
Sebagai lelaki sejati yang selalu menepati janji, Devara datang tepat waktu sesuai instruksi kakek Arya. Devara datang seorang diri, kemudian bersama dengan kakek Arya mereka berangkat entah kemana. Devara menurut saja, tanpa bertanya sepatah kata pun pada kakek. Devara merasa yakin, apapun tantangan yang diberikan kakek Arya, dia pasti bisa memenangkannya.
Keduanya saling membisu sepanjang perjalanan. Sesekali kakek Arya melirik pada Devara yang tampak sangat tenang menghadapi tantangan pertama yang diberikannya.
“Apa kau tak merasa takut? Kau bahkan tak bertanya tantangan apa yang aku berikan padamu”tanya kakek Arya tanpa menatap Devara
“Itu tak perlu kek..karena saya yakin pada kemampuan saya sendiri”jawab Devara dengan penuh percaya diri.
“Jangan sombong!”ucap kakek Arya
“Saya tidak ingin menyombongkan diri..tapi saya memang percaya pada kemampuan saya. Dan saya yakin akan bisa menghadapi tantangan apapun yang kakek berikan”balas Devara penuh keyakinan
“Kita lihat saja! Jangan sampai kau menyesal!”
“Tidak akan”jawab Devara mantap.
“Kau terlalu percaya diri”sindir kakek Arya
“Kakek terlalu meremehkan saya”jawab Devara
“Sekali kita kesana, kau tak bisa mundur lagi”ucap kakek Arya memperingatkan Devara
“Saya bukan pengecut yang akan lari dari masalah”
“Kita buktikan ucapanmu itu”tantang kakek Arya
Mobil melaju menuju suatu tempat yang terasa asing bagi Devara. Devara sempat melihat dari kaca mobil ketika mobil itu memasuki gerbang besar menuju kompleks bangunan.
“Jadi ini tantangan kakek?”gumam Devara dalam hati sambil menyunggingkan sudut bibirnya ketika otak cerdasnya sudah dapat membaca arah tantangan kakek Arya.
“Kenapa? Apa kau sudah tahu tantangan apa yang aku berikan?”tanya kakek Arya
“Sepertinya aku sudah tahu”
“Baguslah! Sekarang turun dari mobil”pinta kakek Arya
Keduanya segera turun dari mobil. Di luar mobil tampak berjejer beberapa orang yang sepertinya sudah menunggu kehadiran mereka berdua. Ajudan kakek membukakan pintu, kemudian kakek Arya turun dari mobil. Seseorang yang berada di luar mobil, memberi hormat kemudian menjabat tangan kakek Arya.
“Selamat datang Jenderal”ucap seorang komandan berpangkat tertinggi di tempat itu.
Kakek Arya dan komandan itu tampak berbincang ringan. Sementara Devara setelah turun dari mobil, tampak mengedarkan matanya melihat sekelilingnya yang dipenuhi banyak tentara. Dan disinilah sekarang mereka berada. Di komplek satuan militer tempat kakek Arya pernah menjabat dulu.
“Hei anak muda, kemarilah!”pinta kakek Arya
Devara yang merasa dipanggil segera berjalan menuju kakek Arya dan komandan itu. Devara menjabat tangan sang komandan.
“Dia lelaki yang aku maksudkan kemarin”ucap kakek kepada komandan.
Sang komandan menatap Devara dengan mengerutkan dahinya.
“Aku minta perlakukan dia sama dengan siswa yang lain”ucap kakek Arya
“Tapi bagaimana jika dia..”
Sang komandan tampak ragu-ragu melihat penampilan Devara yang tak seperti siswa yang lainnya. Terlihat jelas Devara bukanlah siswa yang akan mampu menghadapi tantangan di satuan militer itu.
Kakek mengajak sang komandan berbincang agak jauh dari Devara supaya Devara tak mendengar rencana kakek Arya. Mereka berdua berbincang dengan sangat serius.
“Sekarang apa lagi rencana kakek? Kenapa dia memilih tempat ini? Apa dia ingin menjadikan aku prajurit?”tanya Devara begitu menyadari tempat yang didatanginya adalah kompleks PUSDIKLAT PASSUS TNI AD yaitu tempat pelatihan pasukan kopassus.
Kakek yang berbincang dengan sang komandan, sesekali menatap Devara dari kejauhan.
“Lelaki itu adalah calon cucu menantuku. Aku ingin menguji kemampuan fisik dan mentalnya karena aku ingin dia menjadi prajurit yang tangguh jika ingin masuk menjadi bagian dari keluargaku”ucap kakek Arya
“Tapi jenderal, bagaimana jika di tengah jalan dia menyerah? Latihan disini tidak mudah. Walaupun secara fisik saya lihat anak itu kuat, tapi belum tentu mentalnya akan kuat jika berada di sini”ucap komandan
“Kalo begitu, dia tak pantas menjadi bagian keluargaku”jawab kakek Arya dengan santai
“Kita cukup berikan dia pelatihan tahap I dan II saja. Aku cukup tahu apakah dia sanggup melewati pelatihan tahap I dan II. Jika dia bisa melewatinya maka dia bisa aku bawa pulang”
“Apa anak itu tahu apa yang akan dilakukannya disini?”tanya sang komandan
“Itu tugasmu untuk menjelaskan padanya”jawab kakek Arya
“Aku serahkan dia padamu. Kabari aku perkembangan anak itu”pinta kakek Arya.
“Ingat! Jangan perlakukan dia secara khusus karena aku yang membawanya kemari. Perlakukan dia sama dengan siswa pelatihan yang lain. Sehingga aku benar-benar bisa menilai dia layak atau tidak menjadi bagian keluargaku kelak. Kau mengerti?”perintah kakek Arya.
