Falling In Love With Trouble Maker

Falling In Love With Trouble Maker
Morning Kiss


Setelah menyelesaikan makan malamnya, Devara mengajak Ayra ke kamar. Mereka berpamitan pada semua anggota keluarga.


“Semuanya, aku ke kamar dulu”pamit Devara pada semua anggota keluarganya.


“Iya sayang, beristirahatlah! Besok acara kalian akan padat. Sebaiknya kalian beristirahat dulu”pesan Agatha.


“Iya nek”sahut Devara.


“Ayo sayang!”ajak Devara pada Ayra.


Devara menggenggam tangan Ayra dan mengajaknya kembali ke kamar.


“Nenek, Mommy, Papa kami duluan”pamit Ayra


“Kak, aku duluan ya?”pamit Ayra pada Catherine dan Arga


Arga menganggukkan kepalanya.


“Ingat Dev, jangan buat mempelai pengantin wanitanya kelelahan”goda Catherine sekali lagi pada adiknya.


“Iya..iya..aku tahu. Dasar cerewet!”gerutu Devara pada kakak perempuannya.


Catherine membelalakkan matanya mendengar Devara yang mengatainya cerewet. Saking jengkelnya, Catherine melayangkan tangannya hendak memukul adik kesayangannya. Namun karena berhasil menghindar, Catherine tak berhasil memukul adiknya.


“Haisshh..kapan dia dewasanya sih? Dikasih tau malah ngatain aku cerewet”gerutu Catherine.


“Sudah sayang..ga baik di dengerin Thania”ucap Caroline mengingatkan putri kesayangannya jika sekarang Thania sedang bersama mereka.


“Uuppss..aku hampir lupa. Thania sayang, sudah selesai makannya kan? Kita ke ruang keluarga ya?”ajak Catherine


Untung saja, tadi Thania sedang sibuk memakan makanannya dan tidak terlalu menghiraukan kelakuan mommy dan unclenya yang selalu saja bertengkar. Arga hanya menghela nafas melihat kelakuan istrinya itu. Catherine yang dilihatin Arga hanya tersenyum lalu melayangkan flying kiss pada Arga suaminya untuk meredakan kemarahannya. Agatha, Caroline dan Brandon juga hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat interaksi kedua putra putrinya itu.


Sementara itu, Devara dan Ayra yang sudah meninggalkan ruang makan berjalan meuju kamar mereka. Sepanjang perjalanan, Ayra terus mengoceh menasehati suaminya yang masih saja kekanak-kanakan ketika berhadapan dengan Catherine, kakak perempuannya.


“Dev..seharusnya kamu tidak seperti itu pada kak Catherine”gerutu Ayra


“Maaf sayang..aku hanya merasa jengkel, karena kakak terus-terusan mengingatkanku. Aku juga tau aku tak boleh membuatmu kelelahan. Tapi lelah sedikit kan ga papa”goda Devara sambil berbisik di telinga Ayra.


Ayra langsung menoleh pada sang suami yang menatapnya dengan tatapan genit sambil mengerlingkan satu matanya. Ayra tergelak melihat betapa suaminya ternyata memiliki tingkat kemesuman yang tinggi.


Ayra menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


“Ayo..kita tidur sekarang”ajak Devara


“Memangnya kau benar-benar akan mengijinkan aku tidur? Aku sangsi”sindir Ayra


Devara tersenyum mendengar Ayra menggerutu dengan memanyunkan bibirnya.


“Tentu saja tidak”jawab Devara tegas


Keduanya berjalan ke kamar. Sesampainya di dalam kamar besar tuan muda keluarga Alexander, Ayra masuk dulu ke dalam kamar, sementara Devara menutup pintu kamar.


Devara segera menghampiri istrinya, lalu memeluknya dari belakang.


“Kau mau mandi sekarang atau aku dulu?”bisik Devara di telinga Ayra.


Ayra melepaskan pelukan Devara lalu berbalik menghadap suaminya itu. Ayra melingkarkan tangannya di leher Devara. Membuat Devara terkejut dengan keberanian Ayra. Ayra hanya tersenyum kemudian berjinjit dan mengecup bibir suaminya.


Devara yang mendapat serangan dari Ayra tampak membeku dan membelalakkan matanya. Devara belum siap setiap mendapat kejutan kecil dari Ayra.


“Kau semakin berani saja sekarang”ucap Devara sambil melingkarkan tangannya di pinggang ramping Ayra dengan erat hingga tubuh keduanya tak berjarak. Dalam sekejap, Devara sudah memberikan ciuman mesra pada sang istri. Ciuman mesra yang perlahan namun pasti semakin panas sepanas hawa tubuh keduanya. Saling berbalas ciuman pun terjadi. Membuat jantung keduanya berderu sangat cepat dan nafas keduanya juga terengah-engah.


