Falling In Love With Trouble Maker

Falling In Love With Trouble Maker
Aku Maafkan!


Di dalam kamar Nadine, smartphone Ayra bergetar lagi. Devara menelponnya.


“Anak ini ngapain lagi sih?”gerutu Ayra


“Ehmm..Nad, aku angkat telpon ini dulu ya?”pinta Ayra lalu pergi keluar kamar Nadine.


Nadine mengangguk.


“Kamu dimana sekarang? Dirumah Nadine ya?”tebak Devara jitu. Membuat bulu kuduk Ayra bergidik.


“Ba..bagaimana kamu tahu aku di rumah Nadine?”tanya Ayra bingung


“Aku kirim beberapa bodyguard ku untuk mengikutimu. Makanya aku tahu kamu dimana”jawab Devara


“Apaaaaaaa? Kamu mengirim orang untuk memata-matai aku? Sudah gila ya rupanya kamu!”maki Ayra


“Hahahaha...kamu takut ya? Tenang saja, mereka hanya mengawasimu saja. Tak usah takut. Aku hanya ingin supaya kamu terlindungi selama aku tidak di sana”jawab Devara


Ayra merasakan sesuatu yang aneh merasuk dalam hatinya mendengar Devara ingin melindunginya.


“Hyaaa..memangnya aku butuh diawasi? Suruh orang-orangmu kembali. Aku tak butuh diawasi. Aku tak suka dimata-matai”protes Ayra


“Apa kamu tak bosan menggangguku terus? Bukannya kamu ada acara disitu?”tanya Ayra


“Aku sedang bosan. Makanya aku menelponmu..kyaaa..kyaaa…apaaa ini?”teriak Devara.


“Hei..kamu kenapa?”seru Ayra kuatir


“Cepat bunuh serangga itu!”perintah Devara pada pelayannya.


“Baik tuan muda”terdengar suara diujung telpon


Rupanya ada serangga yang hinggap di kerah baju Devara. Dia sangat jijik dengan serangga. Dia menggeliat-geliatkan tubuhnya supaya serangga itu segera menjauh dari dirinya.


“Hwahahahahaha…kau takut serangga?”Ayra tertawa terbahak-bahak mendengar seorang Devara takut pada serangga.


“Jangan menertawakanku! Aku tak takut pada serangga. Aku..hanya jijik pada serangga…itu beda..takut dan jijik itu beda, kau tahu?”bela Devara tak terima ditertawakan Ayra


Ayra masih tak bisa berhenti tertawa, mendengar seorang Devara yang terkenal sangar, ternyata takut pada serangga.


“Heeii..berhenti tertawa! Aku tak suka ditertawakan”pinta Devara


“Maaf..maaf..tapi ini terlalu menggelikan, hahahahahaha..”Ayra tertawa lepas


Devara tampak menikmati suara tawa Ayra yang terdengar merdu dan enak didengar. Membuat Devara senyum-senyum sendiri.


“Suara tawamu renyah juga ya”ucap Devara tiba-tiba


“Haha..apa?” Ayra yang sadar suara tawanya dinikmati lawan bicaranya, segera menghentikan suara tawanya.


“Kenapa kamu diam?”tanya Devara


“Ehmm..kalau kamu bosan, kenapa kamu tidak menelpon teman-temanmu? Kenapa malah menggangguku?”tanya Ayra penasaran


“Aku..tak punya teman”jawab Devara


Entah kenapa Ayra tiba-tiba merasa kasihan pada Devara. Yang walaupun memiliki segalanya rupanya dia merasa kesepian.


“Bukankah kamu punya teman…”Ayra nampak ragu-ragu untuk menyebutkan nama itu


“Daniel..bukankah dia juga temanmu?”akhirnya Ayra memberanikan dirinya menyebut nama Daniel


Devara yang mendengar nama Daniel disebut, mendadak hatinya jadi panas.


“Jangan pernah kamu sebut nama itu lagi. Aku tak suka mendengar kamu menyebut nama lelaki lain. Terlebih nama itu. Kamu mengerti?”seru Devara geram


“Terserah aku dong mau menyebut nama siapa. Tak ada urusannya dengan kamu”protes Ayra


“Apa kamu tuli?”sindir Devara


“A..apa? Kamu bilang aku apa? tuli?”protes Ayra. Dia tak terima disebut tuli oleh Devara.


“Aku bilang..aku tak suka kamu menyebut nama lelaki lain. Jadi jangan sebut nama itu lagi! Kau dengar! “bentak Devara


“Iya..iya..aku dengar..kamu puas?”gerutu Ayra.


Ayra tak habis pikir. Kenapa Devara membentaknya hanya karena Ayra menyebut nama Daniel. Membuat Ayra juga emosi dibentak Devara.


Devara yang menyadari sudah membentak Ayra jadi tak enak hati.


“Apa kamu marah?”tanya Devara lembut setelah menyadari Ayra tak bersuara.


“Sudah-sudah..aku malas berdebat denganmu..aku tutup telponnya sekarang”ucap Ayra emosi


Tut..tut..tut


Ayra menutup telpon sepihak.


