
Begitu memasuki kamp militer, Devara langsung tahu bahwa dirinya akan mengalami perubahan besar dalam hidupnya. Dirinya yang biasanya sesuka hati dan seenaknya sendiri. Cenderung bossy dan suka memerintah, kini harus rela hidup dalam tekanan dan diperintah oleh orang lain. Jiwa pemberontak dan kesabaran Devara benar-benar tengah diuji. Jangan tanya berapa banyak sumpah serapah yang menggunung dalam hati Devara kala dia harus menerima bentakan dan teriakan dari pelatih, sesama siswa di pusdiklat maupun dari seniornya di sana.
Meskipun Devara bukan prajurit tentara sungguhan yang ingin membela bangsa dan negara atau yang ingin mengabdi untuk negara namun semua yang dilakukan dan diterima Devara adalah latihan sungguhan bagi tentara. Devara harus rela tidur beralaskan kasur tipis yang jauh dari kata nyaman. Bahkan di awal-awal kedatangan di barak militer itu, Devara tidak bisa tidur sama sekali. Namun seiring waktu, akhirnya Devara dapat menyesuaikan diri dengan kerasnya kasur di barak militer tersebut.
Untuk menu makanan yang disediakan di kamp militer tentu saja sangat jauh dari menu masakan yang biasanya disantap Devara. Jangankan koki profesional, koki yang memasak pun juga seorang tentara. Di tengah-tengah latihan yang sangat berat, para prajurit yang ada disana harus rela menyantap menu makanan yang sederhana. Ratusan siswa dalam masa latihannya hanya diberikan nasi, sayur sop, satu tempe mendoan, dan kerupuk. Semua makanan tersebut dijadikan satu dalam wadah yang terbuat dari aluminium.
Pendidikan militer di sana sangatlah ketat dan super disiplin. Untuk sekedar makan pun, para prajurit harus berbaris rapi dan mengantri untuk mendapatkan jatah makanan. Setelah mendapat makanan mereka, masing-masing prajurit akan menunggu prajurit yang lain sampai semua prajurit mendapatkan makanannya. Setelah itu, perwakilan siswa akan melapor pada pelatih, dan diikuti dengan berdoa bersama, baru boleh makan. Mereka akan makan di lapangan atau duduk di kursi dengan meja panjang yang ada di ruang makan. Para prajurit makan dalam barisan, saling berhadap-hadapan.
Setelah semua prajurit duduk rapi maka acara makan pun dimulai. Gerakannya tetap disiplin, saat makan hanya tangan saja yang boleh bergerak mengambil makanan dan menyuapkan ke mulut. Saat makan kepala tidak boleh banyak bergerak, termasuk tidak boleh menunduk atau menoleh. Beberapa pengawas terlihat hilir mudik mengawasi jalannya acara makan itu.
Awal-awal di kamp militer, Devara sering mendapat hukuman karena tidak menghabiskan makanan yang ada di wadah aluminiumnya yang biasa disebut dengan istilah ompreng.
“Makanan seperti ini harusnya bukan untuk manusia”keluh Devara dalam hati sambil menatap makanan di wadahnya.
“Kenapa kau tidak makan? Apa kau sudah kenyang?”pekik seorang pengawas melihat Devara yang tak segera memakan makanannya.
“Cepat makan! Waktu kalian terbatas”teriak pengawas yang lain
Walaupun tidak selera makan, akhirnya mau tidak mau Devara memakan makanan yang ada di omprengnya. Menjadi bagian dari anggota TNI di kamp militer itu, Devara diharuskan makan dengan cepat. Ini ditujukan agar semua prajurit siap sedia saat menghadapi kondisi darurat. Tak berhenti sampai situ, setelah makan siang, senat siswa akan melapor pada pelatih bahwa acara makan telah selesai. Selesai acara makan, semua prajurit diwajibkan mencuci ompreng mereka masing-masing, kemudian mengembalikan ompreng tersebut di tempatnya.
