
Di sela-sela mencuci piring, Devara yang memeluk Ayra dari belakang sesekali mencium leher dan bahu Ayra, membuat sang istri kegelian. Ayra yang kesal beberapa kali harus menghentikan aktivitasnya yang sedang sibuk mencuci piring.
“Udah dong Dev..aku ga bisa nyuci piringnya”pinta Ayra sambil mengerucutkan bibirnya menghadap sang suami yang usil dan terus menjahili dirinya.
“Mmuach”
Devara yang melihat bibir Ayra yang sedang manyun malah mengecupnya secepat kilat. Membuat Ayra terbelalak.
“Dev”seru Ayra menahan emosi
“Salah sendiri bibirnya ga dikondisikan. Malah manyun gitu”ucap Devara santai
“Haissh”
“Hahahaha”
Devara malah tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Ayra yang kesal pada dirinya.
“Udah belum sih nyuci piringnya? Lama banget”keluh Devara
“Kamu sih gangguin dari tadi. Makanya ga selesai-selesai”protes Ayra.
Devara langsung menarik tangan Ayra.
“Dev..aku belum selesai”
“Biar dilanjutin pelayan-pelayanku”ucap Devara
Devara mengajak Ayra meninggalkan dapur. Devara kuatir istrinya akan kedinginan karena keduanya hanya mengenakan jubah mandi. Devara mengajak Ayra untuk kembali ke kamar.
"Apa kau ga kedinginan? Aku tak mau kamu masuk angin. Kita ke kamar sekarang"ajak Devara
"Baiklah"sahut Ayra
Ayra menurut saja dengan ajakan Devara. Devara dan Ayra saling bergandengan tangan sambil menatap mata pasangannya dengan penuh cinta.
Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan Nanny.
“Maaf tuan muda”ucap Nanny
“Ada apa Nan?”tanya Devara sambil menatap asisten rumah tangga yang bertugas mengurus resort miliknya.
“Tuan Arga menelpon Anda”jawab Nanny sambil menyerahkan hp Devara.
Devara menganggukkan kepalanya memberi tanda Nanny untuk meninggalkan dirinya dan Ayra. Tangan kiri Devara masih menggandeng tangan Ayra.
“Ada apa kak?”tanya Devara begitu Arga menerima telponnya.
“Aku hanya ingin mengingatkan helicopter yang akan menjemput kalian akan datang kira-kira jam 16.00”urai Arga
“Terimakasih kak sudah mengingatkan”ucap Devara tulus.
“Bagaimana dengan persiapan resepsi pernikahan kami?”tanya Devara
“Semua sudah siap. Kalian tinggal menghadiri dan bersiap saja. Acara besok akan dilangsungkan lebih awal”jelas Arga
Devara mengernyitkan dahinya mendengar perubahan jadwal resepsi pernikahan dirinya dan Ayra.
“Kenapa begitu kak?”tanya Devara
“Bukankah kalian akan berbulan madu setelah acara? Aku majukan lebih awal supaya kalian bisa menikmati perjalanan bulan madu kalian”
“Terimakasih kak. Kakak memang selalu bisa diandalkan”ucap Devara berterimakasih pada kakak iparnya yang juga mantan asisten pribadinya.
“Apa kau akan pulang ke rumah dulu?”tanya Arga
“Tentu saja. Memangnya ada apa kak?”tanya Devara
“Bukan apa-apa. Nenek hanya ingin kalian menginap semalam di rumah sebelum kalian berbulan madu”
“Oh..sampaikan pada nenek aku akan menginap dan tidur di rumah. Aku ingin berkumpul dengan kalian semua sebelum berangkat bulan madu”pesan Devara
“Baiklah. Aku akan sampaikan pada nenek dan papa”sahut Arga.
“Apa itu Devara?”tanya Catherine di ujung telepon.
Arga menganggukkan kepalanya pada sang istri.
“Dev..segera pulang ya. Nenek ingin bertemu istrimu”ucap Catherine sambil mendekatkan suaranya di telepon.
“Memang ada apa kak?”
“Entahlah. Mungkin nenek udah kangen pada kalian”jawab Catherine santai
“Sampaikan pada nenek aku akan sampai di rumah kira-kira jam 17.30”
“Ada apa kak?”
“Bagaimana malam pertama kalian?”bisik Catherine pada sang adik melalui sambungan telepon
“Pertanyaan macam apa itu? Untuk apa aku ceritakan pada kakak”gerutu Devara pada sang kakak yang memang akhlakless.
