
Di kamar mandi,
“Hoek..hoek..”
Ayra mulai memuntahkan air dalam perutnya. Bunda pun ikut masuk ke dalam kamar mandi dan mengelus pelan punggung putri kesayangannya.
Melihat sang cucu yang muntah-muntah, spontan membuat hati kakek Arya bergemuruh dengan hebat. Kakek marah besar. Kakek langsung berteriak memanggil asisten rumah tangganya.
“Biii..bawa sapu kemari”teriak sang jenderal
Bi Tum yang mendengar panggilan sang majikan langsung menghampiri majikannya sambil membawa sapu yang diminta kakek Arya.
“Ini tuan sapunya”jawab bi Inem dengan terburu-buru.
Ayah dan Devara yang fokus mengkhawatirkan Ayra tak terlalu memperdulikan kakek yang saat ini berjalan dengan penuh amarah sambil memegang sapu ditangannya. Di genggamnya dengan sangat erat pegangan sapu saking emosinya.
Tiba-tiba,
“Plak”
“Aduh” Devara mengaduh kesakitan setelah merasakan sesuatu yang keras mengenai pantatnya.
“Dasar bocah kurang ajar!”umpat kakek penuh emosi.
Devara spontan menoleh ke arah kakek Arya yang sudah memukulnya dan bersiap memukul lagi. Devara pun berusaha menghindari pukulan kakek.
“Kakek kenapa? Memangnya aku salah apa?”seru Devara sambil berlari menghindari pukulan kakek.
Kakek terus menghujamkan sapunya ke arah Devara yang berlarian mengelilingi rumah lantai bawah.
“Kemari kau bocah nakal! Aku akan memberimu pelajaran”gertak kakek
Ayah Aldi yang bingung dengan kemarahan sang Ayah, berusaha menenangkan sambil ikut berlari mengejar keduanya. Devara dan kakek berlarian ke sana kemari mengelilingi rumah megah yang luas itu.
“Aauww..sakit kek”teriak Devara kesakitan saat sapu berhasil mengenai tubuhnya.
“Jangan lari kamu! Kemari!”bentak kakek
“Ga mau! Kalo aku kesitu kakek tetap akan memukulku”sahut Devara sambil terus berusaha menghindari pukulan kakek.
Tangannya terus mengusap beberapa bagian tubuhnya yang sudah terkena pukulan “sapu terbang” kakek.
“Apa kakek sudah gila? Kenapa dia terus berteriak dan memukuliku?”gumam Devara dalam hati
Sesekali Devara berlindung di balik tubuh Ayah. Kelakuan keduanya benar-benar membuat seisi rumah bingung.
“Ayah..tenang dulu. Ini sebenarnya ada apa? Kenapa Ayah marah pada Devara?”tanya Ayah Aldi di sela-sela melerai “penganiayaan” sang Ayah pada calon menantunya itu.
Nafas kakek terengah-engah. Matanya terbelalak sempurna. Hatinya bergejolak hebat setelah mendengar cucunya muntah-muntah.
“Kau tanya kenapa? Bocah nakal itu sudah kurang ajar! Aku harus memberinya pelajaran”bentak kakek
“Kakek jawab dulu salahku apa? Kenapa kakek tiba-tiba memukulku?”tanya Devara
Saking emosinya, kakek tak menghiraukan pertanyaan Devara. Kakek terus mengejar Devara sambil mengayunkan sapu miliknya. Devara yang takut dengan kemarahan kakek, terus berusaha menghindari kakek. Jadilah keduanya berlarian seperti anak kecil. Mereka berlari di sekelliling ruangan lantai 1 yang memang luas.
“Wah..kakek tua itu hebat juga. Dia tak kelihatan lelah mengejarku”gumam Devara dalam hati
“Anak kurang ajar! Beraninya dia melakukan itu pada cucuku! Jangan sebut namaku Arya Subrata kalo aku tak berhasil memberi pelajaran padamu”gerutu kakek dalam hati penuh emosi
Sementara itu di kamar mandi, Ayra terus memuntahkan air dalam perutnya sampai tak tersisa.
