Falling In Love With Trouble Maker

Falling In Love With Trouble Maker
Meladeni Devara


Mereka bermain jenga game beberapa kali. Masing-masing wajah mereka terkena coretan. Mereka sekarang mirip badut. Dan Devara yang paling banyak coretan. Ayra tertawa girang melihat wajah Devara yang “hancur”.


Walaupun kesal wajahnya “hancur”, tapi Devara senang melihat Ayra yang tertawa lepas karena dirinya. Devara yang tersenyum menatap Ayra, tanpa sadar juga dilihat oleh Daniel. Mereka bermain jenga hampir satu setengah jam lamanya.


“Wah..asyik banget ya mainnya?”tanya Bunda tiba-tiba.


“Cepat cuci wajah kalian, kita makan siang dulu ya?” ajak Bunda


“Baik tante” ucap Devara, Daniel dan Nadine hampir bersamaan


“Di situ ada kamar mandi. Di kamar tamu juga ada kamar mandi. Kalian bisa cuci muka di sana” ujar Ayra menunjuk dua ruangan di dekat ruang keluarga itu


“Kamu cuci muka di kamarku aja, Nad”ajak Ayra pada Nadine


“Kalian berdua cuci muka di sana.. Aku cuci muka di kamarmu” perintah Devara


“Hei..jangan macam-macam. Udah kamu cuci muka di sana saja” protes Ayra.


“Aku ga mau” jawab Devara.


Lalu Devara beranjak dari tempatnya dan masuk kamar Ayra.


“Udah ga papa. Aku di kamar tamu aja. Udah susul sana, sebelum dia ngacak-ngacak kamarmu” ucap Nadine


Ayra pun segera menyusul Devara. Rupanya Devara sudah rebahan di ranjangnya. Ayra yang kaget segera masuk dan menutup pintu tapi tidak menguncinya. Ayra segera menghampiri Devara lalu memukul Devara.


“Aduh..kenapa kau pukul aku?” protes Devara.


“Kenapa kamu seenaknya sendiri? Ini bukan rumahmu. Ini rumahku” protes Ayra


“Makanya aku ingin lihat kamarmu” ucap Devara


“Kenapa? Kamarku kecil kan”tanya Ayra


“Iya..kecil. Bahkan lebih kecil dari kamar Madam O” jawab Devara sambil matanya memandang ke segala arah.


Ayra cemberut dibandingkan dengan kamar Madam O yang tentu saja jauh lebih besar dari kamarnya.


“Tapi kamarmu hangat” ucap Devara


Devara pun menatap lemari di salah satu sudut kamar Ayra. Di sana ada beberapa bingkai foto. Foto masa kecil Ayra. Devara segera beranjak dari ranjang Ayra lalu mendekati lemari foto itu. Ayra mengikuti Devara dan berdiri di sampingnya.


“Ini kamu?”tanya Devara sambil menunjuk foto-foto itu


“Ya iyalah”jawab Ayra


“Kenapa lebih cantikan waktu kecil?”goda Devara sambil menatap sebuah bingkai foto masa SD Ayra waktu mengikuti lomba menyanyi. Dia terlihat sangat imut waktu itu. Devara sampai tersenyum melihat keimutan Ayra.


“Maksudmu? Sekarang aku jelek?” tanya Ayra penasaran


Devara meletakkan bingkai itu di samping wajah Ayra. Lalu membandingkannya.


“Tu kan, cantik waktu SD” goda Devara.


“Udah..sini. Ga usah pegang-pegang” Ayra jengkel dibilang jelek


Ayra segera merebut bingkai foto itu. Tapi Devara tak mau menyerahkannya. Malah menjauhkan bingkai itu dari Ayra.


“Hei..balikin. Itu punyaku” pinta Ayra sambil terus berusaha mengambil bingkai foto di tangan Devara.


Karena Devara lebih tinggi dan tangannya lebih panjang, Ayra sampai kesulitan mengambil bingkai foto itu.


“Aku minta foto ini”pinta Devara


“Ga mau” jawab Ayra


"Pokoknya aku minta"ucap Devara memaksa


"Ga mau.. sini balikin" sahut Ayra


Mereka rebutan bingkai foto itu. Baik Devara maupun Ayra tak ada yang mau mengalah.


“Whoooaaa….”


Saking semangatnya Ayra merebut bingkai foto itu, membuat Devara sampai kehilangan keseimbangannya. Akhirnya mereka berdua terjatuh ke ranjang. Dengan tubuh Devara di bawah, dan Ayra menindih tubuh besar Devara. Mereka saling bertatapan. Jantung mereka berpacu dengan nafas mereka yang tersengal-sengal. Devara segera mendekap tubuh Ayra dengan tangannya. Sementara tanganya yang satu lagi masih memegang bingkai foto.


Ayra kaget. Kini dia berada dalam pelukan Devara. Ayra bisa mendengar dengan jelas detak jantung Devara. Devara sebenarnya juga sangat nervous. Ayra mencoba berontak, tapi Devara tak melepaskannya. Ayra mencoba bangun dari tubuh besar Devara. Kini wajah mereka sangat dekat. Mata Ayra terbelalak. Sekali lagi, Devara menatap bibir merah Ayra.


“Ehemm” Nadine berdehem


Ayra segera melepaskan diri dari tubuh Devara.


“Maaf ya Ay..Dev.. Bundamu minta kita segera turun” ucap Nadine takut-takut.


Sekali lagi, Devara gagal mencium Ayra. Devara benar-benar kesal. Ayra melihat ke arah Devara dengan senyum yang ditahan. Dia tahu benar, “pacarnya” itu sedang benar-benar marah.