Selama di kamp militer itu, Devara mengikuti materi pelajaran yang sangat menantang dan berat. Terasa berat karena semua itu, jauh dari keseharian dan kehidupan Devara selama ini. Devara Alexander yang terbiasa hidup dilayani oleh para pelayannya, harus menerima kini dirinya hidup di kamp militer dan menerima pendidikan militer untuk menjadi seorang prajurit TNI. Beberapa pelajaran yang diterima Devara diantaranya teknik tempur, membaca peta, Pionir, patroli, survival, mendaki gunung serta pendaratan dengan kapal motor dan amphibi. Para siswa di pusdiklat juga dilatih pertempuran jarak dekat, perang kota, teknik gerilya, selam militer dan juga anti-teror.
Devara menerima hampir semua pendidikan yang diperlukan untuk menjadi seorang prajurit sejati, meskipun hanya dalam waktu yang lumayan singkat, hanya satu setengah bulan saja. Namun dengan pengetahuan, kecerdasan dan ketahanan fisik Devara yang mumpuni menjadikan Devara salah satu siswa terbaik di kamp militer itu.
“Bagaimana keadaan anak muda itu?”tanya kakek Arya pada komandan
“Anak itu baik-baik saja. Bahkan anak itu bisa melampaui ekspektasi saya selama ini. Saya pikir anak itu akan menyerah, melihat penampilannya yang sangat jauh dari seorang prajurit. Namun sekarang anak itu benar-benar merubah pandangan saya. Anak itu benar-benar hebat Jenderal”puji sang komandan sambil melihat catatan nilai Devara selama di kamp tersebut.
“Rupanya dia benar-benar membuktikan ucapannya”gumam kakek Arya dalam hati
“Baiklah! Terimakasih untuk informasinya. Aku tunggu kabar selanjutnya”pinta kakek Arya
“Siap Jenderal! Selamat siang”pamit sang komandan
“Selamat siang”balas kakek Arya
Kakek kemudian menutup sambungan teleponnya dengan komandan yang dulu adalah ajudannya.
“Ternyata anak itu tangguh juga. Ayra tak salah mencari pendamping hidup”gumam kakek Arya sambil menatap foto keluarganya yang terpajang dalam ukuran sangat besar menampilkan seluruh anggota keluarganya. Termasuk disana Ayra yang terlihat tersenyum dengan sangat manis.
*****
Devara benar-benar membuktikan ucapannya. Devara bahkan dipilih menjadi pimpinan regu dengan beberapa anggota dibawahnya. Devara dipercaya memimpin pasukan yang terdiri dari ratusan orang saat apel pagi atau saat menyanyikan yel-yel penyemangat selama latihan pembinaan fisik.
Dengan ilmu beladiri yang dikuasainya selama ini dan latihan fisik yang rutin dilakukan Devara, membuat Devara tak mengalami kesulitan saat mengikuti pembinaan fisik di sana. Bahkan dengan kerasnya latihan fisik di kamp, membentuk otot-otot tubuh Devara menjadi semakin kuat dan terbentuk sempurna.
“Ayo maju terus! Jangan berhenti! Kalian harus terus maju”teriak salah seorang pelatih
Para prajurit harus dapat mengalahkan ketakutannya dan terus maju ditengah gempuran tembakan para sniper. Benar-benar latihan yang menguras mental dan fisik para prajurit.
Setelah melewati beberapa minggu untuk menghadapi tahap 1, sekarang Devara harus menghadapi tahap 2 dalam pendidikan pasukan kopassus. Tahap 2 ini berisikan pendidikan dengan penekanan anti-pemberontakan, Perang Hutan, Praktek raid, menembak, navigasi darat, survival, penjejakan dan anti penjejakan. Stabilisasi pengamatan hutan, kemampuan individu di dalam hutan / Teknik dasar pertempuran, kemampuan hutan dalam hubungan kelompok, How To Fine The Fighter (HTF) hutan, dan ketahanan patroli pengintaian jarak jauh (LRRP).
