Falling In Love With Trouble Maker

Falling In Love With Trouble Maker
Missing You


Sejak perpisahan mereka waktu itu, baik Ayra maupun Devara menjalani hidup mereka masing-masing. Meskipun masih tersisa rasa cinta di hati mereka, namun luka akibat perpisahan itu membuat mereka memilih menjalani jalan hidup yang terpisah.


Ayra berhasil masuk Jurusan Teknik Informatika di salah satu Universitas ternama di kota S. Sementara Devara masuk Jurusan Bisnis Management di Cambridge University di Inggris.


Sebagai anak tunggal yang harus hidup sendiri di kota yang asing untuk dirinya, membuat Ayra sempat mengalami fase hidup yang berat. Dia harus berusaha beradaptasi dengan lingkungan yang baru seorang diri. Tanpa seseorang yang menemani. Terasa berat karena di kota ini, dia hanya seorang diri. Dia tak punya teman, ataupun sanak keluarga disana.


Pergaulan anak kuliah mulai membayangi Ayra. Dia yang biasanya hanya anak rumahan, yang jarang keluar rumah kecuali ditemani Devara, Nadine atau keluarganya, dipaksa keadaan untuk hidup seorang diri di sebuah kota yang hanya pernah dikunjunginya dengan orangtuanya ketika masih SD.


Bergaul dengan beraneka macam karakter manusia, dengan berbagai latar belakang membuat Ayra sempat kesulitan beradaptasi dengan situasi yang begitu cepat berubah. Ayra juga mulai tak bisa menguasai dirinya sendiri dan mulai terbawa arus pergaulan yang ada. Nongkrong di depan boulevard kampus seusai kuliah menjadi kebiasaan baru Ayra.


Dia mulai jarang di kosan sepulang kuliah. Dia sering keluar bermain dengan teman-teman barunya yang kebanyakan adalah anak rantau. Mereka seperti merasakan kebebasan setelah lepas dari pengawasan orangtua masing-masing.


Pulang malam menjadi hal yang biasa dilakukan Ayra. Hingga membuat teman-teman satu kosan Ayra berpikir bahwa Ayra adalah cewek nakal. Karena mereka sering melihat Ayra diantar pulang malam-malam oleh teman laki-laki yang berbeda.


Dari sekian banyak teman laki-laki yang mengantar Ayra, yang paling sering adalah Aldo. Aldo adalah anak asli kota S, teman satu jurusan dengan Ayra. Ya, namanya mirip dengan nama kakak laki-laki Ayra. Sebenarnya Ayra hanya menganggap Aldo teman biasa. Tapi kebersamaan mereka yang sangat sering memunculkan rumor bahwa Ayra dan Aldo adalah sepasang kekasih.


Mereka sering terlihat duduk bersama ketika kulliah. Sering berboncengan berdua kemana-mana. Bisa dibilang bahwa Ayra dan Aldo menjalin hubungan tanpa status. TTM (teman tapi mesra). Padahal sebenarnya Aldo sendiri sudah mempunyai seorang kekasih yang masih duduk di bangku SMA, yang kebetulan adalah tetangganya sendiri. Mereka memilih backstreet karena orangtua sang gadis tak menyetujui hubungan keduanya karena anaknya masih sekolah SMA.


Selama bersama Ayra, Aldo seperti menemukan sosok wanita idamannya selama ini. Hal ini wajar karena Ayra adalah gadis yang cerdas, cantik, dan kepribadiannya yang menyenangkan. Membuat lelaki manapun pasti terpikat dengan kecantikan dan kepribadiannya.


Sementara Ayra, hanya menganggap Aldo tak lebih hanya teman. Dia merasa nyaman bersama Aldo tetapi perasaannya masih lah sama seperti dulu. Hatinya masih sangat mencintai Devara. Tak pernah berkurang sedikitpun rasa cinta dan sayang dihatinya untuk lelaki yang mengisi hatinya itu.


Namun seperti tak punya daya, Ayra selalu saja bersama Aldo. Mereka selalu bersama kemanapun dan kapanpun. Ayra menyadari ada yang salah dengan dirinya. Ini bukanlah dirinya yang sesungguhnya. Bukan seperti ini kehidupan yang ingin dijalaninya.


Hari-hari berlalu tanpa perubahan. Kuliah Ayra terbengkalai. Dia tak bersemangat sama sekali untuk kuliah. Kegiatan yang selalu dilakukannya adalah nongkrong, bermain kemanapun tanpa tujuan. Hingga akhirnya dua semester pun berlalu. Hasil kuliah selama satu tahun. Nilai Ayra sangatlah mengecewakan. Terutama untuk dirinya sendiri. Karena sebenarnya mata kuliah awal sangatlah mudah. Tetapi Ayra tampak kesulitan mengikuti kuliah semester satu dan dua .


Ayah dan Bunda akhirnya mengajak bicara Ayra. Mereka merasa putri satu-satunya itu tidak dalam performa terbaiknya. Hasil kuliah itu mengungkap segalanya.


