berbisik
Ayra yang tak terima dengan ledekan Devara mencubit pinggang lelaki yang kini duduk disampingnya.
“Aouchh..”Devara mengaduh sambil melotot ke arah Ayra.
Setelah acara wejangan itu, nenek kemudian maju ke arah Devara dan Ayra sambil dituntun papa dan mommy.
Nenek menghadiahkan pada Ayra seperangat perhiasan keluarga yang sudah turun temurun ada di keluarga mereka. Sebuah cincin berlian, kalung dan anting-anting yang dihiasi berlian berwarna biru itu dihadiahkan nenek sebagai kado pernikahan Devara dan Ayra.
Ayra yang menerima perhiasan-perhiasan cantik itu terlihat semakin cantik. Namun Ayra yang memang tidak terbiasa memakai perhiasan terlihat canggung saat kalung bertahtakan berlian itu dikalungkan dilehernya yang putih mulus.
“Berat juga kalungnya” gumam Ayra dalam hati saat merasakan kalung yang menggantung di lehernya ternyata lumayan berat.
Acara dilanjutkan dengan foto bersama. Devara dan Ayra berfoto bersama keluarga besarnya. Satu per satu tamu undangan ikut berfoto bersama kedua calon mempelai.
“Selamat ya Ay Dev..akhirnya kalian lamaran juga"ucap Nadine sambil memeluk sahabatnya.
“Terimakasih Nad”ucap Ayra dan Devara hampir bersamaan.
“Kamu bisa puitis juga Bro..Romantis abisss..nyontek dimana kata-kata kayak tadi? Bagi dong contekannya Dev.. Sumpah itu tadi bukan kamu bangggeeettt”ledek Daniel disambut tinju di lengannya oleh Devara.
“Sialan kamu Dan..Nyontek apaan? Itu nyari inspirasinya sampe sebulan lebih tau”protes Devara disambut tawa Nadine dan Daniel.
Mereka berempat pun akhirnya berfoto bersama. Persahabatan yang terjalin hampir empat tahun lamanya itu sebentar lagi melabuhkan kedua pasangan sejoli tersebut ke pelaminan.
Selesai acara foto bersama, akhirnya dilanjutkan acara santai. Makan-makan. Keluarga Ayra telah menyiapkan hidangan prasmanan yang sangat lezat di bawah tenda di pinggir kolam renang yang ada di halaman belakang rumah.
Ayra dan Devara tampak menikmati makan siang berdua. Selesai makan mereka duduk-duduk di kursi yang tersedia di pinggir kolam.
Ayra memukul lengan Devara yang kekar. Membuat Devara kaget dan sedikit kesakitan.
“Hei..ngapain mukul-mukul sih? Emang salahku apa?”tanya Devara
“Bisa-bisanya kamu merahasiakan semua ini dari aku. Aku kesel banget tau”ucap Ayra meluapkan kekesalannya karena dia satu-satunya yang tak tahu menahu acara lamaran ini.
“Hehehe..tapi kau suka kan kejutan seperti ini. Buktinya kamu mau menikah denganku”Devara terkekeh karena berhasil “mengerjai” kekasih hatinya.
Ayra cemberut. Dia masih kesal karena Devara membuat acara lamaran kejutan ini.
“Iya..iya..aku minta maaf. Jangan cemberut gitu dong. Nanti ilang cantiknya. Senyum dong”rayu Devara membuat Ayra tersenyum malu.
“Oya..aku belum bilang ya.. Hari ini kamu cantik sekali”puji Devara
“Gombal”balas Ayra
“Dibilangin ga percaya”ujar Devara
Ditengah percakapan mereka, Mommy datang menyela pembicaraan mereka.
Mommy memegang bahu Devara dari belakang.