Tahap ini diawali dengan pendakian serbu (panjat tebing) di kawasan tebing yang memiliki ketinggian 48 meter. Lalu nantinya akan dilanjutkan perang hutan / gerilya baik pemantapan individu maupun kerjasama tim. Setelah itu dilanjutkan ke latihan survival di hutan. Di tahap ini para siswa komando tidak dibekali logistik dan senjata apapun selama 5 hari. Mereka harus bertahan hidup melewati segala rintangan dan mara bahaya di hutan.
Devara yang sebenarnya memiliki ketakutan besar terhadap serangga dan ular dipaksa keadaan untuk menghadapi ketakutannya itu. Karena selama di hutan, para prajurit harus berlatih bertahan hidup dengan memakan apapun yang ada di hutan. Devara bahkan terpaksa memakan ular demi bertahan hidup di hutan.
“Enak juga rupanya daging ular ini”ucap Devara setelah berhasil menangkap dan membakar ular yang ditemukannya di hutan bersama dengan teman-temannya sesama siswa pendidikan pasukan kopassus.
“Apa kau pernah memakan ular sebelumnya?”tanya teman Devara sambil menyantap daging ular yang ada ditangannya.
“Tentu saja tidak pernah”jawab Devara
Mereka menikmati santapan yang mereka temukan dengan lahap. Rasa lapar telah mengalahkan ketakutan para prajurit terhadap makhluk melata yang terlihat menakutkan dan menjijikkan.
Selama tahap 2 ini, siswa para komando juga dilatih pengamatan hutan. Menganalisa tiap pergerakan sebagai data yang dapat di analisis. Ini berguna untuk melatih kepekaan dan insting seorang siswa komando di hutan. Bukan hanya individu tetapi juga kerjasama tim antar prajurit juga dipertajam dalam latihan tersebut.
Tahap survival diakhiri dengan long march dengan rintangan dari kota L ke kota C yang berjarak sekitar 50 km. Mereka dilengkapi dengan ransel yang berbobot sekitar 20 kg, ditambah logistik, senjata, helm dan sepatu boot. Pada tahap ini ketahanan fisik Mereka benar-benar diuji. Mereka dikondisikan dalam skenario perang menuju ruang emas atau daerah target operasi yang harus direbut dalam waktu 10 hari.
“Kapan penderitaan ini berakhir?”tanya Devara dalam hati yang mulai kelelahan selama mengikuti long march
Membawa ransel seberat itu dan menempuh jarak sejauh itu tentu saja sangat menguras tenaga dan fisik. Untung saja, pembinaan fisik yang diterima selama di kamp militer dan latihan gym yang rutin dilakukan oleh Devara, sangat membantu Devara menghadapi beratnya long march itu.
Sesampainya di kota C, Devara sudah dijemput oleh kakek Arya. Devara menghampiri kakek Arya masih dengan ransel 20 kg dan atribut perangnya dengan lengkap.
“Selamat! Kau sudah lulus tantanganku yang pertama”ucap kakek Arya pada Devara
“Jadi saya sudah bisa keluar dari sini sekarang juga kek?”tanya Devara
“Kenapa? Kau sudah tak betah ya rupanya?”goda kakek Arya
“Saya salut dengan perjuangan para prajurit”puji Devara
“Apa kau mau menjadi prajurit juga?”tanya kakek Arya
“Tidak! Cukup sekali ini saja saya kemari”sahut Devara dengan cepat
Kakek menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Devara. Kakek segera mengajak Devara keluar dari kamp militer itu. Menjadi prajurit rupanya sangatlah berat. Selama satu setengah bulan berada di kamp militer membuat Devara semakin menyadari perjuangan berat yang harus dihadapi seorang prajurit.
“Aku harus menghargai prajurit yang membela negara ini”gumam Devara dalam hati sambil menatap kamp militer yang ditinggalinya selama satu setengah bulan ini.