Falling In Love With Trouble Maker

Falling In Love With Trouble Maker
Ada Aku Di sini!


“Brakkkkkk”


Pintu gudang ditendang dari luar dengan sangat keras. Semua orang diruangan menoleh bersamaan kearah pintu.


“AYRAAAA”teriak Devara lantang.


Angel kaget mendengar suara teriakan Devara.


“Kak Dev?”tanya Angel


“Devara”gumam Ayra dalam hati dengan mata berkaca-kaca.


Devara segera berlari ke dalam. Dilihatnya Ayra dalam keadaan tak berdaya.


“Kurang ajar kalian..apa-apaan kalian ini?”bentak Devara


Anak buah Devara yang tak menyangka kehadiran Devara segera mendekat pada Devara.


Duukkk..duukkk..dduuukkk..


Devara menendang dan memukul mereka satu per satu hingga tersungkur ke lantai.


Ayra yang melihat kehadiran Devara merasa sangat terharu. Air matanya menetes. Entah kenapa suara teriakan Devara yang memanggil namanya dengan sangat lantang, membuat hati Ayra benar-benar terharu. Ayra merasa senang, Devara datang menolongnya.


Devara dengan wajah penuh kemarahan menghampiri anak buah Angel dan mengambil hp yang dipakai merekam kelakuan brutal mereka pada Ayra.


Brakkk..


Dibantingnya hp itu ke lantai. Hp itu rusak parah. Hancur berkeping-keping hingga tak berbentuk. Devara menginjak hp itu dan segera menghampiri Ayra. Devara berjongkok di depan Ayra.


“Kau tak apa-apa kan?”tanya Devara lembut sambil memegang wajah Ayra.


Ayra mengangguk dengan airmata bercucuran. Devara segera melepas ikatan tangan dan kaki yang melilit Ayra. Daniel dan Nadine sampai juga di gudang lantai dua itu. Nadine segera berlari menghampiri Ayra.


“Ayraaa”seru Nadine hampir menangis melihat kondisi Ayra saat ini yang sangat mengenaskan.


Nadine membantu Devara melepas lakban yang menyumbat mulut Ayra. Melihat baju Ayra yang basah kuyup, Devara segera melepas kemejanya. Kini Devara hanya memakai kaos dalam putih slim fit.


“Pakai ini” Devara memberikan kemejanya pada Ayra.


Nadine membantu Ayra memakai kemeja Devara untuk menutupi tubuhnya yang basah kuyup. Devara berbalik badan dan berdiri menghadap Angel dan anak buahnya.


“Cepat katakan! Siapa yang menyuruh kalian melakukan ini?”bentak Devara penuh amarah sambil berkacak pinggang.


Semua anak buah Devara dan Angel tertunduk lesu. Tak ada satupun yang berani menatap Devara yang sedang dikuasai api kemarahan melihat gadis yang disukainya tampak lemah tak berdaya seperti sekarang.


“Kak Dev, ke-kenapa kakak seperti ini? Bu-buukankah gadis ini musuh kakak? Aku hanya ingin membalaskan dendam kakak”bela Angel dengan terbata-bata karena Devara yang sedang marah sangatlah mengerikan.


Devara menatap tajam ke arah Angel dengan penuh kemarahan. Nafasnya tak beraturan menahan amarah yang bergejolak di dalam dadanya.


“Rupanya kau otak semua ini, hah? Berani-beraninya kau melakukan ini pada Ayra”bentak Devara


Tangannya terangkat ke atas hendak menampar Angel. Angel kaget kenapa Devara akan menamparnya. Diapun memejamkan matanya. Semua kaget dengan apa yang dilakukan Devara.


“Hentikan”ucap Ayra sambil memegang tangan Devara tepat sebelum Devara menampar Angel.


Devara menoleh ke arah Ayra.


“A..aku tak apa-apa” ucap Ayra sambil terisak.


Sesaat kemudian kaki Ayra menjadi lemas tak bertenaga. Ayra sampai terduduk di lantai. Rupanya kejadian tadi membuat dia syok berat. Devara yang melihat Ayra terkulai tampak sangat khawatir.


“Kita pergi dari sini”ujar Devara lembut


Ayra mengangguk pelan. Devara segera membopong tubuh mungil Ayra. Ayra pun melingkarkan kedua tangannya di leher Devara. Mereka berdua keluar dari gudang. Diikuti Nadine. Daniel yang masih di dalam gudang segera menghampiri Angel.


