
Mendengar intermezzo dari perut Ayra yang berbunyi dengan keras, membuat kedua pasangan pengantin baru menghentikan sejenak aktivitas mereka. Devara menatap tajam mata sang istri, sementara Ayra menggigit bibir bawahnya. Merasa bersalah pada sang suami.
“Kenapa mesti bunyi sekarang sih?”gerutu Ayra dalam hati.
“Maaf”ucap Ayra tulus
“Kau lapar?”tanya Devara
Ayra mengangguk pelan dengan wajah imutnya. Membuat Devara tergelak melihat sang istri yang selalu menggemaskan. Devara tersenyum lebar melihat betapa Ayra selalu membuatnya bahagia. Devara mencium kening sang istri lalu mengajak Ayra menuju shower. Setelah membersihkan diri dari sisa-sisa busa sabun yang ada di bathup, keduanya memakai jubah mandi dan keluar dari kamar mandi bersama-sama.
Dengan malu-malu, Ayra mengikuti langkah Devara menuju ruang ganti. Mereka berjalan sambil bergandengan tangan. Sampai di ruang ganti, Devara tampak mengambil sebuah gaun hitam seksi untuk Ayra.
“Pakailah gaun ini!”pinta Devara sambil menyerahkan sebuah gaun pada sang istri.
Ayra menerima gaun dengan mengerutkan dahinya.
“Kau mau aku pakai gaun ini? Beneran?”tanya Ayra memastikan
“Tentu saja. Kenapa?”tanya Devara
Ayra menautkan kedua alisnya karena Devara ingin dirinya mengenakan evening gown warna hitam yang terlihat seksi. Gaun sleeveless dengan V neck dibagian depan dengan belahan yang tidak terlalu rendah namun tetap menunjukkan leher jenjang pemakainya. Mermaid dress yang bagian belakangnya bertali hingga menampilkan punggung mulus wanita yang memakainya.
“Apa menurutmu gaun itu tidak terlalu seksi? Aku belum pernah memakai gaun seperti itu”sambung Ayra
Devara mendekati wanitanya dan melingkarkan tangannya di pinggang ramping sang istri yang terlihat gelisah dengan permintaannya.
“Aku memang ingin kau terlihat seksi. Hanya di depanku. Jangan kuatirkan yang lain! Aku tak mungkin biarkan lelaki lain ada di tempat dimana hanya ada aku dan kamu. Jadi tenangkan pikiranmu, dan pakailah gaun itu untukku”pinta Devara
Ayra sadar jika Devara menginginkan dirinya memakai gaun seksi itu, tak mungkin akan ada lelaki lain di sekitar mereka. Karena jiwa posesif Devara selama ini, takkan mungkin membiarkan ada seorang lelakipun yang bisa melihat pemandangan langka ini. Seorang istri Devara Alexander memakai gaun seksi. Namun karena ini adalah pengalaman pertama Ayra memakai gaun seperti itu, tentu saja membuat dirinya gelisah.
“Berhiaslah! Aku akan menunggumu di luar”pinta Devara sambil mengecup kening sang istri.
Membuat sejenak kekhawatiran Ayra sirna. Devara mengambil setelan jas hitam miliknya lalu berjalan keluar dari ruang ganti. Devara ingin memberikan ruang bagi Ayra untuk menenangkan dirinya dan memakai gaun permintaannya tanpa terbebani kehadiran dirinya di ruang ganti itu. Karena Devara menyadari sang istri masih membutuhkan waktu dengan kebiasan baru mereka sebagai pengantin baru.
Devara memilih berganti pakaian di luar ruang ganti. Sementara Ayra sambil mengatur nafasnya akhirnya menyemangati dirinya sendiri.
“Ayo Ayra! Kamu bisa!”seru Ayra menyemangati dirinya sendiri sambil mengepalkan tangannya.
Bagaimanapun juga memulai kebiasaan baru sebagai pengantin baru membutuhkan keberanian tersendiri. Tidak terkecuali bagi Ayra, gadis tomboy yang sudah resmi menjadi Nyonya Devara Alexander.
Devara yang tak sengaja mendengar seruan Ayra di dalam ruang ganti, tampak mendekatkan telinganya di pintu ruang ganti lalu menyunggingkan senyum di wajah tampannya.
“Dasar gadis tomboyku yang menggemaskan”gumam Devara dalam hati
Devara kemudian mengenakan setelan jas hitamnya. Devara tampak gagah dan tampan.
“Krekkkk”
Pintu ruang ganti terbuka. Menampilkan sosok pengantin baru yang terlihat sangat cantik meskipun dengan hairdo yang sederhana. Ayra menyanggul rambutnya dengan sanggul modern dengan menyisakan sedikit helaian rambut yang dibiarkan tergerai.
Ayra keluar ruang ganti dengan malu-malu. Devara yang sedang asyik merapikan kemejanya membalik tubuhnya begitu mendengar suara pintu ruang ganti terbuka. Devara mematung selama beberapa saat melihat betapa cantiknya sang istri dengan balutan gaun yang dipilihkannya.
