
Sampai dirumah, Ayra segera melepas sabuk pengamannya dan akan keluar mobil.
“Teimakasih ya”ucap Ayra pada Devara sambil tersenyum.
Saat akan membuka pintu mobil, tangan kanannya tiba-tiba ditahan oleh Devara.
“Ada apa?”tanya Ayra melihat Devara menahan tangannya.
Devara seperti ingin mengatakan sesuatu tapi bibirnya tak bergerak. Seperti ada yang menahannya. Ayra mengerutkan dahinya bingung.
“Ada apa? Cepat katakan!” pinta Ayra
Devara melepaskan tangan Ayra.
“Tak ada apa-apa. Selamat bersenang-senang!” ucap Devara dengan senyum yang dipaksakan.
Ayra mengangguk pelan. Lalu keluar dari mobil Devara. Ayra menutup pintu mobil Devara lalu setengah membungkuk, dia melambaikan tangan ke Devara. Devara meninggalkan rumah Ayra sambil melirik ke arah spion mobil melihat Ayra yang masuk ke dalam rumah.
"Sial! Kenapa sulit sekali mengucapkannya?"gerutu Devara sambil mencengkeram stir mobilnya.
Sebenarnya Devara mau bilang bahwa dia ingin ikut piknik bersama Ayra dan keluarganya. Tapi dia malu. Hingga kata-kata itu pun tak sanggup dikeluarkan Devara.
Sampai di dalam rumah, Ayra segera menjabat tangan Bundanya. Rupanya Ayah belum pulang.
"Ayah mana bund?" tanya Ayra pada sang bunda
"Ayah belum pulang.. masih ada kerjaan katanya"
"Ehmm.. gitu ya.. ya udah aku ke kamar dulu ya bund. Aku capek. Mau bobo bentar"
"Ya udah istirahat sana.. jangan lupa besok kita piknik. Kamu udah packing belum?" tanya bunda
"Iya bunda aku ingat.. Nanti aku packing"
"Oya Ay.. nanti sore bunda minta tolong kamu ke supermarket ya? Ada beberapa barang untuk piknik besok yang belum bunda beli" pinta Bunda
"Siap bos" ucap Ayra sambil memberi hormat pada Bundanya.
Ayra berjalan menuju kamarnya. Sesampainya di kamar, Ayra merebahkan tubuhnya sejenak di ranjangnya yang empuk. Saking capeknya, setelah tadi main basket dengan Devara, Ayra sampai tertidur tanpa berganti baju dulu.
"Drt.. drt.. drt"
Ayra terbangun ketika smartphonenya berdering.
“Halo” sapa Ayra dengan suara parau sedikit serak sambil mengucek matanya.
“Kau baru bangun tidur? Bukannya kau harus packing? Malah tiduran” tanya Devara
“Sekarang jam berapa?” tanya Ayra masih setengah mengantuk
“Jam 17.00” jawab Devara
“Gawat!!!!” ucap Ayra kaget langsung membuka mata dan terbangun dari tidurnya
“Ay, mau ke supermarket jam berapa nak?” tanya Bunda di ambang pintu kamar Ayra.
“Oh..iya Bunda. Aku siap-siap dulu”jawab Ayra
Devara hanya mendengarkan percakapan Ibu dan anak itu.
“Sudah ya..aku harus siap-siap. Aku mau ke supermarket dulu”ucap Ayra lalu menutup telponnya sepihak
“Hei..” Telepon keburu ditutup.
Devara pun menutup telponnya. Ayra segera menyiapkan bajunya di ranjang. Lalu mengambil handuk besar. Ayra mau mandi dulu sebelum ke supermarket. Di dalam kamar mandi, Ayra baru saja mau mandi. Setelah diguyur air dari shower, Ayra memencet botol sabun cairnya. Tapi botol itu kosong. Ayra lupa mengisi sabun cair.
“Aduh..kenapa mesti kosong di saat-saat seperti ini sih?" gerutu Ayra dalam hati
Ayra tampak berpikir sejenak.
"Sepertinya Ayah belum pulang, sebaiknya aku segera ambil sabun cairnya di bawah” gumam Ayra dalam hati.
Ayra segera meraih handuk besarnya dan dililitkan ditubuhnya yang masih basah. Handuk besar itu menutupi bagian dada Ayra sampai lututnya.
Dengan langkah pelan, Ayra keluar kamarnya sambil mengikat rambutnya model cepol.
“Bundaaa..Sabun cairnya mana? Sabunku habis”ucap Ayra sambil menuruni tangga lalu segera berjalan ke deretan kitchen set mencari sabun cair dengan sebelah tangannya memegangi handuk besarnya.
Ketika Ayra melihat ke arah ruang tamu, matanya terbelalak, tubuhnya seakan membeku,
“Ayraa..cepat ke atas!!”pekik sang Bunda dengan mata melotot.
"Aaaaaaa…” teriak Ayra dengan sangat lantang.
Ayra segera berlari ke kamarnya di lantai dua dengan langkah yang terburu-buru.
Sampai di kamar, Ayra segera menutup pintu kamarnya. Wajahnya memerah, menahan malu. Jantungnya juga berdetak sangat cepat.
“Tok..tok..tok..” Bunda mengetuk pintu kamar Ayra
“Kamu itu ceroboh sekali Ay.. Bisa-bisanya kamu keluyuran hanya memakai handuk seperti itu”seru Bunda sambil menyerahkan sabun cair.
“Kapan dia disini Bunda?”tanya Ayra panik
“Baru saja. Cepat mandi sana! Bunda temui tamumu dulu” ucap Bunda lalu turun ke lantai satu.
