Falling In Love With Trouble Maker

Falling In Love With Trouble Maker
I Love You


“Hapus ingusmu itu”goda Devara


“Hisshhh..aku ga ingusan”balas Ayra sambil menerima uluran tisu dari Devara.


Saat sedang menghapus airmatanya dibantu Devara, Arga dan Catherine datang bertiga dengan putri kecilnya, Thania.


“Selamat Dev”ucap Catherine sambil memeluk tubuh adik kesayangannya.


“Thanks kak”jawab Devara


“Selamat nona Ayra, tuan muda”ucap Arga sambil menjabat tangan keduanya sementara tangan kirinya menggandeng Thania kecil.


“Kenapa masih memanggilnya tuan muda? Kita keluarga sekarang”ucap Catherine membenarkan ucapan suaminya, Arga.


Ayra mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Catherine.


“Daddy..aku lapar”rengek Thania sambil menarik tangan Arga.


Arga segera berjongkok dan menggendong tubuh mungil Thania.


“Okey, kamu mau makan apa?”tanya Arga sambil menatap Thania lembut.


“Kamu lapar sayang?”tanya Catherine pada sang putri.


Thania mengangguk pelan.


“Okey, kami carikan makan dulu untuk Thania ya?”pamit Catherine pada Arga dan Ayra.


Ayra dan Devara mengangguk hampir bersamaan. Ayra yang sejak tadi penasaran, segera menarik lengan Devara.


“Dev..kak Catherine dengan kak Arga…”


Ayra belum sempat menyelesaikan ucapannya, sudah dipotong oleh Devara.


“Mereka sudah menikah”ucap Devara sambil menatap punggung sang kakak.


“What? Kapan?”


“Baru menikah secara sederhana..rencananya setelah pertunangan kita, kak Cathy dan kak Arga akan melangsungkan resepsi pernikahannya”


“Bukankah seingatku kau pernah cerita kak Catherine suaminya dokter ya? Kalo tidak salah di Amerika, iya kan?”


“Ceritanya panjang..seharusnya kita berterimakasih pada mereka berdua”ucap Devara sambil menatap keluarga kecil kakak perempuannya yang terlihat sangat bahagia


“Kenapa?”


“Jika bukan karena kisah cinta mereka yang berliku, mana mungkin papa bersedia menerima hubungan kita”


“Begitu ya?”


“Iya..kisah cinta mereka sangat rumit..Kau harusnya bersyukur, kita tidak mengalami seperti yang mereka alami. Walaupun kita sempat berpisah, tapi jika dibandingkan dengan kakakku, masalah kita belum seberapa. Apalagi kisah mereka sudah dimulai sejak aku kecil”


“Maksudmu?”


“Mereka sudah saling mencintai sejak kecil”


“Oh ya? Ceritakan padaku kisah mereka”


“Untuk apa?”tanya Devara melihat Ayra yang sangat antusias mendengar kisah Catherine dan Arga.


“Ayolah..aku ingin dengar kisah mereka”


“Aku tak suka mengurusi masalah oranglain”jawab Devara enteng


“Hisshhh..Kak Catherine kan bukan orang lain. Ayolah!”bujuk Ayra.


“Aku dapat apa dulu? Ingat sayang, tak ada yang gratis di dunia ini”ucap Devara sambil menyeringai nakal.


“Dasar pelit..selalu saja meminta bayaran”ucap Ayra kesal lalu memilih beranjak dari kursi meninggalkan Devara.


Devara yang melihat Ayra pergi segera menyusul wanitanya dan menggenggam tangan Ayra.


“Hei..kau mau apa?”tanya Ayra begitu melihat Devara menggenggam tangannya dan membawanya ke suatu tempat.


Devara terus diam, sambil sesekali memberi hormat pada tamu undangan yang datang dengan sedikit menundukkan kepalanya. Tak lupa senyum manis terukir di wajahnya. Begitu pun dengan Ayra. Yang meskipun terus berusaha melepaskan genggaman tangan Devara namun tetap berusaha ramah pada tamu undangan yang datang, dengan menundukkan kepalanya dan menyunggingkan senyum di bibirnya.


Devara membawa Ayra ke salah satu sudut taman belakang yang lumayan sepi karena tertutup rimbunnya dedaunan. Devara clingukan ke kanan dan ke kiri memantau keadaan, membuat Ayra kebingungan dengan tingkah Devara yang tak biasanya.


“Kamu kenapa sih clingukan sejak tadi?”


Tiba-tiba Devara memeluk tubuh mungil Ayra yang sudah hampir tiga bulan dirindukannya.


“Dev?”tanya Ayra yang dipeluk erat Devara.


“Aku sangat merindukanmu. Biarkan aku seperti ini sebentar saja”ucap Devara sambil memejamkan matanya menikmati kebersamaannya dengan Ayra.


Ayra yang juga merasakan kerinduan yang sama dengan Devara akhirnya ikut memeluk tubuh besar Devara. Keduanya saling berpelukan dengan sangat erat.


Setelah beberapa saat, Devara melepaskan dekapannya namun kini tangannya melingkar di pinggang ramping Ayra. Devara menatap lembut wajah cantik Ayra. Membuat Ayra salah tingkah dengan tatapan mata Devara padanya.


