Falling In Love With Trouble Maker

Falling In Love With Trouble Maker
Penasaran Sosok Ayra


Selama perjalanan menuju dapur, pelayan-pelayan dan bodyguard Devara yang melihat Devara membopong Ayra ke dapur, saling berbisik satu sama lain. Mereka penasaran dengan sosok Ayra yang bisa membuat Devara membopongnya.


Ayra sebenarnya malu. Dia memilih menyembunyikan wajahnya karena dilihat pelayan serta bodyguard Devara. Mereka juga berpapasan dengan Madam O.


“Tuan muda mau kemana?”tanya Madam O melihat Devara membopong Ayra


Devara terus berjalan. Madam O mengikutinya.


“Aku mau ke dapur”jawab Devara


“Untuk apa tuan muda?”tanya Madam O penasaran.


Karena Devara memang tidak pernah ke dapur sebelumnya. Bahkan air putihnya pun diambilkan pelayan.


“Gadis ini akan memasak untukku. Siapkan saja bahan-bahan yang dimintanya” jawab Devara


Ayra merasa risih mendengar Devara memerintah orang tua seperti Madam O dengan nada tanpa sopan santun.


Sesampainya di dapur, pelayan-pelayan yang berada di dapur kalang kabut melihat majikannya masuk dapur untuk pertama kalinya. Sungguh kejadian yang tak biasa. Bahkan seorang pelayan yang sedang minum, sampai tersedak begitu melihat Devara memasuki dapur.


Semua pelayan pun berkumpul di pojok. Sementara Devara sambil membopong Ayra terus berjalan ke salah satu meja granit panjang yang ada di dapur. Devara lalu menurunkan Ayra.


“Dengarkan semua! Siapkan semua bahan yang diminta gadis ini!”perintah Devara kepada pelayan-pelayannya.


“Baik tuan muda”sahut para pelayan bersamaan.


Ayra yang mendengar nada tidak sopan Devara benar-benar menjadi jengkel. Devara menatap ke arah Ayra.


“Katakan saja, bahan-bahan apa saja yang kau butuhkan untuk masakanmu” ujar Devara.


Seorang pelayan diminta maju oleh Madam O. Pelayan itu mendekat pada Ayra.


“Maaf saya mau merepotkan. Minta tolong Anda siapkan …..”


Ayra menyebutkan semua bahan-bahan yang diperlukannya untuk membuat nasi goreng special yang diminta Devara.


Devara memperhatikan Ayra dengan senyum yang terus tersungging di wajahnya. Madam O yang melihat Devara dari jauh, menjadi penasaran dengan sosok Ayra yang ada dihadapannya itu. Tutur kata Ayra sangat sopan dan juga lembut. Membuat pelayan-pelayan Devara juga penasaran dengan sosok gadis cantik yang dibawa majikannya itu.


Devara terus menatap ke arah Ayra. Diperhatikannya setiap mimik wajah Ayra. Devara benar-benar terhipnotis gadis tomboy pemberani bernama Ayra.


“Apakah sudah semua nona?”tanya pelayan itu memastikan lagi.


“Ehmm..saya rasa itu sudah semua. Mohon bantuannya ya”ucap Ayra sopan


Pelayan itu pun berjalan ke arah Madam O dan pelayan yang lain.


“Apa sudah semua?”tanya Devara lembut


“He em”Ayra mengangguk


“Sepertinya sudah” jawab Ayra


“Baiklah. Siapkan semua yang tadi dibutuhkan!”perintah Devara.


Lagi-lagi Ayra jengkel mendengar Devara tak sopan pada pelayan-pelayannya. Diapun mengepalkan tangannya, menahan diri untuk tidak marah.


“Apa dia tidak bisa sopan sedikit?” gumam Ayra dalam hati


“Duduklah dulu”pinta Devara sambil menarik kursi kecil di dapur.


Ayra pun duduk. Semua pelayan menyiapkan alat dan bahan yang dibutuhkan Ayra. Sambil menunggu para pelayan menyiapkan keperluan Ayra, mereka berdua berbincang-bincang.


“Awas saja kalau masakanmu tidak enak”ancam Devara


“Ya kalau tidak enak, ga usah dimakan. Gitu aja repot”timpal Ayra sewot sambil mengerucutkan bibirnya.


Membuat Devara tertawa geli melihat Ayra yang sangat menggemaskan saat sedang marah. Devara seperti terpaku pada sosok Ayra yang saat ini duduk disampingnya. Gadis yang selama beberapa hari ini menghiasi hari-harinya dengan makian dan ejekan itu kini berada tepat di depannya. Membuat Devara benar-benar bahagia. Tanpa sadar Devara terus memandangi wajah cantik Ayra dengan senyum yang terus tersungging di wajah tampannya.


“Kau lihat apa?”tanya Ayra yang risih diliat Devara dengan tatapan yang lain dari biasanya.


Tatapan yang sangat hangat. Devara yang ketahuan memandangi wajah Ayra, jadi salah tingkah.


“Tidak..bukan apa-apa”kelit Devara lalu dia mengalihkan pandangan pada pelayan-pelayannya yang hilir mudik menyiapkan semua keperluan Ayra.


“Hissshh..jelas-jelas dia melihatku. Malah ga mau ngaku”gumam Ayra dalam hati.


“Sepertinya aku memang sudah gila. Bisa-bisanya aku suka gadis tomboy yang suka memaki dan marah-marah ini”batin Devara sambil menatap ke arah Ayra.


Dan ketika mereka berdua bertatapan, Devara mengalihkan pandangan matanya lagi. Begitu seterusnya.


Akhirnya semua yang Ayra butuhkan sudah tersedia.


“Sekarang keluar kalian semua! Tunggu di luar”perintah Devara pada pelayan-pelayannya.


