Falling In Love With Trouble Maker

Falling In Love With Trouble Maker
Dalam Bahaya


Sesampainya di depan rumah, Ayra keluar mobil sendiri sebelum Arga membukakan pintu.


“Terimakasih Kak untuk tumpangannya. Maaf jika suara saya tadi mengganggu kakak..saya benar-benar jengkel dengan kelakuan majikan kakak yang semaunya sendiri itu. Besok tidak usah menjemput saya..sekali lagi terimakasih ya kak”ucap Ayra sopan.


“Baik nona..sama—sama. Saya permisi dulu. Mari nona Ayra”pamit Arga


“Iya kak..hati-hati di jalan”pesan Ayra


Arga pun masuk mobil kembali. Ayra masih di depan pintu gerbang, kemudian dia masuk ke dalam rumah. Arga melihat dari kaca spion mobil. Memperhatikan Ayra yang masuk ke dalam rumah. Ayra masuk ke dalam rumah. Setelah bersalaman dengan Bundanya, Ayra pun pergi ke kamarnya untuk beristirahat. Direbahkannya tubuhnya di ranjang dengan posisi terlentang. Pandangannya menatap langit-langit kamar.


“Dasar cowok aneh..cowok gila”umpat Ayra dalam hati mengingat kelakuan Devara tadi yang mengatakan dia adalah pacarnya.


Ayra meraih smartphone Devara yang mati lalu diletakkan di nakas. Setelah berganti baju, Ayra pun tidur. Dia lelah setelah berkelahi dengan Angel dan harus berdebat dengan Devara. Sementara itu, Devara terus saja menelpon Ayra. Dia kesal karena Ayra mematikan hp nya. Devara juga mengiriminya banyak chat dan sticker. Sepanjang sore sampai malam, Ayra tetap tidak menyalakan hp itu. Dibiarkannya tergeletak di nakas. Jam 21.00 seperti biasa, Ayra sudah bersiap untuk tidur. Sambil tidur di ranjangnya, Ayra menatap smartphone Devara.


“Ahh..sudahlah. Biarkan saja” gumam Ayra lalu diapun tidur.


“Kenapa dia tak mengangkat telponku?”gerutu Devara kesal.


Devara di rumah nenek masih saja gusar dan gelisah karena Ayra tak kunjung menerima telponnya. Akhirnya dia pun tidur dalam keadaan kesal.


*


*


*


*


Pagi harinya,


Ayra bangun seperti biasa. Dia mencuci muka lalu segera menyiapkan buku untuk pelajaran hari ini. Setelah siap, Ayra pun bersiap untuk mandi. Sebelum mandi, dilihatnya smartphone Devara yang tergeletak di nakas. Ayra penasaran. Akhirnya dinyalakanlah smartphone itu. Ayra kaget. Matanya terbelalak. Devara menelponnya sampai 92 kali dari siang sampai tengah malam kemarin. Chat dan sticker yang dikirimkannya pun banyak sekali. Ayra tertawa geli melihat kegilaan dan kekonyolan Devara.


“Cowok gila” gumam Ayra dalam hati lalu dia pun mandi.


Hari itu, Ayah masuk siang jadi bisa mengantar Ayra ke sekolah. Setelah berpamitan pada Ayah, Ayra pun masuk sekolah. Dia berpapasan dengan Daniel dan Nadine. Jadilah mereka bertiga masuk sekolah bersama. Devara sejak pagi sudah rapi. Dia akan menemani papanya meeting dengan koleganya. Baru kemudian dia pulang ke Indonesia.


Devara terlihat sangat tampan dengan setelan jas hitam yang dikenakannya yang dipadu dengan kemeja putih lengan panjang. Tak lupa Devara memakai kacamata hitamnya. Penampilannya kali ini benar-benar bisa membuat cewek meleleh melihat betapa tampannya Devara.


“Kita pergi sekarang?”ajak Brandon, papa Devara


“Ayo pa”balas Devara


Kedua lelaki tampan beda generasi itupun berangkat menuju tempat meeting untuk bertemu dengan koleganya.


Brandon sengaja mengajak Devara, karena ingin mengenalkan Devara pada para koleganya. Dan mengenalkan Devara dengan dunia kerja, karena bagiamanapun juga dia adalah calon pewaris kepemimpinan perusahaan Alexis Global Corp. Devara harus disiapkan dari sekarang untuk memegang tampuk kepemimpinan menggantikan dirinya jika dirinya nanti sudah pensiun.


