
Di luar hujan deras mulai membanjiri bumi. Langit seakan memuntahkan semua air yang dikandungnya hingga berjatuhan ke bumi. Sesekali petir menyambar dan memperdengarkan raungannya yang memekakkan telinga. Hujan petir mengiringi pagi menjelang siang itu.
Di dalam mobil, Ayra kecil masih juga belum sadarkan diri. Ayra tak tahu penculik itu hendak membawanya kemana. Kini mereka tiba di area hutan dekat sebuah bumi perkemahan.
“Aduh..berhenti sebentar!”
“Kenapa?”
“Aku ingin kencing”
“Ck..sebentar lagi kita sampai”
“Tapi aku sudah tak sabar. Menepilah sebentar! Aku hanya sebentar saja”
Mobil penculik itu akhirnya menepi. Salah seorang diantara mereka keluar mobil untuk kencing. Karena merasa koran penculikannya masih pingsan, penculik itu tak menutup pintu mobil dan membiarkan pintu itu terbuka.
Obrolan antar penculik di dalam mobil pun bergulir membuat Ayra yang masih pingsan mulai tersadar dari pingsannya. Perlahan-lahan matanya terbuka.
“Aku dimana?”gumam Ayra dalam hati
Ayra menatap sekelilingnya.
“Aku harus keluar dari sini”tekad Ayra dalam hati setelah menyadari dirinya baru saja menjadi korban penculikan anak oleh orang-orang yang tidak dikenalnya.
Begitu melihat pintu mobil yang terbuka, Ayra pun turun mobil perlahan kemudian lari sekencang-kencangnya. Penculik yang sudah selesai kencing dan akan kembali ke mobil sempat melihat Ayra yang melarikan diri.
“Berhenti! Jangan lari!”teriak penculik itu
Teman-teman penculik itu pun segera keluar dari mobil begitu menyadari Ayra sudah melarikan diri.
Ayra terus berlari sekencang-kencangnya menerobos lebarnya hutan buatan itu. Dalam pikiran Ayra, dia harus terus melarikan diri. Ayra tak menghiraukan guyuran air hujan yang mengenai tubuh mungilnya. Semua perasaan Ayra bergejolak menjadi satu. Antara rasa takut pada penculik-penculik itu dan keberaniannya yang dipupuknya terus supaya bisa melarikan diri bercampur menjadi satu.
“Hei..berhenti kau anak kecil!”teriak penculik itu pada Ayra
Kejar mengejar terjadi antara Ayra kecil dan para penculik yang berjumlah lima orang itu.
“Kenapa kau biarkan pintu mobilnya terbuka? Kalo anak kecil itu sampai lepas, bos akan marah besar kalo hari ini kita tak bisa membawa seorang anak untuk dijual..Ahh..semua ini salahmu”hardik salah seorang penculik pada temannya yang sudah ceroboh tadi.
“Aku kan tak tahu kalo anak itu sudah sadar. Aku pikir dia masih pingsan”balas penculik ceroboh itu.
“Sudah hentikan! Kita harus segera dapatkan anak itu”perintah salah seorang di antara mereka.
Karena lebatnya semak belukar membuat Ayra sedikit kesulitan berlari. Sesekali ranting pohon kecil yang ditabraknya melukai tangan dan kaki Ayra hingga berdarah namun Ayra tak menghiraukannya. Dia terus berlari untuk menyelamatkan diri.
Di kejauhan nampak sebuah lapangan dan danau buatan. Ayra yang terus berlari semakin terpojok karena tidak ada jalan keluar lagi bagi dirinya.
“Hahahahaha..mau kemana kau anak kecil?”
Penculik yang melihat Ayra tak bisa melarikan diri lagi tersenyum puas.
“Tolong jangan culik saya..tolong lepaskan saya”pinta Ayra dengan mengiba.
Penculik-penculik itu tak mendengarkan rintihan hati Ayra dan terus berjalan mendekati Ayra dengan seringai jahat di wajah mereka.
Ayra yang sudah terkepung tak bisa lagi melarikan diri. Dia mencoba menerobos kepungan para penculik namun dengan sigap seorang penculik menangkap tubuh mungilnya.
“Huppp..kau mau pergi kemana anak kecil”
“Lepaskan saya paman!”
*
*
*
*
“Tuan muda ada apa?”tanya pengawal pribadi lelaki muda itu.
“Siapa mereka paman?”tanya lelaki muda itu penasaran
“Saya tidak tahu tuan muda, sebaiknya kita tak usah ikut campur”pinta pengawal
Lelaki muda itu akan masuk ke dalam mobil sebelum mendengar teriakan gadis kecil itu.
