Falling In Love With Trouble Maker

Falling In Love With Trouble Maker
Mengganggumu di Pagi Buta


Keesokan harinya,


Jam dinding di kamar Ayra masih menunjukkan pukul 04.30 pagi.


“HP baru” Ayra berdering, memecah malam. Ayra yang masih sangat mengantuk, meraba-raba meja nakas di dekat ranjangnya dengan mata terpejam, mencoba meraih hp itu. Ayra mencoba membuka matanya. Cahaya di layar sangat menyilaukan membuat Ayra menyipitkan matanya.


“Siapa sih pagi-pagi sudah menelponku?”gumam Ayra dengan malas


“Halo?”sapa Ayra dengan suara serak dan mata terpejam


“Hei..bangun! Sudah pagi! Apa kamu tidak masuk sekolah?”tanya Devara


“Heiii..kamu itu cewek macam apa? Jam segini belum bangun”ledek Devara


Ayra yang masih mengantuk, menjadi kesal dikata-katai Devara.


“Iiihhh..ganggu banget sih! Kamu tahu tidak kalo sekarang masih jam 04.30 pagi”Ayra geram


“Oh ya..sekarang di Indonesia baru jam 04.30 pagi ya? Aku lupa kalau aku di Singapura”gumam Devara setelah menyadari dia membangunkan Ayra terlalu pagi.


“Apa kamu tak membantu mamamu? Bukankah cewek tu harus bangun pagi untuk membantu mamanya? Cepat bangun sana”kelit Devara


Ayra yang kesal karena diganggu pagi-pagi oleh Devara akhirnya bangun dari ranjangnya.


“Ayam saja selalu bangun pagi”sindir Devara


Ayra yang tak terima dibandingkan dengan ayam, jadi naik pitam.


“Berhenti mengejekku”ujar Ayra kesal


“Bisa-bisanya dia membandingkan aku dengan ayam..menyebalkan”gerutu Ayra dalam hati


“Sudah bangun kan?”tanya Devara memastikan


“Iya..gara-gara kamu”seru Ayra masih kesal


Devara cekikikan mendengar suara Ayra yang kesal, pagi-pagi sudah diganggunya.


“Sudah sana..aku mau cuci muka”ujar Ayra kesal


“Ya sudah..nanti aku telpon lagi”sahut Devara seraya menutup telpon


Ayra pun meletakkan hp itu kembali di atas nakas. Lalu dia pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka. Air dari wastafel pagi itu lumayan dingin. Membuat rasa kantuk Ayra perlahan menghilang. Wajahnya terasa lebih segar pagi itu. Ayra mengambil handuk untuk membersihkan air yang masih ada di wajahnya.


“Segarnya” gumam Ayra setelah mencuci mukanya


“Cowok gila” gerutu Ayra mengingat kelakuan Devara yang mengganggunya pagi ini.


Ayra pun berjalan ke lantai satu. Ke dapur. Dia merasa haus. Lantai satu masih gelap. Hanya ada satu lampu yang menyala. Rupanya ayah dan bunda masih tidur. Ayrapun mengambil segelas air dari dispenser. Diteguknya air mineral itu. Sungguh menyegarkan.


“Sudah bangun Ay?”tanya ayah tiba-tiba


Ayra yang menghadap berlawanan arah dengan ayah, segera menoleh ke belakang.


“Iya yah”jawab Ayra


“Ayah pulang jam berapa? Aku ga dengar ayah pulang?”tanya Ayra pada ayahnya yang selama dua hari ini jarang ditemuinya.


Ayah berjalan mengambil segelas air putih dan meneguknya.


“Ayah pulang jam 22.00. Kamu sudah tidur saat ayah pulang” jawab Ayah


“Kerjaan Ayah banyak ya? dua hari ini aku jarang ketemu Ayah?”tanya Ayra


“Iya, Ayah baru banyak kerjaan. Maaf ya, kamu harus berangkat sekolah sendiri” jawab Ayah


“Iya yah..Ayra kan sudah bukan anak kecil lagi. Aku bisa berangkat sendiri. Lagian sekolah juga ga jauh dari sini” tutur Ayra


Ayah mengelus kepala putri kesayangannya itu.


“Anak Ayah sudah besar rupanya”puji Ayah sambil tersenyum


Ayra juga tersenyum.


“Ayra mau mandi dulu ya yah?”ujar Ayra


“Nanti kamu berangkat sendiri lagi, ga papa ya Ay? Ayah jam 06.00 sudah harus berangkat kerja lagi”ujar Ayah


“Iya yah”jawab Ayra


Ayra pun kembali ke kamarnya di lantai dua. Sampai di kamar, dilihatnya hp Devara di nakas. Ternyata Devara mengiriminya banyak chat.


“Cowok sinting”gumam Ayra dalam hati sambil tersenyum melihat kegilaan Devara yang mengiriminya banyak chat dan sticker lucu.


Ayra merapikan ranjangnya yang masih berantakan. Dirapikan selimut dan bantal-bantalnya. Diletakkan dengan rapi. Lalu Ayra menyiapkan buku-buku pelajarannya hari ini. Ada untungnya juga bangun lebih pagi. Ayra jadi tidak terburu-buru menyiapkan buku pelajarannya. Setelah memasukkan semua bukunya, Ayra mengambil seragamnya hari itu dari lemari. Diletakkannya di atas ranjang. Ayra mengambil jubah mandi lalu pergi ke kamar mandi.