Karena masih kesal, dicuekin Ayra, akhirnya Devara dari pagi sampai siang itu tidak menghubungi Ayra walaupun sebenarnya dia sangat ingin melakukannya.


Sampai bel pulang berbunyi, tak ada yang mengganggu Ayra. Dia menjalani harinya dengan bahagia.


“Aku akan kembalikan “hp sialan” ini hari ini juga” gumam Ayra dalam hati.


“Ay, aku ke toilet dulu ya..jangan pulang dulu”ujar Nadine


“Oke”jawab Ayra


Nadine pun pergi ke toilet, sementara Ayra merapikan buku-bukunya bersiap untuk pulang. Tiba-tiba salah seorang anggota genk Devara masuk ke dalam kelas menyerahkan secarik kertas pada Ayra. Orang yang sama yang mengantar surat peringatan dari Devara waktu itu.


Ayra pun segera mengambil smartphone Devara dan berjalan mengikuti anak buah Devara. Ayra hanya membawa smartphone itu tanpa membawa tas sekolahnya karena dia berpikir akan mengembalikannya lalu pulang.


Nadine yang kembali dari toilet, kaget karena Ayra sudah tak ada di kelas. Sementara tas sekolahnya masih ada. Di kelas juga sudah tidak ada orang. Daniel masuk kelas hendak menjemput Ayra dan Nadine pulang.


“Ayra kemana Nad?”tanya Daniel pada Nadine melihat Ayra tak ada di kelas.


“Aku tak tahu. Tadi aku ke toilet sebentar. Aku sudah bilang untuk menungguku pulang. Tapi setelah aku kembali dari toilet, Ayra sudah tak ada. Kira-kira kemana anak ini?”jelas Nadine kebingungan mencari Ayra


“Ada yang tak beres”ucap Daniel


Daniel segera mengambil hp nya. Dia tampak menelpon seseorang. Orang itu tak mau mengangkat telponnya. Daniel menelpon orang lain.


“Kak Arga, tolong berikan telpon ini pada Dev. Ini penting”perintah Daniel


Rupanya Daniel menelpon Devara, tapi Devara tak mau mengangkat telponnya. Akhirnya Daniel menelpon Arga. Saat ini Devara baru saja sampai di bandara dan akan naik mobil. Arga segera memberikan hp nya pada Devara.


“Apa Ayra bersamamu?”tanya Daniel langsung


“Aku baru saja sampai. Mana mungkin dia bersamaku? Memangnya ada apa?”tanya Devara bingung


“Sial!”umpat Daniel


“Ada apa dengan Ayra? Cepat katakan!”desak Devara cemas mendengar Daniel mengumpat barusan


“Sepertinya Ayra dalam bahaya. Kamu ke sekolah sekarang! Aku tunggu di sekolah”seru Daniel


Nadine yang dari tadi mendengar percakapan Daniel jadi ikut kuatir.


“Apa maksudmu Dan? Ada apa dengan Ayra? Kenapa dia dalam bahaya?”tanya Nadine kuatir.


“Bukankah kemarin Ayra berkelahi dengan genk nya Angel? Aku rasa mereka mau balas dendam”jelas Daniel


“Oh tidak..bagaimana ini?”Nadine sedih dan hampir menangis.


Dia takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada Ayra.


“Kamu tenang saja..Kita tunggu Devara”ujar Daniel sambil memegang pundak Nadine berusaha menenangkannya.


Devara segera meluncur ke sekolah dengan kecepatan tinggi. Devara berusaha menghubungi Ayra ke smartphone nya tapi tak diangkat.


“Kak Arga, segera cari lokasi Ayra dari GPS di smartphone yang kuberikan padanya”perintah Devara panik


“Baik tuan muda”balas Arga


Arga segera menghubungi seseorang untuk melacak posisi Ayra berdasarkan data GPS yang ada di smartphone yang diberikan Devara.


Jangan lupa klik like dan komentarnya ya kak.. supaya author lebih semangat lagi🥰🥰🥰


terimakasih banyak bagi yang udah setia membaca novel kedua saya ini😇😇🙏🙏


sehat selalu reader saya tercinta


🥰🥰🥰🥰😘😘😘