
Kini mereka berdua sudah sampai di mall terbesar di kota. Mall itu adalah salah satu anak cabang perusahaan Alexis Global Corp. milik keluarga Devara.
Devara segera memarkirkan mobil di tempat parkir. Mereka berjalan beriringan menuju supermarket. Tak lupa, Devara menggandeng tangan Ayra. memasuki supermarket. Rupanya supermarket sedang ramai pengunjung. Devara tampak enggan untuk masuk.
“Ramai sekali..Kita pulang saja. Aku minta kak Arga yang pesan, biar nanti diantar ke rumah” ujar Devara sambil meletakkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.
“Kita kan sudah sampai. Masak pulang.. Anggap saja kita ini dalam sebuah misi..Misi mencari bahan-bahan keperluan Bunda, Oke?” ucap Ayra menyemangati Devara yang memang belum pernah belanja di supermarket sebelumnya.
Devara hanya melirik ke arah Ayra yang menatapnya dengan tatapan manja. Tatapan itu berhasil membuatnya lumer.
"Kenapa dia selalu menggemaskan?"gumam Devara dalam hati setelah mendapat tatapan manja Ayra.
“Baiklah” jawab Devara menurut lalu dia berjalan menuju deretan troli di supermarket itu.
Ayra memandangi punggung Devara yang berjalan di depannya dengan tersenyum. Walaupun enggan, tapi Devara memaksakan diri menemaninya belanja. Ayra tersenyum senang.
Mereka berjalan beriringan menyusuri tiap rak yang tertata rapi. Devara yang mendorong troli sementara Ayra yang mengambil belanjaan. Sesekali mereka berdebat karena Ayra mengambil beberapa barang yang tidak ada dalam list belanja Bunda. Seharusnya Devara peka, begitulah wanita jika sudah melihat ada barang bagus plus diskon besar. Pasti bawaannya pingin beli. Tapi rupanya Devara tak mau Ayra menghambur-hamburkan uang untuk barang yang tidak perlu. Padahal biasanya Devara-lah yang suka menghambur-hamburkan uang. Dia sekarang lebih mirip suami Ayra ketimbang pacarnya.
Mereka mengelilingi supermaket hampir satu jam lamanya. Devara yang belum pernah berbelanja di supermarket sebelumnya, mulai merasa kecapekan menemani Ayra belanja.
“Sudah belum sih belanjanya?”tanya Devara kesal.
“Kenapa? Kamu capek? Kalau capek tunggu saja di luar. Biar aku belanja sendiri” jawab Ayra sambil meraih troli belanja.
Tangan Devara segera menepis tangan Ayra. Lalu berjalan di depannya. Walau tak mengatakan apa-apa, Ayra tahu sebenarnya Devara sudah capek.
“Terimakasih”ucap Ayra lirih.
Mereka pun melanjutkan perburuan mereka. Seorang wanita paruh baya dan suaminya di depan Ayra menjatuhkan barang belanjaannya. Ayra segera memungut barang itu dan menyerahkannya pada pasangan suami istri di depannya itu.
“Permisi ibu, barang belanjaan ibu tadi jatuh”sapa Ayra ramah sambil menyerahkan barang belanjaan di tangannya.
“Oh iya..terimakasih cantik!”ucap wanita itu membuat Ayra tersenyum bahagia dipanggil dengan sebutan “cantik”.
“Sama-sama” jawab Ayra sambil tersenyum.
Devara segera berdiri di samping Ayra.
“Kalian pasangan pengantin baru ya? Ya ampun.. serasi sekali, ya kan yah?” tanya wanita itu pada suaminya yang dibalas dengan anggukan kepala.
“Yang satu cantik yang satu juga tampan. Aduhhh…Ibu yakin, anak kalian nanti paaaasti sangat cantik seperti ibunya. Kalau cowok pasti ganteng seperti ayahnya”puji wanita paruh baya itu begitu melihat kecantikan Ayra dan ketampanan Devara yang sangat serasi.
Keduanya tersipu malu. Wajah keduanya memerah setelah disangka pasangan pengantin baru.
“Ah..bukan ibu. Kami masih sekolah”kelit Ayra menjelaskan.
“Oh ya..ibu kira kalian pengantin baru. Habis serasi sekali sih.. Maaf ya? Ibu doakan semoga kalian segera lulus ya.. Dan segera menikah saja” saran wanita itu.
“Keburu mas gantengnya diambil orang”bisik wanita tadi pada Ayra.
Ayra semakin salah tingkah.
“Ah..ibu bisa saja” ucap Ayra sambil melirik ke arah Devara.
Devara hanya senyum-senyum sendiri mendengar semua pujian dan saran wanita tadi.
“Ya sudah..silahkan dilanjutkan lagi belanjanya. Mari” ucap suami wanita tadi
“Mari” jawab Ayra dan Devara hampir bersamaan.
Setelah suami istri tadi menjauh, Ayra dan Devara pun melanjutkan perburuan mereka.
“Ayo sayang, kita belanja lagi” goda Devara
“Apaan sih?” Ayra memukul bahu Devara pelan sambil tersenyum.
