
Keesokan harinya,
Pagi ini matahari bersinar dengan cerah. Menghangatkan setiap jiwa yang memulai harinya untuk kembali bekerja. Meninggalkan Ayra dan Devara yang kelelahan setelah seharian kemarin merayakan ulangtahun Devara. Mereka berdua masih tertidur dengan pulas.
Sorot matahari yang menembus ruangan, membuat Ayra terbangun dari tidurnya. Ayra bangun dengan malas. Ayra mengerjapkan matanya beberapa kali. Ayra turun dari ranjang lalu berjalan menuju kamar mandi, untuk mencuci muka dan sikat gigi.
Setelah mencuci muka, Ayra merasa tubuhnya lebih segar. Keluar dari kamar mandi, Ayra dibuat takjub dengan pemandangan laut dari kamarnya. Ayra pun berjalan ke arah balkon dan pemandangan laut biru yang terhampar di depan matanya begitu indah. Ayra pun merentangkan tangannya sambil memejamkan matanya. Menghirup dalam-dalam udara pantai pagi ini.
Mungkin karena asupan oksigen yang banyak mengisi otaknya, membuat Ayra tersadar. Dia belum memberikan hadiah ulangtahun untuk Devara. Devara yang berjanji akan memberitahunya hadiah ulangtahun yang diinginkannya, ternyata sampai ulangtahunnya terselenggara pun tak memberitahu apa-apa.
“Aku belum memberi kado ulangtahun untuk Dev, bagaimana ini? Aku benar-benar lupa. Dia juga tak memberitahuku kado apa yang diinginkannya. Padahal kan dia sudah janji. Sekarang aku harus memberi dia kado apa?”gumam Ayra dalam hati.
Ayra bingung, kado seperti apa yang akan diberikannya. Apalagi Devara sudah memiliki segalanya.
“Aku harus memberi kado ulangtahun yang istimewa, yang tak bisa didapatkannya dimanapun. Tapi apa?” Ayra berpikir keras.
Dia tenggelam dalam lamunannya sampai-sampai tak mendengar Devara mengetuk pintu kamarnya berkali-kali hingga akhirnya Devara masuk sendiri ke dalam kamar Ayra.
“Apa yang sedang kau pikirkan?”tanya Devara begitu di dekat Ayra.
Ayra kaget setengah mati melihat Devara tiba-tiba sudah di sampingnya. Saking kagetnya, hingga membuat Ayra terjungkat dan kehilangan keseimbangan. Devara yang melihat Ayra hampir terjatuh segera menangkap tubuh Ayra.
Kini wajah mereka berdua berhadapan sangat dekat. Ayra dan Devara saling bertatapan. Ayra dapat melihat dengan jelas wajah Devara yang sangat tampan. Devara pun dapat melihat wajah cantik Ayra dari dekat. Jantung keduanya pun berdegup sangat kencang. Ayra segera berdiri dan menjauhkan Devara dari dirinya.
“Kapan kamu datang? Aku ga denger kamu masuk”ucap Ayra sambil memegang jantungnya yang berdetak sangat kencang.
“Kamu sakit?”tanya Devara melihat Ayra yang memegang dadanya.
“Aku kaget banget tau..rasanya jantungku mau copot. Kamu sih masuk ga bilang-bilang"”protes Ayra
“Aku tadi udah ngetuk pintu berkali-kali tapi kamu ga jawab, makanya aku langsung masuk”jelas Devara
“Makanya jangan suka nglamun” ucap Devara sambil menyentil pelan dahi Ayra.
“Aduh”Ayra mengaduh setelah Devara menyentil dahinya.
Ayra cemberut sambil mengelus dahinya.
“Ayo turun! nenek sudah menunggu kita sarapan. Kau laparkan?”tanya Devara
Ayra mengangguk pelan. Devara menggenggam tangan Ayra dan menariknya ke lantai satu untuk sarapan bersama Agatha.
