
Devara kini sudah berpakaian lengkap. Dia pun keluar kamar ganti dengan ekspresi memelas. Ayra juga keluar dari kamar mandi dengan tertunduk lesu. Dia malu karena tertangkap basah berduaan dengan Devara dalam posisi yang tidak semestinya. Apalagi Devara hanya memakai sehelai handuk dengan bertela*jang dada
“Duduk kalian!”seru Madam O dengan nada tinggi sambil tangannya disilangkan di depan dadanya.
Devara dan Ayra menurut. Devara duduk di kursi sofa dekat Madam O sementara Ayra duduk agak jauh.
“Ini tak seperti yang kau pikirkan, Madam” ucap Devara membela diri.
“Tadi aku hanya..ingin menggoda Ayra” ucap Devara sambil melirik Ayra.
Devara merasa bersalah karena sudah membuat Ayra terkena masalah akibat kejahilannya. Sebenarnya Devara hanya ingin menggoda Ayra saja. Tidak sungguh-sungguh.
“Bukankah tuan muda seharusnya ada di kamar sebelah? Kenapa bisa ada disini?”tanya Madam O dengan nada tinggi.
“Aku..tak bisa tidur di kamar sebelah. Itu kan bukan kamarku. Makanya tadi malam aku tidur di kamar ini. Aku tak melakukan apa-apa. Percayalah Madam! Aku hanya tidur”ujar Devara jujur.
“Tuan muda, apa tuan muda sadar? Apa yang tuan muda lakukan itu tidak benar. Pria dan wanita yang belum berada dalam ikatan pernikahan tidak boleh berada dalam satu ruangan apalagi dalam satu ranjang"ujar Madam O mengingatkan
“Aku tahu” jawab Devara cemberut
“Kalau tuan muda tahu, kenapa tuan muda lakukan? Harusnya tuan muda bisa lebih menahan diri?” tanya Madam O
“Maaf Madam” ucap Devara menyesal
“Lalu apa tadi barusan yang saya lihat? Kenapa tuan muda hanya memakai handuk?”tanya Madam O sambil menatap ke arah Devara
Ayra juga menatap Devara. Menuntut penjelasan.
“Tadi aku selesai mandi, lalu Ayra masuk ke kamar mandi. Aku hanya ingin menggodanya saja, karena kulihat dia kaget melihatku seperti itu tadi” jawab Devara sambil melirik Ayra.
Ayra tampak jengkel dikerjai Devara. Mulutnya bergerak-gerak tanpa suara.
Madam O mendengarkan penjelasan Devara sambil mencerna setiap kata yang diucapkan. Madam O tahu walaupun Devara garang dan nakal, tetapi sebenarnya dia anak yang jujur. Dia tak pernah berbohong.
“Baiklah! Kali ini saya akan mempercayai tuan muda” ucap Madam O membuat Devara tersenyum senang.
“Tapi jika kejadian seperti ini terulang lagi, saya akan melaporkan kepada Tuan Besar” ucap Madam O lagi.
“Terimakasih Madam” Devara tersenyum senang
“Dan untuk Anda, nona Ayra?” ucap Madam O sambil melihat ke arah Ayra.
“Ehh..iya Madam”jawab Ayra
“Jika tuan muda melakukan hal semacam ini lagi, tendang saja atau kau pukul saja” ucap Madam O sambil melirik harta berharga Devara.
“Ohh..baik Madam”balas Ayra sambil menahan tawa.
“Heiii..kenapa mau menendang “milikku”?” protes Devara
Madam O menahan tawanya.
“Makanya tuan muda jangan macam-macam”ujar Madam O
Devara cemberut. Dia menyilangkan kedua tangannya di dada.
“Oya, nona Ayra..seragam nona sudah saya ganti. Silahkan nanti nona bawa pulang”ucap Madam O pada Ayra
“Ahh..tidak usah. Seragam itu masih bagus. Saya bawa pulang saja. Nanti saya tinggal jahit kancingnya” balas Ayra.
“Waduhh..seragamnya sudah terlanjur saya buang” ucap Madam O
“Ahh..begitu ya”Ayra tertunduk lesu mendengar seragamnya sudah dibuang
“Sudah..bawa saja seragam yang baru. Lagian seragammu kemarin juga sudah tak layak pakai. Anggap saja buang sial” ucap Devara lembut.
Ayra mengangguk pelan mendengar ucapan Devara.
“Kalau begitu, saya siapkan sarapan dulu. Silahkan nona bersiap-siap” ucap Madam O kemudian menyerahkan sebuah gaun untuk Ayra lalu beranjak dari kursinya. Ayra menerima baju yang diberikan Madam O.
“Terimakasih” ucap Ayra pada Madam O
“Ayo tuan muda! Tuan muda juga harus keluar”ajak Madam O
“Hah..aku?”tanya Devara sembari melihat Madam O
“Apa tuan muda mau disini selama nona Ayra mandi?”tanya Madam O
“Aahh..mandi ya? Aku ingin sekali” gumam Devara sambil melirik Ayra.
Ayra salah tingkah dilihat Devara.
Devara yang tak mau dipegang Madam O mengibaskan tangannya.
“Jangan pegang aku! Iya..iya..aku keluar”seru Devara sambil beranjak dari tempatnya.
Sebelum sampai di pintu, Devara menoleh ke arah Ayra.
“Cepatlah mandi. Aku tunggu dibawah. Selesai sarapan, aku antar kamu pulang” ucap Devara lembut.