“Dev”sapa Mommy
“Mommy? What’s up mom? Apa ada yang mommy butuhkan?”tanya Devara
“No.. Mommy hanya ingin bicara dengan Ayra. Apa kau bisa tinggalkan kami sebentar? Ada yang harus Mommy katakan padanya. It’s women talk”ucap Mommy sambil berbisik
“Oh..okay.. Aku pergi dulu kalo begitu”jawab Devara
“Thank you Dev”ucap Mommy sambil mencium pipi putra kesayangannya itu.
“Yeah..nevermind Mom”jawab Devara sambil mencium pipi mommynya
“Jangan kuatir, mommy hanya ingin ngobrol sama Ayra”ucap Mommy
Ayra sedikit kaget, karena tak biasanya Mommy ingin bicara serius dengan Ayra.
“Iya tante..silahkan”jawab Ayra.
“Hey..Jangan memanggil Mommy seperti itu. Just call me Mommy, okay? Sebentar lagi kau akan menjadi putri Mommy”pinta Mommy
“Oh..okay Mommy”ucap Ayra
Mommy pun duduk bersama Ayra sambil menggenggam tangan Ayra.
“Maaf sayang. Kamu pasti kaget kenapa Mommy tiba-tiba ingin bicara berdua denganmu”ucap Mommy
“Mommy mau bicara tentang apa?”tanya Ayra.
“Mungkin kamu pernah bertanya-tanya dari mana Devara mendapatkan sikapnya yang kaku dan sok berkuasa itu, iya kan?”tebak Mommy
Ayra mengangguk pelan.
“Mommy akan bercerita padamu sebuah rahasia tentang Devara. Sebuah rahasia kecil tentang masa kecil Devara. Sesuatu yang mungkin diapun sudah melupakannya. Tapi aku percaya, jauh di lubuk hatinya dia tetap mengingatnya”
Ayra dibuat penasaran dengan cerita Mommy. Diapun mendengarkan cerita Mommy dengan penuh perhatian.
“Devara kecil dulu sangatlah lucu. Dia sangat menggemaskan. Seperti anak-anak kecil yang lain. Sejak kecil, Devara berada dalam pengasuhan kakek dan nenek. Orangtua Mommy. Meskipun Mommy dan papa selalu sibuk kerja, tapi Devara kecil tak pernah mempermasalahkan itu. Karena ada kakek dan neneknya yang selalu ada untuknya. Ayahku, kakek Devara, dia adalah orang yang sangat sederhana. Meskipun kami memiliki segalanya, tapi Ayahku mendidik Devara untuk tidak sombong dan membanggakan kekayaannya”
“Ayahku juga tak pernah mau dijaga oleh pengawal. Ia selalu melakukan segalanya sendiri. Dia merasa tidak bebas jika selalu diawasi oleh pengawal. Devara kecil juga dulu berpikiran sama dengan kakeknya. Didikan Ayahku benar-benar tertancap di dalam diri Devara kecil. “
“Hingga suatu hari, saat sedang pergi memancing berdua bersama, tragedi itu terjadi. Awalnya papa sudah berpesan supaya kakek diantar beberapa pengawal karena kondisi kesehatan kakek yang baru sembuh. Tapi kakek menolak, karena merasa sudah baikan. Lagipula kakek risih diikuti beberapa pengawal kemana-mana.”
“Mereka berdua pergi bersama memancing di sebuah danau buatan yang dibuat khusus untuk Devara. Mereka biasa memancing disana.”
“Saat sedang memancing, tiba-tiba penyakit kakek kambuh. Kakek mengalami serangan jantung. Devara kecil yang tak tahu apa-apa, hanya bisa menangis melihat kakek tak berdaya. Devara terus berteriak meminta tolong, tapi tak ada yang datang menolong mereka.”
“Setelah beberapa saat, akhirnya muncul penduduk sekitar yang mendengar teriakan Devara. Mereka akhirnya membawa kakek ke rumah sakit terdekat. Tapi sayangnya, kakek sudah tak tertolong” kenang Mommy
Ayra yang mendengar cerita Mommy seakan bisa merasakan kesedihan Devara. Iapun tampak menyeka airmatanya.
