Falling In Love With Trouble Maker

Falling In Love With Trouble Maker
Ide Gila Devara


Karena persiapan pernikahan yang sangat singkat, membuat keluarga besar Ayra dan Devara bahu-membahu mempersiapkan acara besar dua sejoli yang saling mencintai, Devara dan Ayra. Karena bagi keluarga Ayra, acara ini adalah acara besar, terlebih Ayra adalah putri tunggal maka keluarga besar Ayra yang memegang kendali untuk semua acara.


Sebenarnya keluarga Devara sudah menawarkan untuk menyerahkan segala keperluan pernikahan pada keluarga Devara, namun Ayah Aldi menolak dengan halus.


“Terimakasih Devara, tapi Ayah ingin untuk acara pernikahan kalian, keluarga kita yang akan menghandle-nya. Tapi kalo keluargamu mau membantu, kami persilahkan. Tapi tetap semua keputusan harus atas sepengetahuan kami. Karena Ayra adalah putri Ayah satu-satunya. Kau bisa mengerti kan?”tanya Ayah Aldi


“Kalo itu keinginan Ayah..aku akan menuruti keinginan Ayah”ucap Devara


“Satu yang Ayah pinta darimu Dev, jaga putri Ayah. Bahagiakan dia. Cintai Ayra seperti kau mencintai dirimu sendiri”pinta Ayah


“Itu pasti Ayah”jawab Devara tegas.


Ayah tersenyum mendengar ucapan Devara. Karena sebentar lagi Ayra akan menjadi istri Devara, maka Ayah mempercayakan kebahagiaan Ayra pada Devara. Ayah menatap lekat lelaki muda tampan yang kini duduk bersamanya di teras rumah. Terbayang dalam ingatan Ayah, kenangan indahnya bersama putra sulungnya Aldo.


“Andai kau masih di sini, kau pasti akan bahagia melihat adik kesayanganmu akan segera menikah bersama lelaki yang dicintainya dan mencintainya”gumam Ayah dalam hati membayangkan sang putra.


Persiapan pernikahan yang terbilang singkat, hanya lima bulan saja membuat keluarga Ayra bekerja ekstra mempersiapkan semua keperluan. Sesuai kesepakatan antar dua keluarga besar, disepakati bahwa acara akad nikah akan dihandle sepenuhnya oleh keluarga Ayra sedangkan resepsi pernikahan akan dihandle oleh keluarga Devara. Keputusan ini diambil mengingat keluarga Devara adalah salah satu keluarga yang terpengaruh tidak hanya di Indonesia tetapi juga di kawasan Asia. Sehingga mau tidak mau, keluarga Ayra terpaksa menuruti permintaan keluarga Devara untuk menggelar acara resepsi di ballroom hotel milik mereka yang terkenal paling mewah dan paling megah di kota X.


Karena masih sibuk kuliah, maka Ayra tidak bisa membantu banyak. Apalagi selama kuliah, Devara selalu mendampingi “calon istrinya” itu. Devara sengaja mengambil cuti kuliah, untuk mempersiapkan perhelatan terbesar dalam hidupnya. Devara ikut memantau semua persiapan acara. Dan seperti yang sudah bisa ditebak, Ayra dipaksa menginap di rumah kediaman Devara di kota S. Namun kali ini Madam O yang menemani mereka. Karena kak Arga harus menggantikan Devara mengurus perusahaan yang ada di Inggris.


Seperti biasa, Devara selalu setia menunggui Ayra yang sebentar lagi pulang kuliah. Dengan penampilannya yang nampak mencolok, Devara sekali lagi menjadi idola baru di kampus Ayra. Para kaum hawa yang kebetulan berpapasan dengan tuan muda itu selalu dibuat salah tingkah melihat ketampanan seorang Devara Alexander. Tak jarang mereka mengajak Devara berkenalan.


Ayra yang berjalan bersama Chacha sahabatnya setelah menyelesaikan perkuliahan, menatap dari kejauhan lelaki muda yang saat ini sedang dikerubuti beberapa cewek-cewek dari kampus Ayra. Mereka ingin mengajak Devara berkenalan. Beberapa mengajak Devara berfoto selfi.