Ayra mandi air hangat pagi itu, karena Ayra memang tidak suka mandi air dingin pagi-pagi. Kucuran air dari shower membasahi tubuh indah Ayra. Kulitnya yang putih bersih menjadi kemerahan terkena air panas dari shower. Ayra menyeka setiap inchi tubuhnya. Membersihkannya dengan sabun cair yang ada. Wangi sabun semerbak mengisi seisi kamar mandi.


Dalam keadaan mata terpejam, tiba-tiba wajah tampan Devara yang menyumbat mulutnya kemarin, terlintas di pikirannya. Ayra kaget sendiri, kenapa dirinya bisa tiba-tiba membayangkan Devara. Jantungnya pun berdegup kencang


“Apa-apaan ini? Kenapa aku memikirkan cowok aneh itu?”gumam Ayra dalam hati


“Sebaiknya aku segera mandi dan berangkat sekolah”gumam Ayra lagi


Acara mandi itupun usai. Ayra mengambil jubah mandinya dan berjalan keluar kamar mandi. Rambutnya yang basah terkena air dikeringkan dengan handuk kecil yang ada di pojok kamar mandi.


Ayra kemudian mengambil baju seragamnya dan memakainya. Dalam keadaan setengah telanjang, tiba-tiba smartphone itu berdering. Lagi-lagi Devara menelponnya. Ayra yang kaget, mempercepat gerakannya dan segera berpakaian.


“Haishh..kenapa dia selalu menggangguku sih? Aku kan baru pakai baju”gerutu Ayra dalam hati.


Smartphone itu terus berdering. Membuat Ayra semakin kesal. Smartphone itu tak kunjung berhenti berbunyi karena Ayra memang belum bisa mengangkat telpon itu. Rasanya Ayra ingin membanting smartphone itu karena terus berdering.


Di tempat lain, Devara yang tak sabaran terus menerus menelpon Ayra. Begitu selesai berpakaian, Ayra pun mengangkat telpon itu. Di gesernya tombol hijau di layar.


“Kenapa lama sekali? Kamu sebenarnya ngapain aja?”bentak Devara


“Aku tuh baru selesai mandi..kamu kenapa ga bosan-bosan ganggu sih? berhentilah menggangguku” protes Ayra tak mau kalah


Mendengar kata “mandi”, otak kotor Devara mengelana tak tentu arah. Membayangkan Ayra yang sedang mandi. Devara pun menelan ludahnya sendiri dengan susah payah. Dia jadi salah tingkah. Tak dihiraukannya Ayra yang marah-marah padanya.


“Ka..kamu baru selesai mandi ya?”tanya Devara dengan sedikit terbata-bata


“Iya”jawab Ayra geram


“Maaf..maaf..aku tak tahu”ucap Devara meminta maaf,


“Aku hanya ingin mendengar suaramu”


“Kau sudah dengar suaraku kan? Sekarang tutup telponnya”seru Ayra masih kesal.


“Kau nanti diantar ayahmu?”tanya Devara pelan


Mendengar suara Devara yang pelan, emosi Ayra pun sedikit mereda.


“Tidak, aku berangkat sendiri. Ayahku harus kerja”jawab Ayra


“Aku akan kirim kak Arga untuk mengantarmu ke sekolah”tutur Devara


“Kau tak usah macam-macam ya..Aku bisa berangkat sendiri”balas Ayra


“Kau akan lebih aman jika diantar kak Arga..sudah menurut saja”ujar Devara sedikit memaksa.


“Aku kan bisa sekalian mengembalikan hp sialan ini”gumam Ayra dalam hati


“Ehhmmm..baiklah”ucap Ayra pura-pura menurut


“Kalau begini kan, aku bisa tenang”ujar Devara senang


“Hari ini acara ulangtahun nenek. Aku mungkin takkan menelponmu sampai besok pagi”ujar Devara lagi


“Akhirnya!”gumam Ayra sambil tersenyum senang mendengar Devara takkan mengganggunya seharian ini.


“Oya..semoga acara ulang tahun nenekmu lancar”ucap Ayra tulus.


“Terimakasih”balas Devara


Mereka membisu selama beberapa saat.


“Kenapa kau diam?”tanya Devara


“Kau sudah selesai belum? Aku mau sarapan”ujar Ayra


“Aku akan minta kak Arga datang setengah jam lagi”ujar Devara


“Terserah kau saja”balas Ayra


“Ya sudah..aku takkan mengganggumu lagi. Aku tutup telponnya ya?”ucap Devara


“Ya”jawab Ayra


Devara menutup telponnya.


Entah kenapa sekarang Devara menjadi sedih. Rupanya bertengkar dengan Ayra setiap waktu membuat Devara bahagia. Walaupun Ayra tampak tak senang dengan sikap dan ucapannya, tapi Ayra selalu mendengarkan yang dikatakannya. Membuat Devara merasa tak kesepian. Dia merasa Ayra adalah pendengar yang baik.


“Andai saja dia di sini”gumam Devara berandai-andai


Devara segera beranjak dari tempat duduknya dan bersiap mengikuti acara ulang tahun neneknya. Dikenakannya setelan jas yang sudah disiapkan. Devara benar-benar tampak gagah dengan setelan jas yang dikenakannya.


Hari itu Devara memakai kemeja putih lengan panjang dipadu setelan jas warna abu-abu muda dan celana kain warna hitam, yang kesemuanya adalah rancangan desainer terkemuka langganan keluarga Devara. Tak lupa Devara memakai jam tangan mahal miliknya dan kacamata hitam kesukaannya serta sepatu pantofel yang memang khusus dirancang untuk dirinya.


Jangan tanya harga outfit Devara untuk menghadiri pesta ulang tahun neneknya ini. Sudah pasti harganya maaaahhaaaallllll….