“Saya mengerti”
“Bagus! Kalo begitu aku pulang sekarang”
“Mari saya antar Anda menuju mobil”
Keduanya kemudian berjalan beriringan menuju ke mobil. Devara yang masih berdiri di dekat mobil, melihat kakek yang berjalan ke arahnya, kemudian mendekati kakek Arya.
“Kakek, apa maksud kakek membawa saya kemari?”tanya Devara
“Aku adalah prajurit, anak-anakku adalah prajurit. Jadi aku ingin menantangmu apa kau juga layak menjadi bagian dari keluargaku? Kau akan berada di sini selama beberapa minggu. Persiapkan dirimu! Kita lihat kemampuan yang tadi kau bangga-banggakan itu. Aku pulang dulu!”ucap kakek Arya
“Benar tebakanku. Kakek ingin mengujiku apa aku layak menjadi prajurit seperti dirinya? Baiklah! Aku terima tantanganmu kek”gumam Devara dalam hati
Setelah kepergian kakek, Sang komandan menjelaskan semua yang harus dihadapi Devara selama disana. Devara diajak menuju ruangan sang komandan.
“Saya akan jelaskan semua yang akan kamu hadapi disini. Seperti yang kau lihat, disini bukanlah tempat yang biasa kamu datangi. Disini adalah tempat bagi mereka yang ingin menjadi prajurit. Maka sebelum terlambat, sebaiknya kau pikirkan baik-baik keputusanmu kemari”pinta sang komandan
“Bapak jelaskan saja, apa yang harus saya hadapi disini?”pinta Devara
Sang komandan mulai menjelaskan satu persatu tahapan yang akan di lalui Devara. Walaupun Devara tak mengikuti keseluruhan tahapan namun sang komandan memberikan gambaran terlebih dahulu semua yang akan dihadapi Devara. Devara mendengarkan semua penjelasan sang komandan dengan penuh konsentrasi.
“Seperti itu yang akan kamu hadapi. Apa kau yakin akan melanjutkan tantangan dari Jenderal Arya Subrata?”tanya sang komandan mencoba memperingatkan Devara.
“Ingat! Sekali kau menginjakkan kaki di sini, kau tak akan bisa mundur lagi. Kau harus hadapi semua tahapan seperti yang sudah saya jelaskan tadi. Apa kau yakin kau sanggup? Kalo kau merasa tak sanggup, saya akan hubungi Jenderal sekarang juga. Jadi kau tak perlu repot-repot berada di sini”ucap sang komandan
“Saya tak akan mundur. Saya akan hadapi semua tantangan dan tahapan yang ada di sini”jawab Devara
“Kau yakin?”tanya sang komandan
“Saya yakin”
“Saya biarkan kamu berpikir lagi. Jangan gegabah. Karena disini tidaklah mudah”ucap sang komandan mencoba memperingatkan Devara lagi
“Saya sangat yakin. Saya tidak akan mundur”jawab Devara dengan tegas
“Saya peringatkan kamu lagi, jika kamu menerima tantangan jenderal, itu artinya kau harus mempersiapkan fisik dan mentalmu. Dan setelah kamu masuk di kamp, saya tidak akan bisa menolong atau membantumu. Karena saya akan memperlakukanmu sama dengan siswa yang lain. Tidak akan ada perbedaan antara kamu dan siswa yang lain”ucap sang komandan
“Saya akan terima tantangan kakek”jawab Devara mantap
“Kalo kamu sudah yakin, saya akan antar kamu ke kamp. Semoga beruntung!”ucap sang komandan
“Terima kasih Pak”jawab Devara
Setelah berdiskusi lumayan panjang, karena sang komandan ingin Devara benar-benar memikirkan keputusannya. Namun karena Devara sudah bulat dengan keputusannya, akhirnya sang komandan menyerah dan menuruti keinginan Devara. Sang komandan langsung mengajak Devara untuk menuju kamp. Sebelumnya Devara harus dicukur habis rambutnya layaknya prajurit yang lain yang baru pelatihan. Devara harus merelakan rambut indahnya dicukur habis. Devara juga harus mengganti bajunya dengan seragam tentara.
“Ayra sayang..doakan aku selamat! Aku lakukan semua ini demi cinta kita. Doakan aku bisa melewati tantangan kakek ini!”doa Devara dalam hati ketika melangkahkan kakinya menuju kamp tempat para siswa berada.
Devara menghela nafasnya pelan sambil mengumpulkan semua keberaniannya untuk bisa menghadapi setiap tantangan yang akan dihadapinya di kamp militer yang biasa dijadikan pusat pelatihan bagi siswa tentara yang ingin menjadi pasukan kopassus.
*
*
*
*
Jangan lupa jempol like, vote, dan hadiahnya ya kakak semua🥰🥰🥰🥰
Maafkeun jika akhir2 ini author update-nya mulai tidak rutin, dikarenakan kesibukan author di dunia nyata. Semoga kakak semua bisa maklum.🙏🙏
Terimakasih untuk yang selalu setia membaca novel saya ini🥰🥰🥰
Cerita berkaitan dengan kemiliteran ini nanti hanya sebatas imajinasi author. Tidak ada maksud untuk menyinggung pihak manapun. Dan jika tidak sesuai kenyataan, dan jika ada yang kurang berkenan, mohon dimaafkan ya reader semua. Semua murni imajinasi saya. Sekali lagi mohon maaf🙏🙏
Happy reading!!!!🥰🥰🥰