Falling In Love With Trouble Maker

Falling In Love With Trouble Maker
Terjebak Hujan


Di pinggir danau,


Ayra kini sudah sampai lokasi perahu sampan yang tadi siang ditemukannya.


“Untung masih ada di sini.. apa aku naik sekarang aja ya? Mumpung bulan purnama”gumam Ayra dalam hati


Ayra hendak melangkahkan satu kakinya menaiki perahu sampan, tiba-tiba


“Di sini kamu rupanya”ucap Devara yang berhasil menemukan keberadaan Ayra sambil tersenyum puas.


Ayra yang kaget karena mendengar suara Devara dari arah belakangnya, mendadak kehilangan keseimbangan. Hampir saja Ayra tercebur ke dalam danau. Devara yang melihat Ayra hampir tercebur, segera berlari ke arah Ayra lalu menarik tangan Ayra dengan kuat. Membuat Ayra tertarik ke belakang ke arah Devara dan menabrak dada bidang Devara.


“Aduh”Ayra mengaduh karena kepalanya menabrak dada bidang Devara dengan keras.


Ayra mendongakkan kepalanya menatap Devara sedang Devara juga menatap Ayra yang kini berada dalam pelukannya. Mata keduanya bertatapan dengan sangat dekat.  Keduanya bertatapan selama beberapa detik.


Deg..deg..deg..


Jantung keduanya berdetak tak karuan. Ayra sampai bisa mendengar detak jantung Devara yang berdetak sangat cepat. Ayra segera melepaskan dirinya dari pelukan Devara.


“Lepasin”pinta Ayra sambil menggerakkan tubuhnya dengan kuat sehingga Devara melepaskan pelukannya di tubuh Ayra.


“Ngapain malam-malam gini di sini? Jangan bilang kamu mau naik perahu sampan itu?”tebak Devara jitu


“Sialan! kenapa cowok ini mesti disini sih?”gerutu Ayra dalam hati.


“Apa? Ga lah..ngapain juga naik perahu itu”kelit Ayra bohong


“Terus tadi ngapain kakimu mau melangkah naik perahu?”goda Devara


“Itu..karena..itu..”Ayra tak bisa menjawab hingga terbata-bata


“Sial! Kenapa aku malah ketangkap basah cowok itu sih?”gerutu Ayra dalam hati


Devara tersenyum melihat Ayra yang terbata-bata karena tebakannya memang jitu. Devara yang tahu Ayra ingin naik perahu kemudian berjalan ke arah perahu sampan miliknya yang sudah lama ditinggalkan di danau itu. Devara dengan perlahan menaiki perahu sampan itu. Ayra mengerucutkan bibirnya karena rencananya yang ingin menikmati pemandangan danau malam hari sambil menikmati bulan purnama yang bersinar terang malam itu sudah gagal total karena kehadiran Devara. Ayra pun memilih kembali ke tenda. Ayra hendak membalik tubuhnya kembali ke lokasi camping.


“Kau mau naik?”tanya Devara


Ayra tampak berpikir sejenak. Lalu membalik tubuhnya ke arah Devara.


“Kamu cuma mau ngerjain aku lagi kan?”tanya Ayra


“Kali ini aku serius. Kalo mau, naiklah”ucap Devara sambil mengulurkan tangannya pada Ayra.


“Kamu ga bohong kan?”tanya Ayra memastikan


“Cerewet banget..mau naik ga?”gerutu Devara melihat Ayra masih menyangsikan niat baiknya.


“Ga usah marah juga kali”jawab Ayra sambil cemberut


Ayra pun melangkahkan kakinya hendak naik ke perahu. Karena perahu bergerak terus akhirnya Ayra menerima uluran tangan Devara. Devara menggenggam tangan Ayra dengan kuat supaya Ayra tidak jatuh. Dengan perlahan Devara menuntun Ayra naik ke perahu. Setelah berhasil naik ke perahu sampan, Ayra segera duduk. Sementara Devara yang mendayung sampan itu.