Melihat Devara yang belum memakai jasnya, membuat Ayra berniat membantu sang suami. Ayra mengambil jas yang tergeletak di atas kursi sofa, lalu memakaikannya di tubuh lelaki yang sudah resmi menjadi suaminya itu.
“Thank you”ucap Devara
“You’re welcome”sahut Ayra sambil tersenyum.
“Aku belum dandan. Kau tunggu sebentar ya?”pinta Ayra
“Baiklah”jawab Devara
Devara setuju untuk menunggu Ayra berhias. Walaupun bagi Devara, tanpa berhias pun Ayra sudah cantik. Namun tak ada salahnya membiarkan sang istri berhias. Toh semua itu adaah untuk dirinya. Pikir Devara awalnya.
Namun keputusan itu disesali Devara karena Ayra berdandan hampir 15 menit lamanya. Membuat Devara yang tidak suka menunggu, menjadi tidak sabaran.
“Sayang..bisa dipercepat tidak dandannya?”gerutu Devara sambil menatap sang istri yang sedang sibuk berhias di meja rias.
“Sebentar Dev..tunggulah sebentar lagi”jawab Ayra sambil tangan-tangannya mengoleskan make up ke wajahnya.
“Kau sudah mengatakan itu 5 menit yang lalu. Mau sampai kapan kamu dandan?”keluh Devara
Ayra menghela nafasnya perlahan.
“Ini kan juga buat kamu”sahut Ayra sambil mengerucutkan bibirnya melihat Devara yang semakin tidak sabaran.
“Ayolah..jangan cemberut seperti itu!”goda Devara
“Habisnya kamu gitu sih”balas Ayra masih cemberut.
Devara berjalan ke arah Ayra dan berdiri di belakang tubuh istrinya sambil memegang bahu mulus Ayra.
“Oke..aku minta maaf. Berdandanlah! Aku akan turun dulu kalo begitu untuk memastikan di bawah. Nanti aku akan kembali kemari”tawar Devara
Devara mengecup pucuk kepala sang istri. Lalu berjalan keluar untuk memastikan candle light dinner romantis yang sudah dirancangnya di area dekat kolam renang. Devara sengaja memilih spot itu karena menurut Devara, spot itu slah satu tempat yang paling indah di resort miliknya.
Di area dinner, tampak lilin-lilin ukuran besar yang tertata rapi di pinggir kolam, dengan lilin-lilin kecil yang bertebaran mengelilingi hiasan helaian bunga mawar warna merah dan putih yang dibentuk menyerupai bentuk hati besar. Di tengah hiasan hati itu, sudah disiapkan sebuah meja bundar dan dua kursi yang masing-masing sudah ditutup kain putih dan sebuah pita besar warna merah dibelakang kursi. Di atas meja nampak candle holder cabang 3 dibagian tengah meja dan sebuah buket bunga mawar merah disampingnya. Ditemani beberap alat makan lengkap dan dua napkin yang sudah dibentuk model kipas.
Suasana candle light dinner yang dirancang Devara sangatlah romantis. Berhiaskan pemandangan kolam borderless dan beratapkan langit malam yang kebetulan cuacanya cerah. Devara benar-benar memastikan acaranya sudah siap dan sempurna. Devara merasa bangga pada dirinya melihat persiapan acara dinner pertamanya setelah menyandang status baru sebagai suami Ayra akan berjalan sempurna.
“Ayra pasti akan senang dengan kejutan ini”gumam Devara dalam hati bangga.
Devara pun akhirnya menyusul kembali ke kamar untuk menjemput pujaan hatinya. Wanita yang sangat dicintainya. Istrinya tercinta.
Sampai di dalam kamar, Ayra sudah terlihat sangat cantik dengan make up natural di wajahnya. Devara segera mengajak Ayra turun ke bawah. Tak lupa Devara menyodorkan lengannya. Dengan malu-malu Ayra melingkarkan tangannya di lengan kekar Devara.
“Kita kan Cuma mau makan malam..kenapa formal banget gini sih?”keluh Ayra
“Aku ingin dinner romantis denganmu”jawab Devara
Keduanya berjalan bersama menuju area makan malam kejutan Devara. Jarak beberapa meter dari tempat makan malam, Devara menghentikan langkahnya.
“Kenapa Dev?”tanya Ayra melihat sang suami yang menoleh padanya.
“Tutup matamu!”pinta Devara
“Hah!”seru Ayra bingung
“Aku bilang tutup matamu! Aku ingin memberi kejutan istimewa untukmu”pinta Devara lagi.
“Apaan sih pake kejutan-kejutan segala?”keluh Ayra
Akhirnya Ayra pasrah saja, saat Devara mengikatkan sehelai kain untuk menutupi matanya. Devara menuntun Ayra pelan-pelan untuk memberikan kejutan pada sang istri.