Falling In Love With Trouble Maker

Falling In Love With Trouble Maker
Friendzone


Daniel melirik beberapa kali pada gadis cantik yang duduk di sampingnya dengan raut wajah penuh kekhawatiran melihat gadis itu terus membisu sepanjang perjalanan menuju rumah kediaman Devara. Akhirnya Daniel yang memulai pembicaraan.


“Apa kau baik-baik saja Nad?”tanya Daniel


“Oh..iya..aku baik-baik saja”jawab Nadine sambil tersenyum


“Felix tidak pernah mengganggumu lagi kan?”tanya Daniel lagi


“Tidak. Dia tak pernah menghubungiku lagi sejak dia pindah ke Melbourne”balas Nadine.


“Syukurlah”timpal Daniel


Keheningan kembali menyeruak di dalam mobil. Daniel dan Nadine tenggelam dalam pikiran masing-masing. Bahkan Nadine tampak sedang melamun. Tatapannya lurus ke depan namun pikirannya melayang tak tentu arah. Kesedihan menelusup perlahan di hati Nadine mengingat kembali kenangan masa lalunya bersama Felix.


“Apa kau tahu Dan? Sejak kejadian di hotel waktu itu, aku terus menyalahkan diriku karena sudah mengubah Felix menjadi lelaki jahat seperti sekarang”ucap Nadine mencoba tegar.


“Kenapa kau mesti menyakiti dirimu sendiri? Jelas-jelas itu kesalahannya. Semua itu bukan kesalahanmu” ujar Daniel mencoba menenangkan Nadine.


“Tapi.. jika saja waktu itu aku membalas perasaannya, mungkin dia takkan seperti sekarang”ucap Nadine dengan suara bergetar menahan tangis.


Matanya mulai berkaca-kaca. Airmatanya sudah menggenang di pelupuk matanya.


“Tenanglah! Semua itu bukan salahmu. Jangan buang-buang airmatamu untuk lelaki yang tak bisa menghargaimu” ucap Daniel semakin membuat hati Nadine sedih.


Nadine malah menangis mendengar ucapan Daniel. Daniel yang bingung mendengar suara tangisan Nadine, akhirnya menepikan mobil Devara. Daniel segera melepas sabuk pengamannya, dan memeluk Nadine. Gadis itu sangat rapuh saat ini. Gadis yang selalu memberinya perhatian lebih itu, yang sangat menyukainya sejak dulu, yang diakuinya “hanya sahabat” sedang sangat sedih sekarang.


Daniel memeluk tubuh mungil Nadine yang terus terisak seiring kesedihan dalam hatinya. Daniel menepuk pelan punggung Nadine untuk menenangkan hatinya.


"Sudahlah.. jangan menangis lagi!" ucap Daniel lembut


Nadine menangis selama beberapa saat menumpahkan kesedihan dalam hatinya karena merasa sudah ikut andil dalam kenakalan Felix di masa lalu. Daniel terus saja berusaha menenangkan Nadine. Hatinya ikut sedih melihat gadis yang diakuinya sebagai "sahabat baik", kini terisak dalam tangis yang terasa menyayat hati.


Tak jauh dari tempat Nadine dan Daniel berada, seseorang yang berada di atas motor besarnya menatap tajam ke arah dua sahabat yang sedang berpelukan itu. Dialah Felix. Lelaki itu tampak mengepalkan tangannya melihat adegan kedua sahabat itu. Felix ternyata masih menyukai Nadine. Bagi Felix, Nadine adalah cinta pertamanya.


"Brummm... brummmm"


Felix akhirnya memilih meninggalkan Nadine dan Daniel dengan perasaan terluka dan dendam yang menyala-nyala di hati.


*


*


*


*


Devara dan Ayra pun akhirnya memilih pulang ke rumah Devara. Sepanjang perjalanan Ayra berpikir keras untuk menyatukan Daniel dan Nadine. Melihat Ayra yang membisu namun dengan raut wajah serius, membuat Devara yang sedang menyetir beberapa kali melirik kearah Ayra.


“Kau sedang memikirkan apa?”tanya Devara sambil menoleh sepintas pada Ayra.


“Ah..tidak. Bukan apa-apa”kelit Ayra.


“Jangan bohong!”ucap Devara tegas.


"Apa dia punya indera keenam? Kenapa dia selalu tahu apa yang aku lakukan?" gumam Ayra dalam hati penuh keheranan sambil menatap tajam pada lelaki tampan di sampingnya.


“Aku hanya berpikir...Nadine dan Daniel sudah waktunya kita bantu. Menyatakan perasaan mereka masing-masing. Kasihan mereka berdua terjebak dalam persahabatan seperti sekarang”ungkap Ayra.


“Jangan macam-macam!  Biarkan saja mereka menyelesaikan masalah mereka. Kau tak usah ikut campur”ujar Devara


“Tapi kenapa? Kau tak mau membantu mereka?”tanya Ayra


“Biarkan mereka menyadari perasaan dalam hati mereka. Kau tak bisa memaksa mereka mengakui perasaan mereka jika mereka memang belum siap kehilangan persahabatan mereka selama ini”jelas Devara


“Kau egois!!"ucap Ayra kesal.


Ayra membuang muka dan memilih memandang ke arah jendela mobil di sampingnya dengan perasaan jengkel.


“Kau mau apa?”tanya Ayra sambil mengernyitkan dahinya melihat Devara mendekatkan tubuhnya ke arah Ayra.


“Kau bilang aku egois? Kalau aku egois, aku pasti tak kan melepaskanmu saat kita di resort kemarin” jawab Devara dengan senyum nakal tersungging di wajah tampannya. Sambil memegang tengkuk Ayra.