“Bukannya itu cowokmu Ay?”tanya Chacha melihat Devara yang sedang dikerubuti cewek-cewek


Ayra memasang wajah juteknya melihat pemandangan “calon suaminya” yang sedang tersenyum dan bahkan tertawa bersama beberapa cewek cantik yang mengajaknya berkenalan dan berfoto selfi. Ayra bahkan mengerucutkan bibirnya, sementara tatapan matanya sangat tajam.


“Iya..itu cowokku. Lebih tepatnya..calon suamiku”jawab Ayra dengan penuh penekanan di kalimat terakhir yang diucapkannya.


“Hah? Apa Ay? Aku ga salah denger kan? Coba ulangi lagi”pekik Chacha tak percaya dengan indera pendengarannya sendiri


“Dia calon suamiku Cha”jawab Ayra dengan tatapannya yang tak berpaling sedikitpun dari Devara.


Sementara yang diliatin dari tadi tak menyadari kehadiran wanitanya yang sedang dibakar api cemburu.


“Ayo kita kesana”ajak Ayra sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


Ayra dan Chacha berjalan beriringan ke arah Devara. Saat berpapasan dengan beberapa cewek, yang adalah kakak tingkat Ayra, yang tadi sempat mengerubuti Devara, mereka pun menyapa Ayra dan memberinya selamat.


“Ay selamat ya”ucap salah seorang kakak tingkat Ayra


“Selamat? Selamat untuk apa kak?”tanya Ayra bingung


“Iya..selamat ya Ay..aku dengar kamu udah menikah”ucap kakak tingkat Ayra yang lain


“HAH? MENIKAH?”seru Ayra sambil membelakakkan matanya saking kagetnya


“Kata siapa kak aku dah nikah?”tanya Ayra penasaran


“Tuh..suami kamu yang bilang”ucap kakak tingkat Ayra sambil menunjuk ke arah Devara.


“Devara..apa-apaan kamu ini”gerutu Ayra dalam hati


Begitu kakak tingkat itu berjalan menjauh, Chacha segera menginterograsi sahabatnya.


“Lhoh Ay yang bener tu kamu udah nikah apa baru tunangan? Kok cowokmu bilang kalian udah nikah”tanya Chacha bingung.


Ayra memilih diam dan berjalan ke arah Devara untuk menuntut penjelasan. Devara yang baru asyik berbincang dengan beberapa orang yang mengerubutinya begitu melihat Ayra datang langsung tersenyum dengan lebar.


“Itu dia istriku”ucap Devara dengan tegas


Beberapa orang yang tadinya mengerubuti Devara langsung membelah begitu Ayra datang. Devara juga langsung menyambut kekasih hatinya itu sambil menarik tubuh Ayra agar semakin mendekat. Satu persatu ciwi-ciwi di kampus Ayra yang tadi mengerubuti Devara menjabat tangan Ayra dan memberinya selamat.


“Selamat ya Ayra”


“Terimakasih” ucap Ayra dengan senyum yang dipaksakan di bibirnya


Ayra menerima jabatan tangan semua ciwi-ciwi itu sambil sesekali menoleh pada Devara dengan mata yang membelalak karena marah dan kesal. Sementara Devara yang melihat Ayra kesal, hanya cekikikan saja.


Begitu semua orang sudah pergi, Devara langsung mengajak Ayra pulang.


“Ayo pulang!” ajak Devara


“Cha..aku pulang dulu ya?”pamit Ayra


“Oke..oke..nanti aku hubungi lagi”jawab Ayra


Devara mengandeng Ayra sampai ke mobil. Seperti biasa, Devara membukakan pintu mobil dan melindungi kepala Ayra agar tak terbentur. Di dalam mobil Ayra langsung mengenakan sabuk pengamannya. Sementara Devara berjalan memutar menuju pintu kemudi sopir.


“Kita pulang sekarang!”ajak Ayra sambil menatap tajam ke arah Devara yang sedang mengenakan sabuk pengamannya.


“Oke..let’s go”sahut Devara bersemangat.


Mobil melaju meninggalkan kampus Ayra dan memecah keramaian jalanan.


“Katakan padaku, apa yang tadi kamu lakukan?”selidik Ayra


Devara mengernyitkan dahinya.


“Ga ada”jawab Devara


“Bohong! Kenapa semua cewek-cewek tadi memberiku selamat? Sebenarnya apa yang sudah kamu katakan pada mereka?”tanya Ayra dengan menggebu-gebu.


