
FLASHBACK ON
Empat belas tahun silam,
Hari libur sekolah telah tiba. Ayra sengaja berlibur ke kota M tempat kakek Arya bertugas. Ayra sangat senang berada di kota ini dan bersama kakek neneknya. Ayra ingin menghabiskan waktu liburannya bersama mereka. Karena Ayah masih bekerja, maka Ayra dititipkan pada kakek dan neneknya sementara Ayah dan Bunda pulang ke rumah.
Pagi itu, suasana mendung menyambut pagi. Langit bergelayut kabut mendung. Bahkan sinar matahari tertutup gelapnya mendung. Ayra kecil yang tak mempermasalahkan cuaca mendung pagi itu masih juga asyik bermain. Nenek mengajak Ayra pergi ke pasar tradisional untuk membeli sayuran. Tentu saja Ayra sangat senang bisa berjalan-jalan keluar rumah.
“Ingat Ayra, jangan pergi jauh-jauh dari nenek ya?”pesan nenek Aisyah sambil mengusap pelan pucuk kepala Ayra
“Iya nek”sahut Ayra kecil
Keduanya berjalan ke dalam pasar tradisional yang sudah dibangun dengan lebih modern. Keduanya bergandengan tangan dengan senyum yang terus terukir di wajah cantiknya. Di dampingi seorang ajudan wanita, nenek mengajak Ayra membeli beberapa sayuran segar di dalam pasar tradisional itu.
“Ini berapa bu?”tanya nenek sambil menunjuk sayuran segar yang ada di hadapannya.
Tangannya sibuk membolak-balik sayuran yang sudah terikat rapi dalam satu ikat sayuran. Tawar menawar dan percakapan ringan antara pembeli dan pedagang bergulir.
“Pus..”
“Meong”
Mata Ayra kecil berbinar saat melihat seekor anak kucing yang lucu yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri. Karena rasa pensarannya yang besar, Ayra ingin sekali memegang kucing mungil yang tampak menggemaskan itu. Tanpa sadar, Ayra sudah berjalan menjauh dari sang nenek yang masih juga sibuk memilah dan memilih sayuran.
“Pus..”
“Meong”
Kucing kecil itu berjalan menjauh. Membuat Ayra mengikuti kucing itu terus. Dan setelah berada di dekatnya, Ayra berjongkok dan memungut kucing kecil itu. Ayra mengusap lembut kucing kecil itu. Ayra tidak menyadari bahwa di dekatnya telah berdiri beberapa lelaki berwajah sangar yang sedang mengincarnya.
Ketika Ayra mendongakkan kepalanya, Ayra kaget melihat ada beberapa lelaki dengan senyum tipis diwajahnya berjalan mendekatinya. Seketika rasa takut menyeruak dalam hati Ayra kecil. Ayra ingin berlari namun secepat kilat salah seorang lelaki langsung meraih tubuh mungilnya dan membekap mulutnya.
“Hhmmmppp”’
“Tolong..tolongg!”teriak Ayra dalam hati
Ayra ingin berteriak sekuat tenaga namun tangan besar lelaki tadi sudah membekap mulutnya hingga tak sepatah katapun sanggup terucap. Mata Ayra berkaca-kaca. Tubuh mungilnya terus memberontak ingin melepaskan diri dari sekapan lelaki yang tidak dikenalnya itu.
“Diamlah! Kalo tidak aku akan melukaimu!”ancam lelaki itu
Ayra tak mendengarkan. Dia terus berontak. Dia sadar bahwa dia kini sudah diculik oleh orang yang tidak dikenal. Dia harus bisa melarikan diri.
“Anak ini merepotkan saja”seru lelaki yang sudah membekap Ayra
“Dukk”
Lelaki itu memukul tengkuk Ayra kecil hingga membuat Ayra pingsan.
“Nah..kalo begini kan lebih tenang”
“Cepat! Kita masuk ke mobil sebelum ada orang yang melihat”
“Oke..Oke..”
Lelaki-lelaki itu langsung berjalan cepat menuju sebuah mobil yang sudah terparkir. Karena lorong tempat Ayra diculik tadi sangat sepi, maka tak ada seorang pun yang melihat Ayra dibawa pergi para penculik. Rupanya mereka adalah para penculik anak yang biasa terlibat dalam perdagangan manusia atau human trafficking. Mereka biasa menyasar anak-anak yang lepas dari pengawasan kedua orangtuanya. Anak-anak yang berkeliaran sendiri tanpa pengawasan orang dewasa di sekelilingnya. Seperti juga Ayra.
Sementara itu di pasar, nenek yang sudah selesai berbelanja, baru menyadari Ayra tidak ada di dekatnya.