“Sayang..jangan menanyakan urusan rumah tangga orang lain”tegur Arga pada sang istri.
“Maaf sayang..aku Cuma penasaran aja, hehehehe”sahut Catherine pada sang suami yang kelihatan tidak suka pada kelakuan sang istri.
“Oke Dev..kami tunggu di rumah ya? Jangan sampai kelelahan! Besok masih ada resepsi pernikahan. Jangan buat pengantin wanitanya kelelahan!”pesan Catherine pada Devara.
Devara menatap sang istri. Ayra tersenyum pada Devara.
“Benar juga..aku tak boleh membuat Ayra kelelahan. Besok acaranya pasti akan menguras tenaganya”gumam Devara dalam hati sambil menatap Ayra.
“Iya iya kak..aku tahu”jawab Devara dengan kesal.
“Sampai ketemu nanti malam Dev”sahut Catherine
“Iya”jawab Devara
Sedetik kemudian Devara menutup sambungan teleponnya dengan Catherine.
“Ada apa Dev? Kenapa wajahmu seperti itu?”tanya Ayra kuatir melihat wajah Devara yang kelihatan jengkel.
“Ah..bukan apa-apa. Kita kembali ke kamar”jawab Devara
Devara segera menggandeng Ayra dan mengajaknya ke kamar. Sepanjang perjalanan menuju kamar, Devara hanya diam. Membuat Ayra semakin kuatir melihat suaminya hanya diam setelah menerima telepon dari Arga.
Sesampainya di kamar, Devara mengajak Ayra ke ruang ganti.
“Berpakaianlah di dalam. Aku akan berpakaian di luar”pinta Devara
Ayra menganggukkan kepalanya. Devara menepati janjinya dengan berpakaian di luar kamar ganti. Sementara Ayra sibuk mengamati pakaian yang terpajang di ruang ganti. Bukan tanpa alasan Ayra mematung di sana. Karena Ayra sedikit syok melihat deretan lingerie warna warni yang terpajang di lemari. Lingerie seksi dengan bahan transparan itu membuat Ayra bergidik ngeri.
“Pakaian macam ini? Kenapa tipis sekali?”gumam Ayra dalam hati
Tangannya memegang kain-kain tipis itu.
“Benarkah dia ingin aku memakai pakaian seperti ini? Bahkan tak ada yang bisa ditutupi dengan kain transparan ini..hhiiiiii”
Ayra mengeliatkan tubuhnya. Karena bayangan dirinya memakai lingerie super tipis itu, berhasil membuat dirinya ketakutan dan panas dalam.
“Kenapa ga segera berpakaian?”tanya Devara yang sudah berpakaian melihat Ayra masih mematung di dalam ruang ganti.
Devara memeluk Ayra dari belakang.
“Ini apaan sih Dev?”tanya Ayra dengan nada kesal
Devara menyunggingkan senyum nakalnya.
“Kenapa? Gaun ini bagus sekali”goda Devara.
“Bagus apanya. Tipis banget gini. Kamu beneran mau aku pakai gaun seperti itu?”tanya Ayra.
Devara membalik tubuh Ayra hingga wanitanya menghadap dirinya.
“Tentu saja. Kamu pasti kelihatan seksi dengan gaun itu”goda Devara dengan senyum nakal yang terus tersungging di wajah tampannya.
“What?! Seksi apanya?”gerutu Ayra dalam hati
“Kainnya begitu tipis. Sama aja ga pake baju kan Dev?”gerutu Ayra dengan nada kesal.
“Kenapa kamu mesti sewot sih sayang? Bukankah aku sudah melihat semuanya?”goda Devara
Wajah Ayra langsung memerah seperti kepiting rebus menahan malu.
“Aku ga mau pakai. Pokoknya aku ga mau pakai gaun itu”ucap Ayra dengan tegas.
“Ayolah sayang. Pakailah gaun itu di depanku”pinta Devara dengan memelas
“No way..aku ga mau. Aku malu Dev”
“Kenapa harus malu?”
“Iihhh Dev..kainnya terlalu tipis”
Mereka pun berdebat hanya karena masalah lingerie seksi itu. Ayra bersikukuh tidak mau memakai gaun transparan itu sementara Devara ngotot Ayra harus memakainya saat mereka akan tidur.
Karena tak juga menemukan jalan keluar, akhirnya Devara mengalah. Hanya untuk malam ini. Karena keduanya akan kembali ke kota XX nanti sore. Devara tak ingin momen kebersamaannya dengan Ayra mesti terganggu hanya karena masalah gaun malam super seksi itu.