“Kakek meninggal di pangkuan Devara, saat masih ada di ambulance. Bisa kau bayangkan bagaimana perasaan seorang anak lima tahun yang tak bisa berbuat apa-apa untuk menolong orang yang paling disayanginya?”
“Seperti itulah kira-kira yang dirasakan Devara waktu itu. Dia begitu marah pada kakeknya yang menolak dijaga pengawal. Seandainya kakek mau diantar pengawal, mungkin kakek akan bisa diselamatkan. Mungkin kakek masih ada sampai sekarang.”
“Sejak kematian kakek, Devara tumbuh menjadi pribadi yang lebih dingin. Devara menjadi anak yang sangat sulit didekati. Hatinya seakan membeku.”
“Sebagai ibu, aku mungkin telah gagal mendidik putraku sendiri. Aku bahkan tak bisa menyentuh hatinya. Dia menjadi anak yang sering berbuat onar dan suka membuat keributan. Kedekatan Devara dengan ayah angkatnya, Jack Dragon sejak dulu sangat aku sesali. Tapi mau bagaimana lagi, uncle Jack adalah sahabat papa dan kami sudah sangat dekat seperti keluarga.Tapi bersentuhan dengan bos mafia, tentu tidak semua ibu siap menerima putranya menjadi bagian gangster terbesar di Asia itu kan?”
“Setiap kali aku mendengar laporan kenakalan Devara yang membuat satu per satu murid di sekolah pindah, membuat hatiku ikut hancur. Sampai kapan aku harus melihat putraku menyakiti dirinya sendiri dan menyakiti orang lain. Aku terus berdoa semoga akan datang keajaiban dalam hidup Devara. Yang membuat dia menjadi lelaki yang lebih baik. Menjadi lebih manusiawi. Dan lebih menghargai hidupnya”
Mommy menggenggam tangan Ayra erat.
“Dan akhirnya keajaiban itu datang..bernama Ayra”ucap Mommy sambil tersenyum
“Sebagai ibu, kadang aku berpikir, gadis seperti apa yang nanti akan mendampingi Devara. Lelaki setangguh Devara apakah akan mendapatkan banyak cinta dari kekasihnya? Apakah kekasihnya tulus mencintainya atau hanya mengejar hartanya? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu terus menghantuiku.”
“Untungnya Devara, selalu mengatakan padaku, gadis yang dia pilih pastilah gadis yang sangat special. Tak sembarangan gadis bisa mencuri hati Devara. Devara juga bukan tipe lelaki yang mudah jatuh cinta. Karena itu, saat Devara mengenalkan kamu, sayang..Mommy yakin kamu adalah gadis yang pantas mendapatkan cinta Devara”ucap Mommy sambil mengelus pipi Ayra
“Terimakasih sayang, kamu telah mengembalikan Devara kami”ucap Mommy lalu keduanya saling berpelukan.
“Kenapa Mommy menangis?”tanya Devara yang tiba-tiba datang menyusul mereka berdua.
“It’s okay Dev..Mommy hanya terlalu bahagia. Makanya Mommy menangis”ucap Mommy sambil mengusap airmatanya. Mommy terharu akhirnya Devara menemukan cinta dalam hidupnya.
“Mommy doakan semoga kalian selalu bahagia” ucap Mommy sambil mengelus wajah Devara dan Ayra.
Mommy kemudian meninggalkan Ayra dan Devara berdua.
“Mewek lagiii..udah berapa kali kamu mewek seharian ini”ledek Devara melihat Ayra menangis untuk kesekian kalinya.
“Itukan salahmu juga”protes Ayra
Setelah mendengar cerita masa lalu Devara, Ayra semakin mengerti kenapa Devara sangat protektif dan posesif kepadanya. Semata karena Devara takut kehilangan dirinya. Ayra pun menyadari betapa penting dirinya bagi seorang Devara Alexander.