
Hari Sabtu akhirnya datang juga. Setiap anak datang ke sekolah sambil membawa perlengkapan camping masing-masing. Tiap anak membawa minimal satu koper besar. Meskipun untuk tenda dan perlengkapan kemah semuanya sudah dipersiapkan oleh sekolah. Namun karena mayoritas anak di sekolah adalah anak orang kaya yang jarang camping, jadinya mereka membawa perlengkapan tidur yang lengkap seperti bed cover, selimut dan bantal. Berasa pindahan saja barang-barang bawaan mereka.
Ayra yang datang ke sekolah melihat kelakuan teman-teman satu sekolahnya dengan geleng-geleng kepala.
“Mereka tuh apa ga pernah camping sih? Dasar anak manja”gerutu Ayra dalam hati.
“Ay?”seru Nadine memanggil sahabatnya itu
Ayra berjalan ke arah Nadine dan Daniel yang sudah datang duluan. Nadine yang melihat perlengkapan camping Ayra, tampak mengernyitkan dahinya karena Ayra hanya membawa satu tas ransel. Sangat simpel. Berbeda dengan kebanyakan anak-anak yang lain.
“Kamu Cuma bawa tas itu doang Ay?”tanya Nadine
Ayra mengangguk pelan.
“Iya..emang kenapa?”tanya Ayra heran
“Kamu emang beda ya Ay..lihat! Rata-rata disini pada bawa koper besar. Kamu Cuma bawa tas ransel doang”jawab Nadine sambil tersenyum
“Lha kan kita Cuma semalam. Ngapain bawa barang banyak-banyak”jawab Ayra enteng.
“Emang yang kamu bawa apa Ay? Simpel banget”tanya Daniel
“Cuma baju ganti sama keperluan mandi doang”jawab Ayra enteng
“Kamu ga bawa perlengkapan tidur?”tanya Nadine
“Perlengkapan tidur? Maksudmu apa Nad?”tanya Ayra bingung
“Ya bedcover apa selimut gitu sama bantal”jawab Nadine
“Hahahaha..kalian tuh lucu. Camping kok bawa perlengkapan tidur selengkap itu”seloroh Ayra sambil tertawa
“Terus buat tidur kamu bawa apa?”tanya Nadine
“Selimut tipis sih bawa sama ini”tunjuk Ayra pada bantal tiup.
Nadine dan Daniel yang memang belum pernah melihat bantal tiup sebelumnya sampai mengernyitkan dahinya lalu memegang bantal tiup milik Ayra.
“Ini apaan Ay?”tanya Daniel sambil menunjukkan bantal tiup Ayra yang masih terbungkus rapi.
“Bantal tiup. Kalian belum pernah liat?”tanya Ayra pada dua sahabatnya yang tampak keheranan melihat bantal tiupnya.
Keduanya menggeleng bersamaan. Membuat Ayra terkekeh melihat betapa lugu teman-temannya itu.
Devara dan genknya yang sudah datang lebih dulu tampak bergerombol. Devara yang melihat Ayra sejak tadi terus memperhatikan gadis cantik yang hari itu penampilannya sangat chic dan casual namun tetap cantik seperti biasa. Dengan kaos putih lengan pendek dipadu dengan jaket jeans warna cream dan celana jeans warna biru muda. Devara seakan tak ingin melewatkan pemandangan indah yang dilihatnya.
“Cewek itu cantik banget hari ini.. Padahal di antara cewek yang lain penampilannya yang paling sederhana tapi dia bisa begitu cantik. Sialan! Kenapa dia terus kelihatan secantik itu”gerutu Devara dalam hati
Karena perjalanan yang lumayan jauh, maka setelah semua anak dirasa sudah komplit, semua anak dibariskan di lapangan terlebih dahulu untuk pembagian bis. Karena kelas Devara dan Ayra satu tujuan maka mereka berkumpul menjadi satu rombongan. Masing-masing kelas berbaris menjadi empat banjar. Kelas XI.A, XI.C dan XI.F berbaris dua banjar putra dan dua banjar putri. Kebetulan Devara dan Ayra berbaris bersebelahan.
Saat Ayra melihat keberadaan Devara, tatapannya tampak tak suka. Sementara Devara malah tersenyum melihat Ayra yang berdiri di sampingnya.
“Ngapain sih cowok tengil ini ikut camping segala? Bikin bad mood aja”gerutu Ayra dalam hati
Saat pengumuman pembagian bis, Ayra benar-benar kaget karena rupanya pembagian bis berdasarkan nomor absen.
“Yah..kita beda bus dong Nad?”keluh Ayra sedih
“Udah ga papa..yang penting tar pas di tempat camping kita satu tenda kan Ay”ucap Nadine mencoba menenangkan Ayra
Rupanya Nadine dan Ayra berbeda bus. Nadine dan Daniel bisa satu bus. Sementara Ayra terpisah. Setelah meletakkan barang bawaan ke dalam bagasi bis, Ayra syok berat karena rupanya di dalam bis nya ada musuh bebuyutannya si Devara. Dan kursi di sebelah Devara masih kosong. Devara yang melihat Ayra masuk ke dalam bis, berharap Ayra akan duduk di kursi di sebelahnya. Keduanya saling bertatapan. Namun Ayra memilih berjalan terus tanpa memperhatikan Devara.