“Ay, Ayah dan Bunda mau bicara” pinta bunda suatu hari


“Ada apa bund?”tanya Ayra


“ Duduklah dulu bersama Ayah dan Bunda” ajak bunda


Ayra pun duduk bersama Ayah Bundanya di ruang tamu.


“Ay, bagaimana kuliahmu nak?”tanya bunda tiba-tiba


“Ehmm..fine”jawab Ayra singkat


“Benarkah?” tanya Ayah sambil memandang putri kesayangannya itu.


“Apa mata kuliahnya terlalu berat?”tanya bunda


Ayra menggeleng.


“Tidak juga”jawab Ayra enteng


Lalu Ayah menyodorkan rekap nilai semester dua yang kemarin diserahkan Ayra kepada Ayahnya itu.


“Bisa kamu jelaskan kenapa hasilmu seperti ini?”tanya Ayah sambil menunjuk angka 2,5 (C) pada rekap nilai itu.


“Bukankah ini pelajaran yang sangat kamu sukai dulu di SMA makanya kamu ambil jurusan ini”tanya Ayah lagi


Degh..


Ayra mematung. Dia terus menunduk. Memandangi lembaran nilai yang berisi angka-angka itu. Ayah dan Bunda saling beradu pandang. Bunda kemudian duduk di sebelah Ayra dan mengelus pundak putri kesayangannya itu.


Tiba-tiba butiran air mata Ayra menetes. Dia menangis. Dipeluknya tubuh bundanya kala itu.


Ayah dan Bundanya semakin bingung dibuatnya. Ada apa gerangan dengan Ayra?


“Kenapa Ay, kenapa sayang?”tanya bunda sambil mengelus kepala putrinya itu.


Tangis Ayra semakin menjadi-jadi.


Ayah yang bingung dan tak mengerti dengan perilaku putrinya itu akhirnya memilih meninggalkan Ayra dengan Bundanya. Ayahnya merasa ini bukan waktu yang tepat untuk menginterogasi putrinya itu. Bunda yang kebingungan terus menerus berusaha menenangkan Ayra.


Setelah lelah menangis, dan merasa baikan, Ayra pun melepaskan dekapannya dari bundanya. Diambilnya tisu yang ada di meja ruang tamu itu untuk mengusap airmatanya. Bunda masih terus menggenggam tangan Ayra. Memastikan bahwa putrinya benar-benar sudah merasa tenang.


Akhirnya, Ayrapun buka suara. Dia luapkan curahan hatinya selama ini. Semua yang sudah dia lalui selama kuliah.


“Bunda, Ayah maafkan Ayra jika Ayra sudah mengecewakan Ayah dan Bunda”pinta Ayra sambil terisak pelan.


“Aku tahu Ayah dan Bunda tak pernah mempermasalahkan prestasi belajar Ayra”lanjutnya


“Aku hanya merasa setahun ini, Aku sudah salah jalan. Aku sudah kebablasan dalam bergaul. Aku mulai malas kuliah dan lebih sering bolos kuliah. Aku juga sulit beradaptasi dengan perubahan dalam hidupku” jelas Ayra panjang lebar.


Ayah dan Bunda hanya mendengarkan saja penuturan Ayra.


“Apa saja yang sudah kamu lakukan disana?”tanya Ayah


“Apa kamu..”belum selesai Ayah bertanya, Ayra sudah memotong pembicaraan


“Ayra masih bisa menjaga diri yah..Ayra tidak sampai sejauh itu”ucap Ayra seolah tahu arah pembicaraan Ayahnya


“Lalu apa maksudmu dengan kebablasan dalam bergaul?”tanya papa


“Menurutku, apa yang aku lakukan itu sudah kebablasan. Walaupun untuk orang lain sebenarnya itu adalah hal yang biasa”kata Ayra


“Coba kamu lebih perjelas nak”pinta Bunda


“Aku sering sekali nongkrong, motoran, main sampai malam, …dan..”Ayra tak sanggup melanjutkan perkataannya


“Dan?”Bunda penasaran tampak mengernyitkan dahinya.


“Dan bergandengan tangan dengan teman lelaki Ayra, bund”ucap Ayra lirih sambil menunduk


“Maafkan Ayra”ucap Ayra menyesali perbuatannya


“Apa ini bukan karena kamu mau balas dendam pada Devara?”tanya Ayah tiba-tiba


“Tidak yah”sanggah Ayra


Tiba-tiba saja hati Ayra terasa sakit. Betapa jauh dilubuk hatinya dia sangat merindukan sosok Devara. Airmata Ayra kembali terurai.


“Ayra merindukan dia bunda”ucap Ayra sambil mendekap tubuh bundanya lagi sambil menangis tersedu-sedu.


Keluarga itupun larut dalam kesedihan Ayra. Ternyata selama ini Ayah dan Bunda tahu bahwa Ayra masih sangat mencintai Devara dan selalu merindukannya. Bahkan orangtuanya pun bisa membaca gelagat aneh pada putrinya itu sejak Ayra kuliah bulan-bulan pertama.Tetapi mereka memilih diam dan menunggu saat yang tepat untuk menanyakan pada Ayra.