Ayra kaget. Matanya terbelalak sempurna. Tak mungkin Devara akan menciumnya di tempat umum seperti sekarang. Walaupun mereka berada dalam mobil tapi di luar sana, banyak orang yang berjalan di trotoar.


“Hehehehe..maaf..maaf..aku tarik lagi ucapanku”ucap Ayra sambil mendorong pelan tubuh besar Devara dari dirinya.


Devara pun memakai lagi sabuk pengamannya. Lalu mengemudikan mobilnya menuju rumahnya.


“Kenapa dia selalu melakukan itu? Membuat jantungku seakan mau melompat keluar. Ini benar-benar tak baik untuk kesehatan jantungku. Dan kenapa dia terlihat sangat tampan? Sadar Ayra..sadar!!”gerutu Ayra merutuki kejadian barusan saat Devara hendak menciumnya.


Sampai di rumah Devara,


Nadine dan Ayra memilih berada di satu kamar di sebelah kamar Devara. Sementara Devara dan Daniel tidur di kamar Devara. Sebenarnya ada banyak kamar di rumah Devara tapi mereka memilih bersama.


Malam itu, karena belum merasa mengantuk, mereka berempat memutuskan menonton film di ruang bioskop pribadi milik Devara. Ruangan dengan nuansa homey dengan sofa bed atau sofa semi tempat tidur yang dilengkapi dengan selimut menambah nyaman penonton yang menyaksikan bioskop mini di ruangan itu. TV layar lebar yang sangat besar dilengkapi fasilitas teknologi sistem audio dari Dolby Laboratories. Dilangit-langit ruangan itu, dipercantik dengan desain luar angkasa. Membuat siapapun yang berada dalam ruangan itu merasa betah menonton disana.


Mereka menonton sebuah film Thailand bergenre komedi romantis berjudul "Friendzone". Kesukaan Ayra. Awalnya Devara ogah menonton film seperti itu, karena Devara lebih menyukai film bergenre sci-fi atau film action. Namun karena Ayra terus memasang wajah cemberut, lagi-lagi Devara tak tega melihat Ayra cemberut seperti itu.


"Kita nonton yang lain aja"pinta Devara pada Ayra


"Kenapa? Kamu ga mau? Ini film nya bagus lho"ajak Ayra pada Devara dengan memasang wajah imut.


"Kenapa kau selalu memasang wajah imut itu? Kau tahu benar kelemahanku"gumam Devara dalam hati


Devara yang awalnya tak tertarik, begitu menonton film itu ikut terbawa suasana. Mereka berempat tertawa bersama saat adegan komedi disuguhkan pemain film tersebut. Dan ketika adegan romantic yang diperlihatkan pemain utama benar-benar membius penonton yang melihatnya. Membuat Ayra dan Devara tersipu malu melihat adegan romantis kedua pemain. Nadine dan Daniel juga tersipu malu melihatnya. Beberapa kali keduanya saling mencuri pandang.


Secara garis besar film itu menceritakan perjalanan


cinta dua anak manusia berlainan jenis yang terjebak dalam hubungan persahabatan selama hampir sepuluh tahun lamanya. Sangat mirip dengan hubungan yang terjalin antara Daniel dan Nadine selama ini.


"Apa Ayra sengaja menonton film ini untuk memanas-manasi aku dan Daniel?" gumam Nadine dalam hati sambil menatap Ayra.


"Kenapa Nad?" tanya Ayra saat menyadari tatapan penuh tanda tanya di mata Nadine.


"Ah.. enggak.. ga ada apa-apa"kelit Nadine bohong


Ayra hanya tersenyum, karena niatnya untuk memanas-manasi kedua sahabatnya sepertinya berhasil. Terbukti sepanjang menonton film itu, Nadine dan Daniel sering kali terlihat mencuri pandang satu sama lain.


Devara yang duduk tepat di samping Ayra, mendekatkan tubuhnya sambil berbisik pada Ayra.


"Kau sengaja memaksa menonton film ini karena mereka berdua kan?" bisik Devara


Ayra yang ketahuan memilih mengungkapkan kebenarannya pada sang kekasih.


"Tau aja"jawab Ayra sambil tersenyum manis pada Devara.


"Dasar gadis nakal"ucap Devara sambil mengacak-acak rambut Ayra saking gemasnya


" Haishhh.. jangan diacak-acak Dev"pinta Ayra sambil mendengus kesal karena rambutnya jadi berantakan karena ulah Devara.


Ayra menjauhkan tangan Devara dari kepalanya sambil merapikan rambutnya dengan tangan. Keempatnya sangat menikmati film yang meskipun ringan dan sederhana namun bisa membuat perasaan ikut terbawa suasana.


"Apa aku dan Daniel akan selamanya terjebak dalam friendzone?"gumam Nadine dalam hati sambil menatap wajah tampan Daniel.


Daniel yang bertatapan dengan Nadine menyunggingkan senyum di wajahnya yang tampan.


"Apa aku bisa memulai hubungan yang baru dengan Nadine? Tapi aku tak ingin kehilangan dia"gumam Daniel dalam hati sambil menatap mata indah Nadine.


Setelah menonton film itu, membuat Daniel dan Nadine mulai memikirkan kelanjutan hubungan mereka, karena keduanya sama-sama terjebak dalam friendzone ini lebih dari lima tahun lamanya. Sudah waktunya bagi mereka mengakhiri hubungan itu. Namun keduanya memilih menanti saat yang tepat. Saat keduanya benar-benar sudah siap.


Akhirnya mereka berempat pun kembali ke kamar masing-masing setelah menonton film itu.