Falling In Love With Trouble Maker

Falling In Love With Trouble Maker
Masa Lalu Ayra


Keluar dari distro, Devara mengajak Ayra ke café dekat distro tadi. Ayra menurut saja. Devara membelikan dua gelas coklat hangat untuk mereka berdua.


Begitu minuman pesanannya datang, Ayra segera meminumnya. Devara terus memandangi pacarnya itu. Gadis tomboy yang selalu berdebat dengannya kali ini sedikit berbeda terutama sejak bertemu lelaki tadi.


“Lelaki tadi..siapa?”tanya Devara


Ayra sudah mengira pasti akan ditanya Devara pertanyaan itu.


“Dia…mantan pacarku” jawabnya datar sambil menikmati coklat hangat di tangannya.


“Dia sahabat baik kakakku”lanjut Ayra


Devara mengernyitkan dahinya. Setaunya Ayra adalah anak tunggal.


“Kau punya kakak? Bukannya kamu anak tunggal?”tanya Devara


“Iya.. dulu aku punya. Kak Aldo. Dia tiga tahun lebih tua dari aku. Tapi dia sudah meninggal dua tahun lalu karena kecelakaan. Sejak kak Aldo meninggal, kak Rio yang selalu ada untukku. Membuatku merasa kalau aku masih punya kakak laki-laki. Ketika aku kelas X, dia “menembak”ku. Dan aku terima”kenang Ayra


“Lalu..kenapa kalian putus? Karena kamu pindah kesini?”tanya Devara


“Bukan”jawab Ayra


“Lalu karena apa?”tanya Devara lagi.


Ayra menghela nafas panjang. Dia terpaksa membuka kembali kenangan lama dalam diary kehidupannya. Bayangan masa lalu kembali melintas dipikirannya.


“Dulu aku punya teman dekat. Sahabat baikku sejak kecil. Dia sudah seperti adikku. Namanya Quincy. Hubungan kami sangat dekat. Mungkin seperti kamu dan Daniel” terang Ayra


Devara mendengarkan cerita Ayra tanpa banyak komentar.


“Kami bertiga, aku, Quincy dan kak Rio sangat dekat. Dulu aku sangat bahagia karena aku punya pacar sebaik kak Rio dan sahabat seperti Quincy. Sehingga aku bisa melewati kesedihanku karena ditinggal kakakku. Tapi aku tak tahu rupanya Quincy tidak menganggapku sahabatnya seperti aku menganggapnya selama ini. Rupanya dia menganggap aku sebagai saingannya. Karena ternyata dia juga suka kak Rio. Quincy sejak lama sudah suka kak Rio. Tapi karena kak Rio lebih memilih aku, semua itu malah membuat Quincy iri padaku"


"Satu hari, aku menerima chat dari Quincy untuk menemuinya di sebuah hotel. Kebetulan waktu itu ulangtahun kak Rio. Aku pikir Quincy mau mengajakku memberi kejutan pada kak Rio. Tapi ternyata aku salah. Kejutan itu rupanya untukku”kenang Ayra. Wajahnya berubah sendu.


“Kejutan apa” tanya Devara penasaran


“Waktu aku buka kamar hotel seperti yang diarahkan Quincy, aku menemukan mereka berdua tidur bersama. Waktu itu aku marah sekali pada mereka berdua. Aku merasa dikhianati oleh dua orang yang paling aku sayangi. Tapi Quincy malah balik menyerangku. Mengatakan bahwa semua ini adalah salahku sendiri”kenang Ayra


“Dia yang salah kenapa malah menyalahkanmu?” tanya Devara penasaran.


Dia jadi ikut panas mendengar cerita Ayra.


“Kata Quincy, ini salahku sendiri karena aku tak pernah perhatian pada kak Rio. Aku tak pernah membiarkan kak Rio menyentuhku. Aku juga tak pernah kencan, seperti yang dilakukan orang pacaran pada umumnya. Aku terlalu dingin padanya. Aku pikir selama ini dia memang menghormatiku. Rupanya aku salah”ujar Ayra


“Tunggu! Jangan-jangan kejadian di gudang waktu itu..ciuman pertamamu” bisik Devara


Ayra terdiam sejenak.


“Kau benar” jawab Ayra


Devara kaget. Karena Ayra menjawab pertanyaannya barusan tanpa kemarahan seperti biasanya.


“Aku terlalu naif ya.. aku pikir Quincy menganggapku sahabatnya tapi rupanya dia hanya mengganggapku saingannya. Aku pikir kak Rio tulus padaku rupanya dia tak setulus yang kukira”ujar Ayra sambil tersenyum meratapi kebodohannya dulu.


“Karena itu kamu pindah kemari?”tanya Devara


“Apa menurutmu karena alasan itu aku pindah?”tanya Ayra balik


“Aku rasa bukan”jawab Devara.


Ayra tersenyum simpul. Karena jawaban Devara benar.


“Aku tak serapuh itu hingga harus pindah hanya karena alasan seperti itu. Aku pindah karena Bunda selalu teringat kakakku. Bunda selalu sedih. Bahkan setelah hampir dua tahun kepergian kakak, Bunda masih juga sedih. Akhirnya Ayah minta dimutasi kesini. Semua ini demi Bunda”ujar Ayra


“Lalu apa kau masih marah pada mereka berdua?”tanya Devara


Ayra menggeleng pelan.