Ayra pun segera mandi. Dia tak bisa menyembunyikan rasa malunya setelah tadi Devara mendapatinya setengah telanjang dengan hanya dibungkus sehelai handuk.
Ya..tamu itu adalah Devara. Rupanya Devara tadi menelpon dari depan rumah Ayra.
Devara yang ditinggal Bunda di ruang tamu, benar-benar syok melihat Ayra dengan tubuh setengah telanjangnya. Jantungnya berdegup sangat kencang. “Hartanya yang paling berharga” pun segera mengeras merespon pikirannya yang tertuju ke tubuh mulus Ayra. Tubuh Devara tadi pun seakan membeku menatap tubuh polos Ayra.
“Maafkan Ayra ya nak..Dia pikir tak ada orang selain Bunda” ucap Bunda membuyarkan lamunan liar Devara
“Eh..Iya Bunda” jawab Devara sambil berusaha menenangkan jiwanya yang terus meronta setelah disuguhi adegan tadi.
Bunda meletakkan segelas minuman di depan Devara.
“Kamu..Devara kan?”tanya Bunda lembut
“Iya Bunda”jawab Devara sopan
“Kamu..pacar Ayra?”tanya Bunda lagi
“Iya Bunda” jawab Devara terus terang.
Bunda hanya tersenyum. Mereka pun berbincang ringan. Bunda menanyai Devara tentang keluarganya. Dan Devara menjawab semua pertanyaan Bunda dengan tegas. Bunda suka sikap terus terang Devara yang sepintas sangat mirip dengan putra sulungnya dulu.
Sejak jadi pacarnya, ini adalah pertama kalinya Devara memberanikan diri bertamu ke rumah Ayra. Karena Ayra mengatakan belum siap jika orangtuanya mengetahui dia pacaran. Karena Ayra sendiri belum yakin 100% dengan perasaannya sendiri kepada Devara. Dia ingin memberitahu orangtuanya jika nanti hatinya sudah benar-benar yakin dengan Devara.
Untung saja Devara sangat pengertian. Dia tak pernah memaksa Ayra untuk membiarkannya bertamu. Dia akan menunggu sampai Ayra benar-benar yakin padanya. Dan merasakan yang sama seperti yang Devara rasakan.
Ayra kini sudah selesai mandi. Dia turun ke lantai satu dengan langkah yang sangat berat. Dia benar-benar malu dilihat Devara dalam keadaan seperti itu.
“Kamu sudah siap Ay?”tanya Bunda pada Ayra
Ayra mengangguk pelan. Devara memandangi Ayra yang sudah sangat cantik. Dengan rambut cepolnya, wajahnya terlihat sangat cantik.
“Kamu kesini mau mengantar Ayra ke supermarket kan Devara?”tanya Bunda pada Devara
Ayra melirik ke arah Devara sambil mengerutkan dahinya.
“Memangnya siapa yang bilang mau diantar ke supermarket?”gumam Ayra dalam hati
Devara melihat ke arah Ayra dan tersenyum.
“Iya Bunda” jawab Devara mantap.
Ayra tampak bingung dengan jawaban Devara karena dia tidak merasa mengundang Devara dan juga tidak mengajaknya ke supermarket.
“Kau tadi naik motor ya nak? Gimana kalau kamu naik mobil kami saja? Kalau naik motor nanti kalian susah membawa barang bawaannya” saran Bunda
Bunda kemudian mengambil kunci mobil dan STNK lalu diserahkan ke Devara.
“Jangan malam-malam ya pulangnya” pinta Bunda sambil tersenyum
Setelah berpamitan pada Bunda, Devara dan Ayra lalu beranjak dari duduknya. Devara lebih dulu memasukkan motor besarnya ke garasi. Baru kemudian dia mengantar Ayra ke supermarket.
Sepanjang perjalanan, mereka berdua membisu. Keduanya tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Sesekali keduanya saling mencuri pandang satu sama lain. Akhirnya Ayra memecah keheningan setelah tatapan keduanya saling bertemu.
“Kamu kenapa ke rumah? Aku kan tidak minta diantar ke supermarket?”tanya Ayra penasaran.
“Tadi waktu telpon, aku sudah ada di depan rumahmu, jadi aku mampir” jawab Devara berusaha tenang.
“Dan kau..kenapa tadi keluyuran seperti itu? Bagaimana kau bisa begitu bodoh keluyuran dengan sehelai handuk seperti itu?” tanya Devara marah
Ayra langsung memasang wajah cemberut.
“Aku kan tak tahu kalau ada tamu. Aku pikir hanya ada aku dan Bunda saja yang ada di rumah” ujar Ayra kesal dikatai bodoh oleh Devara.
“Jangan ulangi lagi! Aku tak suka ada lelaki lain memandangi tubuhmu yang seperti tadi” perintah Devara tegas.
“Kau kan dulu juga pernah keluyuran pakai sehelai handuk” keluh Ayra
Ayra menoleh ke arah jendela. Tak terima disalahkan, untuk kesalahan yang dulu juga dilakukan Devara padanya.
Devara merasa tak enak hati sudah membentak Ayra. Akhirnya Devara menurunkan nada bicaranya.
“Sudah..jangan marah! Kau mau beli apa?” tanya Devara sambil meremas rambut cepol Ayra.
Ayra menghela nafas panjang. Kali ini dia memang salah. Tak seharusnya dia keluyuran seperti itu.
“Bunda minta dibelikan bahan makanan yang akan dibawa ke kampung” ucap Ayra.
Ayra pun mengeluarkan daftar belanja pesanan Bundanya tadi.