
Semua anggota keluarga berjalan menuju ruang makan keluarga. Ayra berjalan sambil menuntun Agatha. Sementara Devara berjalan di belakang bersama papanya.
Ruang makan di resort Devara memang tak seluas ruang makan di rumah pribadinya tapi pemandangan dari ruang makan ini sangat luar biasa. Dengan meja besar panjang di bagian tengah ruangan. Di atasnya tergantung lampu hias besar yang sangat indah. Ruang makan bergaya modern ini menghadap ke arah kolam renang dengan model infinity pool. Dari ruang makan ini juga dapat dilihat pemandangan samudera Hindia yang sangat indah karena kaca besar yang menjadi pembatas ruangan antara ruang makan dan kolam renang.
“Duduklah di sini di samping nenek”pinta Agatha pada Ayra
“Baiklah nek”ucap Ayra
Agatha duduk di kursi tengah meja makan. Brandon dan Caroline duduk di samping kanan sementara Ayra dan Devara di samping kiri Agatha.
Catherine duduk di samping Caroline.
Beberapa pelayan mulai masuk menyiapkan makanan. Sebelumnya mereka meletakkan peralatan makan di atas meja. Kemudian mereka silih berganti menyuguhkan berbagai hidangan makanan di atas meja yang sudah dimasak oleh chef professional yang bekerja di keluarga Devara. Nanny yang bertugas mengatur jamuan makan malam keluarga Devara di resort itu.
Ayra yang tak terbiasa dengan acara dinner seperti ini, kebingungan dengan semua peralatan makan yang ada di atas meja. Namun Devara dengan telaten membantunya dan memberitahu Ayra peralatan yang digunakan.
Pertama-tama pelayan menghidangkan appeteizer berupa kue kecil gurih. Selanjutnya hidangan sup. Untuk hidangan main course, dihidangkan beef burguignon yang sangat lezat. Masakan khas Perancis yang terkenal sangat lezat, benar-benar memanjakan lidah siapapun yang memakannya.
Sebagai makanan penutup dihidangkan crème brulee, hidangan dessert terkenal dari Perancis. Hari ini memang hidangan yang disajikan semua adalah menu khas Perancis, makanan kesukaan Devara.
Selesai menyantap semua hidangan, Ayra dan semua anggota keluarga Devara merayakan ulangtahun Devara. Sebuah kue ulangtahun sederhana dihiasi buah-buahan segar, bertuliskan Happy Birthday Devara dengan dua buah lilin membentuk angka 1 dan 7 dibawakan seorang pelayan memasuki ruang makan itu.
Setelah meniup lilin ulangtahun, kue dipotong menjadi beberapa bagian. Untuk potongan kue pertama sengaja diberikan Devara pada Ayra. Sebenarnya Ayra menolak diberi potongan kue pertama, tapi karena semua anggota keluarga Devara memintanya menerima kue itu, akhirnya Ayra pasrah saja. Dan saat Devara mencium pipi Ayra tanpa ijin, Ayra tergelak kaget. Matanya terbelalak. Ekspresi kaget Ayra sangat menggemaskan. Ayra refleks memukul bahu Devara. Sementara Devara tertawa geli melihatnya.
Ayra tersipu malu karena Devara mencium pipinya di depan semua anggota keluarganya. Selanjutnya semua anggota keluarga mendapat potongan kue ulangtahun itu. Mereka menghabiskan kue di meja makan.
Setelah selesai makan, mereka semua kembali ke ruang utama. Di sana mereka berbincang-bincang ringan. Tertawa dan bercanda bersama. Keluarga Devara sangatlah hangat. Jauh dari bayangan Ayra sebelumnya. Karena melihat sikap dan perilaku Devara selama ini, Ayra pikir keluarga Devara pastilah sangat keras, disiplin dan tidak bersahabat. Apalagi mereka adalah salah satu dari keluarga terkaya di Asia, Ayra pikir mereka pastilah sangat arogan, dan pasti memandang rendah orang yang berada di bawah “kasta” keluarga mereka. Ternyata Ayra salah besar. Keluarga Devara sangatlah hangat. Sehangat keluarga Ayra.
Di sela-sela perbincangannya, Devara mengajak keluarganya dan Ayra berfoto bersama. Nenek Agatha duduk di bagian tengah, Brandon dan Caroline di samping kanan dan kiri. Darren duduk dipangku eyang buyutnya Agatha. Sementara Catherine, Devara dan Ayra berdiri di belakang Agatha, Brandon dan Caroline. Mereka berfoto beberapa kali. Sungguh potret keluarga bahagia.
Devara sangat bahagia, di hari ulangtahunnya semua orang yang disayanginya bisa berkumpul semua. Mereka melanjutkan kembali berbincang-bincang.
Seseorang menelpon Brandon.
“Apa semua sudah siap? Oke..i’ll be there about 15 more minutes” ucap Brandon lalu ditutupnya telpon itu.
Caroline menatap suaminya. Brandon mengangguk. Devara menangkap gelagat kedua orangtuanya. Brandon berjalan menghampiri Devara.
“Dev..Maafkan papa, papa harus berangkat sekarang”ucap Brandon pada putranya.
Seketika Devara langsung berdiri dari tempatnya duduk. Wajahnya memerah menahan marah.
“Tapi pa..hari ini adalah hari ulangtahunku. Tak bisakah kalian tinggal di sini sehari saja? at least until tomorrow” seru Devara dengan suara bergetar dan mata yang terlihat berkaca-kaca.
Dia tahu papa dan mamanya sangatlah sibuk. Tapi Devara sangat berharap papa mamanya bisa tinggal lebih lama bersamanya di hari ulangtahunnya.
