Falling In Love With Trouble Maker

Falling In Love With Trouble Maker
De Javu


Satu jam kemudian,


Devara yang sudah tidur lumayan lama, akhirnya terbangun. Saat ia membuka mata, dilihatnya Ayra yang sedang tertidur dengan posisi duduk. Karena kasihan melihat Ayra tertidur dengan posisi yang tidak nyaman, akhirnya Devara menggendong Ayra dan menidurkan Ayra di kamarnya di lantai dua. Karena sangat mengantuk, Ayra sama sekali tak terbangun meskipun digendong Devara.


Devara menidurkan Ayra di ranjangnya yang besar dan empuk. Devara kemudian duduk disamping Ayra sambil menatap lembut Ayra yang sedang tertidur pulas. Dipandanginya lekat-lekat wajah cantik Ayra.


“Dia semakin cantik”gumam Devara dalam hati sambil tersenyum.


Tiba-tiba Devara ingin mencium “putri tidur” itu sekali lagi. Persis seperti dulu saat di kediaman Alexander, di kamarnya. Devara mulai mendekatkan wajahnya. Diapun mulai mengecup kening Ayra. Kemudian Devara mencium bibir ranum Ayra. Dasar Ayra kebo, meskipun diciumi Devara, ia sama sekali tak terbangun.


Melihat Ayra yang tetap tak terbangun meski diciumnya beberapa kali, justru membuat Devara kegerahan. Tubuhnya mendadak panas. Adrenalinnya meluap-luap. Darah mudanya bergejolak. Karena merasa gerah, Devara pun memutuskan untuk mandi. Devara kini sudah berendam di dalam bathup besar miliknya. Sambil berendam, Devara melamun.


“Sialan..kenapa dia bisa tetap tidur meski sudah kucium seperti tadi? Membuatku semakin bergairah saja”gerutu Devara dalam hati.


Kemudian ia tersenyum bangga karena bisa mencium gadis pujaan hatinya itu. Selesai mandi, Devara keluar kamar mandi hanya dengan menggunakan sehelai handuk putih besar yang dilingkarkan di pinggangnya sehingga menutupi bagian bawah tubuhnya hingga ke lutut. Devara mengusap rambutnya yang basah menggunakan sebuah handuk kecil. Keluar dari kamar mandi, Devara melihat Ayra yang menggeliat, menandakan gadis itu sebentar lagi akan bangun. Ayra tampak mengerdipkan matanya beberapa kali karena ia memang belum sepenuhnya sadar. Setelah sedikit sadar, Ayra kaget. Karena mendapati dirinya kini sudah terbaring di ranjang Devara.


“Bagaimana aku bisa sampai disini? Bukankah tadi aku berada di ruang tamu?”gumam Ayra dalam hati sambil mengernyitkan dahinya.


“Kau sudah bangun?”tanya Devara sambil berjalan santai kearah Ayra.


Mendengar suara Devara, Ayra langsung menengok ke belakang.


“Aaaaaagghhhh”spontan Ayra berteriak.


Dia kaget melihat Devara hanya memakai handuk. Kejadian ini persis seperti dulu saat Ayra menginap di rumah Devara pertama kali. Ayra seperti baru saja mengalami De Javu. Kejadian yang sama terulang kembali. Senyum nakal Devara tersungging melihat Ayra yang kaget melihat penampakan dirinya.


“Kenapa berteriak? Kau kan sudah pernah melihatku seperti ini sebelumnya”goda Devara


Ayra membalikkan badannya sehingga tak melihat Devara.


“Kenapa seperti ini lagi sih? Aku bisa gila jika dia terus seperti itu”gerutu Ayra dalam hati.


Dengan malu-malu, Ayra menengok ke arah Devara. Dengan tangan kirinya menutupi sebagian matanya, sementara matanya yang lain dibiarkan melihat tubuh Devara yang sangat jelas terekspos.


“Cepat pakai bajumu”seru Ayra kemudian membalikkan badannya sambil memegang dadanya yang berdegup sangat kencang.


“Kebiasaan burukmu masih belum berubah rupanya” seru Ayra lagi.


Devara membuka lemari bajunya lalu mengambil sebuah kaos putih dan celana jeans. Dengan santainya Devara memakai pakaian di belakang Ayra. Untung saja Ayra tak menengok ke belakang. Jika sampai menengok, bisa-bisa Ayra pingsan karena disuguhi adegan 21+, adegan seorang lelaki telanjang.


Setelah berpakaian lengkap, Devara memegang pundak Ayra. Ayra terhenyak. Kaget karena pundaknya dipegang dari belakang.


“Tenang saja..aku sudah berpakaian”ucap Devara menenangkan.


Ayra kemudian memukul-mukul dada Devara.


“Kau sengaja kan melakukan itu?”tanya Ayra masih dengan pukulan di dada bidang Devara.


Devara yang mulai kesakitan, segera menangkap kedua tangan Ayra.


“Sudah hentikan. Pukulanmu itu sakit” ucap Devara.


Ayra mendengus kesal. Dengan kedua tangannya masih dipegang Devara. Devara menarik tangan Ayra lalu mengajaknya duduk di kursi sofa panjang yang ada di kamarnya. Devara kemudian menyerahkan handuk kecil pada Ayra. Devara mengarahkan tangan Ayra yang memegang handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya.