“Apa dia marah? Aaaagghhh..kenapa aku mesti marah-marah sih?”gerutu Devara dalam hati sambil menggaruk-garuk kepalanya dengan kasar.


Devara lalu mengirim chat pada Ayra.


“Apa kamu marah?”


“Aku minta maaf”


“Hei..aku bilang aku minta maaf”


“Apa kamu takkan memaafkan aku?”


“Hei..”


“Ayo jawab”


Devara terus meminta maaf tapi Ayra tetap tak bergeming. Dia marah, karena Devara membentaknya.


“Kamu kenapa Ay?”tanya Nadine setelah melihat Ayra cemberut.


“Siapa tadi yang menelponmu? Kenapa setelah dapat telpon itu kamu jadi cemberut gini?”imbuh Nadine


“Maaf Nad, aku sedang ga mood untuk membahasnya” gerutu Ayra


“Oya, hari sudah sore..aku pulang dulu ya”Ayra pamit karena hari memang sudah sore.


“Oya..hati-hati ya dijalan. Telpon aku ya kalo ada apa-apa”balas Nadine


Ayra mengangguk. Ayra segera mengemasi barang-barangnya dan keluar dari rumah Nadine. Setelah berpamitan, Ayra pulang naik ojek online. Sebuah mobil hitam mengikuti Ayra dari belakang.


“Lapor tuan muda, nona Ayra sudah keluar dari rumah nona Nadine”ujar salah satu bodyguard Devara melapor pada tuannya melalui sambungan telepon.


“Kalian ikuti kemana perginya dia. Tapi jangan sampai ketahuan”perintah Devara


“Baik tuan muda”balas bodyguard Devara lalu menutup telepon.


Devara yang masih di kediaman neneknya tampak melihat-lihat kiriman foto Ayra dari bodyguardnya.


“Dia sangat cantik”batin Devara sambil melihat foto Ayra yang sedang tersenyum.


Dalam perjalanan pulang, Ayra mulai menenangkan dirinya.


“Mungkin aku memang salah, sudah menyebut nama Daniel di depan Devara. Padahal aku tahu mereka tak akur”batin Ayra


Ayra pulang ke rumah sebelum petang. Rupanya ayah masih belum pulang, karena mobilnya belum kelihatan. Ketika akan menutup pintu gerbang, Ayra sempat menoleh ke arah mobil hitam yang terparkir tak jauh dari rumahnya.


“Apa itu..mobil bodyguard Devara?”tanya Ayra dalam hati sambil mengamati mobil hitam itu.


Karena takut ketahuan, mobil hitam itu pun meninggalkan tempatnya dan segera melaju.


Begitu mobil hitam tadi menghilang dari pandangan matanya, Ayra pun segera masuk ke dalam rumah.


“Aku pulang”sapa Ayra


“Sudah pulang, Ay? Kok sore lagi?”tanya bunda dari dalam rumah


“Iya bund, tadi ke rumah Nadine lagi..ngerjain tugas”jawab Ayra sambil melepas sepatunya lalu meletakannya di rak sepatu.


Ayra masuk ke dalam rumah, lalu mencium punggung tangan bundanya. Ayra clingukan mencari ayahnya.


“Ayah masih belum pulang bund?”tanya Ayra


“Tadi siang ayah pulang sampai agak sore. Jam 17.00 ayah berangkat kerja lagi”jawab bunda


“Ayah baru banyak kerjaan ya bund?”tanya Ayra


“Sepertinya begitu”jawab bunda


“Kamu mandi sana..belum makan kan?”tanya bunda


“Iya bund, aku ke kamar dulu ya bund..mau mandi..badanku udah kringetan dari tadi”tutur Ayra


“Iya..mandi sana. Bunda siapkan makan malam”ujar bunda


“Eh bund, makan malam nanti biarin Ayra yang masak ya..aku mau masak nasi goreng..boleh ya?”pinta Ayra


“Iya boleh..bunda siapkan bahan-bahannya kalau begitu..udah sana mandi dulu”pinta bunda


“Oke bos”canda Ayra sambil tangannya memberi hormat pada bundanya


Ayra pun bergegas ke kamarnya. Setelah membuka pintu kamar, Ayra meletakkan tas sekolahnya di meja belajar. Ayra merebahkan tubuhnya di ranjang.


Ayra kemudian bangun lalu iseng mengambil smartphone di tas sekolahnya. Ayra kaget karena chat kiriman Devara sangat banyak. Sejak menutup telpon Devara, Ayra sama sekali tidak membuka hp itu. Rupanya Devara mengirimi Ayra chat permintaan maaf yang sangat banyak. Sticker-sticker yang dikirimkan Devara pun lucu-lucu. Membuat Ayra tertawa geli melihat tingkah konyol Devara yang meminta maaf padanya.


“Cowok aneh”batin Ayra


Akhirnya Ayra mengirim chat balasan pada Devara.


“Aku maafkan!” tulis Ayra.


Ayra pun segera mandi. Selesai mandi, Ayra pun memakai piyamanya.