“Oh itu..aku Cuma bilang kalo kamu istriku”jawab Devara dengan santai.


“APA?”pekik Ayra dengan suara lantang


“Bisa-bisanya kamu mengarang cerita seperti itu”ucap Ayra sambil memukul-mukul lengan Devara yang sedang fokus menyetir saking kesalnya.


“Hei..sakit Ay”ucap Devara merasakan lengannya yang sakit karena pukulan Ayra yang bertubi-tubi.


“Rasain!”sahut Ayra sambil menghela nafas dengan kasar.


“Ckittttt”


Devara langsung menepikan mobilnya ke tepi. Lalu sejurus kemudian langsung menghadapkan tubuhnya ke arah Ayra yang saat ini sedang dipenuhi kekesalan.


“Kenapa kamu mesti marah?”tanya Devara


“Dev..kita tuh baru tunangan. Kita belum resmi menikah. Bisa-bisanya kamu katakan pada semua orang kalo kita sudah menikah”sungut Ayra penuh emosi.


“Apa bedanya? Nanti juga kamu jadi istriku. Lagipula kita sudah tinggal serumah”balas Devara tak kalah sengit.


“Aku tinggal di rumahmu juga karena kamu yang maksa kan..Lagipula kita tidur di kamar yang berbeda. Di rumah juga ada Madam O”ucap Ayra


Devara menyunggingkan senyum nakalnya lalu mendekatkan tubuhnya ke arah Ayra membuat Ayra mengernyitkan dahinya dan sedikit menjauhkan tubuhnya dari Devara.


“Kenapa dia tiba-tiba mendekat? Kenapa dia tersenyum seperti itu”gumam Ayra dalam hati.


“Kau mau apa Dev?”tanya Ayra begitu Devara semakin mendekati tubuhnya tanpa sepatah kata terucap.


“Kita bisa mulai dengan tidur di kamar yang sama. Bagaimana? Kau mau mencobanya”ucap Devara dengan seringai nakal di bibirnya


“Dasar mesum! Menjauh sana..Jangan macam-macam kamu Dev”ucap Ayra sambil mendorong tubuh besar Devara supaya menjauh.


Ayra juga mengepalkan tangannya seolah hendak meninju Devara.


“Aku ga minta macam-macam. Cuma satu macam aja”goda Devara


“Udah ah..aku capek. Aku mau pulang”pinta Ayra sambil tersenyum mendengar godaan Devara yang bertubi-tubi padanya.


Devara menuruti permintaan Ayra untuk pulang ke rumah. Ayra tampak menggelengkan kepalanya mengingat kegilaan “calon suaminya” itu.


“Dasar cowok gila! Aku lupa betapa gilanya cowok ini”gumam Ayra dalam hati


Ayra lupa jika lelaki di sampingnya itu, kadang sedikit gila dengan segala tingkah lakunya.


“Dan aku sebentar lagi akan menjadi istri cowok gila ini..Apa yang sudah aku lakukan?”gumam Ayra lagi sambil senyum-senyum sendiri mengingat dirinya yang sebentar lagi akan menikahi Devara Alexander, cowok sinting gila tengil. Sang trouble maker yang sangat dicintainya itu.


"Dengan begini, tak akan ada lagi lelaki yang bisa mendekatimu" gumam Devara dengan seringai nakalnya setelah berhasil mengelabui orang-orang di kampus Ayra.


Devara sengaja berbohong tentang hubungannya dengan Ayra karena saat menunggui Ayra tadi Devara sempat mendengar beberapa lelaki yang adalah kakak tingkat Ayra, memuji-muji sosok Ayra. Hampir saja Devara melampiaskan kemarahannya mendengar lelaki lain memuji wanitanya. Namun tiba-tiba Devara mendapat ide gila dengan mengatakan bahwa dia dan Ayra sudah menikah. Dan rencana Devara berjalan dengan lancar dibantu ciwi-ciwi yang dari tadi mengganggunya dan mengajaknya berkenalan.


"Aku bisa manfaatkan mereka"gumam Devara dengan senyum nakal yang tersungging di wajah tampannya.


Devara yang biasanya acuh dan cuek saat diganggu ciwi-ciwi di kampus Ayra, akhirnya menanggapi keinginan mereka untuk berkenalan sekalian menyebarkan berita "pernikahan"nya dengan Ayra.