Ayra menuruti permintaan Devara. Ayra mengusap rambut hitam Devara yang basah. Mereka duduk berhadapan. Ayra menekuk lututnya sehingga posisi tubuhnya lebih tinggi dari Devara. Sementara Devara duduk bersila dihadapannya. Keduanya saling bertatapan dengan mesra sambil tersenyum satu sama lain.


“Apa kau akan lama disini?”tanya Ayra.


“Kau mau aku disini lebih lama?”tanya Devara balik.


“Jawab dulu pertanyaanku”pinta Ayra


“Berapa hari kamu akan di sini?”tanya Ayra


“Entahlah. Mungkin lusa aku sudah kembali ke London. Aku terlalu terburu-buru sampai tak memikirkan yang lainnya”ujar Devara


“Secepat itukah? Padahal kami baru bertemu hari ini”gumam Ayra dalam hati.


Ayra tampak sedih namun berusaha menutupinya dengan terus mengusap rambut Devara yang masih basah.


Ayra hanya tersenyum lalu mengangguk pelan.


“Aku bantu menyisir rambutmu ya?”pinta Ayra


Ayra turun dari kursi sofa kemudian berjalan ke arah meja rias mengambil sisir untuk Devara. Devara menurut saja ketika Ayra mulai menyisir rambutnya.


“Awas kalau kau buat rambutku tambah berantakan” seru Devara mengingatkan.


Ayra hanya tersenyum mendengar gertakan Devara dan terus menyisir rambut Devara.


“Iya..iya..tenang saja. Nyisirin rambut begini aja mah kecillll”ucap Ayra bangga.


Devara ikut tersenyum mendengar ucapan Ayra barusan.


“Kalo kita buat rambutmu belah tengah seperti ini pasti hasilnya tambah bagus”ucap Ayra sambil menyibak rambut Devara menjadi dua.


“Jangan macam-macam! Aku jadi kelihatan konyol kalo belah tengah seperti itu”ujar Devara kesal.


Ayra cekikikan mendengar jawaban Devara barusan. Ayra memang hanya ingin menggoda Devara. Ayra menyisir rambut Devara perlahan.


“Sudah selesai”ucap Ayra begitu selesai menyisir rambut Devara.


Devara pun berdiri dari kursi tempatnya duduk ke meja rias.


“Bagaimana? Bagus kan?”tanya Ayra


“Not bad”ucap Devara setelah melihat hasil karya Ayra di rambutnya.


Devara pun berdiri menghadap Ayra. Keduanya berdiri saling berhadapan. Devara melingkarkan tangan kanannya di pinggang Ayra kemudian menarik tubuh Ayra mendekat padanya.


“Terimakasih”ucap Devara lembut.


Tangan kiri Devara menyentuh pipi Ayra. Keduanya kini sangat dekat. Devara menundukkan kepalanya untuk mencium Ayra. Jantung keduanya berdegup sangat kencang dan tak beraturan. Setiap sentuhan yang diberikan Devara berhasil membuat Ayra merasakan sensasi aneh yang menjalar di seluruh tubuhnya.


Ayra menutup matanya karena ia sadar Devara akan segera mencium bibirnya lagi. Dengan malu-malu, Ayra meremas ujung kaos Devara saat wajah Devara semakin mendekat.


Ujung bibir Devara berhasil menyentuh ujung bibir Ayra. Sekali lagi, mereka berciuman. Ciuman bibir yang sangat hangat di antara keduanya. Saling berbalas ciuman. Menimbulkan sensasi luar biasa pada tubuh keduanya. Kupu-kupu di perut Ayra seakan beterbangan seiring ciuman hangat keduanya. Mereka hanyut dalam kemesraan.


Saat keduanya hampir kehabisan oksigen, mereka pun melepaskan ciuman di bibir masing-masing. Ciuman hangat yang hampir saja penuh gairah itu pun berhenti sebelum berlanjut menuju gairah hidup sesungguhnya. Untungnya keduanya masih dapat menahan diri masing-masing untuk tidak bertindak lebih jauh. Devara kemudian memeluk tubuh Ayra. Memeluknya erat.


“Menikahlah denganku lalu ikutlah aku ke London”ajak Devara


Ayra terdiam mendengar ajakan Devara. Dia terlihat berpikir sejenak.


“Aku tak bisa”jawab Ayra.


Devara melepaskan pelukannya. Dengan kedua tangannya masih memegang pundak Ayra.


“Kenapa? Bukankah kau juga mencintaiku? Apa kau tak mau memulai lagi semuanya dari awal bersamaku? ”tanya Devara


“Bukan begitu”jawab Ayra


“Bagaimana dengan kuliahku? Keluargaku? Aku tak mungkin pergi begitu saja bersamamu”ujar Ayra.


“Beri aku waktu”pinta Ayra.


“Apa setahun kemarin belum cukup membuatmu memikirkan hubungan kita?”tanya Devara


“Aku hanya butuh sedikit waktu lagi”ucap Ayra


Kedatangan Devara yang mendadak, kembali dalam kehidupan Ayra setelah hampir setahun berpisah, membuat Ayra bingung.


“Baiklah! Aku beri waktu dua hari. Sebelum aku kembali ke London, beri aku jawabanmu”pinta Devara


“Hah..dua hari? Itukan terlalu cepat?”gerutu Ayra dalam hati.