Tak menyia-nyiakan kesempatan, Devara segera melancarkan serangannya. Dilepaskannya kain yang membalut tubuh sang istri tanpa melepaskan ciumannya. Merasa tak mendapatkan perlawanan dari Ayra, Devara semakin bersemangat melanjutkan permainannya.


Mereka berciuman dengan panas sambil Devara menuntun Ayra menuju ranjang milik keduanya. Ranjang besar yang sangat nyaman yang akan menjadi arena pertarungan kedua pasangan suami istri itu.


Devara menatap sejenak Ayra yang tampak pasrah dalam kungkungannya. Dengan nafas yang terengah-engah, Devara tersenyum penuh arti pada sang istri.


Devara mulai melucuti semua pakaiannya yang menjadi penghalang. Membuat keduanya bersiap merajut indahnya surga dunia. Merengkuh kelembutan dan cinta pasangannya. Saat Devara akan menyatukan tubuh keduanya, Ayra menahan dada bidang Devara.


“Kenapa sayang?”tanya Ayra.


Ayra menggigit bibir bawahnya.


“I love you”ucap Ayra malu-malu


“I love you more”jawab Devara lalu dikecupnya kening Ayra.


Kecupan yang kemudian turun ke seluruh wajah dan ke seluruh tubuh Ayra. Meninggalkan jejak-jejak kepemilikan Devara. Penyatuan dua jiwa itupun terjadi diiringi suara-suara keduanya yang membahana ke seluruh penjuru kamar. Suara ******* yang semakin membuat Devara bersemangat membuai Ayra terbang ke atas nirwana. Saat tubuh keduanya merasakan ledakan dari dalam tubuh mereka, membuat keduanya tergeletak tak berdaya. Devara berbaring di samping Ayra setelah menuntaskan dahaganya. Keduanya tertidur sambil berpelukan.


*


*


*


*


Keesokan harinya,


Mentari pagi yang sudah memancarkan cahayanya yang menghangatkan bumi. Saat semua manusia di bumi sudah mulai beraktivitas, dua manuasia yang semalam sudah merengkuh indahnya surga dunia, masih juga terbaring di ranjang sambil berpelukan.


Devara yang terbangun lebih dulu, membuka matanya perlahan. Setelah benar-benar terbangun, Devara menatap Ayra yang tertidur dengan pulas di dadanya. Devara mengecup kening Ayra, membuat Ayra menggeliat saat merasakan ada yang mengecup keningnya. Ayra membuka mata perlahan. Devara tersenyum melihat istrinya yang nampak sangat meggemaskan ketika bangun tidur.


“Sudah bangun?”tanya Devara pada Ayra yang masih merem melek berusaha bangun.


Dalam keadaan setengah sadar, Ayra tersenyum manis pada Devara.


“Good morning”sapa Devara sambil mengecup bibir Ayra.


“Good morning”sahut Ayra.


“Bagaimana tidurmu?”tanya Devara


“Aku bisa tidur dengan nyenyak. Terimakasih sayang”jawab Ayra


Karena sesuai janji Devara, semalam mereka hanya melakukannya sekali. Devara menepati janjinya untuk tidak membuat Ayra kelelahan.


“Kau mau mandi sekarang?”tanya Devara


“Oh iya..resepsi”seru Ayra dengan mata yang terbuka sepenuhnya begitu mengingat hari ini adalah acara resepsi pernikahan mereka.


Ayra segera mengambil selimut dan membungkus tubuhnya. Tak lupa sebelum beranjak ke kamar mandi, Ayra mengecup bibir Devara.


“Morning kiss”ucap Ayra sambil tersenyum


Ayra hendak melangkah ke kamar mandi sebelum Devara menahan tangannya. Ayra menoleh ke arah Devara dan malah mendapatkan kecupan hangat oleh suaminya.


“Morning kiss”


“Aku mandi dulu. Jangan mengikutiku! Karena kita harus segera bersiap-siap untuk resepsi”ucap Ayra sambil memperingatkan Devara


Ayra tak ingin pagi ini harus menjalani ritual pagi seperti kemarin saat di resort, karena dirinya ingin segera bersiap ke acara resepsi pernikahan mereka.


“Iya..iya ..aku tahu. Mandilah dulu”sahut Devara


Begitu mendapat lampu hijau dari Devara, Ayra segera berlari menuju kamar mandi untuk mandi. Devara cekikikan menatap sang istri yang terlihat menggemaskan berlari sambil berbalut selimut.