“Kenapa menatapku seperti itu?”tanya Ayra salah tingkah


“Tadi kan udah bilang”


“Kalo bisa, aku ingin mengucapkannya setiap hari”


“Tunggu sampai kita menikah nanti”ucap Ayra sambil tersipu malu.


Devara yang gemas melihat Ayra yang malu karena sikapnya semakin mendekatkan tubuh Ayra hingga tubuh keduanya tak berjarak. Devara mendekatkan kepalanya ke wajah Ayra.


“I love you”ucap Devara lembut


Dalam sekejap, bibir keduanya sudah menyatu. Ciuman hangat keduanya terjadi. Tangan Devara menyentuh tengkuk Ayra hingga memudahkan dirinya mencium bibir ranum Ayra yang sudah dirindukannya selama hampir tiga bulan ini. Melepaskan kerinduan diantara keduanya. Saling berbalas ciuman mesra. Jantung keduanya pun berdegup sangat kencang. Sungguh merasakan kelembutan bibir keduanya membuat gairah mereka semakin menggelora.


Devara segera menghentikan ciuman di bibir Ayra saat menyadari dirinya semakin dibakar gairah begitu didekat Ayra, kekasih hatinya. Tunangannya.


Ayra menekuk bibir bawahnya setelah melewati ciuman panas dengan Devara.


“Kenapa ciuman kami tadi begitu panas?”tanya Ayra dalam hati saat menyadari ciuman mereka tadi begitu menggairahkan.


Keduanya saling bertatapan dengan mesra. Namun begitu melihat bekas lipstik di bibir Devara, Ayra yang sadar sudah berciuman bibir dengan Devara, segera mengambil hp nya.


“Aduhh..lipstikku kenapa jadi begini?”tanya Ayra begitu melihat lipstiknya yang belepotan.


Ayra memukul lengan Devara dengan keras.


“Aduhh..kenapa kau memukulku?”tanya Devara


“Lihat..lipstikku jadi seperti ini. Kalo ketahuan Ayah bunda gimana? Kamu sihh..”


“Kenapa menyalahkanku? Kau juga tadi menciumku”ucap Devara tak mau disalahkan.


“Terus ini gimana? Aku ga mungkin keluar dengan kondisi seperti ini”keluh Ayra


Devara mengambil hp nya dan menelpon seseorang sambil membersihkan bekas lipstik Ayra di bibirnya dengan saputangan yang dibawanya.


“Kau bawa lipstik? Kemarilah..Ayra membutuhkannya sekarang”ucap Devara di telpon.


“Kau telpon siapa?”tanya Ayra begitu Devara menutup telponnya.


“Nadine”


“Whatt? Kenapa kau panggil Nadine? Aku kan malu sama Nadine”


Devara mendekatkan tubuhnya lalu mengulurkan saputangannya untuk mengusap bekas lipstik di bibir Ayra. Devara mengusap bibir Ayra dengan sangat lembut sambil tersenyum.


“Maaf..aku selalu tak bisa menahan diriku setiap berada di sampingmu. Aku selalu ingin menciummu. Karena kau seperti magnet bagiku”ucap Devara lembut.


“Dev..Ay..kalian sedang apa disitu?”tanya Nadine begitu di dekat mereka


Ayra yang mendengar suara Nadine segera bersembunyi di balik tubuh besar Devara.


“Ay..kenapa kau sembunyi?”tanya Nadine penasaran


“Kau bawa yang aku minta tadi?”tanya Devara sambil menutupi tubuh Ayra.


“Pasti kalian baru saja..”ucap Daniel sambil tersenyum


“Diamlah! “perintah Devara pada Daniel dengan menatap tajam sahabatnya itu.


Daniel cekikikan begitu menyadari tebakannya benar.


“Memang mereka ngapain?’tanya Nadine yang belum menyadari keadaannya.


“Nanti aku kasih tau”bisik Daniel pada kekasihnya.


“Berikan saja apa yang kuminta tadi..Lalu pergilah dari sini!”Perintah Devara pada Nadine dan Daniel.


Nadine menyodorkan lipstik miliknya pada Devara.


“Ay..aku ke sana dulu ya..nanti segera nyusul. Ayah Bunda sama Mommy Papa Devara sudah mencari kalian dari tadi”pinta Nadine


“Oke..nanti aku nyusul..makasih Nad”ucap Ayra sambil tetap bersembunyi di balik tubuh besar Devara.


Ayra segera memperbaiki make upnya dan memakai lipstik yang dibawa Nadine tadi. Untung saja warna lipstik Nadine sama dengan lipstik yang dipakai Ayra.


“Bagaimana penampilanku?”tanya Ayra pada Devara


Devara hanya tersenyum.


“Ihh..jawab dong Dev..bagaimana penampilanku?”tanya Ayra gemas karena Devara hanya menatap wajahnya tanpa menjawab pertanyaannya.


“Kau yang tercantik”puji Devara


Membuat Ayra tersipu malu mendengar pujian Devara. Akhirnya keduanya keluar dari persembunyian dan kembali ke dalam ruangan acara lamaran. Berkumpul dengan keluarga besar mereka.


“Kemana saja kalian berdua?”tanya kakek Arya


“Ehmm..tadi kami di taman belakang kek”jawab Ayra dengan malu-malu


Ayra dan Devara berfoto bersama dengan keluarga besarnya. Setelah berdiskusi dengan keluarga besar, akhirnya diputuskan acara pernikahan Ayra dan Devara akan dilangsungkan lima bulan lagi.