Falling In Love With Trouble Maker

Falling In Love With Trouble Maker
Mirip Ayra


Setelah mendengar penjelasan dari Ayah tentang kakek Arya, Devara segera memerintahkan kak Arga dan anak buahnya untuk menyelidiki semua tentang kakek Arya.


“Kak, tolong carikan semua informasi tentang kakek Arya, kakek Ayra. Aku butuh infonya secepatnya”perintah Devara pada Arga


“Baik tuan muda”jawab Arga di sambungan telepon


Devara kemudian segera menutup sambungan teleponnya dengan Arga yang saat ini sedang menggantikan dirinya mengurus perusahaan di Inggris. Devara duduk di kursi yang ada di ruang kerja sambil menautkan kedua tangannya. Tatapan matanya lurus ke depan dengan wajah yang sangat serius seperti sedang memikirkan sesuatu.


“Aku tak akan menyerah. Aku pasti bisa mendapatkan restu kakek. Harus!”tekad Devara dalam hati.


Devara menunggu kabar dari Arga dan anak buahnya dengan penuh kecemasan. Devara tampak mondar-mandir di ruang kerja. Sesekali Devara duduk di kursi sofa, namun sesaat kemudian kembali berjalan mondar-mandir di ruang kerja sambil memantau perkembangan informasi yang dimintanya.


Setelah menunggu hampir dua jam lamanya akhirnya Arga menelpon Devara.


“Saya kirimkan informasi yang tuan muda minta via email. Silahkan tuan muda cek”ucap Arga


Devara yang mendapat berita dari Arga tersenyum dengan bahagia.


“Terimakasih kak”ucap Devara berterimakasih pada Arga


“Sama-sama tuan muda. Semoga tuan muda berhasil”jawab Arga


“Terimakasih kak”jawab Devara


Devara membuka email kiriman Arga yang berisi semua informasi tentang kakek Arya Subrata. Menjadi salah satu orang yang berpengaruh, membuat Devara dengan mudah bisa mendapatkan informasi yang diinginkannya. Devara membaca semua informasi itu dengan penuh konsentrasi. Dicernanya semua informasi itu untuk dapat mengambil celah demi mendapatkan restu kakek Arya. Dan setelah membaca semua informasi itu, Devara segera menyusun strategi untuk dapat meluluhkan hati sang mantan jendral purnawirawan TNI itu.


Keesokan harinya, Devara yang sudah bersemangat untuk segera melancarkan “serangannya” pada kakek Arya, meminta ijin terlebih dahulu pada Ayah Aldi. Devara ingin mengunjungi kakek Arya, namun sebelumnya Devara ijin pada Ayah Aldi, pada calon ayah mertuanya.


“Ayah”sapa Devara


“Iya Dev..ada apa?”


“Hari ini saya ingin mengunjungi kakek Arya”


“Tapi Dev..bukankah kakek belum ingin bertemu denganmu? Sebaiknya kau datang bersamaku saja lain kali”jawab Ayah Aldi


Ayah Aldi yang kenal betul seperti apa Ayahnya, ingin menghalangi keinginan Devara berkunjung sendiri tanpa dirinya.


“Tidak Ayah. Saya harus bertemu dengan kakek. Saya ingin mengenalkan diri dengan lebih baik pada kakek”


“Tapi aku tak bisa menemanimu”


“Ayah cukup berikan saya ijin. Saya akan datang sendiri. Saya akan menghadapi kakek. Saya sangat mencintai Ayra. Dan saya ingin kakek merestui kami”pinta Devara


Ayah tampak berpikir sejenak. Akhirnya Ayah mengijinkan Devara mengunjungi kakek sendiri.


“Baiklah. Jika itu maumu. Semoga lancar Dev”


“Terimakasih Ayah”


Setelah mendapat ijin dari Ayah, akhirnya Devara sendiri berkunjung ke rumah kakek. Devara datang berbekal semua informasi yang kemarin sudah didapatnya. Devara yakin bahwa kali ini kakek pasti akan menerima dirinya dan mau merestui dirinya bersanding dengan Ayra. Devara menyunggingkan sudut bibirnya kala membayangkan dia menikah dengan Ayra, wanita yang sangat dicintainya itu. Gadis tomboy pencuri hatinya.


Setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit, tibalah Devara di depan kediaman Arya Subrata. Devara datang dengan mobil box di belakangnya. Devara turun dari mobil sportnya dengan gagah. Kakek Arya yang sedang berkebun bersama dengan tukang kebunnya menatap Devara dengan tatapan dingin.


“Untuk apa bocah tengil itu kemari lagi?”gumam kakek Arya dalam hati


Kakek Arya berdiri dari posisinya yang semula berjongkok. Dilepaskannya sarung tangan yang dikenakan setelah melihat Devara datang menghampirinya.


“Selamat pagi kakek”sapa Devara ramah


“Selamat pagi”sahut kakek Arya


Keduanya saling berjabatan tangan.


“Mau apa kau kemari pagi-pagi begini?” tanya kakek Arya


“Saya dengar kakek suka berkebun, makanya saya kemari membawa beberapa tanaman. Semoga kakek suka. Bolehkan saya turunkan sekarang tanamannya kek?” tanya Devara


“Keras juga kakek ini! Bahkan dia menolak tanaman mahal yang aku bawakan untuknya tanpa melihatnya dulu. Pertarungan ini semakin menarik saja. Kakek benar-benar mirip Ayra”gumam Devara dalam hati.


Kakek lalu berjalan menuju keran air di dekat tamannya untuk mencuci tangannya. Devara mengikuti langkah kakek. Devara yang sudah bertekad mengambil hati kakek, tak akan menyerah begitu saja.


