
Pagi yang cerah menyapa. Hari ini adalah hari pertama Ayra di kelas XII. Liburan semester telah usai dan mereka harus kembali ke sekolah. Kembali berkutat dengan rutinitas sebagai seorang pelajar. Terbayang jelas tumpukan-tumpukan tugas yang segera akan menyapa mereka. Mereka juga harus mulai mempersiapkan untuk Ujian Nasional sebagai syarat kelulusan mereka dari sekolah elit itu.
Tetapi jangan tanya Devara. Baginya tugas-tugas dan ujian itu tak lebih penting dari kebersamaannya bersama Ayra. Bagi Devara, seorang Ayra adalah pelita hatinya, penyemangat jiwanya dan cinta dalam hidupnya. Bertemu dengan Ayra setelah berpisah selama dua hari lebih penting dari segalanya.
Setelah pulang dari liburan di korea, keduanya selalu menghabiskan waktu bersama. Ditemani pasangan kekasih baru, Daniel dan Nadine, mereka berempat menghabiskan hari-hari bersama. Hanya saja, dua hari kemarin, Ayra harus menemani Ayah Bundanya mengunjungi salah satu kerabatnya yang sedang ada hajatan. Salah satu sepupu Ayra di Bali melangsungkan pernikahan sehingga Ayra harus ikut Ayah Bundanya.
“Aku berangkat dulu ya”pamit Ayra pada Ayah Bundanya setelah selesai menyantap sarapannya.
“Titip Ayra ya Dev”pinta Ayah
“Baik Ayah..kami berangkat dulu”sahut Devara
Ayra mencium punggung tangan kedua orang tuanya lalu segera berlari karena Devara sudah menunggunya.
“Hati-hati sayang”sahut Bunda
“Dadah Ayah..Bunda”pamit Ayra
Kedua sejoli yang sedang kasmaran itu melangkah keluar rumah bersama. Devara membukakan pintu mobil untuk Ayra.
“Terimakasih”ucap Ayra dengan senyum yang terus tersungging di wajah cantiknya.
Devara juga ikut tersenyum lalu berjalan memutar menuju pintu kemudi mobil. Di dalam mobil, Ayra baru sibuk memakai sabuk pengamannya.
“Ay?”panggil Devara
“Hmm?”Ayra menoleh pada Devara dengan berdehem.
Tiba-tiba tanpa diduga Devara mengecup bibir merah Ayra. Membuat Ayra menahan nafas sesaat sambil mengedipkan matanya beberapa kali. Jantungnya langsung berdegup sangat cepat karena mendapat “serangan fajar” oleh Devara.
Devara yang melihat Ayra membeku karena ciumannya malah tertawa cekikikan.
“Dev..apa-apaan kamu ini? Kalo dilihat Ayah sama Bunda gimana?”protes Ayra sambil memukul-mukul lengan kekar Devara.
“Hahahaha”
Devara hanya tertawa melihat Ayra yang ketakutan jika sampai orangtuanya melihat kemesraan mereka pagi itu.
“Hishhh” Ayra menggerutu kesal sambil melipat kedua tangannya di depan dada sambil menatap jendela mobil di sampingnya.
“Jangan marah..kita berangkat sekarang”
Devara menyalakan mesin mobil kemudian mengemudikan mobilnya menyusuri keramaian jalanan yang pagi itu mulai dipadati dengan kendaraan yang mengantarkan setiap orang ke tempat aktivitas mereka masing-masing. Sepanjang perjalanan menuju sekolah, Ayra terus diam. Dia sangat kesal dengan kelakuan Devara pagi ini. Diamnya Ayra membuat Devara yang sedang mengemudi mencoba mengajaknya ngobrol.
“Hei..masih marah? Sudah..jangan cemberut terus. Nanti cantiknya ilang”goda Devara.
“Biarin”jawab Ayra ketus.
Devara malah menganggap Ayra yang sedang marah sangatlah menggemaskan. Devara kemudian mengusap-usap pucuk kepala Ayra lembut.
“Ihhh..jangan pegang-pegang.. Rambutku jadi berantakan”protes Ayra.
“Ayolah..jangan marah. Baiklah aku minta maaf”pinta Devara
Melihat Ayra yang masih kesal, membuat Devara akhirnya meminta maaf.
Akhirnya mereka sampai di area sekolah. Devara segera memasuki gerbang sekolah dan melajukan mobilnya menuju tempat parkir mobilnya. Mereka melewati banyak siswa yang sudah bersiap masuk sekolah. Beberapa siswa terlihat memasuki sekolah menggunakan motor dan mobil mereka.
Ayra yang masih kesal, segera melepas sabuk pengamannya dengan kasar dan ingin segera masuk kelas. Tapi tangan Devara yang lebih panjang menarik kembali handle pintu mobil yang sudah dibuka Ayra lalu menutupnya.
“Kau mau apa lagi? Aku mau masuk kelas”tutur Ayra
Devara menyunggingkan senyumnya lalu mendekatkan tubuhnya pada Ayra. Ayra refleks memundurkan tubuhnya.
“Kau..kau..kau mau apa Dev?”ucap Ayra dengan terbata-bata melihat Devara yang terus mendekat padanya. Tangan Ayra diletakkan di depan dadanya bersiap untuk mendorong tubuh besar Devara.