“Hoek"
"Hoek”
“Hoek"
"Hoek”
Ayra terlihat pucat. Bunda mengusapkan minyak kayu putih di beberapa bagian tubuh Ayra untuk menghangatkannya dan untuk mengurangi efek mual yang tadi dirasakan Ayra.
“Gimana sayang? Kamu udah mendingan?”tanya Bunda
Ayra mengangguk pelan. Sayup-sayup terdengar keributan di luar. Ayra mengerutkan dahinya begitu mendengar suara keributan di ruang tamu,
“Ada apa sih bunda? Kok ada ribut-ribut di luar?”tanya Ayra dengan suara yang lemah
“Bunda juga ga tau. Kita lihat yuk!”ajak Bunda sambil memapah Ayra keluar kamar mandi.
Ayra dan Bunda pun keluar dari kamar mandi. Begitu sampai di ruang utama lantai satu, Ayra dan Bunda kaget melihat kakek yang mengejar Devara dengan sapu. Sementara Devara terus berlari menghindari pukulan sang kakek. Ayah Aldi juga sibuk melerai keduanya.
“Ay”
Ayra yang melihat pemandangan sang kekasih “dianiaya” sang kakek pun berusaha mendekat untuk melindungi dan menyelamatkan Devara. Bunda berusaha menahan Ayra namun Ayra keburu menjauh. Ayra berusaha mendekati kakek Arya.
“Kakek..ada apa ini? Kenapa kakek marah-marah pada Devara?”tanya Ayra sambil memegang lengan kakek Arya.
Kakek yang sedang dikuasai amarah tak menghiraukan Ayra. Begitu merasakan ada seseorang yang memegang lengannya kakek langsung menoleh dan hendak memukul orang yang berusaha menghentikannya.
Ayra kaget ketika sapu kakek justru terayun ke arahnya. Ayra langsung memejamkan matanya karena terlambat baginya untuk menghindari pukulan kakek. Bunda terlihat menutup mulutnya saking kagetnya dengan mata yang terbelalak.
Tiba-tiba,
“Krak”
Sapu patah menjadi dua. Semua orang di ruang tamu seakan menahan nafasnya saat melihat Devara yang melindungi tubuh Ayra, dengan satu tangannya menahan sapu kakek sekuat tenaga hingga akhirnya sapu milik kakek malah patah menjadi dua.
“Dev..kau tak apa-apa nak?”tanya Bunda kuatir
“Ayra..Devara..kalian baik-baik saja”tanya Ayah tak kalah kuatir
Ayra membuka matanya begitu merasakan seseorang memeluk tubuhnya. Ketika Ayra mendongakkan kepalanya, dilihatnya Devara yang sudah memeluk tubuhnya dengan senyum terukir di wajah tampannya.
“Dev”
Ayra menatap sang kekasih dengan penuh kekhawatiran terpancar di matanya
“Kau tak apa-apa kan?”tanya Devara
“Aku baik-baik saja”jawab Ayra
“Maaf kek..sapu kakek jadi patah. Aku akan menggantinya nanti”ucap Devara pada kakek Arya
Mereka berlima kemudian berjalan kembali ke ruang tamu setelah emosi di hati kakek mereda. Ayra menoleh ke arah kakek Arya dengan tatapan penuh kemarahan.
“Kakek..apa maksud kakek memukuli Devara seperti itu?”tanya Ayra sambil menahan emosinya.
“Aku hanya ingin memberi pelajaran pada bocah nakal itu”jawab kakek Arya sambil menatap tajam ke arah Devara.
Devara menggenggam tangan Ayra untuk menenangkannya.
“Memangnya Devara salah apa sama kakek?”tanya Ayra
“Bukankah dia sudah menghamilimu?”tanya kakek Arya
“APAA?”
Semua orang terkejut dan berteriak hampir bersamaan dengan mata yang terbelalak. Ayra dan Devara saling bertatapan. Ayah dan Bunda juga saling bertatapan mendengar pertanyaan kakek.
“Hamil? Emang kapan aku menghamili Ayra?”gumam Devara dalam hati
“Siapa bilang Ayra hamil kek?”tanya Ayra bingung
“Itu tadi kamu muntah-muntah. Bundamu juga bilang tadi di perjalanan kamu juga mengeluh pusing”jawab kakek santai
Ayra menghela nafasnya perlahan.