“Sudah..cuci mukamu sana”pinta Ayra sambil menuntun tubuh besar Devara ke kamar mandi.


Di dalam kamar mandi, Devara berteriak sekuat-kuatnya.


“Aarghhhhh” teriak Devara


Ayra yang berada di balik pintu sempat kaget, lalu tertawa cekikikan. Karena mereka tertangkap basah lagi. Nadine mendekati Ayra dengan mengendap-endap.


“Wah Ay, Devara pasti marah besar ya?”bisik Nadine sambil melihat kearah kamar mandi.


“Tenang saja..biar aku urus. Aku cuci muka dulu. Kamu sama Daniel turun dulu ya. Nanti aku segera turun” pinta Ayra.


“Oke” ucap Nadine


“Sudah..gantian. Aku mau cuci muka. Kamu turun dulu sana” ujar Ayra sambil mendorong tubuh besar Devara dari pintu kamar mandi. Ayra pun gantian masuk kamar mandi.


Dengan muka kesal, Devara turun ke lantai satu.


*


*


*


*


Di ruang makan, Nadine dan Daniel sudah duduk di kursi makan.


“Ayra belum turun?”tanya Bunda melihat Devara turun sendiri


“Iya tante, baru cuci muka” jawab Devara sopan


Devara pun duduk di kursi sebelah Daniel.


“Om ga keliatan ya tante?”tanya Nadine


“Iya..ayahnya Ayra baru repot banget. Maklum saja, polisi kan harus siaga 24 jam”jawab Bunda


Ayra selesai cuci muka lalu ikut bergabung dengan Bunda dan teman-temannya. Kebetulan kursi yang tersisa tinggal satu di sebelah Devara. Mereka makan siang bersama. Suasana sangat hangat. Karena Bunda memang orang yang sangat hangat. Mereka bisa makan dengan ngobrol ringan. Masakan Bunda juga sangat lezat. Devara menyantap makanannya dengan lahap. Sesekali Ayra melirik cowok aneh disampingnya itu.


“Sebenarnya dia lucu juga” gumam Ayra dalam hati sambil memperhatikan Devara yang menyantap makanannya.


Selesai makan, Daniel, Nadine dan Devara pun berpamitan.


“Terimakasih tante, masakan tante enakkk bangettt” puji Nadine


“Iya tante”imbuh Daniel


“Terimakasih ya untuk pujiannya.. kapan-kapan main kesini lagi ya? Rumah tante jadi rame”ajak Bunda


“Pasti tante” jawab Devara semangat


Ayra langsung melotot ke arah Devara. Devara hanya tersenyum melihat Ayra yang melotot padanya.


“Ngapain dia mau kesini lagi?” gerutu Ayra dalam hati.


“Kami pulang dulu tante” pamit Daniel sambil mencium punggung tangan Bunda


Disusul Nadine dan terakhir Devara.


“Hati-hati di jalan ya” pesan Bunda


“Iya tante” jawab Nadine


Ayra pun mengantar teman-temanya sampai pintu gerbang. Begitu Bunda masuk rumah, Ayra langsung memukul lengan Devara.


“Hei..ngapain mukul sih? Aku salah apa?” protes Devara


“Apa maksudmu mau main kesini lagi?”tanya Ayra


“Kamu denger sendiri kan Bunda mu yang menyuruh main lagi” balas Devara


Pertengkaran mereka hanya dilihat Nadine dan Daniel.


“Udah Dan, kita pulang aja. Ngapain ngliatin mereka” ajak Nadine


“Udah ya Ay, kami pulang dulu. Sampai ketemu besok ya di sekolah” Nadine pamit


Ayra dan Devara segera menengok ke arah Nadine dan Daniel. Ayra masih jengkel. Ayra mau memukul lagi. Tapi Devara mengelak sambil tersenyum.


“Aku pulang dulu” pamit Devara


“Cepat masuk sana. Nanti masuk angin” pinta Devara


“Udah sana..pulang” usir Ayra


Akhirnya Devara, Nadine dan Daniel pun pulang. Nadine menumpang mobil Daniel. Sementara Devara pulang sendiri. Setelah menutup pintu gerbang, Ayra masuk ke rumah.


Sampai di dalam kamar, Ayra mencari bingkai foto yang diambil Devara tadi. Rupanya bingkai tadi benar-benar dibawa Devara.


“Haishhh..dia beneran ngambil foto itu” gerutu Ayra dalam hati.


Beberapa saat kemudian smartphone Ayra berdering. Devara yang menelponnya. Mereka berdua ngobrol di telpon. Ayra marah karena Devara mengambil fotonya tanpa ijin.


“Hei..kembalikan fotoku”seru Ayra kesal


“Ga mau”jawab Devara


“Itukan punyaku..kembalikan”


“Aku kan dah bilang..aku minta foto tadi”


“Buat apa kamu minta segala?”


“Buat nakut-nakutin tikus di rumah”goda Devara


“Dasar cowok sinting..aku bilang kembalikan”seru Ayra tak terima fotonya dijadikan bahan lelucon oleh Devara.


Devara yang mendengar Ayra marah-marah, malah cekikikan. Ayra tambah jengkel. Mereka berbincang di telpon sampai dua jam lamanya. Akhir-akhir ini Ayra tanpa sadar meladeni “pacarnya” itu. Walaupun mereka selalu saja bertengkar. Hal kecil saja bisa membuat mereka berdebat. Tapi anehnya baik Devara maupun Ayra pasti ada yang mengalah. Rupanya dua sejoli ini mulai beradaptasi dengan kepribadian masing-masing.