“Ta-tapi kenapa? Bukankah kak Dev benci gadis itu?"tanya Angel penasaran


“Devara menyukai gadis itu”jawab Daniel singkat.


Daniel rupanya pandai membaca situasi. Sejak kejadian di gudang waktu itu lalu kejadian di depan toilet waktu itu, Daniel sudah merasa ada yang berbeda pada Devara. Cara Devara menatap Ayra pun tampak tak biasa. Apalagi melihat Devara yang panik mencari Ayra tadi dan melihat bagaimana perhatian Devara pada Ayra, membuat Daniel semakin yakin kalau gadis yang disukai Devara adalah Ayra. Gadis yang juga disukai Daniel. Kedua sahabat kecil itu sekali lagi berurusan dengan gadis yang sama.


Tubuh Angel lemas seketika. Dia syok. Tak menyangka jawaban Daniel tadi.


“Bagaimana mungkin kak Dev menyukai gadis itu?”tanya Angel dalam hati masih tak percaya.


*


*


*


*


Devara membopong Ayra sampai keluar gedung sekolah. Mobilnya sudah terparkir di sana. Arga membukakan pintu mobil. Devara segera memasukkan Ayra ke dalam mobil. Sebelum masuk mobil, Devara memberitahu Nadine.


“Nanti aku akan menelponmu”ujar Devara


“Jaga Ayra baik-baik, Dev”balas Nadine


Devara pun masuk ke dalam mobil. Arga memberi hormat pada Nadine lalu masuk juga ke dalam mobil.


“Kita pulang sekarang”perintah Devara


“Baik tuan muda”jawab Arga


“Aku pulang saja”ucap Ayra lirih


“Apa kau mau membuat orangtuamu kuatir? Sudahlah kita ke rumahku saja” ucap Devara memaksa.


Devara ada benarnya juga. Jika sampai orangtua Ayra melihat keadaanya sekarang, pasti mereka akan sangat kuatir. Akhirnya Ayra menurut.


Sepanjang perjalanan Ayra hanya diam. Berkali-kali Ayra memejamkan matanya. Dia benar-benar syok dengan yang baru saja dialaminya. Ayra meremas roknya sambil memejamkan mata. Dia masih sangat takut dan tak percaya dengan kejadian yang baru saja dialaminya. Wajahnya masih pucat. Tubuhnya juga masih gemetar. Benar-benar pengalaman yang sangat mengerikan. Hampir saja Ayra celaka di tangan Angel.


Devara melirik, melihat Ayra meremas roknya. Devara pun memegang tangan Ayra tanpa melihat ke arah Ayra. Dia mencoba untuk menenangkannya.


Ayra membuka matanya perlahan-lahan saat merasakan tangan Devara menggenggam tangannya. Dia menatap ke arah Devara. Lelaki aneh yang dibencinya itu.


“Tenanglah! Kau aman sekarang”ujar Devara lembut.


Pertahanan kokoh Ayra ambruk seketika. Airmata Ayra mengalir semakin deras. Hatinya sudah bergejolak dari tadi. Rasanya hampir meledak. Ayra pun menangis tersedu-sedu. Membuat Devara salah tingkah.


“Hei..sudah…jangan menangis. Kenapa kamu selalu menangis sih?”keluh Devara panik melihat Ayra menangis.


Suara tangisnya benar-benar menyayat hati Devara. Gadis tomboy yang berkelahi dengannya itu sangat rapuh saat ini. Devara pun memeluk tubuh Ayra.


“Sudahlah..jangan menangis lagi”ucap Devara lembut.


“Aku..takut”jawab Ayra sambil menangis tersedu-sedu.


Devara memeluk erat tubuh Ayra. Mencoba menenangkannya.


"Jangan takut..Ada aku di sini..tenanglah"ucap Devara lembut.


Ayra benar-benar takut dan tak percaya dengan apa yang baru saja dialaminya. Jiwanya terguncang. Aksi balas dendam Angel padanya benar-benar mengerikan. Ayra menangis terus. Dia bahkan pasrah saja dipeluk Devara. Devara memeluk Ayra dan mengusap rambut panjang Ayra dengan lembut, berusaha menenangkannya.


Setelah beberapa saat, Ayra sudah sedikit tenang. Dia melepaskan dirinya dari pelukan Devara. Entah kenapa pelukan Devara tadi bisa menenangkan hati Ayra yang bergejolak hebat.