“Ya ampun, kakek..itu karena aku belum sarapan sebelum kemari. Aku Cuma masuk angin. Aku ga hamil kek”jelas Ayra.
“Bagaimana kakek bisa percaya sementara kalian di kota S sudah tinggal satu atap?”tanya kakek Arya.
“Ayah..ini semua hanya salahpaham. Mereka memang tinggal satu rumah, tapi mereka tidur di kamar yang berbeda dan di lantai yang berbeda juga”jawab Ayah Aldi.
“Kenapa kau bisa seyakin itu padahal kau tak tinggal bersama mereka?”tanya kakek masih tak percaya.
“Kakek..aku sudah berjanji pada Ayah untuk menjaga Ayra”ucap Devara mencoba meyakinkan.
“Aku tetap tak mempercayaimu. Kamu masih muda. Bisa saja kalian khilaf dan melakukannya”
“Kakek?”seru Ayra emosi karena kakek sudah menyangsikan dirinya dan Devara.
“Aku bisa menjaga diriku. Kenapa kakek malah menyangsikan aku juga? Aku kecewa pada kakek”ucap Ayra dengan hati yang kecewa
“Bukan kakek menyangsikanmu tapi kalian sama-sama masih muda dan sebentar lagi menikah, kakek takut kalian melewati batas sebelum disahkan dalam ikatan suci pernikahan”
“Baiklah! Kalo kakek tidak percaya, sekarang juga aku panggilkan dokter keluargaku supaya kemari dan memeriksa Ayra, bagaimana?”tantang Devara
“Dev..aku kan ga hamil. Kenapa aku mesti diperiksa dokter?”bisik Ayra
“Ini supaya kakek percaya kalo kita selama ini tak pernah melewati batas”jawab Devara
“Bunda rasa itu tidak perlu”jawab Bunda
“Iya..Ayah juga rasa begitu”ucap Ayah setuju dengan pendapat Bunda
Ayah dan Bunda sangat mempercayai Ayra. Bagi keduanya, janji Ayra untuk tidak melewati batas antara dirinya dan Devara adalah janji yang dijunjung tinggi oleh Ayra. Papa dan Mommy Devara juga dulu menjamin Devara tidak akan melakukan sesuatu yang melampui batas, meskipun keduanya sudah bertunangan. Papa dan Mommy juga berjanji jika sampai mereka berdua melampui batas maka pernikahan tidak akan dilangsungkan. Itu sebabnya Ayah dan Bunda yakin Devara dan Ayra tidak mungkin melakukan “itu”.
“Aku setuju. Bawa doktermu kemari!”sahut kakek
Semua orang terkejut dengan jawaban kakek Arya.
“Baiklah! Aku telpon beliau supaya kemari”jawab Devara
Devara segera melakukan panggilan telepon pada dokter keluarganya. Tiga puluh menit kemudian, dokter Jhon datang dan mulai memeriksa Ayra. Sang dokter memeriksa dengan penuh konsentrasi. Karena beliau harus memberikan diagnosa yang tepat.
Setelah memeriksa Ayra, dokter menemui Devara yang berada di ruang tamu diikuti oleh Ayra dan sang Bunda.
“Bagaimana keadaan cucu saya? Apa dia hamil?”tanya kakek Arya tiba-tiba
“Kakek”
Dokter Jhon yang awalnya heran karena mendapat panggilan telepon mendadak dari Devara, begitu mendengar pertanyaan kakek Arya, mulai paham kenapa dirinya dipanggil. Dokter Jhon tersenyum dan menatap Devara.
“Saya sudah periksa keadaan nona, dan keadaannya baik-baik saja”jawab Dokter
“Kau belum jawab pertanyaanku dok, apa cucuku sedang hamil?”tanya kakek tak sabaran.
Devara dan Ayra menghela nafasnya mendengar kakek yang masih juga penasaran dengan “kehamilan” Ayra.
“Nona hanya masuk angin biasa. Mungkin karena kecapekan. Nona hanya butuh istirahat. Saya sudah memberi beberapa vitamin dan suplemen kesehatan untuk menambah stamina nona”jelas dokter Jhon
Setelah menjelaskan keadaan Ayra sebenarnya, dokterpun pamit.