Keduanya duduk saling berhadapan. Karena tak kuat bertatapan dengan Devara yang entah kenapa selalu melihat ke arahnya, membuat Ayra memilih mengedarkan pandangannya ke sekitar danau buatan, yang disekelilingnya dihiasi lampu taman. Sehingga suasana malam di danau itu sangatlah romantic.


“Andai aku kesini dengan pacarku pasti sangat menyenangkan”gumam Ayra dalam hati sambil mendengus kesal karena yang ada di hadapannya justru musuh bebuyutannya.


Devara terus mendayung dengan tatapan matanya yang terus menatap wajah gadis cantik di hadapannya itu. Ayra menatap bulan purnama di atas langit yang bersinar terang hingga pantulan cahayanya jatuh di danau. Bulan purnama yang bulat sempurna. Membuat Ayra tanpa sadar tersenyum dengan indahnya.


“Cantiknya”ucap Ayra lirih sambil mendongakkan kepalanya menikmati bulan purnama yang bersinar terang di tengah langit malam.


“Iya cantik”ucap Devara sambil matanya terus menatap pemandangan indah di hadapannya.


Pemandangan seorang gadis cantik yang sangat tomboy yang duduk di hadapannya yang tersenyum dengan sangat indah. Ayra yang mendengar ucapan Devara menurunkan kepalanya lalu menatap Devara. Devara yang takut ketahuan sudah menatap Ayra akhirnya menatap ke pulau buatan yang ada tak jauh dari perahunya.


“Apa kau sering kesini?”tanya Ayra memecah keheningan di antara keduanya.


“Sudah lama aku tak kesini. Terakhir saat usiaku lima tahun”jawab Devara datar sambil ingatannya kembali pada kenangan masa lalunya di tempat itu.


“Oh ya? Apa kau kesini dengan keluargamu?”tanya Ayra lagi


“Dengan kakekku”jawab Devara singkat sambil terus mendayung


“Oo..kenapa kau tak kesini lagi? Kulihat disini pemandangannya sangat indah. Sangat cocok untuk piknik”ucap Ayra


“Karena…kakekku sudah meninggal”jawab Devara lirih


“Oh..maaf..aku tidak tahu”ucap Ayra tak enak hati karena ternyata kakeknya sudah meninggal


“Apa kau merindukannya setelah datang kemari?”tanya Ayra pelan-pelan karena takut menyinggung perasaan Devara


“Kenapa kau jadi ingin tahu tentang aku? Apa kau mulai menyukaiku?”goda Devara


“Hahaha..aku menyukaimu? Jangan mimpi. Aku tanya cuma basa-basi doang. Ga  dijawab juga ga papa”jawab Ayra ketus lalu menatap pulau buatan yang semakin di dekatnya.


Ayra merasa penasaran saat melihat ada cahaya putih dari arah pulau buatan.


“Ada apa itu di sana?”tunjuk Ayra ke arah cahaya putih di tengah pulau.


Devara yang melihat wajah penasaran Ayra kemudian menoleh ke arah yang ditunjukkan oleh Ayra.


“Ada apa?”tanya Devara karena tak melihat apa-apa.


“Di pulau itu, ada cahaya putih. Apa kau tak melihatnya?”tanya Ayra


“Tes..tes..tess”


Tiba-tiba Ayra merasakan ada tetesan air dari langit yang mengenai wajahnya. Ayra mulai menengadahkan tangannya untuk memastikan lagi. Devara yang mendayung juga mulai merasakan ada tetesan air yang mengenai tangannya.


“Masak hujan?”gumam Ayra dalam hati


Dan benar saja, dalam waktu beberapa detik, tetesan air itu semakin lama semakin banyak yang jatuh menjadi hujan gerimis.


“Bresssssss….”