Ayra geli mendengar Devara memanggilnya dengan sebutan “sayang”. Mengingatkan Ayra pada Ayah bundanya yang selalu memanggil dengan sebutan "sayang" satu sama lain.
Setelah berburu selama satu setengah jam lamanya, akhirnya mereka selesai juga belanja. Ketika sampai di kasir, Ayra hendak membayar belanjaannya. Devara menepis dompet Ayra dengan tangannya. Membuat Ayra mendongakkan kepalanya ke arah Devara.
“Simpan saja uangmu. Biar aku yang bayar” ujar Devara
“Tuan Devara?”tanya Pak Doni, Manager supermarket
Devara mengerutkan dahinya karena dia memang tidak kenal manager supermarket.
“Saya Doni. Manager Supermarket ini” ucap Pak Doni sambil mengulurkan tangannya menjabat tangan Devara
Devara menjabat tangan Pak Doni dengan wajah kebingungan.
“Tuan mau belanja?”tanya Pak Doni sambil melihat belanjaan di depan Devara
“Iya Pak” jawab Devara
“Tuan tak usah membayarnya karena ini adalah supermarket milik tuan” ucap Pak Doni membuat Ayra terbelalak.
“Supermarket sebesar ini milik keluarga Devara? Wah..crazy rich Asia memang beda”gumam Ayra dalam hati
“Oh..baiklah”jawab Devara
Setelah Pak Doni pamit, Devara dan Ayra pun melangkah meninggalkan supermarket dengan Devara membawa semua kantung belanjaan. Ayra ingin membantu membawa belanjaan, tapi Devara menolaknya mentah-mentah.
"Sini aku bantu bawa!"pinta Ayra sambil mengulurkan tangannya ingin membantu Devara.
“Apa gunanya aku nge-gym setiap hari kalau membawa belanjaan segini aja mesti kau bantu?”ucap Devara
“Terimakasih ya”ucap Ayra lembut sambil memasang wajah imut.
Membuat Devara sekali lagi lumer melihat wajah Ayra yang manja.
"Wajah itu.. kenapa imut sekali? Andai aku tak membawa barang belanjaan ini pasti sudah dicubit pipimu itu?"gumam Devara dalam hati sambil menyunggingkan sudut bibirnya.
“Oya..duduklah disini. Aku belikan sesuatu”pinta Ayra sambil menuntun Devara duduk di bangku kosong yang ada di mall itu.
“Kau mau pergi kemana?”tanya Devara sambil mengernyitkan dahinya.
“Tunggu sebentar ya..”pinta Ayra sambil melangkah pergi meninggalkan Devara dengan belanjaan pesanan Bunda.
Ayra pergi lumayan lama, membuat Devara mendengus kesal.
“Dia kemana sih? Lama sekali” gerutu Devara
Begitu melihat Ayra yang berjalan ke arahnya membawa dua cone es krim, Devara tersenyum senang.
“Ini untukmu” ucap Ayra sambil menyodorkan es krim dua rasa pada Devara.
Senyum Devara mendadak hilang karena es krim Ayra sepertinya lebih enak.
“Kenapa es krim untukku hanya dua rasa, sementara punyamu tiga rasa?” tanya Devara
“Ini kan aku yang beli. Sudah makan saja es krim mu” ucap Ayra sambil duduk di samping Devara.
Ayra tampak menikmati es krimnya. Devara yang kesal, karena hanya mendapat es krim dua rasa, akhirnya pasrah menerima es krimnya itu. Beberapa kali dia menatap ke arah Ayra yang tampak menggemaskan sekali saat menikmati es krim tiga rasanya. Ayra memakan es krimnya seperti anak kecil. Dengan sesekali memejamkan mata menikmati lezatnya es krim cone miliknya.
“Kau ini anak kecil ya.. Ada sisa es krim di bibirmu” ucap Devara setelah melihat Ayra yang blepotan dengan es krimnya.
“Hah?” Ayra menatap Devara dengan tatapan bingung.
“Bersihkan itu sisa es krimmu” ujar Devara sambil menunjuk sudut bibir Ayra
Ayra membersihkan sudut bibir yang salah, membuat Devara gregetan akhirnya dibersihkannya sisa es krim di bibir Ayra dengan tangannya. Ayra kaget Devara menyentuh bibirnya. Devara sendiri yang menyentuh bibir lembut Ayra, tiba-tiba jantungnya berdetak tak karuan.
“Terimakasih” ucap Ayra tersipu malu
Karena suasana mendadak canggung, lalu Devara membungkukkan badannya, memakan es krim milik Ayra.
“Hei..kau makan es krimku banyak banget” protes Ayra sambil memukul lengan Devara
“Salah sendiri..punyaku cuma dua rasa” ucap Devara
Akhirnya mereka menghabiskan es krim dalam suasana yang lebih akrab. Ayra juga mencoba es krim milik Devara. Sesekali Devara mengelus kepala Ayra karena gemas melihat ekspresi Ayra saat menikmati es krim. Tak jauh dari mereka, seseorang telah mengamati kemesraan mereka berdua tanpa mereka sadari.