“Nanti selesai sarapan, kita ke pantai lagi ya? Ya?”rengek Ayra
Devara yang melihat wajah memelas Ayra selalu tak tega, apalagi ditambah mendengar rengekan manjanya. Devara pun mengangguk. Ayra tersenyum senang karena permintaannya dipenuhi. Devara pun tersenyum melihat gadis pujaan hatinya tersenyum.
Wajah bahagia kedua pasangan itu terus tersungging sampai di ruang makan. Membuat para pelayan dan bodyguard yang melihat keromantisan pasangan muda itu pun ikut terbawa suasana.
Agatha yang melihat Devara dan Ayra tersenyum saat memasuki ruang makan, menjadi penasaran. Devara berjalan mendekati Agatha lalu mencium pipinya. Devara menarik kursi untuk Ayra lalu menarik kursi lain untuk dirinya. Devara dan Ayra duduk bersebelahan.
“Pagi-pagi sudah bahagia sekali Dev, ada apa?”tanya Agatha.
“Oo..tak ada apa-apa nek..hanya Ayra ingin aku temani bermain ke pantai”jawab Devara sambil melirik Ayra.
Ayra tersipu malu. Wajahnya memerah. Agatha menatap wajah Ayra lalu tersenyum.
“Menginaplah disini lebih lama..Temani Devara. Supaya dia tidak keluyuran terus”goda Agatha sambil menggenggam tangan Ayra.
“Kau tahu Ayra, aku paling tak suka jika Dev sudah mulai naik motor. Aku selalu kuatir. Apalagi kalau dia sudah balapan, rasanya ingin kupatahkan saja kakinya biar tak ikut balapan”ujar Agatha lagi.
Ayra penasaran. Selama ini dia tak tahu kalau Devara suka balapan. Selama menjadi pacarnya, Devara tak pernah menceritakan hobby balapannya itu. Ayra menatap tajam Devara.
“Matamu kenapa? Kenapa melihatku seperti itu?” tanya Devara yang risih ditatap Ayra dengan tajam seperti tadi.
“Aku sudah lama tidak balapan, nek..tenang saja. Aku terlalu sibuk akhir-akhir ini”jawab Devara santai
“Kau sibuk? Sibuk apa?”tanya Ayra
“Sibuk mendapatkan hatimu”goda Devara sambil tersenyum menatap Ayra.
Ayra kaget mendengar jawaban Devara. Wajahnya memerah. Ayra refleks memukul bahu Devara. Devara cekikikan melihat pacarnya yang salah tingkah. Ayra sama sekali tak menyangka jawaban Devara. Membuat dirinya malu sekaligus bahagia di saat bersamaan. Di sela-sela perbincangan mereka, pelayan satu per satu masuk membawakan sarapan untuk majikannya.
“Nenek..apa dia selalu seperti ini kepada pacar-pacarnya?”tanya Ayra pada Agatha, karena Devara semakin pandai menggodanya.
“Sayang, kamu adalah gadis pertama yang dikenalkan Devara pada kami”ucap Agatha lembut sambil memegang tangan Ayra lagi.
Ayra semakin salah tingkah mendengar jawaban Agatha. Wajahnya memerah seperti kepiting rebus.
“Engg..mari makan nek”ucap Ayra mencoba mengalihkan pembicaraan sambil menikmati sarapan yang sudah disiapkan pelayan tadi.
Sesekali Ayra melirik ke arah Devara, dan saat mereka saling bertatapan, Ayra segera memalingkan wajahnya. Devara tersenyum melihat kelakuan Ayra yang sedang mencuri pandang padanya. Selama sarapan itu, Agatha menanyai Ayra tentang keluarganya. Karena memang Ayra adalah satu-satunya gadis yang pernah dikenalkan Devara pada keluarganya sebagai pacarnya.
Setelah selesai sarapan, Agatha memilih beristirahat kembali. Kondisi kesehatannya yang sedang lemah, memaksa Agatha harus banyak beristirahat. Ayra dan Devara merasa kasihan pada Agatha. Tapi Devara meyakinkan Ayra kondisi kesehatan Agatha sudah jauh lebih baik sejak berobat ke Singapura. Sekarang pun seorang dokter dan dua orang perawat senantiasa memantau kesehatan Agatha.