“Aku sudah memaafkan mereka. Untuk apa juga memendam kemarahan seperti itu? Hanya akan menambah beban dalam hatiku saja. Lagipula semua ini juga salahku sendiri terlalu mempercayai mereka”ucap Ayra tenang


“Apa kau masih punya perasaan pada lelaki tadi?”tanya Devara lagi


Ayra menatap wajah Devara lalu tersenyum.


“Dulu aku menerima dia, karena dia sangat mirip kakakku. Aku tak pernah benar-benar menganggap dia sebagai pacarku. Mungkin karena aku baru kehilangan kakakku, jadi aku mencari pelampiasan atas kehilanganku itu” ucap Ayra tenang.


“Lalu kenapa wajahmu sedih setelah melihat lelaki tadi?”tanya Devara penasaran


Dia kuatir Ayra masih memiliki perasaan pada kak Rio.


“Aku sedih karena aku ingat bagaimana dekatnya aku dengan Quincy dulu. Dia sudah seperti adikku sendiri. Aku hanya merasa sedih harus kehilangan sahabat baikku seperti itu. Padahal aku sangat menyayanginya”ujar Ayra lalu menoleh kearah Devara.


“Kau sangat kuat” ucap Devara lembut.


Mendengar Devara memujinya, membuat hati Ayra merasa sangat senang. Baru kali ini Ayra mencurahkan perasaannya, beban dalam hatinya selama dua tahun ini, akibat penghianatan kak Rio dan Quincy. Ayra juga tak menyangka akan bisa menceritakannya pada Devara.


Melihat Devara yang sangat lembut padanya membuat Ayra melihat sisi manis pada diri “pacarnya” itu. Ayra lalu memegang wajah Devara sambil tersenyum. Devara yang kaget wajahnya dipegang Ayra pun protes. Tapi dia juga tersenyum.


“Hyaa..lepaskan”pinta Devara


“Manisnyaaaa…”ucap Ayra


Mereka pun tertawa bersama. Ayra melepaskan pegangannya di wajah Devara.


“Terimakasih”ucap Ayra sambil tersenyum


“Untuk apa?”tanya Devara


“Sudah mau mendengarkanku”ucap Ayra sambil tersenyum.


“Heemm”jawab Devara tampak enggan


“Rupanya aku dan dia punya masa lalu yang sama. Sama-sama dikhianati orang yang paling kami sayangi. Tapi dia lebih kuat dari aku” gumam Devara dalam hati sambil memperhatikan Ayra yang meminum minumannya.


“Aku dengar kau juga merasa dikhianati Daniel ya?”tanya Ayra pelan.


“Kau tahu darimana? Daniel yang mengatakannya padamu?” tanya Devara balik


“Bukan. Aku tahu dari Nadine”jawab Ayra sambil menoleh ke arah Devara.


Kali ini Devara tidak semarah biasanya, seperti ketika dulu Ayra menyebut nama Daniel di telpon. Rupanya Devara sudah lebih bisa mengontrol emosinya. Hari ini. Mungkin karena melihat Ayra yang lebih kuat dari dirinya.


“Sebaiknya kalian segera berbaikan. Jangan sampai kalian mengalami seperti yang aku alami. Kehilangan sahabat baikku karena kesalahanku sendiri” ucap Ayra


“Bagaimana?”tanya Ayra sambil memasang muka memelas dihadapan Devara


“Bagaimana apanya?”tanya Devara


“Segeralah berbaikan, kau mau kan?”pinta Ayra


“Aku pikirkan dulu”jawab Devara enggan


Ayra tersenyum. Devara tidak menyanggah permintaannya. Sepertinya kali ini Devara mau mendengarkan nasehatnya untuk segera berbaikan dengan Daniel.


“Kita pulang sekarang” ajak Devara


Ayra mengangguk.


“Aku bayar dulu minumannya. Tunggu disini” ucap Devara


“Iya”jawab Ayra


Devara berjalan menuju meja kasir. Sementara Ayra menyeruput minumannya yang tinggal sedikit. Sambil menunggu Devara, Ayra memandang jalanan di depannya. Tampak mobil  dan kendaraan yang lalu lalang.


Tiba-tiba pandangan Ayra teralihkan pada pasangan kakek dan nenek yang sedang berjalan bersama, sedang berhenti di depan café tempat Ayra dan Devara berada. Tampak sang kakek membetulkan sandal sang nenek yang terlepas dari kakinya.


Mereka berdua tampak romantis. Melihat pemandangan itu, Ayra pun tersenyum.


Devara yang selesai membayar dari kasir, dibuat penasaran melihat senyum yang merekah di bibir pacarnya itu.


“Kau lihat apa?” tanya Devara sambil duduk disamping Ayra.


“Itu di depan. Kau lihat?”tanya Ayra tanpa menoleh kearah Devara yang kini duduk sangat dekat dengannya.


Bahkan wajah Devara menyentuh rambut Ayra saking dekatnya.


“Oo..kakek dan nenek itu”jawab Devara setelah tahu apa yang dilihat Ayra.


Ayra mengangguk pelan.


“Mereka romantis sekali, meskipun usia mereka tidak lagi muda. Membuat iri”ujar Ayra masih menatap pemandangan indah di depannya dengan tangan kanannya menopang dagunya.


“Kita nanti juga bisa seperti mereka. Menua bersama. Aku pasti akan menjagamu dan menemanimu selamanya”goda Devara


Ayra tertawa geli mendengar rayuan gombal seorang Devara.


“Apaan sih? Udah ah..ayo pulang” ucap Ayra masih tersenyum bahagia.


Devara pun menyunggingkan bibirnya melihat Ayra yang geli dengan rayuan mautnya. Devara pun mengantar Ayra pulang.