Falling In Love With Trouble Maker

Falling In Love With Trouble Maker
Kaulah Pacarku!


Sepanjang malam, Daniel, Ayra dan Nadine tampak gusar. Mereka sulit memejamkan mata. Hanya Devara satu-satunya yang tanpa beban tertidur dengan pulas.


Ayra memikirkan cara supaya Daniel dan Nadine segera berbaikan. Daniel memikirkan cara supaya Nadine tidak marah lagi. Sementara Nadine masih emosi mendengar cerita Devara. Dia benar-benar cemburu pada gadis bernama Karin itu.


Keesokan paginya, Daniel yang kehabisan ide segera menghampiri kamar Nadine. Madam O yang membukakan pintu untuk Daniel.


"Tuan muda silahkan masuk"ucap Madam O ramah


"Terimakasih Madam. Aku ingin bertemu Nadine, bisakah Madam panggilkan?"pinta Daniel


"Sebentar tuan muda"ucap Madam O


Wanita paruh baya itupun berjalan ke arah kamar Nadine. Madam O pun memanggilkan Nadine.


"Tok..tok..tok"


"Nona Nadine..ada tuan Daniel ingin bertemu" ucap Madam O


Pintu kamar pun dibuka dari dalam. Menampakkan wajah si pemilik kamar yang sejak kemarin suasana hatinya sedang galau.


"Iya Madam..terimakasih"sahut Nadine sambil tersenyum pada Madam O


Ayra yang baru keluar kamar dan melihat Daniel, memilih tak ikut campur dengan urusan mereka. Melihat Nadine yang berjalan menghampirinya, Daniel pun berjalan mendekati gadis cantik yang sedang marah itu. Daniel menarik tangan Nadine.


“Kau mau bicara apa?”tanya Nadine ketus


“Katakan padaku sebenarnya kamu ini kenapa? Kenapa setelah bertemu dengan Karin kamu seperti ini? Bukankah aku sudah katakan kami hanya berteman”tanya Daniel to the point.


Mendengar Daniel mempermasalahkan masalah Karin, membuat Nadine akhirnya memilih mengungkapkan semuanya.


“Tapi Vania dan Devara semuanya berpendapat sama. Mereka mengatakan kalau kamu pacaran dengan Karin”seru Nadine emosi


“Kamu lebih percaya mereka daripada aku? Aku bilang aku hanya berteman dengan dia. Kenapa kau tak percaya?”ujar Daniel dengan nada tinggi.


“Bagaimana aku bisa percaya, jika kemarin tatapan matamu padanya seperti itu”ucap Nadine dengan nada bergetar menahan emosi.


“Memangnya ada apa dengan tatapan mataku?”tanya Daniel tak mengerti


Nadine yang sudah habis kesabaran akhirnya meluapkan emosinya yang dari kemarin ditahannya.


“Kau menatapnya dengan penuh perasaan. Tatapan matamu sangat lembut padanya. Kau juga terus tersenyum padanya. Apa kau tak menyadarinya?”ungkap Nadine dengan penuh emosi


Dua sahabat yang saling memendam rasa itu pun bertengkar cukup hebat. Ayra yang mendengar pertengkaran mereka berkali-kali ingin ikut memarahi Daniel. Tapi dia terus menahan dirinya.


“Aku tak boleh ikut campur. Benar kata Devara, aku harus biarkan mereka menyadari perasaan mereka masing-masing. Aku harus tahan”gumam Ayra dalam hati.


Ayra akhirnya memilih keluar apartemen dan pergi ke apartemen Devara. Disana mereka berdua duduk-duduk santai sambil menikmati pemandangan Sungai Han dari jendela apartemen Devara.


Sementara itu,


“Baiklah, aku minta maaf. Sekarang katakan apa yang harus aku lakukan supaya kau tak marah lagi? Ayo katakan!”pinta Daniel


Nadine membisu tak menjawab permintaan Daniel. Namun matanya memancarkan kesedihan yang begitu dalam.


“Kenapa kau tak bisa mengerti perasaanku? Hatiku sakit sekarang” gumam Nadine dalam hati sambil menatap Daniel penuh harap. Berharap lelaki yang disukainya itu mampu membaca pikiran dan hatinya yang sedang berkecamuk, bergulat dengan perasaannya sendiri.


“Aku lelah. Pergilah!” pinta Nadine lalu berbalik badan hendak meninggalkan Daniel.


Tiba-tiba Daniel menarik tangan Nadine hingga gadis cantik itu berbalik.


Daniel terperanjat kaget, karena Nadine tampak menitikkan airmata.


Daniel merasa hatinya ikut sakit melihat gadis cantik yang selalu ada untuknya itu menangis. Nadine menepis tangan Daniel.


“Jangan perdulikan aku. Pergilah” ucap Nadine lirih dengan airmata yang menetes semakin deras.


Sesekali Nadine mengusap airmatanya.


“Tapi…”Daniel belum sempat menyelesaikan ucapannya.


“Biarkan aku sendiri. Pergilah”ucap Nadine dengan suara terisak.