“ Baiklah Ay, mulai semester depan kamu harus lebih rajin lagi kuliahnya, bergaullah seperlunya saja. Jadilah putri kebanggaan Ayah dan Bunda. Ayah percaya kamu bisa melewati semua masalah dalam hidupmu”ucap Ayah bijak sambil mengelus kepala Ayra.


Ayrapun mengangguk.


“Mulai hari ini, Ayra berjanji akan berubah yah..bund”ucap Ayra sambil menggenggam tangan kedua orangtuanya.


“Bunda percaya padamu..istirahatlah sekarang”pinta bunda sambil mengecup kening putri semata wayangnya itu.


“Ayra ke kamar dulu ya yah bund”pamit Ayra sambil berjalan menuju kamarnya.


Sampai di dalam kamar, direbahkan tubuh lelahnya di ranjang. Pandangannya menerawang jauh. Dia teringat kembali pada Devara. Lelaki yang sangat dicintainya itu.


Ayra bangun dari tidurnya dan mengambil hp –nya. Dibukanya kembali galeri foto di hp nya. Foto dan video kebersamaannya dengan Devara kala itu. Waktu mereka masih saling mencintai dan menyayangi.


Semua memori kenangan kebersamaan mereka kembali mengisi pikiran Ayra. Betapa dia sangat merindukan sosok Devara dalam hidupnya. Ayrapun menangis lagi. Hatinya sedih mengingat perpisahan mereka.


“Apakah kamu masih mengingatku?”tanya Ayra dalam hati sambil memandang foto Devara. Tak terasa butir-butir airmatanya yang keluar dari matanya semakin deras. Mengiringi kesedihan dalam hatinya.


Ayra memutar sebuah lagu kesukaannya yang ada di hp. Lagu berjudul Missing You milik penyanyi korea Sunjae yang merupakan original soundtrack drama korea True Beauty, kesukaan Ayra. Sungguh bait-bait kata dalam lagu itu seakan mewakili perasaan Ayra saat ini yang sangat merindukan Devara.


Ajik moreugo issjyo geudaen eolmana teugbyeolhanji


Aku masih tak tahu betapa istimewanya dirimu


Dangshine mame ireon naega dahgil barae


Aku berharap bisa menggapai hatimu


Jogeum deo gipeojyeoga naega geudaewa hamkkehalsurok na


Itu menjadi sedikit lebih mendalam semakin aku bersama denganmu


I'm missing you


Waiting for you


Nae mami geudaereul hyanghae inneun georyo


Hatiku hanya pergi tertuju kepadamu


I'm missing you


Waiting for you


Geudael oneuldo gidaryeoyo


Aku menunggumu hari ini


Gomini manajyeoyo ijen


Sekarang aku mempunyai begitu banyak kekhawatiran


Haru onjongil geudae saenggakman haneun na


Sepanjang hari aku hanya memikirkan dirimu


I'm missing you


Waiting for you


Nae mami geudaereul hyanghae inneun georyo


Hatiku hanya pergi tertuju kepadamu


I'm missing you


Waiting for you


Geudael oneuldo gidaryeoyo


Aku menunggumu hari ini


Eonjena nae gyeoteul jikyeo jueossdeon geudael


Kau yang selalu berada disisiku untuk menjagamu


Nohchigo sipji anayo jeongmal


Aku sungguh tak ingin melepaskanmu


 


Sementara itu, dibelahan bumi yang lain, seperti memiliki ikatan batin yang kuat, tiba-tiba Devara merasa sangat merindukan Ayra. Gadis cantik tomboy yang sangat dicintainya. Devara tampak menatap keluar kaca gedung perusahaan Alexis Global Corp. miliknya.


Sejak kuliah, papa Devara memang memberikan wewenang pada Devara untuk mengelola anak perusahaan yang ada di Inggris. Sehingga kesibukan Devara berhasil membuatnya sejenak melupakan perpisahannya dengan Ayra.


Namun entah kenapa, hari ini, Devara merasa sangat merindukan Ayra. Merindukan cinta dalam hidupnya. Devara pun kembali duduk di kursinya dan membuka email yang dikirimkan kak Arga hari ini.


Rupanya sejak pindah ke Inggris, Devara tak pernah sedikitpun melupakan Ayra. Devara masih juga mengirimkan bodyguardnya untuk mengawasi dan memata-matai Ayra. Sehingga Devara tetap mengetahui semua yang terjadi pada Ayra. Termasuk kedekatan Ayra dengan lelaki satu jurusan dengannya yaitu Aldo.


Pertamakali mendengar berita kedekatan Ayra dengan Aldo, Devara yang terbakar api cemburu, langsung menyusul ke Indonesia. Dia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Ayra sudah benar-benar melupakan dirinya.


Namun sesampainya di kampus tempat Ayra kuliah, Devara malah tersenyum bahagia, karena dia percaya Ayra tak melupakannya. Dia berpikir seperti itu saat melihat Ayra menampik tangan Aldo yang ingin menggandeng tangannya naik motornya.


Sejak saat itu, Devara semakin memperbanyak mata-mata nya disekitar Ayra. Jadi Devara tetap mengetahui semua yang terjadi pada Ayra.