“Kakek belum melihat tanaman yang saya bawa”ucap Devara


“Tidak perlu. Aku bilang bawa kembali tanamanmu”perintah kakek sambil menghadapkan badan tegapnya ke arah Devara.


Devara tak kehabisan akal. Dimintanya tanaman-tanaman yang ada di dalam mobil box untuk dikeluarkan. Satu per satu anak buah Devara mengeluarkan tanaman hias berharga mahal itu.


Ada banyak tanaman yang dibawa Devara antara lain tanaman Monstera deliciosa variegata, Alocasia azlanii, Philodendron pink princess, Monstera obliqua, Anggrek Gold of Kinabalu, anggrek hitam Papua, Philodendron minima variegata, anggrek Shenzhen Nongke, dan Old Pine Bonsai. Tanaman berharga fantastis itu, selain unik ada juga yang langka. Contohnya Anggrek Gold of Kinabalu yang merupakan varian tanaman anggrek yang hanya bisa didapatkan di Kinabalu National Park Malaysia. Tanaman ini hanya berbunga sekali dalam setahun, yaitu sekitar April hingga Mei. Anggek hitam Papua adalah tanaman  unik dengan mahkotanya yang berwarna hitam legam. Menambah pesonanya, putik anggrek ini berwarna warna ungu dan kuning. Tanaman ini hanya bisa didapat di hutan Papua. Yang paling fantastis adalah Old Pine Bonsai, varian bonsai yang berasal dari Jepang yang harganya pernah laku terjual seharga 100 juta yen atau setara dengan Rp13,2 miliar.


Kakek Arya menatap taman depannya yang kini dipenuhi dengan tanaman yang dibawakan Devara dengan raut wajah penuh kekesalan dan kemarahan. Wajahnya memerah. Sambil berkacak pinggang kakek membentak semua orang yang berada di tamannya.


“Siapa yang menyuruh kalian menaruh tanaman-tanaman itu di sini? Keluarkan!” bentak kakek Arya yang baru saja keluar dari dalam rumahnya.


“Hei anak muda..bukankah aku sudah menyuruhmu pulang? Kenapa kau masih keras kepala dan menurunkan semua tanaman itu? Cepat bawa pulang tanamanmu itu!”bentak kakek Arya


“Maaf kakek..semua ini untuk kakek. Lihatlah! Bukankah tanaman-tanaman itu sangat bagus. Aku yakin tanaman itu akan semakin mempercantik taman kakek”bujuk Devara


“Sudah kukatakan aku tak butuh tanaman itu! Pulanglah!”perintah kakek Arya


“Kakek..tolong jangan begitu. Aku hanya ingin …”


Kakek langsung berdiri di depan Devara dengan wajah sangarnya.


“Kenapa kau begitu keras kepala, hah?”tanya kakek Arya


“Karena aku sangat mencintai Ayra. Dan aku tak akan menyerah sebelum kakek memberikan restu pada kami” jawab Devara dengan tegas tanpa rasa takut.


Kakek Arya menatap mata Devara. Dapat dilihatnya kesungguhan di mata Devara kala mengucapkannya.


“Dia tangguh juga rupanya. Baiklah kita lihat saja, apa dia mampu bertahan nantinya”gumam kakek Arya dalam hati


“Kau mau menantangku rupanya anak muda”ucap kakek Arya


“Tidak kek..aku tak mau menantang kakek. Tapi jika demi Ayra aku harus berhadapan dengan kakek, aku siap”ucap Devara dengan penuh percaya diri.


Kakek menyunggingkan sudut bibirnya mendengar ucapan Devara.


“Kita lihat saja seberapa pantas kau bersanding dengan cucu kesayanganku”gumam kakek dalam hati


Kakek lalu berjalan menuju ke dalam rumah dan menutup pintu rumahnya.


“Aku akan kembali lagi besok”tekad Devara meskipun mendapat penolakan dari kakek


Devara dan anak buahnya kemudian meninggalkan kediaman Arya Subrata.


Di dalam rumah,


“Maaf tuan, kita apakan tanaman-tanaman yang ada di depan?”tanya seorang pelayan pada kakek Arya


“Taruh di taman belakang saja”perintah kakek Arya


“Baik tuan”


Beberapa pelayan mulai membawa tanaman yang dibawa Devara ke dalam taman belakang yang terletak di dekat kolam renang. Kakek menatap satu per satu pelayannya yang hilir mudik membawa tanaman berharga fantastis itu. Dan saat melihat tanaman Old Pine Bonsai, mata kakek Arya sedikit membelalak.


“Bukankah ini bonsai mahal itu? Anak gila itu tak main-main rupanya”gumam kakek Arya sambil menggelengkan kepalanya.


Kini kakek berada di ruang kerjanya. Ditatapnya foto keluarganya yang terpajang rapi di lemari kaca yang ada di sana. Diambilnya sebuah foto kakek Arya yang nampak menggendong tubuh mungil Ayra.


Sambil menatap foto itu, pikiran kakek kembali ke waktu setahun yang lalu saat Ayra datang padanya dengan beruraian airmata. Gadis kecil kesayangannya yang biasanya tegar dan kokoh, meneteskan airmatanya. Kakek Arya yang tak tahu menahu alasan dibalik airmata itu, dengan cepat dapat menarik kesimpulan jika ada seseorang yang sudah menyakiti cucu kesayangannya. Terlebih saat kakek Arya mendengar keluh kesah Ayra di pusara wanita yang dicintainya. Nenek Ayra.


“Aku akan membuat anak muda itu membayar tetesan airmata Ayra karena sudah berani membuat cucuku bersedih”gumam kakek Arya dalam hati