Daniel menatap wajah sendu Nadine.


“Baiklah, aku akan pergi. Jika itu yang kau mau dan jika itu bisa membuatmu lebih tenang. Tapi asal kau tahu, hatiku sakit melihat kau menangis karenaku. Andai aku bisa menghapus kesedihan dalam hatimu. Tolong jangan menangis lagi. Aku tak kan bisa memaafkan diriku sendiri jika kau terus sedih seperti ini karenaku. Istirahatlah”ucap Daniel lembut pada Nadine.


Nadine sangat tersentuh mendengar kata-kata Daniel. Nadine dapat merasakan ketulusan dalam ucapan Daniel padanya barusan. Kata-kata yang mampu mendinginkan gejolak jiwa dalam hati Nadine.


Daniel pun memilih meninggalkan Nadine seperti yang diinginkan “sahabatnya” itu. Daniel meninggalkan Nadine dengan berat hati.


“Tidak! Jangan pergi”seru Nadine dalam hati


Nadine pun bertarung dengan pikiran dan hatinya. Perjuangannya mempertahankan “persahabatan” dengan Daniel selama ini, sedang dipertaruhkan.


Akhirnya, Nadine berlari mengejar Daniel dan memeluk tubuh Daniel dari belakang.


“Jangan pergi!”ucap Nadine sambil terisak.


Kali ini dia akan memberanikan diri, berusaha mengungkapkan perasaannya, cintanya pada Daniel.


“Maafkan aku karena sudah cemburu pada Karin”ucap Nadine sambil terus terisak tanpa melepaskan pelukannya pada tubuh Daniel.


Daniel yang dipeluk dari belakang, tampak menyunggingkan senyum di wajah tampannya. Daniel pun melepaskan tangan Nadine dari tubuhnya dan berbalik arah menghadap ke arah gadis cantik yang kini bersiap mengungkapkan perasaannya selama ini. Nadine yang masih terisak menatap lelaki yang dicintainya selama ini. Sementara Daniel dengan senyum yang terus tersungging di wajahnya menatap lembut pada gadis yang diam-diam memiliki tempat khusus di dalam hatinya. Daniel menggenggam tangan Nadine.


“Maafkan aku, ini semua karena …”Nadine belum sempat menyelesaikan kata-katanya.


“Aku tahu..aku tahu apa yang akan kau katakan. Tapi bukan kamu yang harusnya mengucapkan itu”ujar Daniel


Nadine bingung dengan ucapan Daniel.


“Maksudmu?”tanya Nadine


Daniel hanya tersenyum lalu mendekatkan wajahnya pada Nadine. Tangan kanannya menyentuh tengkuk Nadine lalu Daniel mencium kening Nadine. Perasaan Nadine semakin tak karuan karena mendapat “ciuman” oleh Daniel. Ini pertamakalinya bagi Daniel mencium kening Nadine. Karena selama ini mereka samasekali tak pernah melakukan skinship sebelumnya. Semua itu karena “status” persahabatan mereka.


Daniel dan Nadine saling bertatapan dengan hangat dengan tangan keduanya yang masih berpegangan dengan erat. Kemudian Daniel memeluk tubuh mungil Nadine. Daniel memeluknya dengan sangat erat, hingga mampu merasakan tubuh Nadine yang hangat. Nadine pun perlahan-lahan mengangkat tangannya lalu memeluk balik tubuh Daniel. Mereka berpelukan sambil tersenyum bahagia. Akhirnya keduanya berada dalam pelukan pujaan hati masing-masing.


“Kita hentikan saja permainan “persahabatan” ini. Sudah saatnya kita jujur dengan perasaan kita. Sudah terlalu lama kita saling memendam perasaan. Bukankah seperti ini lebih baik?”ucap Daniel dibalas anggukan pelan Nadine.


Mereka berdua berpelukan selama beberapa saat. Membuat hati keduanya dipenuhi kebahagiaan.


Setelah beberapa saat, Nadine sedikit menjauhkan tubuhnya dari Daniel, namun tanpa melepaskan pelukan dari tubuh Daniel.


“Apa sekarang…artinya kita…”Nadine tak berani melanjutkan ucapannya.


“Artinya sekarang..kaulah pacarku”ucap Daniel tegas


Nadine sangat bahagia mendengar pengakuan Daniel. Hatinya merasa lega karena ternyata Daniel juga merasakan perasaan yang sama dengannya. Ketakutan kehilangan seorang sahabat yang sangat berarti dalam hidupnya, yang selama ini terus menghantui Nadine, sirna begitu saja. Seolah ketakutan itu hilang bersama hembusan angin. Hilang seketika dari dalam hati Nadine. Membuat Nadine dapat bernafas lega.


Daniel mengelus pelan kepala Nadine kemudian mencium kening Nadine lagi.


“Jangan sedih lagi ya..aku bingung harus bagaimana jika kamu sedih seperti itu. Aku jadi tak bisa berpikir”ucap Daniel lembut dibalas Nadine dengan tawa pelan.