Falling In Love With Trouble Maker

Falling In Love With Trouble Maker
Jodoh dari Tuhan


Setelah kepergian Ayra kecil, Devara kecil kembali ke kota X. Kembali pada kehidupannya. Mereka berdua kembali pada kehidupan masing-masing. Namun, rasa penasaran Devara pada sindikat penculikan anak itu, membuat Devara meminta uncle Jack, pimpinan mafia klan Naga Api yang juga asisten pribadi papanya untuk menyelidiki sindikat itu.


“Uncle, tolong selidiki sindikat penculikan kemarin! Mereka benar-benar minta diberi pelajaran. Beraninya mereka berulah di kota M. Bahkan ingin melukaiku juga!”gerutu Devara kecil pada uncle-nya


“Serahkan masalah itu pada uncle. Uncle pastikan mereka akan menyesali perbuatan mereka seumur hidup mereka”sahut uncle Jack


Devara kecil menyunggingkan senyum di wajahnya. Namun senyuman yang tampak mengerikan untuk anak kecil seusianya. Keinginannya untuk balas dendam pada sindikat itu membuat Devara kecil menjadi seorang anak yang mengerikan.


Hasilnya, tak memerlukan waktu lama, sindikat itu “dibabat” habis oleh klan Naga Api. Semua anggota sindikat itu dihajar habis-habisan karena sudah berani melukai keluarga Alexander. Melukai tuan mudanya. Penerus keluarga Alexander. Devara kecil yang mendengar sindikat itu sudah “dihabisi” uncle nya, tersenyum dengan bahagia.


“Ada yang ingin uncle berikan padamu”ucap uncle Jack


“Apa itu uncle?”tanya Devara


“Aku mendapatkan ini dari anak buah sindikat itu kemarin”


Uncle Jack menyerahkan sebuah liontin emas dengan hiasan huruf A di bagian tengah.


“Sepertinya itu milik anak kecil yang sudah kau selamatkan kemarin”ucap uncle Jack


Devara memandangi liontin emas itu beberapa kali.


“Terima kasih uncle”


****


Devara memandangi liontin emas pemberian uncle Jack dengan tatapan sendu. Terbayang dalam ingatannya, anak kecil yang sangat ketakutan itu. Membuat jiwa Devara kecil ingin melindungi gadis cilik itu.


“Aku apakan liontin ini? Aku tak tahu anak itu dimana sekarang. Bagaimana aku mengembalikan liontin ini?”tanya Devara dalam hati


Tiba-tiba Madam O datang menghampiri Devara.


“Madam saja yang menyimpan liontin ini”pinta Devara kecil


Madam O menerima pemberian Devara dengan dahi yang berkerut.


“Ini liontin siapa tuan muda?”tanya Madam O penasaran


Devara tetap diam membisu tanpa berniat menajwab pertanyaan Madam O.


“Apa mungkin ini milik anak kecil itu?”tanya Madam


“Mungkin”jawab Devara malas


FLASHBACK OFF


Di ruang santai, tempat kakek dan Madam O berada. Kakek masih juga memandangi liontin emas pemberiannya pada Ayra.


“Jadi benar, gadis kecil yang diselamatkan tuan muda adalah nona Ayra?”tanya Madam O pada kakek


“Aku tak tahu jika liontin ini juga bisa kembali pada pemiliknya”gumam kakek masih memandangi liontin Ayra


“Lalu bagaimana keadaan nona Ayra setelah pulang dari rumah sakit?”tanya Madam O


“Sejak kejadian penculikan itu, Ayra seperti gadis yang berbeda. Dia jadi lebih pendiam dan tertutup. Padahal sebelumnya dia adalah gadis periang yang sangat menggemaskan. Tapi beban mental yang ditanggung anak itu, ternyata sangat berat. Pengalaman buruk itu membekas kuat dalam hati Ayra. Bahkan dia tidak berani keluar rumah. Setiap melihat orang baru yang tidak dikenalnya, dia pasti langsung ketakutan”kenang kakek


“Akhirnya kami membawa Ayra berkonsultasi dengan psikolog dan psikiater. Untuk anak seusia Ayra, peristiwa penculikan itu benar-benar membuat Ayra trauma. Sejak saat itu, Ayra terus ketakutan terlebih saat turun hujan dan mendengar bunyi petir. Ayra pasti akan ketakutan”


“Ayra harus menjalani terapi psikologis untuk menghilangkan efek traumatis yang dialaminya. Butuh waktu beberapa bulan bagi Ayra untuk menghilangkan traumanya. Dan terapi yang paling berhasil membantunya adalah dengan berlatih ilmu beladiri. Sejak saat itu, Ayra semakin gigih belajar seni bela diri. Hingga akhirnya dia bisa mendapat sabuk hitam taekwondo di usianya ke sembilan tahun”


“Sejak berhasil mengalahkan traumanya tentang kejadian penculikan itu, Ayra tumbuh menjadi gadis yang pemberani bahkan mendekati tomboy. Tapi aku senang, cucuku menjadi gadis yang lebih berani. Dia juga perlahan kembali menjadi gadis yang periang. Hanya tinggal satu ketakutannya yang sampai sekarang belum juga bisa dihilangkan yaitu ketakutannya pada petir. Kami sudah mencoba berbagai cara untuk menghilangkannya, namun tetap tak berhasil. Makanya sampai sekarang Ayra selalu ketakutan jika mendengar petir”ujar kakek


Ditengah pembicaraan keduanya yang membahas tentang ketakutan Ayra terhadap petir, tiba-tiba,


“Dddduuuuuaaarrrrr”


Petir yang sangat keras menggelegar memecah keheningan petang menjelang malam itu. Membuat siapapun kaget mendengarnya. Madam O bahkan sampai memegang dadanya saking kagetnya.