Devara memiringkan sudut bibirnya lalu tangan kirinya meraih pinggang ramping Ayra dan dengan cepat menarik tubuh Ayra mendekat.
“Dev..apa yang ingin kau lakukan?”tanya Ayra ketika tubuh keduanya sudah sangat dekat. Mata keduanya saling bertatapan.
“Aku sangat merindukanmu”ucap Devara kemudian memeluk erat tubuh mungil Ayra yang kini dalam dekapannya.
Ayra menurunkan kedua tangannya yang sebelumnya didepan dadanya kemudian melingkarkan kedua tangannya memeluk tubuh besar Devara. Keduanya saling berpelukan selama beberapa saat. Berpelukan dengan erat.
“Aku juga”ucap Ayra.
Ayra melepaskan pelukannya terlebih dahulu.
“Kenapa kau tak mengijinkan aku ikut denganmu? Apa kau tahu aku sangat merindukanmu?”keluh Devara dengan mengerucutkan bibirnya.
Ayra geli melihat kekasihnya yang dijuluki penguasa sekolah, sang troublemaker, memasang wajah cemberut padanya hanya karena tidak diajak ke Bali.
“Hihihihi..seharusnya kau lihat wajahmu di cermin. Teman-teman pasti takkan menyangka Devara si troublemaker kalo cemberut menggemaskan seperti ini”ucap Ayra geli
“Aku juga ingin kau ikut..tapi aku belum siap mengenalkanmu pada keluarga besarku..aku kan masih kelas XII. Tunggu setelah kita kuliah, aku akan kenalkan pada semua keluarga besarku. Gimana?”
“Ga mau”protes Devara
“Kenapa?”
“Kau malukan punya pacar seperti aku?”rajuk Devara
Ayra segera menangkup wajah tampan Devara dengan kedua tangannya.
“Tentu saja tidak. Aku bangga punya pacar sekeren kamu. Devara Alexander yang agung”goda Ayra dengan suara manja
Pujian Ayra berhasil membuat Devara tersenyum. Apalagi mendengar suara manja Ayra yang memanggil namanya, berhasil membuat Devara luluh.
“Kita masuk sekolah sekarang?”tanya Ayra
“Mmmuaahh”Devara mencium lagi bibir Ayra membuat Ayra sekali lagi kaget dengan serangan-serangan Devara padanya.
“Ayo masuk”ucap Devara kemudian keluar mobil.
Ayra yang masih syok berusaha mengatur nafas dan irama jantungnya kemudian keluar mobil Devara. Setiap kali mereka bermesraan, membuat jantung Ayra bergejolak hebat dan wajahnya bersemu merah. Devara mengambil tasnya di kursi belakang lalu berjalan ke arah Ayra. Dilihatnya sang kekasih yang masih setengah syok dan wajahnya yang memerah. Devara langsung meraih tangan Ayra lalu menggandengnya memasuki area kelas.
Di lorong kelas, keduanya bertemu dengan pasangan kekasih baru, Nadine dan Daniel yang juga saling bergandengan tangan. Kedua pasangan kekasih itu berjalan bersama menuju kelas masing-masing.
Tahun Pelajaran ini, Devara sekelas dengan Nadine. Sementara Ayra sekelas dengan Daniel. Sebenarnya Devara ingin sekelas dengan Ayra. Dengan sekali perintah, keinginan Devara pasti langsung terwujud. Tetapi Ayra melarangnya. Ayra takut jika sekelas dengan Devara, dia takkan bisa konsentrasi belajar. Dan Ayra juga takut Devara akan terus mengganggunya. Padahal ini adalah tahun terakhir mereka di sekolah. Ayra bertekad menyelesaikan sekolahnya dan mendapatkan hasil terbaik. Ayra harus memastikan setahun kedepan kewarasan dan kesehatan mentalnya harus benar-benar terjaga. Dan itu artinya, Ayra harus berbeda kelas dengan Devara.
Devara mengantar Ayra sampai di depan kelasnya.
“Masuklah kedalam”ucap Devara
Ayra pun tersenyum dengan manisnya. Namun Devara tak ingin melepaskan Ayra. Devara justru menggenggam erat tangan Ayra. Sehingga ketika Ayra berbalik dan akan duduk di kursinya, tangannya masih dalam genggaman Devara. Ayra yang menyadari itu, segera berbalik arah menatap kekasihnya yang kekanak-kanakan itu sambil melotot. Tapi Devara malah menggeleng. Sekali lagi Ayra memberi isyarat supaya Devara melepaskan tangannya. Namun Devara menggeleng lagi. Hingga akhirnya bel pun berbunyi.
Ayra berjalan mendekati Devara.
“Sampai kapan kau mau menggenggam tanganku, hah?”tanya Ayra
Devara tak menjawab malah memasang ekspresi sedih. Membuat Ayra tergelak dengan tingkah Devara yang absurb.
“Masuklah ke kelas. Nanti kita ketemu lagi saat istiirahat, Oke?”bujuk Ayra
“Pergilah sekarang” Ayra mendorong tubuh besar Devara.
Setelah tarik ulur dan percobaan kesekian kalinya, akhirnya Ayra berhasil membujuk Devara kembali ke kelasnya. Devara masuk ke kelasnya begitu juga dengan Ayra. Keduanya mulai mengikuti pelajaran.