“Oh tidak! Hujan..ayo kembali ke tempat kemah”pinta Ayra sambil menutupi kepalanya dengan kedua tangannya dari guyuran hujan


“Tidak bisa..terlalu jauh”seru Devara setengah panik


“Lalu kita mau disini sampai hujannya reda?”gerutu Ayra pada Devara karena hujan yang semakin deras.


Devara kemudian memilih mendekatkan perahu sampannya ke pulau buatan yang ada di tengah danau. Karena seingat dirinya, di tengah danau ada sebuah gubuk mungil yang dulu sering dikunjunginya bersama sang kakek.


“Ngapain kita kesini?”tanya Ayra dengan kesal


“Tentu saja berteduh..ayo turun”perintah Devara dengan tegas karena hujan yang semakin deras.


Mereka berdua pun turun dari perahu sampan lalu memasuki pulau buatan tersebut. Devara lalu berlari menuju gubuk yang letaknya ada di tengah pulau.


“Hei tunggu aku”seru Ayra yang tertinggal jauh oleh Devara


“Ahhh..menyusahkan saja!”gerutu Devara yang melihat Ayra lari dengan langkah kaki yang tertinggal jauh dari dirinya hingga membuat dirinya harus basah terkena hujan karena menunggu Ayra.


“Lambat sekali!” Devara langsung meraih tangan Ayra lalu menariknya lari menuju gubuk mungil.


“Kau mau apa? Lepaskan!”pinta Ayra melihat Devara yang sudah menggenggam tangannya


“Sudahlah jangan berisik!”seru Devara sambil menarik Ayra berlari bersamanya.


Karena langkah kaki Devara yang lebar membuat Ayra sedikit kewalahan mengimbangi langkah kaki Devara. Keduanya berlari memecah hutan buatan dengan satu tujuan, berteduh di gubuk mungil yang memang ada di tengah pulau.


“Kita mau kemana?”tanya Ayra di sela-sela pelarian mereka


“Ke gubuk yang ada di sana”jawab Devara sambil menunjuk sebuah cahaya putih di depan.


Sambil berlari, Ayra terus memperhatikan titik cahaya putih yang tadi membuatnya penasaran, kini semakin lama, semakin terlihat jelas. Rupanya itu cahaya lampu dari sebuah rumah kabin yang sangat indah.


Sampai di pelataran rumah kabin, Ayra segera mengibaskan tangannya dari Devara.


“Kau bilang ini gubuk?”sindir Ayra


“Tentu saja gubuk”jawab Devara sambil mencoba mencari kunci pintu rumah kabin miliknya yang biasanya di sembunyikan pengelola bumi perkemahan di bawah pot bunga.


“Ini dia”ucap Devara setelah menemukan kunci rumah kabin yang disebut Devara dengan sebutan gubuk.


Devara segera membuka pintu rumah kabin supaya mereka bisa berteduh di dalamnya. Setelah membuka pintu, Devara memberi isyarat pada Ayra dengan memiringkan kepalanya, dengan maksud meminta Ayra masuk ke dalam. Ayra yang seolah bisa membaca isyarat Devara segera memasuki rumah kabin yang nampak terang di bagian depannya, sementara bagian dalamnya masih gelap.


Devara segera mencari saklar lampu. Devara mencarinya sambil mengingat-ngingat letak saklar lampu, karena dirinya sudah sangat lama tidak mengunjungi rumah kabin alias gubuk itu.


“Di sini rupanya”ucap Devara lalu mulai menyalakan lampu rumah kabin itu.


“Ceklek”


Rumah kabin itu pun mulai terang karena lampu yang menyinari ruangan. Membuat Ayra langsung melongo melihat rumah kabin yang sangat jauh dari bayangannya. Ayra pikir rumah kabin itu pasti berdebu dan kotor, namun rupanya rumah kabin itu sangat bersih dan rapi. Bahkan terlihat sangat nyaman.