Ayra mengangguk.
Entah kenapa sikap mereka berdua kini mulai berubah. Devara mulai terlihat sangat lembut pada Ayra. Ayra juga tidak sefrontal biasanya ketika berhadapan dengan Devara. Rupanya mereka mulai bisa menerima kepribadian masing-masing.
Ayra pun segera masuk ke kamar mandi untuk mandi. Ketika dia membuka pintu, terbayang kembali tubuh Devara yang setengah telanjang tadi. Ayra segera memukul-mukul kepalanya.
“Apa yang sedang aku pikirkan sih?”gumam Ayra dalam hati.
Ayra pun segera masuk kamar mandi. Dia melepas semua pakaiannya. Dan berjalan kearah shower. Dibiarkannya kucuran air shower membasahi seluruh tubuhnya. Dibersihkannya seluruh bagian tubuhnya dengan air. Tubuh mulus Ayra yang putih bersih kini licin terkena air. Ayra pun membalur tubuhnya dengan sabun cair yang ada. Diratakannya ke setiap inchi tubuhnya yang mulus.
Tubuh Ayra memang bagus. Tinggi dan berat badannya proporsional. Wajahnya juga sangat cantik. Kulitnya pun putih bersih. Pantas saja Devara yang berandal itu sampai tergila-gila padanya.
Ayra merasa segar setelah mandi. Dikenakannya gaun yang diberikan oleh Madam O. Karena Ayra memang tidak membawa baju ganti selain seragamnya yang sekarang sudah dibuang Madam O.
Selesai berpakaian, Ayra sempat minta tolong seorang pelayan meminjaminya make up, karena dia memang tak membawa apa-apa.
“Aduh..bajunya kenapa model tank top gini sih? Aku kan jarang pakai baju seperti ini?” gumam Ayra dalam hati.
Kini Ayra sudah sangat cantik. Gaun mini dress selutut motif bunga-bunga itu sangat pas di tubuh Ayra. Ditambah dengan riasan natural di wajahnya dan rambutnya yang dibiarkan tergerai, membuat aura kecantikan Ayra semakin terpancar.
Diapun berjalan keluar kamar untuk turun sarapan.
Di ruang makan, Devara menunggu Ayra dengan tidak sabaran. Beberapa kali dia melihat jam tangannya.
“Sebenarnya dia sedang ngapain sih? Mandi saja lama banget” protes Devara dalam hati.
Walaupun jengkel, tetapi Devara tetap menunggu Ayra untuk makan bersama.
Karena tak tahu jalan, Ayra minta tolong pelayan yang meminjaminya make up, untuk mengantarkannya ke ruang makan.
Dalam perjalanan menuju ruang makan, Ayra sempat berpapasan dengan beberapa pelayan dan body guard Devara. Ayra menundukkan kepalanya tiap bertemu dengan mereka.
“Rumahnya besar sekali”gumam Ayra dalam hati sambil memperhatikan rumah kediaman Alexander yang luar biasa luas.
“Apa masih lama sampainya?”tanya Ayra pada pelayan Devara yang mengantarnya ke ruang makan.
“Sebentar lagi sampai, nona”jawab pelayan tadi
“Oh..baiklah”sahut Ayra.
Begitu Ayra sampai di ruang makan, Devara benar-benar terpana dengan kecantikan Ayra. Dengan dress bunga-bunga yang dikenakan dan rambutnya yang dibiarkan tergerai, Ayra terlihat sangat anggun. Devara sampai mematung menyaksikan kecantikan Ayra. Ayra sendiri merasa kurang nyaman dengan dress yang dipakainya karena biasanya dia hanya memakai baju casual dalam kesehariannya.
“Kenapa lama sekali mandinya?” seru Devara kesal
Ayra yang baru datang sudah dimarahi Devara menjadi cemberut.
“Lalu kenapa bajumu seperti itu? Apa tidak ada baju lain, hah?”tanya Devara setelah melihat dress terbuka Ayra
“Gaun ini kan yang tadi diberikan Madam O. Aku kan ga bawa baju ganti”balas Ayra
“Aku ga mau tau, cepat ganti bajumu itu”ucap Devara kesal
Madam O yang mendengar omelan Devara pun mendekati ruang makan.
“Ada apa tuan muda? Kenapa tuan muda teriak-teriak?”tanya Madam O
“Baju apa itu yang kau berikan pada gadis itu? Aku tidak suka. Cepat ganti bajunya” perintahnya pada Madam O
Madam O pun melihat ke arah Ayra.
“Apa yang salah tuan muda? Nona Ayra terlihat cantik dengan dress itu” balas Madam O setelah melihat Ayra yang sangat cantik.
“Apa kau tak lihat, ba..bagian itu sangat terbuka” jawab Devara sambil menunjuk bagian dada Ayra yang memang terbuka karena model tank top dress itu.
“Maaf tuan muda, tapi hanya dress itu yang menurut saya cocok dengan nona Ayra. Dress itu milik nona Catherine. Anda tahu sendiri kan selera fashion nona Catherine. Tidak mungkin saya memberikan dress yang seperti itu pada nona Ayra”jelas Madam O.
“Benar juga. Kalau sampai dia pakai dress kakak, bisa-bisa aku yang sesak nafas, tak bisa bernafas” gumam Devara dalam hati
“Ahh..ya sudahlah”Devara mengalah lalu duduk di kursi makan
Madam O tersenyum. Ayra pun dipersilahkan duduk di kursi makan di samping Devara. Ayra menurut saja.