“Santi, dimana cucuku?”tanya nenek dengan suara panik
Matanya melihat ke sekeliling kios yang ada di dekatnya. Nenek panik setengah mati karena tiba-tiba Ayra hilang dari pandangannya.
“Santi, dimana cucuku?”
“Ayra..Ayraaa”teriak nenek panik
Membuat semua orang yang melihat kepanikan nenek jadi mendekat, dan bertanya pada nenek.
“Cucu saya..cucu saya hilang”ucap nenek dengan suara yang bergetar
“Seperti apa cucu ibu?”tanya yang lain
“Ibu duduk dulu”pinta seorang ibu penjual sambil mendudukkan nenek yang panik dan gemetaran.
Ajudan wanita nenek, Santi, terus berusaha mencari keberadaan Ayra.
“Nona Ayra, Anda dimana?”gumam Santi dalam hati mengkhawatirkan nona mudanya itu.
Suasana pasar menjadi sedikit mencekam akibat menghilangnya Ayra. Beberapa petugas keamanan dan hansip yang bertugas di pasar tradisional itupun juga ikut membantu mencari keberadaan Ayra. Nenek yang sedih, terus menangisi Ayra. Nenek sedih karena sudah kehilangan Ayra.
Beberapa menit kemudian, kakek dibantu beberapa anak buahnya datang ke pasar. Melihat tentara berseragam masuk ke dalam pasar, membuat orang-orang di pasar jadi ketakutan. Kakek Ayra segera mengajak nenek menuju kantor informasi di pasar untuk menjauhkan nenek dari keramaian, dan untuk sedikit menenangkannya.
Di dalam kantor, seorang petugas memberikan segelas teh hangat pada nenek.
“Minumlah ini”ucap kakek pada nenek
Kakek langsung berdiri dan menghadap ajudan wanita yang sudah bertugas mengawal istri dan cucunya.
“Katakan! Bagaimana kronologinya?”tanya kakek dengan suara tegas menahan amarahnya.
Ajudan wanita bernama Santi itupun mulai menceritakan kronologi menghilangnya Ayra. Semua diceritakan tanpa ditambahi ataupun dikurangi.
“Bagaimana bisa kau tak memperhatikan cucuku?”gertak kakek Arya penuh kemarahan
“Maafkan saya Komandan”ucap Santi sambil tertunduk lesu karena sudah lalai dalam bertugas
Kakek mengepalkan tangannya kuat-kuat. Hatinya sangat sedih karena sudah kehilangan Ayra.
“Perintahkan semua pasukan untuk ikut mencari cucuku”perintah kakek
“Siap Komandan! Laksanakan”
Satu per satu anak buah kakek mencari ke seluruh penjuru pasar mencari keberadaan cucu sang Mayor Jenderal.
Kakek kembali mendekati istrinya dan menggenggam tangannya.
“Kalo Ayra kenapa-kenapa bagaimana?”tanya nenek dengan terisak
Kakek segera memeluk tubuh istrinya yang masih terlihat sangat syok karena sudah kehilangan cucu kesayangannya.
“Tenanglah! Kita pasti akan menemukan Ayra”ucap kakek mencoba menenangkan istrinya.
“Ayra sayang..kau pergi kemana sayang?”gumam kakek dalam hati
“Kita harus menghubungi Aldi. Dia harus tahu Ayra hilang”ucap nenek
“Kita cari dulu. Semoga saja sebentar lagi Ayra ketemu. Berdoalah semoga Ayra baik-baik saja”sahut kakek
Kakek tak ingin menghubungi anak dan menantunya tentang berita kehilangannya Ayra karena itu akan membuat keduanya sangat khawatir.
“Sebaiknya kita pulang saja. Biar anak buahku yang mencari Ayra. Kau istirahatlah di rumah. Kita tunggu berita tentang Ayra di rumah saja”ajak kakek
Nenek mengangguk pelan. Karena tubuhnya yang masih lemas, membuat nenek tak kuat berjalan. Akhirnya kakek memapah nenek meninggalkan pasar. Kakek memapah istrinya sampai ke dalam mobil.
“Ayra..kau kemana nak?”gumam nenek dalam hati dengan berlinang air mata sambil menatap keluar jendela mobil menatap pasar tempatnya mengajak Ayra.
“Andai aku tidak mengajak Ayra ke pasar, pasti Ayra tidak akan hilang”sesal nenek
Hatinya begitu sedih karena ajakannya ke pasar justru membuat gadis kecil itu menghilang entah kemana.
“Sudahlah! Jangan salahkan dirimu! Semua ini musibah. Tidak ada yang mengharapkan semua ini terjadi. Sebaiknya kita banyak berdoa semoga Ayra segera ditemukan”ucap kakek mencoba menenangkan istrinya yang terus merasa bersalah.