“Cari kursi di belakang aja ah..moga aja masih ada yang kosong”gumam Ayra dalam hati
Melihat Ayra yang jalan ke deretan tempat duduk belakang, membuat Devara menoleh ke belakang mengikuti arah jalan Ayra. Dan ketika ada kursi kosong, Ayra bermaksud duduk di sana.
“Kursinya masih kosong kan? Aku duduk disini ya?”pinta Ayra
“Maaf..kursinya udah ada yang nempatin”
“Oo..gitu ya”jawab Ayra sedih
Akhirnya Ayra berjalan lagi ke belakang. Masih tersisa satu kursi kosong.
“Semoga kursi itu masih kosong”harap Ayra dalam hati
“Kursi ini kosong kan Gas? Boleh aku duduk disini?”pinta Ayra
“Maaf Ay..udah ada yang nempatin”jawab Bagas teman sekelas Ayra
Devara yang melihat kedatangan Ayra segera membalik badannya dan duduk sambil menatap ke arah depan sambil mengangkat sudut bibirnya.
“Hei..kursi sebelahmu masih kosong apa dah ada yang nempatin?”tanya Ayra ketus pada Devara.
Devara menoleh ke arah Ayra sambil memasang wajah dinginnya.
“Kalo masih kosong emang kenapa?”tanya Devara
“Kalo kosong, aku mau duduk disitu. Semua kursi udah penuh soalnya”jawab Ayra ketus
“Kalo aku ga mau, kamu mau apa?”goda Devara
“Maksudmu?”tanya Ayra kesal
“Kalo aku mau kursi itu buat aku, kamu mau apa?”goda Devara lagi membuat Ayra tersulut emosinya
“Ngajak berantem nih anak”gerutu Ayra dalam hati sambil menatap Devara dengan tatapan sangat tajam. Tangan Ayra juga sampai mengepal kuat.
“Kalo kamu ga mau ngasih ya udah”jawab Ayra lalu Ayra pergi meninggalkan Devara
Melihat Ayra yang justru pergi, membuat Devara kelimpungan. Devara segera beranjak dari kursinya menyusul Ayra yang justru memilih turun dari bis.
Saat sudah dekat dengan Ayra, Devara segera menarik pergelangan Ayra, membuat Ayra menoleh ke arah Devara. Ayra kaget melihat Devara yang kini memegang pergelangan tangannya.
“Kamu mau apa? Lepasin”pinta Ayra sambil mengibaskan tangan Devara kasar.
“Kamu mau kemana?”tanya Devara
“Aku mau ganti bus. Kan bus nya udah penuh, ngapain aku disitu”jawab Ayra enteng.
“Naiklah”ucap Devara sambil menggerakkan kepalanya memberi tanda supaya Ayra naik ke dalam bus.
Ayra mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Devara.
“Kalo aku naik, terus aku duduk dimana? Di lantai?”tanya Ayra
“Ada apa ini? Kenapa kalian tidak segera duduk di bus?”tanya pak Anton yang melihat Ayra dan Devara yang tak juga masuk bus.
“Bus nya udah penuh pak..saya mau ganti bus aja”jawab Ayra
“Ga kok pak..masih ada satu kursi kosong”jawab Devara pada pak Anton
“Nih anak kelakuannya perasaan makin aneh..tadi katanya ga mau ngasih kursi itu buat aku. Sekarang bilang kursinya kosong. Nih anak maunya apa sih? Heran deh”gerutu Ayra dalam hati sambil menatap Devara heran
“Tuh kursinya masih kosong..kamu naik sekarang Ayra”perintah Pak Anton
“Tapi Pak…”
“Udah naik aja”pinta Devara pada Ayra membuat keduanya saling bertatapan.
“Iya..naik saja. Sebentar lagi kita berangkat. Nanti kalian kesiangan kalo ga segera berangkat”pinta Pak Anton
“Baik Pak”jawab Ayra menurut sambil menatap Devara dengan kesal
Sementara Devara yang ditatap Ayra masih memasang wajah datar.
Begitu Ayra berjalan masuk ke dalam bis, Devara segera menyusulnya di belakang Ayra sambil tersenyum penuh kemenangan.
Ayra duduk di sebelah jendela di samping Devara. Bisa ditebak sejelek apa mood Ayra yang sudah dikerjai Devara. Ayra juga sengaja duduk agak menjauh dari Devara sambil menatap ke arah jendela.
Setelah semua siswa komplit akhirnya bis pun berangkat satu per satu meninggalkan sekolah menuju lokasi camping.
“Ayo anak-anak foto dulu”pinta Pak Anton yang juga duduk di bis yang sama dengan Ayra dan Devara
Pak Anton berdiri di tengah deretan kursi lalu memberi aba-aba pada semua siswa untuk bergaya di depan kamera.
“Ayra..agak mendekat. Kamu ga keliatan”pinta Pak Anton pada Ayra
Ayra menurut saja dengan perintah Pak Anton, membuat Ayra terpaksa mendekat ke arah Devara.
“Oke siap..satu..dua..tiga..cekrek”
Pak Anton sengaja mengambil beberapa foto untuk dokumentasi sekolah. Bahkan Pak Anton memfoto beberapa siswa dari dekat.
Sepanjang perjalanan Ayra memilih menatap keluar jendela. Membuat Devara hanya bisa melihat Ayra. Murid-murid yang duduk di kursi belakang malah asyik bernyanyi dengan iringan gitar. Suasana benar-benar meriah. Namun dua manusia yang duduk bersebelahan di kursi depan justru saling terdiam.