“Hissshhh…cowok menyebalkan..ga ada sopan santunnya sama sekali. Aku harus memberinya pelajaran”gerutu Ayra dalam hati.


Ayra yang sudah sejak tadi menahan diri akhirnya kehabisan kesabaran, tiba-tiba


“Plakkkk..”


“Heiii..kenapa memukul kepalaku?”bentak Devara sambil memegang kepalanya yang dipukul Ayra.


“Apa kau tidak bisa bicara lebih sopan? Dari tadi aku dengarkan kamu sama sekali tak ada sopan santunnya. Mereka itu lebih tua dari kita” seru Ayra saking jengkelnya.


Devara melihat sekeliling, semua mata menatapnya.


“Memangnya aku salah?” tanya Devara geram


“Apa kau tak pernah diajari sopan santun, hah? Aku risih mendengarmu memerintah mereka dengan bahasamu yang tak punya sopan santun itu”balas Ayra


Pertengkaran Devara dan Ayra benar-benar menarik perhatian Madam O. Karena belum pernah ada yang berani memukul Devara, selain dirinya tentunya. Karena Madam O sudah seperti nenek bagi Devara. Tapi selebihnya, sama sekali tak ada seorang pun yang berani memukul Devara. Menyentuhnya pun tidak ada yang berani. Tapi kini, seorang gadis muda berani memukulnya. Benar-benar pemandangan yang sangat menarik.


“Siapa gadis ini? Benar-benar gadis yang menarik”tanya Madam O dalam hati.


Mereka berdua berdebat terus.


“Saya mohon maaf..silahkan Bapak Ibu keluar sebentar ya. Maaf sudah mendengarkan kata-kata tidak sopan lelaki ini”ucap Ayra lembut tapi kemudian menatap Devara dengan dingin


“Baik tuan muda, kami keluar sekarang. Kami ada di luar jika tuan muda membutuhkan sesuatu”jawab Madam O


Devara hanya melambai-lambaikan tangannya menyuruh pelayan-pelayannya keluar. Madam O dan semua pelayan keluar dari dapur dengan penuh kekagetan. Arga yang melihat Madam O dan para pelayan, segera menghampiri Madam O.


“Ada apa Ibu?”tanya Arga penasaran


“Apa kau tahu tentang gadis yang dibawa tuan muda?”tanya Madam O.


Arga yang tahu arah pembicaraan Madam O pun mengangguk.


“Bagaimana menurut Ibu? Bukankah gadis itu cocok dengan tuan muda?”tanya Arga


“Kau juga berpikir seperti itu?”tanya Madam O karena rupanya mereka memiliki pemikiran yang sama tentang Ayra.


“Semoga saja gadis itu bisa merubah tuan muda”harap Madam O


Di dapur,


Devara dan Ayra masih saja bertengkar.


“Kenapa kau memukulku di depan pelayan-pelayanku?”protes Devara


“Salah sendiri tak bisa bicara dengan sopan” balas Ayra


“Jadi tidak nih masaknya? Kalau tidak aku keluar saja”tanya Ayra kesal terus berdebat dengan Devara.


“Jadi!!!” seru Devara.


“Kalau begitu, sudah diam..Jangan marah-marah lagi”pinta Ayra


Devara masih kesal tapi dia memilih mengalah. Wajahnya masih cemberut karena dipukul di depan pelayan-pelayannya. Kadang Devara lupa, dibalik wajah cantik dan sikapnya yang lembut, Ayra adalah gadis tangguh yang tak kenal takut, yang tak segan beradu fisik dengan lelaki. Termasuk dengan dirinya.


Ayra bersiap memasak. Diperiksanya lagi alat dan bahan yang diperlukan. Lalu Ayra mencari apron. Tapi dia tak menemukannya. Ayra clingukan.


“Kau mencari apa? Tadi katanya sudah semua?”tanya Devara melihat Ayra celingukan.


“Apron..aku lupa bilang. Aku yakin pasti di sekitar sini” jawab Ayra


“Biar aku panggilkan pelayanku”ujar Devara


“Pela..”belum selesai berteriak Ayra sudah menyumbat mulut Devara


Devara protes. Dilepaskannya tangan Ayra yang menutup mulutnya dengan kasar.


“Kenapa kau menutup mulutku?”protes Devara


“Jangan menyuruh orang untuk pekerjaan yang bisa kau lakukan sendiri. Aku yakin pasti ada di sekitar sini. Sudah diam. Jangan mengganggu pelayanmu! Mereka juga butuh istirahat” pinta Ayra


Mereka pun mencari apron itu berdua. Ayra membuka laci-laci kitchen set berharap menemukan apron yang dicarinya. Tapi dia tak menemukannya. Ditengah pencariannya, tiba-tiba Ayra merasakan tangan Devara di samping kanan dan kiri Ayra.


“Apa yang kau lakukan?”tanya Ayra melihat tangan Devara di kanan kiri tubuhnya.


Rupanya Devara menemukan apron itu.


“Sudah diamlah. Biarkan aku memakaikan apron ini”jawab Devara lembut.


Ayra menurut. Jantung Ayra bergetar hebat dengan sikap Devara.


“Sudah selesai” ucap Devara setelah memakaikan apron itu. Dia tersenyum senang.


“Terimakasih” ucap Ayra malu-malu.


“Cepat masak sekarang” ujar Devara tak sabar.


“Oke..tunggu saja..kau pasti akan ketagihan setelah memakannya nanti” tantang Ayra


Devara tersenyum mendengar ucapan Ayra. Dia pun sudah gak sabar untuk mencicipi masakan Ayra yang selama di Singapura sangat diinginkannya. Akhirnya Devara bisa menagih janji Ayra untuk memasakkan nasi goreng spesial ala chef Ayra.