Kini Devara dan Ayra menapaki tangga menuju lantai dua untuk bersiap-siap ke pantai. Sampai di ruangan keluarga di lantai dua, Ayra menghentikan langkah kakinya, karena menyaksikan pemandangan pantai yang sangat mempesona dilihat dari lantai dua. Devara pun menemani Ayra menikmati pemandangan pantai.
“Ehmm..Dev”ucap Ayra sambil menatap Devara.
“Ya?”jawab Devara sambil mengernyitkan dahinya.
Devara merasa bingung dengan tatapan Ayra padanya. Ayra tak melanjutkan perkataannya. Ayra juga tampak gugup.
“Kenapa?”tanya Devara lagi
“Maaf ya, aku lupa belum memberimu hadiah”ucap Ayra
Devara tiba-tiba memeluk tubuh mungil Ayra sambil tersenyum.
“Apa karena ini kau nglamun terus dari tadi?”tebak Devara
Ayra mengangguk pelan dalam pelukan Devara yang hangat.
“Gadis bodoh..apa kau pikir aku membutuhkan itu semua? Bagiku bersamamu seperti ini adalah hadiah terbaik yang bisa aku dapatkan. Aku tak membutuhkan hadiah apapun juga selama kau bersamaku”ucap Devara membuat Ayra merasa terharu.
Ayra kemudian melepaskan diri dari pelukan hangat Devara. Ayra menatap lembut ke arah Devara. Tiba-tiba Ayra mendapat ide untuk memberi sebuah kejutan “manis” untuk Devara sebagai hadiah ulangtahunnya.
“Selamat ulang tahun” tutur Ayra sambil tersenyum manis.
Ayra mendekatkan wajahnya ke arah Devara sambil berjinjit dengan bertumpu pada lengan Devara lalu perlahan-lahan Ayra mencium bibir Devara. Ayra memejamkan matanya kala mencium Devara. Sementara Devara yang mendapat ciuman Ayra seakan membeku. Devara tak siap mendapat “serangan mendadak” yang dilancarkan gadis pujaan hatinya itu. Devara pun tak menyangka Ayra akan memberinya “kejutan” semanis itu.
Wajah Ayra memerah setelah memberi “hadiah ulangtahun” pada Devara. Diapun segera berlari ke kamarnya. Devara yang melihat Ayra hendak melarikan diri setelah mencium dirinya juga berlari untuk mencegah Ayra melarikan diri. Devara pun menarik tangan Ayra. Ayra kaget karena Devara berhasil menangkap dirinya yang hendak melarikan diri.
“Mau kemana? Kau harus bertanggungjawab atas apa yang barusan kau lakukan”ujar Devara sambil menyeringai nakal.
“A..aku mau siap-siap ke pantai”kelit Ayra sambil menunjuk ke arah kamarnya.
Devara pun dengan cepat memegang wajah Ayra. Ayra yang tahu kelanjutan dari perlakuan Devara hanya mampu memejamkan matanya.
Devara pun melanjutkan ciuman mereka. Kali ini dia yang memimpin permainan. Diciumnya bibir merah Ayra dengan sangat lembut. Devara melakukannya dengan sangat lembut sehingga Ayra tak menolak berciuman dengannya. Keduanya tenggelam dalam dunia mereka. Mereka saling berbalas ciuman hangat mereka. Devara senang karena Ayra membalas ciuman yang diberikannya.
Ini adalah pengalaman pertama Ayra berciuman dengan lelaki. Membuat jantungnya berdebar-debar. Hatinya bergejolak hebat. Perutnya pun ikut bereaksi. Seakan ada kupu-kupu bertebangan menggelitik di dalam perut. Semuanya campur aduk saat ini.
Devara melepaskan bibirnya dari bibir Ayra. Ayra pun membuka matanya.
“Terimakasih”ucap Devara lembut.
Ayra mengangguk pelan. Akhirnya Devara dan Ayra pun kembali ke kamar masing-masing untuk bersiap ke pantai.