“I know..but I have meeting with our client tomorrow. I have to go to Melbourne right now” jelas Brandon sambil memegang pundak Devara berharap Devara mengerti keadaannya.
Devara menepis tangan Brandon dengan keras dan berjalan keluar ruang utama. Mendadak suasana ruang utama berubah. Kemarahan Devara sangat jelas terdengar dari suaranya barusan. Api kemarahan juga nampak jelas di matanya. Ayra yang melihat kesedihan dan kemarahan Devara hanya bisa membisu sambil menggenggam tangan Agatha.
Brandon merasa bersalah pada putra kesayangannya itu. Caroline menghampiri suaminya dan menenangkannya.
“It’s okey honey..he’ll understand.. just give him a little more time”ucap Caroline lembut pada suaminya.
Ayra bingung. Lalu menatap Catherine yang hanya mengangguk seolah membenarkan permintaan Agatha.
“Baiklah nek”ucap Ayra lembut. Lalu Ayra berjalan ke arah Devara keluar tadi.
Ayra bingung karena Devara tak kelihatan lagi. Ayra tak tahu kemana Devara pergi sekarang. Ayra terus menyusuri lorong resort. Saat bertemu dengan pelayan, Ayra pun menanyakan keberadaan Devara.
“Maaf, apa Anda lihat Devara?”tanya Ayra pada salah satu pelayan yang ditemuinya.
“Tuan muda tadi ke ruang santai di belakang, nona..mari saya antar”jawab pelayan itu yang kemudian mengantarkan Ayra ke ruangan yang dimaksud.
“Terimakasih”ucap Ayra
Ayra mengikuti pelayan itu menuju ruang belakang yang letaknya lumayan jauh dari ruang utama.
Sampai di ruangan yang dimaksud, terlihat Devara berdiri di depan sebuah dinding kaca besar yang viewnya langsung ke arah pantai. Devara berdiri seorang diri di ruangan itu. Walaupun dari belakang, tapi Ayra tahu Devara sedang menitikkan air matanya, karena Devara terlihat mengusap matanya.
Ayra berjalan perlahan-lahan menghampiri Devara. Dengan hati-hati, Ayra mendekat. Setelah berada tepat di belakang Devara, Ayra pun mengelus punggung Devara pelan. Devara melirik ke belakang.
Ayra berjalan ke samping Devara lalu menggapai tangan kiri Devara dan menggenggamnya. Devara menatap Ayra dengan raut wajah yang sangat sedih. Ayra juga seakan bisa merasakan kesedihan Devara.
Ayra pun berinisiatif memeluk tubuh Devara. Devara kaget melihat Ayra yang tiba-tiba memeluk tubuhnya. Karena selama ini, Devara-lah yang selalu memeluk tubuh Ayra, sementara Ayra tak pernah sekalipun memeluk tubuhnya terlebih dahulu.
Devara terlihat kaku dipeluk Ayra dari depan. Sementara Ayra, memeluk erat tubuh Devara untuk menenangkannya. Perlahan tangan Devara ikut memeluk Ayra. Mereka berdua berpelukan bersama.
Ayra memejamkan matanya dalam pelukan Devara. Ayra dapat mendengar detak jantung Devara. Sementara Devara mendekatkan wajahnya ke kepala Ayra. Sesekali Devara mengelus lembut rambut Ayra yang tergerai. Pelukan Ayra benar-benar dapat menenangkan hati Devara yang sedang bergejolak hebat.
Setelah beberapa saat, Ayra melepaskan tangannya yang memeluk Devara. Devara menatap Ayra dengan sangat lembut. Mereka saling tersenyum satu sama lain. Kemudian Ayra menatap Devara sambil mengusap sisa airmata di wajah Devara. Devara meraih tangan Ayra lalu menggenggamnya.
“Jangan sedih ya..aku akan disini bersamamu”ucap Ayra sambil tersenyum
Devara mengangguk lalu kembali memeluk tubuh hangat Ayra.
“Terimakasih sudah mengkhawatirkanku”ucap Devara lirih di telinga Ayra.
Ayra pun mengangguk.
“Kita kembali ke sana ya..papa mamamu pasti sedang menunggumu” pinta Ayra.
Devara melepaskan pelukannya lalu menggenggam tangan Ayra. Gadis yang sangat disayanginya. Mereka berdua pun berjalan beriringan kembali ke ruang utama. Sesampainya di ruang utama, Devara segera menghampiri papa mamanya.
“Maaf pa..aku terlalu emosi tadi”ucap Devara pada Brandon.
“Tak apa..Papa mengerti” ucap Brandon memahami kemarahan Devara tadi.
Akhirnya Brandon, Caroline dan Catherine pergi petang itu. Mereka akan berangkat ke Melbourne. Brandon dan Caroline ada meeting dengan klient esok pagi, sementara Catherine akan menyusul suaminya yang sudah lebih dulu berada di Melbourne karena ada perjalanan dinas mengikuti seminar internasional dokter-dokter seluruh dunia. Perjalanan Catherine ini juga untuk mengurus masalah rumah tangga mereka sekaligus mengunjungi mertuanya yang tinggal di Melbourne.
Devara dan Ayra mengantar mereka sampai di pinggir landasan helipad. Mereka bertiga akan naik helicopter ke bandara lalu dari bandara mereka akan naik jet pribadi ke Melbourne.
Setelah berpamitan, Brandon, Caroline dan Catherine dengan beberapa suster yang dibawanya segera naik helicopter. Tinggallah Ayra, Devara dan Agatha di resort itu.