“Ayra!”pekik kakek Ayra


Pikiran kakek langsung tertuju pada Ayra. Dengan tergesa-gesa, kakek langsung berjalan ke lantai dua ke kamar Ayra.


“Ayra pasti sangat ketakutan sekarang”gumam kakek dalam hati mengkhawatirkan cucunya.


Madam O juga mengikuti di belakang kakek untuk memastikan keadaan Ayra.


“Dimana kamar cucuku?”tanya kakek pada Madam O


“Di depan sebelah kanan”jawab Madam O


Sesampainya di kamar yang ditunjukkan Madam O, pintu kamar sudah terbuka. Kakek dan Madam O langsung masuk ke dalam. Dilihatnya Ayra yang tertidur pulas dengan sebelah tangannya digenggam oleh Devara. Devara juga tertidur di samping ranjang Ayra. Pemandangan ini mengingatkan kakek Arya dan Madam O pada kenangan empat belas tahun silam. Saat Ayra dan Devara berada di rumah sakit kota M. Persis seperti sekarang. Ayra dan Devara yang tertidur sambil berpegangan tangan.


Kakek berjalan perlahan ke arah ranjang Ayra. Dilihatnya wajah cucu dan calon cucu menantunya dengan tatapan sendu. Kakek juga tersenyum melihat keduanya.


“Bahkan setelah belasan tahun, kalian bisa juga dipertemukan kembali oleh Tuhan. Mungkin inilah yang namanya Jodoh dari Tuhan. Mungkin kalian memang diciptakan untuk satu sama lain”gumam kakek dalam hati.


“Akhirnya tuan muda menemukan belahan jiwanya. Cinta sejatinya”gumam Madam O sambil menatap kedua sejoli yang sedang tertidur sambil berpegangan tangan itu.


Akhirnya kakek dan Madam O memilih meninggalkan kamar Ayra. Madam O menutup pintu perlahan, takut mengganggu waktu tidur antara majikannya dengan wanita yang dipercaya Madam O sebagai belahan jiwa Devara.


Kakek dan Madam O berjalan menuruni tangga dan kembali ke ruang santai.


“Selama ini saya belum pernah melihat kejadian seperti yang dialami tuan muda dan nona Ayra. Mereka dipertemukan secara tak sengaja karena sebuah tragedi. Kemudian berpisah tanpa saling berkomunikasi lagi selama belasan tahun. Bahkan mungkin mereka sudah saling melupakan satu sama lain. Hingga akhirnya jalan takdir mempertemukan mereka kembali dan menjadikan mereka sepasang kekasih seperti sekarang. Sungguh indah jalan cinta mereka berdua. Apa Anda juga berpikir begitu tuan?”tanya Madam O pada kakek


Kakek yang sedang menyeruput kopi hangat yang tadi dibuatkan oleh salah seorang pelayan, mengangguk pelan. Kakek meletakkan gelas berisi kopi hangat dan tampak memikirkan sesuatu.


“Iya, Anda benar. Aku rasa mereka memang sudah berjodoh”sahut kakek


“Dulu aku pernah bertanya pada Ayra, apa dia mengingat anak kecil yang sudah menyelamatkannya? Dia bilang dia sudah lupa wajahnya. Dia juga tidak ingat siapa namanya. Dia bahkan tak ingat dimana dia menjatuhkan liontin emas pemberianku. Banyak hal tentang penculikan itu yang dilupakan Ayra. Tapi kini liontin itu kembali lagi pada pemiliknya. Dan semua berkat anak kecil penyelamat Ayra, Devara”ujar kakek sambil tersenyum.


“Kini aku bisa tenang. Aku bisa menyerahkan sepenuhnya cucuku padamu. Karena kini aku yakin kau akan menjaga dan melindunginya dengan nyawamu seperti dulu kau pernah menyelamatkannya. Terima kasih Devara. Terima kasih sudah menyelamatkan cucuku”gumam kakek dalam hati.


Kali ini kakek bisa lega dan tidak lagi mengkhawatirkan Ayra. Kakek sudah yakin jika Devara pasti akan menjaga dan melindungi Ayra.


“Aisyah, istriku. Ayra kini berada di tangan yang tepat. Cucu kita sudah menemukan kembali belahan jiwanya. Jodoh yang dikirimkan Tuhan padanya. Kini aku bisa tenang melepas Ayra, cucu kita”gumam kakek dalam hati seakan berbicara dengan istrinya, nenek Aisyah.