“Tolong..tolong!!!!”teriak Ayra kecil dengan lantang
“Lepaskan saya!”pinta Ayra pada para penculiknya
Suara teriakan gadis kecil itu sangat menyayat hati. Membuat lelaki muda itu mau tak mau ingin mendekati mereka.
“Paman..panggil semua bodyguard terdekat kita. Sepertinya anak perempuan itu butuh diselamatkan”
“Tapi tuan muda..”
Tuan muda pemberani itu langsung berjalan mendekati kerumunan penculik anak yang sudah berani berbuat onar di bumi perkemahannya. Dia tak menghiraukan hujan yang terus mengguyur dan petir yang bersahut-sahutan.
“Lepaskan dia!”ucap Devara kecil
Semua penculik itu pun berbalik badan dan melihat seorang anak kecil dan dua orang dewasa di belakangnya.
“Siapa kalian? Tak usah ikut campur urusan kami”bentak salah seorang dari penculik itu
“Aku pemilik bumi perkemahan ini. Kalian sudah memasuki wilayah kekuasaanku”ucap lelaki muda itu tegas
“Jika ini wilayah kekuasaanmu, kami akan pergi dari sini. Okey?”
“Lepaskan anak itu dulu”tunjuk lelaki muda itu pada Ayra kecil.
Ayra kecil menatap mata lelaki muda yang ingin menyelamatkannya dengan mata berkaca-kaca. Ketika lengah, Ayra langsung menggigit tangan penculik yang membekap mulutnya sekuat-kuatnya.
“Aduhhhh”
Penculik itu kesakitan dan melepaskan Ayra. Ayra segera berlari ke arah lelaki muda itu. Pengawal pribadi tuan muda itu pun segera berdiri di depan kedua anak kecil itu untuk melindungi mereka.
“Kembalikan gadis kecil itu pada kami!”gertak salah seorang penculik
“Tolong selamatkan aku!”pinta Ayra dengan suara bergetar
“Sudah..kita serang saja mereka. Serbuuuuu”pekik salah seorang penculik
Akhirnya perkelahian itupun terjadi antara dua pengawal tuan muda itu dengan para penculik. Tuan muda kecil itu pun ikut melawan para penjahat. Sementara Ayra kecil berdiri agak jauh dari arena pertarungan itu. Pengeroyokan itu terjadi di bawah guyuran hujan dan suara petir yang terus bersahut-sahutan. Ayra kecil melihat dengan berderaian air mata saat melihat orang-orang yang berusaha menyelamatkan dirinya terluka akibat tendangan dan pukulan dari para penjahat.
Saat semua orang sibuk berkelahi, seorang penjahat yang melihat Ayra kecil seorang diri terus berjalan mendekati Ayra. Lelaki muda yang melihat penjahat itu mendekati Ayra akhirnya berlari dan menarik tangan Ayra untuk ikut berlari dengannya.
“Ayo lari!”ajak tuan muda itu.
Ayra dan tuan muda itu pun berlari menuju hutan buatan untuk menghindari kejaran penjahat. Mereka terus berlari sambil bergandengan tangan.
“Kemari kalian! Jangan lari!”teriak penjahat itu begitu melihat lelaki muda tadi membawa lari Ayra kecil
Kejar mengejar terjadi. Sungguh suasana terasa sangat mencekam. Lari dari penjahat yang ingin melukai dirinya diiringi guyuran hujan yang semakin deras dan suara petir yang terus bersahut-sahutan membuat Ayra sangat ketakutan. Namun dia memaksakan kakinya untuk terus berlari menghindari penjahat itu.
Dengan nafas terengah-engah, Ayra dan lelaki muda yang menyelamatkannya bersembunyi di balik semak-semak tinggi. Penjahat itu menoleh ke kanan dan ke kiri setelah menyadari sudah kehilangan keduanya.
Hati Ayra dan tuan muda itu berdegup sangat kencang saat tubuh penjahat itu di samping mereka. Tuan muda itu bahkan membungkam mulut Ayra dan mulutnya sendiri supaya tak mengeluarkan suara. Ayra kecil berusaha menahan rasa takutnya dengan mata yang berkaca-kaca. Detik-detik ini mungkin adalah detik paling menegangkan yang pernah dirasakan Ayra dan tuan muda itu. Salah sedikit saja, penjahat itu pasti akan menemukan keduanya.
“Ahh..kemana larinya kedua anak itu? Cepat sekali perginya!”gerutu penjahat itu yang sudah kehilangan jejak.